Skaphos - Cult of Uzura
Transcending Obscurity Records CD 2025
01. Cult of Uzura 04:32
02. One Eyed Terror 04:10
03. Mad Man and the Sea 05:03
04. Hypoxia 03:08
05. Abyssal Tower 04:19
06. Echoes of the Drowned 03:29
07. Of Shores and Dripping Souls 02:13
08. Skaphism 03:26
09. The Servant 02:56
10. The Alchemist 04:02
11. The Offering 03:39
12. Diluvian Sentence 03:57
13. All Shall Be Now It self the Sea 04:33
Stephan Petitjean - Guitars, Vocals
Jérémy Tronyo - Guitars
Théo Langlois - Bass
Nathan Faure - Drums
Blackened death metal dari Lyon, Auvergne-Rhône-Alpes, Perancis yang tidak menawarkan jalan keluar dari kegelapan ia justru mengajak pendengarnya menyelam lebih dalam, sampai oksigen habis, iman membusuk dan dasar laut mulai terdengar seperti altar. Mulailah dengan gambaran bahwa laut dalam adalah salah satu metafora paling tua untuk ketakutan manusia terhadap sesuatu yang tidak dapat dipahami. Manusia mengenal permukaan laut, tetapi tidak pernah benar-benar menguasai apa yang ada di bawahnya. Di situlah Skaphos bekerja. Bukan dengan monster murah ala film horor kelas B, tetapi melalui atmosfer: air asin, tekanan, kegelapan, ritual, tubuh yang tenggelam, dan sesuatu yang mungkin memang lebih baik tidak pernah ditemukan. Lalu baru perkenalkan " Cult of Uzura " sebagai soundtrack dari perjalanan tersebut. Kekuatan opening: laut → ketakutan → Lovecraft → kultus → Black/Death Metal → Skaphos. Dengan begitu, artikel sejak paragraf pertama sudah mempunyai identitas. Di bagian ini masuk konteks band. Skaphos berdiri di Lyon pada 2018 dan membangun identitas sebagai Abyssal Death Metal, menggabungkan disonansi Black Metal dengan bobot Death Metal. " Cult of Uzura " merupakan album ketiga setelah " Bathyscaphe " (2020) dan " Thooï " (2022). Tetapi jangan sekadar menulis sejarah. Pertanyaan yang lebih menarik: Mengapa laut? Ini dapat menjadi salah satu benang merah utama artikel. Laut dalam memiliki karakter yang sangat cocok dengan estetika extreme metal: Dengan kata lain, laut adalah metafora sempurna untuk Death Metal. Ini bagian yang bisa membuat artikel jauh lebih bernilai. Skaphos memang jelas bermain di wilayah Lovecraftian/abyssal horror, tetapi jangan terjebak pada glorifikasi “Lovecraft = otomatis menyeramkan”. Justru pertanyakan: Apa yang membuat pendekatan Skaphos berbeda dari ratusan band yang menggunakan tentakel, laut, kultus dan monster purba sebagai dekorasi artwork? Jawabannya ada pada cara konsep tersebut diterjemahkan menjadi struktur musik. Mereka tidak hanya menggunakan laut sebagai lirik atau visual. Mereka membuat musik yang terasa: lembap, tertutup, berat, disorientatif, penuh tekanan dan sesekali seperti kehilangan gravitasi. Itulah yang membuat konsep visual dan musikal mereka bertemu. Website resmi band sendiri mendeskripsikan " Cult of Uzura " sebagai perjalanan violent menuju dunia mistis dan oseanik yang berpusat pada Uzura, figur abyssal yang menggabungkan rasa takut dan ketertarikan.
Ini bisa menjadi salah satu bagian paling " menggigit ". Reviewer lain memang menangkap kemiripan tertentu dengan Behemoth, khususnya dalam bombastisitas, marching/galloping drum dan konstruksi Blackened Death Metal. Namun kritik yang lebih menarik justru terletak pada apa yang dilakukan Skaphos setelah titik referensi tersebut. Jangan mengatakan: " Skaphos terdengar seperti Behemoth. " Itu terlalu malas. Lebih tajam: " Behemoth mungkin berada di peta, tetapi Skaphos memilih berlayar ke perairan yang lebih keruh. " Karena setelah permukaan bombastis itu muncul: disonansi, perubahan tempo, ambience, ritme ritual, doom, post-black atmosphere, groove, lead gitar yang tidak nyaman dan struktur yang tidak selalu tunduk pada satu formula. Dengan demikian artikel tidak menjadi tuduhan " Clone Behemoth ", tetapi pembacaan genealogis terhadap bahasa Blackened Death Metal modern. Track pembuka harus dibedah sebagai manifesto, bukan sekadar lagu pertama. Ada chanting tanpa kata dan percussion yang mengawali sekaligus membingkai lagu, sebelum gitar dan vokal menghantam dengan struktur Death/Black Metal yang jauh lebih agresif. Ini penting secara dramaturgis. Karena Skaphos tidak langsung berkata: Mereka terlebih dahulu menciptakan ritual. Baru setelah ritual selesai: monster dilepaskan. Itulah mengapa pembukaan album terasa lebih efektif daripada sekadar blast beat sejak detik pertama. Di sini artikel bisa mulai menunjukkan bahwa album ini tidak sempurna, dan justru itu membuat review terasa jujur. Bagian snarling vocal tertentu pada awal lagu memang bisa terasa agak ganjil bagi sebagian pendengar. Review sumber bahkan mengakui bahwa beberapa eksperimen vokal tidak selalu menjadi elemen yang mudah diterima. Jangan disembunyikan. Karena artikel yang terlalu memuji biasanya berakhir seperti press release. Lebih menarik apabila ditulis: Skaphos tidak selalu tahu kapan harus berhenti menjadi aneh. Untungnya, mereka juga cukup cerdas untuk tidak meminta maaf karenanya. Ini memberi ruang bagi pembaca untuk setuju atau tidak.
Ini salah satu titik penting album. Track ini bergerak lebih lambat, menyimpan elemen melodis di bawah permukaan, kemudian menjadi semakin disonan dan bergerak menuju wilayah post-black yang lebih muram. Ada pula sentuhan eksperimental yang mengingatkan pada pendekatan gitar Immolation. Di sini metafora laut bisa benar-benar dipakai. Permukaan tenang. Dasar laut bergerak. Musiknya tidak perlu selalu cepat untuk terdengar brutal. Kadang kekejaman justru datang ketika riff dibiarkan menyeret tubuh pendengar lebih lama. Jangan biarkan drummer hanya menjadi daftar line-up. Nathan Faure menjadi salah satu mesin penggerak penting album ini. Beberapa ulasan secara khusus menyoroti kemampuannya berpindah antara tempo dan pola ritmik dengan agresivitas yang sangat tinggi. Bagian ini dapat membahas: blast beat → double bass → groove → perubahan tempo → transitional drumming. Namun jangan memakai bahasa teknis seperti katalog drum. Gunakan narasi: Faure tidak memainkan drum seperti metronom. Ia memperlakukannya seperti alat untuk mengubah tekanan atmosfer. Itulah inti pendekatan album: drum bukan sekadar kecepatan; drum adalah perubahan tekanan. Judulnya sendiri sudah memberi pintu masuk. " Hypoxia " menjadi salah satu lagu yang lebih agresif, dengan groove yang memberikan variasi terhadap serangan album. Reviewer juga menyoroti sisi drumming Faure di lagu ini. Konsepnya bisa dimainkan: " hypoxia " = kekurangan oksigen.
Track ini dapat menjadi bagian untuk membahas bagaimana Skaphos memakai grandeur tanpa berubah menjadi symphonic metal. Ada lead gitar yang lebih hypnotic dan kemudian ledakan brutal. Reviewer lain bahkan mendeskripsikan bagian akhirnya seperti blackened Gojira. Ini menarik karena menunjukkan bahwa Skaphos tidak hanya punya satu warna. " Echoes of the Drowned " Di sinilah eksperimen vokal harus dibahas. Throat singing/chanting menjadi salah satu elemen yang membelah pendengar: bagi sebagian orang ia memperkuat atmosfer ritual, bagi yang lain mungkin terdengar sebagai ornamen yang terlalu asing dan justru di sinilah artikel bisa mengatakan sesuatu yang penting: Tidak semua eksperimen harus berhasil untuk membuat sebuah album terasa hidup. Jika semuanya sempurna, musik akan terasa steril. Skaphos justru menarik karena mereka bersedia mengambil risiko. " Of Shores and Dripping Souls " Ini harus diperlakukan sebagai dramatic pause. Acoustic interlude berdurasi sekitar 2:13 muncul di tengah album dan ini sangat penting secara sequencing. Setelah enam lagu penuh tekanan: diam. Bukan sebagai dekorasi. Tetapi sebagai cara membuat Skaphism terasa lebih brutal ketika masuk. Inilah salah satu aspek yang dapat dipuji dari songwriting Skaphos: mereka mengerti bahwa kekerasan membutuhkan kontras. " Skaphism " Setelah interlude, album kembali dengan riff yang lebih jagged dan kemudian bergerak menuju bagian yang lebih lambat, berat dan mengganggu. Di sini artikel dapat memakai metafora: Laut memberikanmu udara selama dua menit hanya untuk menenggelamkanmu lagi. Itu jauh lebih kuat daripada: " Lagu ini memiliki riff yang agresif. " Salah satu keberhasilan " Cult of Uzura " adalah bahwa album ini tidak hanya mengandalkan ekstremitas. " The Alchemist " mempunyai pinch harmonics dan groove yang lebih mudah menempel, sementara " Diluvian Sentence " membawa stomp/groove yang membuat album semakin mudah diingat. Ini penting karena: Extreme metal tanpa memori hanya menjadi kebisingan mahal. Skaphos tampaknya memahami bahwa brutalitas membutuhkan hook. Bukan hook ala radio. Tetapi riff yang membuat kepala otomatis bergerak sebelum otak sempat mengajukan keberatan. " All Shall Be Now It self the Sea " Closer harus diposisikan sebagai kesimpulan filosofis, bukan hanya lagu terakhir. Judulnya sendiri memberikan semacam nihilisme kosmik: semua akhirnya menjadi laut. Album kembali ke titik awal. Secara struktural ini memberikan artikel kesempatan untuk mengatakan bahwa " Cult of Uzura " bukan hanya kumpulan 13 lagu, tetapi sebuah siklus atmosferik.
Ada kecenderungan overcast, shadowy, dan tidak memberikan setiap instrumen kilauan modern yang berlebihan. Beberapa review menilai karakter produksi tersebut justru membantu atmosfer album. Artikel dapat menyerang kecenderungan produksi modern: Tidak semua gitar harus terdengar seperti baru keluar dari showroom. Karena untuk konsep seperti Skaphos, terlalu bersih justru bisa membunuh atmosfer. Mereka membutuhkan: kelembapan sonik. Artwork oleh Paolo Girardi merupakan kesempatan untuk membahas bagaimana visual dan musik saling menguatkan. Tetapi jangan berhenti pada: " Artwork sangat bagus. " Bahas bagaimana lukisan Girardi berfungsi sebagai pintu masuk psikologis. Artinya: sebelum musik dimainkan, pendengar sudah lebih dulu diberi ancaman. 13 lagu dalam hampir 50 menit bisa terasa sedikit terlalu panjang. Ada bagian vokal eksperimental yang mungkin tidak cocok untuk semua pendengar. Beberapa struktur dapat terasa terlalu berdekatan secara atmosfer. Ada momen ketika formula Blackened Death Metal modern masih terasa familier. Tidak seluruh eksperimen menghasilkan efek yang sama kuat. Reviewer lain memang menganggap jumlah 13 lagu sedikit terlalu banyak dan berpotensi membuat beberapa bagian sulit dibedakan menjelang akhir. Namun jangan menjadikannya serangan, Kritik harus menjadi bagian dari apresiasi. " Cult of Uzura " bukan album yang mencoba menemukan kembali Blackened Death Metal. Ia melakukan sesuatu yang lebih realistis dan lebih berguna: mengambil bahasa yang sudah dikenal, kemudian membuatnya cukup lembap, disonan dan atmosferik untuk terdengar seperti datang dari dasar laut. " Ini jauh lebih kuat daripada klaim bombastis: " Skaphos menyelamatkan genre. " Tidak. Pada akhirnya, " Cult of Uzura " bukan perjalanan menuju sesuatu. Ini perjalanan menuju ketiadaan. Tidak ada pahlawan, tidak ada keselamatan, tidak ada mercusuar yang menunggu di kejauhan. Hanya air yang semakin gelap, tekanan yang semakin besar dan suara dari sesuatu yang seharusnya tetap terkubur di bawah sana. Skaphos tidak mengajak kita menemukan monster di dasar laut. Mereka hanya mengingatkan bahwa monster itu mungkin sudah ada di dalam diri kita dan album ini tahu persis bagaimana membuatnya lapar. Karena pendek, visual, tidak terdengar seperti judul review generik, sekaligus membuka ruang bagi seluruh narasi artikel: laut, Lovecraft, tekanan, ritual, disonansi, Death Metal, dan ketakutan terhadap sesuatu yang tidak bisa kita lihat dan satu fakta menarik yang layak dijadikan epilog editorial: kisah abyssal Skaphos ternyata belum selesai setelah Cult of Uzura mereka meneruskannya dengan " The Descent " pada 2026. Jadi artikel ini bahkan bisa ditutup dengan gagasan bahwa " Cult of Uzura " bukan akhir perjalanan, melainkan peringatan pertama sebelum kapal benar-benar masuk ke palung.
Home
[Black/Death Metal]
* Skaphos
#France
2025
Transcending Obscurity Records
Skaphos - Cult of Uzura CD 2025
Skaphos - Cult of Uzura CD 2025
Written by REVIEW LOSTINCHAOS Agustus 19, 2026 0
Langganan:
Posting Komentar
(
Atom
)


0 Comments:
Posting Komentar
Tinggalkan komentar TERBAIK kalian disini, enjoy the sickness !