Cutterred Flesh - The Shapes of Hidden Malice
Transcending Obscurity Records 2026
01. The Mad Farmstead 03:17
02. Le horla
03. The King in Yellow 03:15
04. The Willows
05. Mimi-Nashi-Hōichi
06. The Feather Pillow
07. The Letter U
08. The Painted Skin
09. The Colour Out of Space 03:12
10. Berenice
Jirka Krš - Vocals
Martin Meyer - Guitars
Vitalij Novák - Guitars
Ondrej Klaban - Bass
Jakub Bayer - Drums
Ada banyak band BDM yang mengira kekerasan adalah tujuan akhir. Putar blast beat lebih cepat, turunkan gitar lebih rendah, tambahkan growl sedalam mungkin, lalu berharap pendengar mengangguk sambil kehilangan fungsi leher. Formula yang sangat ilmiah. Hampir setara dengan memasukkan lebih banyak cabai ke sambal lalu menyebutnya gastronomi progresif. Cutterred Flesh tidak melakukan itu. Dibentuk di Republik Ceko pada 2001, band ini memasuki fase ketujuh full-length mereka melalui " The Shapes of Hidden Malice " sebuah album yang masih berdiri kokoh di fondasi BDM modern, tetapi menolak menjadikan brutalitas sebagai satu-satunya bahasa. Yang mereka bangun justru jauh lebih menarik: BDM sebagai kendaraan untuk horor literer. Sepuluh cerita, Sepuluh bentuk kegilaan, Sepuluh pintu menuju ruangan berbeda, Namun semuanya berada di rumah yang sama dan rumah itu tidak memiliki jalan keluar. Hal pertama yang harus ditegaskan: " The Shapes of Hidden Malice" bukan album Cutterred Flesh yang tiba-tiba membuang BDM lalu mengenakan jas progresif sambil berkata, " Maaf, masa lalu kami terlalu sederhana. " Tidak. Mereka masih brutal. Riff modern BDM tetap menjadi tulang belakang. Blast beat tetap bekerja seperti palu godam. Growl dan scream tetap dipakai sebagai senjata utama. Bedanya, sekarang semua instrumen tersebut mempunyai fungsi naratif. Ketika sebuah lagu membutuhkan tekanan psikologis, gitar berubah. Ketika cerita membutuhkan atmosfer, tempo memberi ruang. Ketika karakter dalam kisah mulai kehilangan kewarasan, vokal tidak sekadar meraung ia menjadi bagian dari dramaturgi. Inilah perbedaan antara kompleksitas dan kedalaman, Kompleksitas bisa dipamerkan, Kedalaman harus dirasakan dan Cutterred Flesh memilih yang kedua.
" The Mad Farmstead " mungkin bukan lagu yang langsung menendang pintu ketika pertama kali didengar sendirian. Namun justru di situlah jebakannya. Strukturnya berkembang secara progresif, tidak sekadar mengulang formula verse-breakdown-blast-ulang lagi sampai pendengar lupa mengapa mereka menekan tombol play. Vokal menggunakan beberapa teknik berbeda, piano bekerja di bawah permukaan, dan atmosfernya perlahan menebalkan cerita. Pada pendengaran pertama, lagu ini mungkin terasa kurang menggigit. Setelah seluruh album selesai? Ia masuk akal dan itu penting. Karena " The Shapes of Hidden Malice " bukan kumpulan single yang kebetulan diletakkan dalam satu tracklist. Ia adalah narasi musikal. " The Mad Farmstead " membuka pintu itu perlahan. Kemudian Cutterred Flesh mendorong kita masuk. " Le horla " Inspirasi dari cerita Guy de Maupassant tentang seseorang yang percaya dirinya berada di bawah pengaruh entitas supernatural memberikan fondasi psikologis yang sangat cocok dengan musik Cutterred Flesh. Di sini gitar dan vokal saling mengunci. Ada nuansa BDM modern yang mengingatkan pada Aborted, tetapi bukan dalam bentuk peniruan malas. Yang diambil adalah energi dan kecenderungan riff untuk bergerak seperti organisme yang tidak sehat dan memang itulah inti " Le Horla ". Bukan monster yang berdiri di depan pintu. Melainkan kemungkinan bahwa monster itu sudah berada di dalam kepala. Cutterred Flesh memahami bahwa horor paling efektif bukan selalu sesuatu yang berteriak dari kegelapan. Kadang horor adalah suara kecil yang terus berkata: " Bagaimana jika semuanya benar? " The King in Yellow " Di sini album mulai benar-benar menunjukkan taring. Growl dan scream diposisikan secara agresif. Gitar menghantam seperti benda berat yang dijatuhkan dari lantai atas. Sekitar pertengahan lagu, intensitasnya meningkat dan karakter modern brutal death metal menjadi jauh lebih terasa. Namun musiknya tidak berhenti pada kebrutalan. Inspirasi dari Robert W. Chambers memberikan dimensi lain: kegilaan, realitas yang terurai, dan sesuatu yang tidak sepenuhnya bisa dipahami manusia. Bagi yang mengenal True Detective, istilah " The King in Yellow " tentu membawa resonansi tambahan. Tetapi Cutterred Flesh tidak perlu bergantung pada referensi pop tersebut. Mereka memahami sumber horornya. Musiknya terasa seperti kenyataan yang perlahan kehilangan baut. Drum tetap menjaga semuanya agar tidak runtuh total, sementara gitar membuat fondasinya semakin tidak stabil. Kekacauan, tetapi dengan administrator.
" The Willows " Ini salah satu titik tertinggi album secara teknis. Permainan gitar Jakub Bajer menjadi sangat menonjol. Dua gitar terdengar seperti sedang berdebat, bahkan bertarung, bukan sekadar memainkan harmoni secara aman. Sementara Jiří Krš terdengar seperti sedang merobek tenggorokannya sendiri demi memastikan cerita ini tidak berakhir bahagia. Inspirasi datang dari karya Algernon Blackwood tahun 1907, " The Willows " cerita tentang dua orang yang melakukan perjalanan menyusuri Danube dan berhadapan dengan sesuatu yang berada di luar batas pemahaman manusia. Blackwood merupakan salah satu pengaruh penting terhadap tradisi cosmic horror yang kemudian berkembang dalam karya Lovecraft dan Cutterred Flesh menerjemahkan perjalanan tersebut dengan tepat: bukan horor yang mengejutkan, melainkan horor yang perlahan menyadarkan bahwa manusia terlalu kecil. "Mimi-Nashi-Hōichi Salah satu kualitas paling menarik album ini adalah keberaniannya keluar dari zona nyaman horor Barat. " Mimi-Nashi-Hōichi " mengambil inspirasi dari kisah Lafcadio Hearn tentang Hōichi, seorang biarawan buta yang terseret ke dalam dunia arwah. Secara musikal, lagu ini memberi ruang lebih besar bagi kemampuan teknis. Sekitar bagian awal, gitar mulai memasuki wilayah black metal, tetapi Cutterred Flesh tidak pernah benar-benar meninggalkan basis brutal death metal dan itu justru tepat. Black metal di sini bukan tempelan. Ia menjadi warna atmosfer. Sebuah tekstur dingin yang membuat lagu terasa lebih mistis. Konsep album pun semakin jelas: berbagai budaya, berbagai mitologi, satu bahasa ketakutan. " The Feather Pillow " Inilah salah satu nomor paling atmosferik. Gitar membangun rasa tidak nyaman sebelum blast beat mengambil alih. Kemudian sekitar bagian tengah, ketika pendengar mulai mengira musik akan memberikan ruang bernapas tidak. Cutterred Flesh hanya berpura-pura. Serangan berikutnya datang dan pola seperti ini sangat efektif karena mereka memahami satu prinsip sederhana: Jika tidak pernah memberi ruang, kekerasan akan kehilangan makna.
Kontras membuat pukulan terasa lebih berat. Tambahan vokal bersih Hana Hajdová dari Silent Stream of Godless Elegy juga menjadi keputusan cerdas. Clean Sound tersebut tidak menghancurkan kegelapan. Justru membuatnya lebih mengganggu. Karena sesuatu yang lembut terdengar jauh lebih menyeramkan ketika ditempatkan di tengah musik yang sedang mengancam kehidupan. " The Letter U " Jika ada lagu yang memperlihatkan bagaimana Cutterred Flesh memahami modern death metal, ini salah satunya. Nuansanya mengingatkan pada Cattle Decapitation, terutama dari sisi agresi modern dan cara riff bergerak lebih dinamis. Namun konsepnya absurd dalam cara yang sangat efektif: sebuah huruf menjadi pusat obsesi sampai pikiran manusia kehilangan kendali dan justru karena premisnya terdengar konyol, hasil musikalnya menjadi semakin mengganggu. Kegilaan tidak selalu membutuhkan iblis. Kadang cukup satu simbol. Satu ide. Satu pikiran yang tidak mau pergi. " The Painted Skin " Di sini bass akhirnya sedikit lebih terlihat dan terus terang, seharusnya lebih sering begitu. Dengan lapisan gitar yang padat dan produksi modern yang tebal, bass sebenarnya memiliki kesempatan untuk memperkuat fondasi frekuensi rendah. Secara umum produksinya berhasil " The Colour Out of Space " Ini salah satu pusat konseptual album. Lovecraft hadir melalui kisah tentang sesuatu yang jatuh dari luar angkasa dan membawa kekuatan yang tidak dapat dipahami manusia. Tidak ada monster konvensional. Tidak ada penjahat yang bisa dibunuh. Tidak ada solusi heroik. Hanya sesuatu yang asing dan manusia yang terlalu kecil untuk mengerti apa yang sedang terjadi. Secara musikal, Cutterred Flesh menerjemahkan konsep itu dengan pendekatan yang sangat tepat. Riff brutal datang dalam gelombang. Atmosfer memberikan ruang. Kemudian kekerasan kembali. Lagu tidak bergerak sebagai satu blok kebisingan. Ia seperti fenomena yang datang, menghilang, lalu kembali dari arah yang tidak kita duga dan itu jauh lebih efektif daripada sekadar memainkan blast beat selama lima menit.
Menutup album dengan " Berenice " adalah pilihan yang masuk akal. Keyboard membuka lagu sebelum gitar menyerang. Atmosfer dibangun lebih dahulu. Kemudian Cutterred Flesh kembali melakukan apa yang telah mereka lakukan sepanjang album: mengubah cerita menjadi struktur musik. Edgar Allan Poe adalah figur yang nyaris terlalu mudah digunakan oleh metal. Sudah terlalu banyak band memakai Poe. Terlalu banyak cover. Terlalu banyak judul. Terlalu banyak suasana gothic yang dibuat seperti dekorasi Halloween toko swalayan. Namun Cutterred Flesh tidak menjadikan Poe sekadar ornamen. Mereka menggunakan aspek psikologis ceritanya. Obsesi, Kematian, Tubuh, Kegilaan dan rasa jijik yang perlahan tumbuh. Itulah cara yang benar menggunakan sastra dalam metal: bukan mencetak nama penulis di lirik, tetapi mengubah logika ceritanya menjadi musik. Di sinilah " The Shapes of Hidden Malice " benar-benar memenangkan pertarungan. Album ini memiliki sepuluh kisah berbeda. Maupassant, Chambers, Blackwood, Hearn, Poe, Lovecraft dan berbagai sumber literatur horor lainnya. Masalah terbesar dengan album konseptual semacam ini adalah fragmentasi. Terlalu banyak cerita bisa membuat album terdengar seperti kompilasi. Cutterred Flesh menghindari jebakan tersebut. Bagaimana? Dengan menjadikan atmosfer sebagai benang merah. Bukan semua lagu harus terdengar sama. Justru sebaliknya. Setiap lagu boleh berbeda karena setiap cerita membutuhkan jenis ketakutan berbeda. Maupassant membutuhkan paranoia, Chambers membutuhkan cosmic dread, Blackwood membutuhkan ketidakberdayaan, Hearn membutuhkan mistisisme, Poe membutuhkan obsesi dan kematian. Lovecraft membutuhkan ketidakmampuan manusia memahami sesuatu yang jauh lebih besar. Dan musik mengikuti kebutuhan tersebut. Ini bukan genre hopping. Ini storytelling melalui genre. Ini bagian yang patut diapresiasi. Cutterred Flesh menggunakan progresivitas tanpa mengubah album menjadi demonstrasi ego. Tidak ada kompetisi masturbasi teknis yang sering membuat TDM terdengar seperti ujian masuk konservatorium untuk orang-orang yang membenci melodi. Struktur progresif di sini mempunyai fungsi. Tempo berubah karena cerita membutuhkan perubahan. Riff berkembang karena atmosfer membutuhkan perkembangan. Gitar saling berhadapan karena narasi membutuhkan konflik. Drum menyesuaikan diri dengan komposisi, bukan sekadar menunjukkan kecepatan. Itulah progresivitas yang berguna. Bukan kompleks demi kompleks. Tetapi kompleks karena sesuatu harus dikatakan.
Home
[Brutal Death Metal]
[Deathcore]
* Cutterred Flesh
#Czechia
2026
Transcending Obscurity Records
Cutterred Flesh - The Shapes of Hidden Malice CD 2026
Cutterred Flesh - The Shapes of Hidden Malice CD 2026
Written by REVIEW LOSTINCHAOS Agustus 31, 2026 0
Langganan:
Posting Komentar
(
Atom
)


0 Comments:
Posting Komentar
Tinggalkan komentar TERBAIK kalian disini, enjoy the sickness !