Kataklysm - Sorcery CD 1995

Kataklysm - Sorcery
Nuclear Blast Records CD 1995

01. Sorcery (Kataklysm Part II) 04:56       
02. Mould in a Breed (Chapter I, Bestial Propagation) 06:13     
03. Whirlwind of Withered Blossoms (Chapter II, Forgotten Ancestors) 05:18     
04. Feeling the Neverworld (Chapter III, An Infinite Transmigration) 05:54       
05. Elder God 04:00 
06. Garden of Dreams (Chapter I, Supernatural Appearance) 05:29     
07. Once... upon Possession (Chapter II, Legacy of Both Lores) 02:38       
08. Dead Zygote (Chapter III, Dethroned Son) 05:07       
09. World of Treason (Instrumental Vibrations) 06:36


Sylvain Houde - Vocals  
Jean-François Dagenais - Guitars
Maurizio Iacono - Bass, Vocals
Max Duhamel - Drums

  
Debut penuh Kataklysm bukan sekadar dokumen awal dari band yang kelak dikenal sebagai salah satu nama besar death metal Kanada. Ini adalah rekaman dari sebuah masa ketika death metal belum sepenuhnya dijadikan formula produksi, belum dipoles agar nyaman diputar ulang, dan belum membutuhkan algoritma untuk menentukan seberapa brutal sebuah lagu seharusnya terdengar. Kataklysm datang dari Montréal pada 1991, membawa apa yang kemudian mereka sebut " Northern Hyperblast " sebuah pendekatan yang menggabungkan kecepatan ekstrem, riff brutal, melodi dan perubahan tempo yang nyaris seperti kehilangan kendali dan " Sorcery " terdengar seperti itu: kehilangan kendali, tetapi dengan tangan yang masih tahu persis di mana pedal gas berada. Yang membuatnya semakin menarik adalah bahwa ini bukan Kataklysm versi Maurizio Iacono yang kemudian dikenal luas. Pada dua album pertama, suara utama berada di tangan Sylvain Houde, sementara formasi " Sorcery " diisi Jean-François Dagenais pada gitar, Maurizio Iacono pada bass dan backing vocals, serta Max Duhamel pada drum. Setahun kemudian mereka masih mempertahankan Houde dalam " Temple of Knowledge ", sebelum perubahan besar membawa Iacono ke posisi vokal. Itulah sebabnya membandingkan Sorcery dengan Kataklysm era " Shadows & Dust ", " Prevail ", atau material sesudahnya sering terasa seperti membandingkan dua spesies yang masih memiliki DNA sama tetapi tumbuh di lingkungan berbeda. Ini Kataklysm sebelum kekacauan diberi pagar. Opening album tidak langsung melemparkan blast beat ke wajah. Ada atmosfer, suara ambient yang terasa seperti benda-benda logam tua bergesekan dalam gudang kosong, lalu semuanya pecah. Setelah itu, " Sorcery " menyerang. Bukan sekadar cepat. Riff-nya memiliki lapisan melodi yang bergerak di bawah permukaan brutalitas. Inilah salah satu aspek yang membuat album ini lebih menarik daripada sekadar kompetisi siapa yang paling cepat menghantam snare. Gitar Dagenais tidak bekerja sebagai dinding suara homogen. Riff berpindah antara palm-muting, tremolo picking, aksen ritmis dan frase melodis. Struktur lagunya pun sering menolak pola verse–chorus konvensional. Beberapa komposisi terasa seperti beberapa ide berbeda yang dipaksa hidup dalam satu tubuh dan anehnya, justru itu kekuatannya.

" Sorce­ry " tidak selalu terdengar rapi. Tetapi ia memiliki kepribadian. Ada perbedaan besar antara musik yang tidak terstruktur dan musik yang sengaja menolak struktur konvensional. Kataklysm kadang berada di batas keduanya. Max Duhamel adalah salah satu alasan mengapa album ini tidak tenggelam menjadi sekadar koleksi riff ekstrem. Drumnya memang cepat, tetapi variasinya terletak pada cara tempo digunakan sebagai alat komposisi. Lagu bisa bergerak dari crawl yang berat menuju ledakan hyperblast, kemudian kembali melambat tanpa harus menggunakan breakdown modern sebagai tombol " Sekarang waktunya brutal " . Itu penting. Karena " Sorcery " tidak membutuhkan breakdown untuk memberi bobot pada musiknya. Bobotnya sudah ada dalam perubahan momentum. " Mould in a Breed (Chapter I, Bestial Propagation) " memperlihatkan mekanisme ini dengan jelas. Riff berpindah dari bagian palm-muted yang rapat menuju tremolo picking, kemudian drum mendorongnya ke wilayah yang jauh lebih panik. Bukan progresif dalam pengertian rock progresif yang gemar memamerkan kecerdasan. Lebih tepat menyebutnya sebagai komposisi yang terus-menerus menolak untuk duduk diam. Bahkan ketika struktur mulai terasa terlalu padat, Duhamel menjaga musik tetap bergerak dan ketika semuanya hampir menjadi kabut, satu perubahan tempo datang seperti pukulan palu. Jika ada satu elemen yang membuat Sorcery sulit disamakan dengan Kataklysm periode berikutnya, itu adalah Sylvain Houde. Vokalnya tidak sekadar growl. Ia memiliki beberapa lapisan karakter: guttural yang dalam, roar mid-range, dan jeritan tinggi yang terdengar seperti tenggorokan manusia sedang mencoba memproduksi suara yang seharusnya hanya dimiliki makhluk dari buku terlarang. Yang menarik, Houde tidak sekadar menempelkan vokal di atas riff. Ia mengikuti arsitektur musik. " Elder God " menjadi salah satu contoh terbaik. Vokal dapat berdiri seperti deklarasi ritual, lalu berubah menjadi raungan yang lebih agresif. Ada kualitas teatrikal tanpa menjadi opera metal murahan dan ketika Maurizio Iacono masuk memberikan lapisan vokal tambahan, tercipta kontras yang membuat beberapa bagian terdengar seperti dua entitas sedang saling menjawab. Itulah salah satu detail yang sering hilang ketika Sorcery hanya diringkas sebagai " Death metal cepat dan brutal ". Tidak. Ia brutal karena memiliki beberapa lapisan suara yang saling bertabrakan.

Trilogi " The Rebirth Vortex of Creation " merupakan salah satu bagian paling kuat dari keseluruhan album dan berasal dari materi yang sudah dikembangkan sebelum " Sorcery ". Materi " Vortex of Resurrection " sendiri kemudian muncul kembali sebagai bonus dalam edisi ulang " Temple of Knowledge ". Di sini Kataklysm terdengar paling bebas. Bukan karena paling teknis, tetapi karena mereka belum terdengar terlalu sadar terhadap batas-batas yang seharusnya dimiliki sebuah lagu. " Whirlwind of Withered Blossoms "bahkan menunjukkan kemampuan mereka menciptakan kontras ekstrem: pembukaan melodis yang relatif tenang, kemudian dihantam blast, melambat, lalu kembali melesat. Perubahan tersebut tidak terasa seperti dekorasi; ia mengubah psikologi lagu. Itulah yang membuat trilogi ini lebih dari sekadar rangkaian lagu death metal. Ia terasa seperti satu narasi. Satu makhluk dengan tiga kepala. Maurizio Iacono sering mendapat perhatian jauh lebih besar setelah menjadi vokalis utama Kataklysm, tetapi kontribusinya di " Sorcery " sebagai bassist tidak boleh diperlakukan seperti catatan kaki. Bass di sini memiliki peran yang lebih aktif daripada stereotip death metal yang biasanya menguburnya di bawah gitar. Beberapa bagian bahkan memberi ruang bagi bass untuk bergerak seperti instrumen utama. Ada jejak pengaruh Cliff Burton pada pendekatan tersebut, terutama ketika bass diberi ruang untuk melakukan sesuatu yang biasanya diserahkan kepada gitar. " World of Treason " bahkan menunjukkan ambisi instrumental yang berbeda dari sebagian besar album.

Namun Kataklysm tidak pernah benar-benar menjadi band prog dan syukurlah. Mereka hanya meminjam beberapa perangkatnya sebelum kembali menghantam kepala. Produksi Glen Robinson memberikan " Sorcery " sesuatu yang sangat penting: kejernihan tanpa menghilangkan keganasan. Album ini tidak terdengar seperti rekaman black metal yang sengaja dibuat seolah-olah direkam di kamar mandi. Tetapi ia juga belum memiliki sterilitas death metal modern yang membuat setiap kick drum terdengar seperti hasil render komputer. Gitar memiliki tubuh. Bass masih terdengar. Drum memiliki pukulan. Vokal tetap berada di depan dan semuanya cukup terpisah untuk memungkinkan pendengar memahami betapa banyak hal sebenarnya terjadi di dalam lagu-lagu tersebut. Produksi seperti ini membuat kompleksitas " Sorcery " lebih mudah dihargai setelah beberapa kali dengar. Bukan karena album ini langsung mudah dipahami. Justru sebaliknya. Ia menolak memberi semua jawabannya pada putaran pertama. Namun mari kita berhenti memuja album ini sebentar. " Sorce­ry " bukan mahakarya tanpa cacat. Beberapa bagian terlalu sibuk. Transisi terkadang terasa seperti ide baru yang dilempar masuk sebelum ide sebelumnya selesai bernapas. Ada riff yang kuat tetapi tidak selalu diberi konteks yang cukup. Struktur beberapa lagu bisa terasa seperti satu perjalanan panjang yang lupa memasang papan petunjuk. Kritik terhadap album ini sebagai materi yang kadang terlalu berbelit bukan tanpa dasar; bahkan ulasan retrospektif lain menyoroti bagaimana sejumlah bagian terasa seperti rangkaian struktur yang terlalu dipelintir dan berulang. Tetapi di sinilah kita harus berhati-hati. Kekacauan bukan otomatis kelemahan. Dalam konteks Kataklysm awal, kekacauan adalah bahasa. Masalah baru muncul ketika kekacauan tidak menghasilkan ketegangan lagi dan hanya menjadi kebisingan. " Sorce­ry " beberapa kali mendekati garis tersebut. Namun sebelum benar-benar jatuh ke jurang, mereka biasanya menemukan satu riff, satu perubahan tempo, satu hentakan drum, atau satu teriakan Houde yang menarik semuanya kembali.

Closing setlist track album menarik karena memperlihatkan Kataklysm mencoba memperluas bahasa mereka. " World of Treason (Instrumental Vibrations) " memiliki karakter instrumental yang lebih atmosferik dan memberikan ruang bagi bass untuk tampil lebih bebas. Ada sedikit bayangan pendekatan instrumental ala Metallica bukan karena Kataklysm terdengar seperti Metallica, tetapi karena mereka memahami bahwa ekstremitas tidak selalu berarti memainkan sesuatu secepat mungkin. Setelah hampir seluruh album menghabiskan energi seperti binatang yang sedang kabur dari kandang, penutup semacam ini terasa seperti pintu keluar. Bukan penutup yang nyaman. Hanya cukup untuk menunjukkan bahwa di balik semua hyperblast itu terdapat musisi yang memahami kontras. Istilah Northern Hyperblast kemudian menjadi bagian penting dari identitas Kataklysm dan bahkan digunakan band untuk menjelaskan pendekatan mereka terhadap musik ekstrem. Nuclear Blast sendiri menempatkan " Sorcery " sebagai titik penting dalam kelahiran gaya tersebut. Tetapi label semacam itu justru berisiko mengecilkan album. Karena Sorcery bukan hanya soal kecepatan. Ia adalah benturan antara: Melodi dan kekerasan, Struktur dan kekacauan, Atmosfer dan agresi serta Teknik dan naluri dan yang paling penting: semuanya belum dipoles menjadi produk yang aman. Kataklysm kemudian berkembang. Mereka mengubah keseimbangan tersebut, menjadi lebih melodis, lebih langsung dan lebih mudah dikenali oleh audiens yang lebih luas. " Shadows & Dust " pada 2002, misalnya, menandai pergeseran menuju sound yang lebih melodis namun tetap berat. 

Tetapi Sorcery adalah binatang yang berbeda. Lebih muda. Lebih liar dan jauh lebih tidak peduli apakah pendengar bisa mengikutinya. Lebih dari tiga dekade setelah kelahirannya, " Sorcery " masih terdengar seperti album yang menolak untuk menua dengan sopan. Ia tidak sempurna. Beberapa komposisinya terlalu padat, sebagian transisinya terlalu abrupt, dan beberapa ide terasa lebih menarik secara individual daripada ketika disusun sebagai satu kesatuan. Namun ketika riff melodis bertabrakan dengan blast beat Duhamel, ketika bass Iacono menyelinap keluar dari bayangan gitar, dan ketika Houde mengeluarkan sound yang terdengar seperti manusia yang baru saja menemukan kitab terlarang lalu membaca halaman terakhirnya dengan keras di situlah Kataklysm menemukan bentuknya. Dan mungkin itulah alasan " Sorcery " tetap relevan: bukan karena semua bagiannya sempurna, melainkan karena hampir tidak ada bagian yang terdengar dibuat untuk menyenangkan siapa pun. Pada 1995, Kataklysm belum tahu bagaimana membuat musik ekstrem menjadi aman. Mereka hanya tahu bagaimana membuatnya hidup dan " Sorcery " masih berdenyut. Rekomendasi: bagi fans yang menganggap death metal 1990-an terlalu jinak dibanding standar modern, putar album ini kembali. Bukan untuk mencari kecepatan. Cari kekacauannya. Di situlah Kataklysm awal benar-benar berbicara.

0 Comments:

Posting Komentar

Tinggalkan komentar TERBAIK kalian disini, enjoy the sickness !

Designed by lostinchaos mediazine