Wafat - Cemetery of Cellarage
Holy Sound Production ' Kaset 1997
01. Beneath the Death 02:45
02. Fourth Dimension 04:02
03. Veneral Disease 03:56
04. Disciple of Butchered 02:21
05. Retaliation Misusage 03:14
06. Malediction 03:30
07. Wafat 00:23
08. Evil Slave 02:50
Eddy - Vocals
Pipin - Guitars
Cholis - Guitars
Rosid - Bass
Cahyo - Drums
Satu kesalahan yang terus diulang generasi sekarang ketika membicarakan skena death metal Indonesia era 1990-an: mereka terlalu sibuk menghitung jumlah rilisan, tetapi lupa mengukur kadar keberanian yang dibutuhkan untuk menciptakannya. Dekade 90-an bukan sekadar masa ketika kaset demo berpindah tangan melalui amplop cokelat dan perangko. Ia adalah periode ketika musik ekstrem benar-benar hidup tanpa algoritma, tanpa media sosial, tanpa tutorial produksi digital, bahkan tanpa jaminan bahwa karya yang direkam hari ini masih bisa didengar orang setahun kemudian. Yang tersedia hanyalah ruang latihan pengap, studio sederhana, mesin rekam analog, idealisme yang nyaris irasional, dan sekelompok anak muda yang percaya bahwa distorsi mampu berbicara lebih lantang daripada pidato siapa pun. Di Jawa Timur, salah satu nama yang tumbuh dari bara itu adalah Wafat ! Band ini bukan sekadar penyintas gelombang brutal death metal Indonesia. Mereka adalah salah satu fondasi yang ikut membentuk dialek ekstrem khas Nusantara : keras, mentah, tetapi memiliki identitas yang tidak sepenuhnya tunduk pada bayang-bayang Barat. Puluhan tahun berlalu, pergantian personel silih berganti, arah musikal berkembang mengikuti zaman, namun satu hal tetap bertahan: Wafat masih berdiri ketika banyak nama sezamannya telah lama menjadi catatan kaki sejarah.
Karena itulah " Cemetery of Cellarage " bukan sekadar album debut. Ia adalah kapsul waktu, Ia menyimpan DNA Wafat sebelum evolusi mengubah wajah mereka. BDM yang Tidak Berusaha Menjadi Suffocation Kedua, Tidak perlu berpura-pura objektif. Pengaruh Suffocation dan Cannibal Corpse terdengar jelas sejak detik pertama album ini berputar. Struktur riff yang padat, pola drum yang menghantam tanpa kompromi, hingga karakter vokal guttural yang dalam merupakan bahasa universal brutal death metal awal dekade 90-an. Namun menyebut Wafat sebagai sekadar tiruan adalah kemalasan intelektual. Yang menarik justru bagaimana mereka menyederhanakan kompleksitas brutal death metal Amerika menjadi bentuk yang lebih membumi. Mereka tidak mengejar kerumitan teknikal yang nyaris matematis seperti Suffocation, juga tidak membangun kekejaman teatrikal ala Cannibal Corpse. Wafat memilih jalur yang lebih lugas: riff-riff yang langsung menghantam, groove yang tetap terasa hidup, serta komposisi yang lebih mudah dicerna tanpa kehilangan intensitas.
Di sinilah identitas mereka mulai terbentuk. Mereka tidak sedang mengejar kesempurnaan. Mereka sedang mencari suara mereka sendiri. Natural Studio dan Aroma Analog yang Tak Bisa Dipalsukan, Mendengar " Cemetery of Cellarage " hari ini mungkin membuat sebagian pendengar muda mengernyitkan dahi. Produksinya kasar. Gitar kadang terdengar terlalu tipis. Drum belum sepenuhnya solid. Bass sesekali tenggelam. Namun justru di situlah letak nilai historis album ini. Album ini direkam di Natural Studio, menghadirkan karakter sonik yang sangat identik dengan produksi metal Indonesia pertengahan 1990-an. Tidak ada proses digital yang memperbaiki setiap ketukan drum. Tidak ada perangkat lunak yang meratakan tempo. Tidak ada pengganti amplifier virtual atau pemoles vokal otomatis. Semua yang terdengar berasal dari tenaga manusia, Dari keringat, Dari kesalahan, Dari keberanian untuk membiarkan musik tetap terdengar hidup. Di era ketika banyak produksi modern terdengar steril seperti ruang operasi rumah sakit, Cemetery of Cellarage justru berbau oli, debu, kabel panas, dan dinding studio yang dipenuhi gema distorsi. Ia terdengar tidak sempurna. Karena kehidupan memang tidak pernah sempurna.
Salah satu kekuatan terbesar album ini adalah fakta bahwa sebagian materinya berasal dari lagu-lagu demo awal Wafat. Alih-alih sekadar dipindahkan ke format album, komposisi-komposisi tersebut mengalami penyempurnaan tanpa kehilangan karakter liar yang melekat sejak awal. Riff menjadi lebih matang, struktur lagu terasa lebih utuh, sementara permainan antarinstrumen menunjukkan peningkatan chemistry yang signifikan. Inilah alasan mengapa album ini terdengar begitu organik. Ia tidak lahir dalam semalam. Ia ditempa melalui panggung kecil, ruang latihan sempit, dan berkali-kali revisi yang dilakukan jauh sebelum lampu studio dinyalakan. Riff yang Tidak Pernah Kehabisan Nafas, Salah satu daya tarik terbesar " Cemetery of Cellarage " adalah bagaimana gitar menjadi pusat seluruh gravitasi musikal. Riff-riff bergerak agresif namun tidak kehilangan arah. Pergantian tempo dilakukan secara alami, menghadirkan tekanan yang konstan tanpa terasa dipaksakan. Sesekali muncul groove yang cukup untuk membuat kepala mengangguk sebelum kembali dihantam ledakan blast beat berikutnya.
Pendekatan seperti ini membuat album tetap menarik didengar berulang kali, Ia brutal, Namun tidak monoton. Drum, Bass, dan Vokal: Mesin yang Masih Kasar, Tetapi Berdenyut, Bagian ritmis album ini mungkin belum mencapai presisi modern, tetapi justru menghadirkan sensasi yang semakin sulit ditemukan hari ini. Drum terdengar seperti benar-benar dipukul oleh manusia, bukan hasil kuantisasi komputer. Bass bekerja sebagai fondasi tanpa mencoba mencuri perhatian, sementara vokal mengalir dalam growl pekat yang lebih mengutamakan atmosfer daripada artikulasi. Keseluruhannya menghasilkan karakter yang liar namun tetap terkendali. Persis seperti brutal death metal seharusnya terdengar. Lebih dari Sekadar Dokumen Sejarah. Mudah sekali terjebak memuji album lama hanya karena faktor nostalgia. Namun " Cemetery of Cellarage " layak dihargai bukan semata karena usianya. Album ini penting karena memperlihatkan bagaimana BDM Indonesia mulai menemukan identitasnya sendiri. Ia berdiri di antara pengaruh besar Amerika tanpa kehilangan keberanian untuk berbicara dengan aksen lokal. Itulah yang membedakan karya bersejarah dari sekadar rilisan lama.
Album ini bukan artefak museum, Ia masih memiliki denyut, Wafat Tidak Pernah Berhenti Berevolusi. Perjalanan panjang Wafat setelah album ini membuktikan satu hal yang sering dilupakan banyak band. Bertahan jauh lebih sulit daripada memulai, Formasi berubah, Pendekatan musikal berkembang, Teknologi rekaman berubah drastis, Namun semangat yang membentuk " Cemetery of Cellarage " tetap menjadi fondasi bagi setiap fase berikutnya. Album ini memperlihatkan Wafat sebelum segala transformasi itu terjadi ketika semuanya masih mentah, lapar, dan penuh hasrat untuk menghancurkan setiap panggung yang mereka pijak. " Cemetery of Cellarage " bukanlah album brutal death metal paling teknis yang pernah lahir dari Indonesia. Ia juga bukan produksi dengan kualitas audio paling mewah. Bahkan beberapa detailnya terdengar jauh dari standar modern. Namun semua kekurangan itu justru menjadi bukti bahwa album ini lahir pada masa ketika musik ekstrem masih dibangun oleh keberanian, bukan oleh kecanggihan perangkat lunak. Di balik distorsi yang kasar, terdapat sekelompok musisi yang rela menghabiskan tenaga, waktu, dan pikiran demi merekam karya terbaik yang mampu mereka hasilkan. Tidak ada jalan pintas. Tidak ada teknologi yang menyelamatkan kesalahan. Yang ada hanyalah dedikasi dan mungkin di situlah letak makna sebenarnya dari sebuah album klasik, Bukan karena ia terdengar sempurna. Melainkan karena ia masih mampu membuat generasi berikutnya percaya bahwa musik ekstrem seharusnya lahir dari darah, keringat, dan keyakinan bukan dari kemudahan. Wafat tidak sekadar merilis sebuah album debut. Mereka meninggalkan batu penjuru yang hingga hari ini masih menjadi salah satu fondasi penting dalam sejarah brutal death metal Indonesia.
Noted : Selamat datang di arsip kebisingan. Mari kembali mengunjungi era ketika musik ekstrem Indonesia belum mencari pengakuan karena sejak awal, ia memang lahir untuk menjadi ancaman. kemudahan itu berdiri di atas penderitaan panjang sebuah generasi yang pernah dianggap bising, sesat, dan tidak memiliki masa depan. Sejarah memang punya kebiasaan buruk: menikmati hasilnya, lalu melupakan mereka yang membangunnya. Karena itu, beberapa rilisan Indonesia dari era 90-an bukan sekadar album tua yang berdebu di rak kolektor. Mereka adalah artefak. Dokumen hidup. Bukti bahwa negeri ini sejak awal telah memelihara bibit kebrutalan musikal yang terlalu liar untuk dipelihara, namun terlalu berharga untuk dilupakan. Potensi yang sejak hari pertama sudah terdengar berbahaya. Rubrik Review khusus ini w namakan " HOMEGROWN INDONESIAN MENACE " atau (HIM) bukan sekadar nostalgia murahan atau romantisme para generasi yang hari ini kalian olok olok sebagai " Para Oruang tua ". Ini adalah upaya membuka kembali lembaran sejarah yang membentuk identitas musik ekstrem Indonesia, sebuah percik'an kisah tentang karya-karya yang menolak tunduk pada zaman, tetap relevan, dan masih sanggup menggigit puluhan tahun kemudian, dimana kita masih menjadi pengkonsumsi musik cadas sejak awal dekade 90-an, masa ketika ekstremitas belum menjadi komoditas, ketika kaset digandakan berkali-kali hingga suaranya remuk, zine fotokopian berpindah tangan seperti barang selundupan, dan setiap rilisan baru terasa seperti menemukan senjata rahasia.



0 Comments:
Posting Komentar
Tinggalkan komentar TERBAIK kalian disini, enjoy the sickness !