Sigh - Goh-Ka CD 2026

Sigh - Goh-Ka
Peaceville Records CD 2026

01. 九想詩其ノ一、二、三 (Kuso-shi 1, 2, and 3) 09:11      
02. 地獄草子其ノ一、雲火霧処 (Jigoku-Zoshi 1: Unkamusho) 03:55      
03. 黯然銷魂 (Anzenshokon) 06:24      
04. 九想詩其ノ四、五、六 (Kuso-shi 4, 5, and 6) 07:21      
05. 焦燥 (Shoso) 00:56      
06. 運否天賦 (Unputenpu) 05:41      
07. 人面獣心 (Jinmenjushin) 06:14      
08. 地獄草子其ノ二、等活地獄 (Jigoku-Zoshi 2: Tokatsujigoku) 03:06      
09. 空手還郷 (Kushukankyo) 01:47      
10. 九想詩其ノ七 (Kuso-shi 7) 01:56      
11. 九想詩其ノ八、九/滅諦寂静 (Kuso-shi 8 and 9 / Mettaijakujo) 11:23


Ada band yang berkembang dengan memperhalus identitasnya. Ada pula yang semakin tua justru semakin nekat merobek identitas itu sendiri. Sigh selalu berada di kubu kedua. Dan setelah lebih dari tiga dekade berjalan sejak kemunculannya dari reruntuhan underground Jepang awal 1990-an, band yang dipimpin Mirai Kawashima ini tampaknya masih belum menemukan alasan untuk bersikap normal. Syukurlah. Dunia metal sudah terlalu penuh dengan band yang terdengar seperti proposal bisnis lengkap dengan target pasar, algoritma streaming, dan logo yang dirancang agar mudah dicetak di kaus. " Goh-Ka ", rilisan terbaru Sigh melalui Peaceville Records, adalah bukti bahwa keganjilan tidak harus menjadi gimmick. Ini adalah album ke-13 mereka sebuah karya yang kembali menjadikan batas genre sebagai benda yang layak diinjak, dibakar, lalu ditinggalkan begitu saja di pinggir jalan. Jika dulu Sigh berangkat dari fondasi black metal tradisional, perjalanan panjang mereka kemudian membawa nama ini ke wilayah avant-garde, progressive metal, psychedelic rock, orkestrasi, folk, elektronik, hingga berbagai eksperimen yang pada tangan band lain mungkin terdengar seperti pesta kostum musikal yang gagal. Tetapi Sigh punya satu keunggulan yang jarang dimiliki band eksperimental: mereka memahami bahwa keanehan tanpa arah hanyalah kebisingan dengan ambisi intelektual palsu. Di " Goh-Ka ", semua keganjilan itu akhirnya memperoleh alasan yang sangat jelas: kematian. Judul " Goh-Ka " sendiri mengandung beberapa lapisan makna. Ia dapat merujuk pada api penyucian, api apokaliptik yang mengakhiri dunia, hingga api penderitaan sebagai konsekuensi tindakan sebuah gagasan yang kerap disederhanakan secara serampangan menjadi " karma ". Tetapi album ini tidak berhenti pada simbolisme api. Jantung konseptualnya terletak pada kusōzu, tradisi visual Buddhis Jepang yang menggambarkan tahapan pembusukan tubuh setelah kematian. Bukan kematian sebagai romantisme Goth. Bukan tengkorak untuk kebutuhan merchandise. Bukan pula " Darkness " generik yang bisa ditempelkan di mana saja agar terdengar ekstrem. Ini adalah kematian dalam bentuknya yang paling tidak sopan terhadap ego manusia. Dalam praktik kontemplatif Buddhis, kefanaan tubuh menjadi objek perenungan. Tubuh yang semula dianggap indah, kuat, muda, dan penting, pada akhirnya mengalami kehancuran yang sama: membusuk, berubah, hancur, lenyap. Tradisi sembilan tahap pembusukan itu menjadi salah satu fondasi spiritual " Goh-Ka ". Sebuah memento mori yang tidak sekadar mengingatkan bahwa kita akan mati, tetapi memaksa kita untuk membayangkan proses menuju ke sana dan ya, itu jauh lebih hardcore daripada mayoritas album “brutal” yang sibuk menjual kematian sebagai dekorasi. Kawashima, yang kini memasuki fase usia ketika kematian bukan lagi konsep abstrak milik orang lain, menjadikan Goh-Ka terasa lebih personal daripada sekadar proyek konseptual. Setelah album-album sebelumnya mengeksplorasi ruang antara kesadaran dan tidur, perubahan musim, mortalitas, hingga bayang-bayang eksekusi, di sini kematian terasa lebih dekat. Lebih sunyi. Lebih nyata. Bukan teror tentang apa yang mungkin terjadi. Melainkan kesadaran bahwa itu pasti terjadi.

Pusat gravitasi album ini adalah rangkaian " Kuso-Shi ", sebuah suite sembilan bagian yang total durasinya membentang sekitar setengah jam dan tersebar ke dalam beberapa komposisi. Secara konsep, struktur seperti ini bisa menjadi bencana. Sigh memasukkan begitu banyak elemen: black metal, doom, progressive rock, folk Jepang, psychedelia, ambient gelap, orkestrasi, hingga sentuhan elektronik. Secara teori, " Goh-Ka " seharusnya ambruk oleh berat ambisinya sendiri. Tetapi justru di situlah salah satu kemenangan terbesar album ini. Sigh tidak menyusun lagu-lagu tersebut seperti koleksi eksperimen acak. Ada aliran yang terus bergerak di antara bagian-bagian ekstremnya. Ketika riff-riff berat muncul, mereka bukan sekadar demonstrasi kekuatan. Ketika melodi folk masuk, mereka tidak terdengar seperti " elemen tradisional " yang dipasang agar press release punya sesuatu yang eksotis untuk dibicarakan. Ketika ambient gelap mengambil alih, seperti pada bagian-bagian " Kuso-Shi 7 " dan " Shōsō ", atmosfer itu memiliki fungsi naratif: membawa pendengar semakin jauh ke dalam ruang kontemplasi, tempat waktu melambat dan tubuh mulai kehilangan maknanya sebagai sesuatu yang permanen. Pembuka " Kuso-Shi 1, 2, 3 " langsung menetapkan aturan permainan: buang ekspektasi sebelum menekan tombol play. Keyboard, harmoni gitar, dan elemen simfonik memang hadir, tetapi Sigh segera memperluas medan dengan penggunaan instrumen tradisional Jepang. Shamisen, koto, surigane, serta berbagai warna instrumen petik dan tiup membentuk identitas sonik yang jauh lebih kuat daripada sekadar " black metal dengan sentuhan oriental ". Di tangan Sigh, instrumen-instrumen tersebut bukan aksesori. Mereka menjadi bagian dari kerangka tulang album. Hasilnya adalah sesuatu yang kadang terasa seperti ritual rakyat yang tersesat ke studio prog era 1970-an, kemudian ditabrak band black metal yang baru saja keluar dari mimpi buruk psikedelik dan entah bagaimana, semuanya masuk akal. Salah satu kejutan terbesar " Goh-Ka " adalah cara album ini menolak menjadi sonic hellscape sepanjang waktu. Jangan datang ke sini berharap tremolo riff berkecepatan absurd dan blast beat diperlakukan sebagai satu-satunya ukuran ekstremitas. Sigh terlalu tua dan terlalu pintar untuk jatuh ke perangkap sempit itu. Banyak bagian " Goh-Ka " bergerak dengan tempo yang terasa lebih lambat, bahkan cenderung doomy dan mid-tempo. Pilihan tersebut sangat penting bagi konsep album. Kematian tidak selalu datang sambil berteriak. Kadang ia hanya duduk diam. Menunggu. " Jinmenjushin " memperlihatkan bagaimana Sigh masih dapat terdengar berat tanpa kehilangan kompleksitas progresifnya. Riff-riffnya memiliki daya dorong yang konkret, tetapi aransemen di sekelilingnya terus bergerak dan berubah. Sementara " Kushukankyō " membuka ruang bagi pengaruh folk dan melodi yang lebih indah, indah dalam arti yang ironis, karena keindahan tersebut hidup di tengah album tentang tubuh yang menuju kehancuran. Itulah salah satu paradoks terbesar " Goh-Ka " : semakin kuat album ini berbicara tentang pembusukan, semakin terasa pentingnya melodi dan tekstur yang indah. Sigh seakan berkata bahwa kefanaan bukan musuh keindahan. Justru karena segala sesuatu akan hilang, keindahan menjadi sesuatu yang patut direnungkan.

Jika suite " Kuso-Shi " menjadi pusat kontemplatif album, rangkaian " Jigoku-Zōshi " menghadirkan sisi yang jauh lebih agresif. Mengambil inspirasi dari gambaran-gambaran Buddhis mengenai neraka, bagian ini membawa Sigh ke wilayah thrashier dan lebih ekstrem. Riff-riff menyerang lebih keras, ritmenya lebih sibuk, dan energi metalnya lebih langsung. Ini adalah salah satu momen ketika masa lalu Sigh yang lebih buas kembali menyeringai. Namun " Goh-Ka " tidak pernah berubah menjadi album nostalgia. Bahkan ketika elemen-elemen ekstrem muncul dengan lebih dominan, mereka tetap menjadi bagian dari lanskap yang lebih luas. Sigh tidak sedang mencoba membuktikan bahwa mereka " masih bisa black metal ". Pertanyaan semacam itu sudah terlalu kecil untuk band ini. Mereka lebih tertarik membuktikan bahwa black metal bisa menjadi salah satu bahasa dalam sebuah kalimat yang jauh lebih besar. Puritan mungkin akan mengeluh. Biarkan saja. Black metal yang benar-benar takut pada perubahan sebenarnya sudah kehilangan salah satu kekuatan terbesarnya: kemampuan untuk menolak kepatuhan. Secara permainan, " Goh-Ka " memperlihatkan formasi yang bekerja dengan tingkat kepercayaan diri tinggi. Nozomu Wakai adalah salah satu senjata paling efektif dalam album ini. Dikenal luas melalui kemampuan bermain yang berakar pada hard rock dan heavy metal klasik, gitaris ini kembali membuktikan bahwa teknik bukan soal dari genre mana seseorang berasal, melainkan seberapa baik ia memahami konteks. Ia bisa bergerak dari black metal yang cepat ke riff mid-tempo progresif, dari lead melodis menuju permainan yang lebih agresif, tanpa terdengar seperti musisi tamu yang salah masuk ruangan. Gitar-gitarnya tajam, tetapi tidak menuntut menjadi pusat perhatian setiap saat. Mereka tahu kapan harus menyerang dan kapan harus membiarkan shamisen atau melodi tradisional mengambil ruang. Sementara itu, Mike Heller menghadirkan permainan drum yang spektakuler. Permainannya sangat dinamis: mampu menangani pola-pola langsung, kemudian tiba-tiba bergerak liar dengan detail perkusi yang menambah kedalaman aransemen. Dalam beberapa bagian, drum bahkan terasa sangat menonjol dalam mixing sesuatu yang sesekali menciptakan sedikit jarak dengan elemen lain, seolah instrumen perkusi berada di ruang fisik yang berbeda. Itu bukan selalu keputusan sonik yang sempurna. Tetapi cacat kecil tersebut tidak menghancurkan keseluruhan. Justru pada album seperti " Goh-Ka ", ketidaksempurnaan kecil terasa lebih manusiawi dibanding produksi steril yang kini menjadi wabah. Sigh pernah cukup sering tersandung oleh produksi dan keterbatasan teknis di masa lalu. Karena itu, mendengar album dengan produksi yang secara umum mampu menampung ambisinya adalah kemenangan tersendiri. Mirai Kawashima, tentu saja, tetap menjadi roh utamanya. Vokalnya yang serak, tercekik, dan nyaris seperti makhluk yang sedang berbicara dari balik tanah memberikan kontinuitas dengan sejarah panjang Sigh. Ada sesuatu yang anehnya menenangkan dari vokal Kawashima: ketika seluruh musik di sekitarnya berubah menjadi labirin, suara itu tetap menjadi benang yang menghubungkan pendengar dengan identitas band. Ia tidak mencoba menjadi penyanyi sempurna. Ia terdengar seperti dirinya sendiri dan setelah tiga dekade, itu jauh lebih berharga daripada kesempurnaan.

Perjalanan Sigh menuju penggunaan bahasa Jepang secara lebih dominan dalam lirik beberapa rilisan terakhir menjadi sangat penting di " Goh-Ka ". Di titik ini, identitas Jepang mereka tidak lagi hanya menjadi fakta biografis yang dicantumkan dalam profil band. Ia telah menjadi struktur. Judul Jepang. Lirik Jepang. Instrumen tradisional Jepang. Kusōzu. Jigoku-zōshi. Konsep spiritual mengenai ketidakkekalan. Semua elemen tersebut membuat " Goh-Ka " terdengar seperti karya yang benar-benar lahir dari tempat tertentu, sejarah tertentu, dan kegelisahan tertentu. Sigh tidak mencoba " berbaur " dengan formula Eropa atau Amerika. Mereka akhirnya berhenti meminta izin dan itu mungkin salah satu alasan mengapa album ini terasa begitu kuat. " Goh-Ka " tidak terdengar seperti band Jepang yang memainkan versi lokal dari musik Barat. Ia terdengar seperti Sigh menggunakan semua perangkat musik yang mereka kuasai untuk membangun sesuatu yang tidak mungkin sepenuhnya dimiliki oleh siapa pun selain mereka. Di era ketika " Global sound " sering berarti semua band terdengar seperti menggunakan preset yang sama, identitas semacam ini terasa seperti tindakan perlawanan. Untuk waktu yang lama, Sigh adalah band yang sering kali lebih menarik sebagai ide daripada sebagai eksekusi. Ambisi mereka luar biasa, tetapi tidak semua gagasan mampu diwujudkan dengan kekuatan yang sama. Kadang ada kesan bahwa Sigh ingin memasukkan seluruh museum keganjilan musik ke dalam satu album dan baru kemudian memikirkan apakah semuanya bisa berdiri bersamaan. Namun sejak era " Heir to Despair " , kualitas realisasinya semakin konsisten. Dengan " Goh-Ka ", keseimbangan itu mencapai salah satu titik tertingginya. Album ini masih aneh, Sangat aneh, Tetapi keanehan tersebut kini memiliki disiplin. Ada ancaman konstan bahwa " Goh-Ka " akan runtuh. Terlalu banyak gaya. Terlalu banyak instrumen. Terlalu banyak perubahan suasana. Terlalu banyak konsep yang bisa saja berubah menjadi kuliah kebudayaan dengan distorsi gitar. Tetapi album ini tidak runtuh. Setiap elemen justru memperkuat elemen lain. Riff-riff doomy memberi bobot pada instrumen tradisional. Folk memperdalam atmosfer spiritual. Psychedelia membuka ruang mimpi buruk. Ambient menciptakan kehampaan. Black metal memberi luka. Thrash membawa api. Dan vokal Kawashima berdiri di tengah semuanya seperti seorang pemandu ritual yang sudah terlalu lama menatap kematian hingga berhenti merasa takut. 

" Goh-Ka " bukan album yang dibuat untuk menyenangkan semua orang. Black metal purist bisa menganggapnya terlalu jauh meninggalkan pakem. Pendengar yang menginginkan struktur lagu sederhana mungkin akan tersesat. Mereka yang membutuhkan hook setiap tiga puluh detik mungkin sebaiknya kembali ke algoritma. Sigh tidak peduli dan mereka memang tidak seharusnya peduli. Ini adalah album yang meminta pendengarnya untuk ikut masuk, mengikuti alurnya, menerima perubahan suasana, dan menghadapi gagasan yang tidak nyaman: kita semua fana, tubuh kita bukan monumen, dan pada akhirnya kecantikan, status, kekuasaan, serta segala kebanggaan manusia memiliki tujuan biologis yang sama pembusukan. Terdengar suram? Tentu. Tetapi " Goh-Ka " bukan album yang tenggelam dalam keputusasaan. Ada sesuatu yang justru membebaskan dalam penerimaan terhadap kefanaan. Jika semua akan hilang, mungkin kita akhirnya bisa berhenti berpura-pura bahwa kita memiliki kontrol penuh atas kehidupan dan mungkin itulah api yang sebenarnya dibicarakan Sigh. Bukan hanya api neraka. Bukan hanya api kiamat. Tetapi api kesadaran yang membakar ilusi tentang keabadian. Dengan perjalanan musikal yang mencakup folk, doom, progressive rock, psychedelia, ambient, thrash, black metal, orkestrasi, dan instrumen tradisional Jepang, " Goh-Ka " seharusnya menjadi kekacauan. Sebaliknya, ia menjadi salah satu karya Sigh yang paling utuh, paling matang, dan paling memuaskan. Sigh telah membuat banyak album hebat selama lebih dari 30 tahun. Tetapi di " Goh-Ka ", untuk sekali ini, hampir tidak ada elemen yang terasa sedang berebut menjadi pusat perhatian. Semuanya bekerja menuju tujuan yang sama. Seperti sembilan tahap pembusukan. Seperti api yang terus menyala. Seperti hidup yang bergerak, perlahan tapi pasti, menuju akhir dan Sigh tidak membuat musik untuk mengalihkan pandangan kita dari kematian. Mereka menyeret wajah kita mendekat, memaksa kita melihat ke dalam kubur, lalu bertanya: setelah semua kebisingan berhenti apa sebenarnya yang masih tersisa dari dirimu? Jawabannya mungkin tidak nyaman. Itulah mengapa " Goh-Ka " begitu penting untuk didengar.

0 Comments:

Posting Komentar

Tinggalkan komentar TERBAIK kalian disini, enjoy the sickness !

Designed by lostinchaos mediazine