Gorod - The Ember Gone CD 2026

Gorod - The Ember Gone
Base Productions CD 2026

01. Signs 04:48      
02. Devise 04:51      
03. Forgiveness 07:27      
04. Regret 07:44      
05. Crimson 04:28     
06. Ignite 06:43      
07. Ember 01:54       
08. Remains 05:59


Julien Deyres - Vocals
Mathieu Pascal - Guitars
Nicolas Alberny - Guitars
Benoit Claus - Bass
Karol Diers - Drums
 

Genre ini bisa menjadi bentuk ekstrem dari kecerdasan musikal presisi mekanis, perubahan birama yang licin, riff seperti algoritma yang sedang mengalami kejang, serta pemain instrumen yang tampaknya memiliki kontrak pribadi dengan hukum fisika. Tetapi semakin jauh technical death metal mengejar kompleksitas, semakin sering ia terdengar seperti ujian masuk sekolah musik yang disponsori blast beat. Menakjubkan selama beberapa menit, melelahkan setelahnya. Gorod memahami jebakan tersebut dan justru karena itulah " The Ember Gone " terasa penting. Album kedelapan dari kelompok Bordeaux ini tidak berusaha memenangkan perlombaan siapa yang paling cepat memainkan not paling banyak dalam satu detik. Sebaliknya, Gorod melakukan sesuatu yang jauh lebih sulit: membuat kompleksitas terdengar manusiawi. Dirilis pada 28 Agustus 2026, " The Ember Gone " berisi delapan komposisi dengan durasi total sekitar 43 menit 54 detik cukup panjang untuk menunjukkan ambisi, tetapi tidak cukup rakus untuk berubah menjadi demonstrasi teknis tanpa rem dan di situlah persoalan sebenarnya dimulai. Karena Gorod tidak lagi sekadar bertanya, " Seberapa rumit kita bisa membuat death metal? " Mereka bertanya: " Berapa banyak kerumitan yang masih bisa dirasakan sebagai emosi? " TDM sering terperangkap dalam paradoksnya sendiri. Semakin teknis sebuah band, semakin besar kemungkinan lagu kehilangan gravitasi. Semua bergerak, tetapi tidak ada yang benar-benar tiba. Gorod berbeda. Sejak periode " Leading Vision ", " Process of a New Decline ", " Transcendence ", hingga " A Perfect Absolution ", mereka secara konsisten membangun identitas dari pertemuan antara death metal, groove, jazz, progresif, dan kegilaan fretboard. " A Maze of Recycled Creeds " kemudian memperlihatkan perkembangan signifikan, terutama dengan masuknya Karol Diers sebagai drummer dan Julien Deyres sebagai vokalis. Namun " The Ember Gone " bukan album yang ingin membuktikan bahwa Gorod masih mampu memainkan apa yang sudah mereka kuasai. Justru sebaliknya. Mereka tampaknya ingin mengetahui apa yang terjadi ketika kemampuan tersebut diberi ruang untuk bernapas. Hasilnya adalah album yang terasa lebih progresif, lebih atmosferik, lebih reflektif, dan pada beberapa bagian bahkan lebih dekat kepada bahasa jazz-fusion daripada formula technical death metal konvensional. Beberapa ulasan kontemporer juga menyoroti arah progresif dan virtuosik yang semakin dominan, sekaligus mengakui bahwa agresivitas mentah seperti pada The Orb sedikit dikorbankan dan bagi sebagian pendengar, itu mungkin masalah, Bagi w, justru itu keberanian.

" Signs " membuka album dengan cara yang sangat Gorod: tajam, angular, teknikal, tetapi tidak terburu-buru membakar seluruh amunisi. Gitar Mathieu Pascal dan Nicolas Alberny segera menunjukkan bahwa mereka masih memiliki kebiasaan buruk yang sangat menyenangkan membuat fretboard terdengar seperti benda hidup yang sedang mencoba melarikan diri dari pemiliknya. Namun yang menarik bukan sekadar jumlah riff. Melainkan cara riff tersebut ditempatkan. Ada ketelitian dalam perpindahan antarbagian. Motif tidak dibuang begitu saja demi memamerkan lick berikutnya. Sebuah ide diperkenalkan, dipelintir, diberi ruang, kemudian dikembalikan dalam bentuk berbeda. Itulah perbedaan antara technical playing dan technical songwriting. Yang pertama membuat kita berkata: " Gila, mereka bisa memainkan itu. " Yang kedua membuat kita berkata: " Tunggu , bagaimana mereka sampai ke bagian itu? " Gorod lebih tertarik pada pertanyaan kedua. Salah satu senjata terbesar " The Ember Gone " justru bukan gitar, Julien Deyres. Perkembangannya sebagai vokalis sejak " A Maze of Recycled Creeds " merupakan bagian penting dari transformasi Gorod. Album 2015 tersebut memang menjadi titik penting karena mempertemukan Deyres dengan formasi yang kemudian menjadi fondasi Gorod modern. Di " The Ember Gone ", vokalnya tidak berfungsi sekadar sebagai lapisan agresi. Ia menjadi aktor tambahan dalam arsitektur lagu. Deyres bisa bergerak dari growl rendah yang hampir seperti bisikan tercekik, menuju raungan, scream, clean vocal, harmonisasi, hingga lapisan vokal yang terdengar seperti suara manusia sedang mengalami keretakan psikologis. Ini sangat penting. Karena jika ia hanya menggunakan growl dari awal sampai akhir, sebagian besar atmosfer album akan kehilangan dimensi. Pada " Forgiveness ", misalnya, pendekatan vokal yang tertekan dan patah terasa jauh lebih efektif dibanding sekadar meneriakkan seluruh bagian dengan kekuatan maksimal. Bahkan beberapa bagian clean dan spoken-like terdengar sengaja ditempatkan untuk menciptakan ketidaknyamanan. Bukan keindahan, Ketidaknyamanan dan metal yang baik memang seharusnya kadang membuat pendengarnya merasa sedikit salah berada di dalam ruangan. Ulasan lain terhadap album ini juga menempatkan " Forgiveness " sebagai salah satu titik perubahan penting, terutama karena perpindahan dari atmosfer melodi menuju vokal yang lebih bersih, kemudian kembali kepada agresi death metal.

" Devise " memperlihatkan bahwa Gorod masih mampu membuat teknik terasa seperti senjata, bukan dekorasi. Riff bergerak dengan presisi, tetapi tidak terasa seperti demonstrasi akademis. Di sinilah kemampuan songwriting mereka menjadi semakin jelas: kompleksitas bukan ditempatkan untuk menyulitkan pendengar, tetapi untuk mengubah ekspektasi pendengar. Kita merasa sudah memahami pola. Lalu Gorod menggeser lantainya. Bukan dengan gimmick. Dengan struktur. Itulah salah satu kualitas paling sulit dalam musik progresif: membuat perubahan terasa mengejutkan tanpa terasa arbitrer. Gorod cukup cerdas untuk tidak menjadikan setiap perubahan birama sebagai pengumuman. Jika ada satu lagu yang menjadi pintu masuk paling jelas menuju sisi baru Gorod, " Forgiveness " adalah kandidat kuat. Lagu ini tidak langsung menyerang. Ia membangun ketegangan. Ada atmosfer yang terasa hampir sinematik sebelum komposisi kembali membuka pintu menuju kompleksitas instrumental. Beberapa pengulas bahkan menangkap kemiripan atmosfer pembuka dengan musik sinematik modern sebelum lagu tersebut jatuh kembali ke pusaran riff dan ritme teknikal. Namun kekuatan sebenarnya ada pada kesabaran. Gorod tidak lagi merasa harus menghantam pendengar setiap sepuluh detik. Mereka membiarkan kecemasan tumbuh dan ketika gitar akhirnya mulai berputar, kita tidak sekadar mendengar teknik. Kita mendengar tekanan psikologis. Itulah perkembangan paling menarik dari Gorod di sini. Kompleksitas menjadi bahasa emosi. " Regret " mungkin menjadi salah satu komposisi paling menarik karena mempertemukan groove, warna blues, harmoni vokal dan kecenderungan progresif yang semakin kuat. Ada sesuatu yang hampir nakal dalam cara lagu ini bergerak. Ia tidak sepenuhnya brutal. Tidak sepenuhnya melodis. Tidak sepenuhnya jazzy dan tidak sepenuhnya progresif. Ia mengambil semuanya, kemudian menyusunnya menjadi sesuatu yang terasa seperti Gorod sedang tersenyum sambil memegang pisau. Harmoni vokal yang sekilas terasa tidak pada tempatnya justru menjadi elemen penting. Karena ketidakselarasan emosional itu menciptakan atmosfer yang ganjil sedikit sinis, sedikit absurd, dan sengaja tidak nyaman. Musik tidak harus selalu memberikan resolusi. Kadang musik yang paling menarik adalah musik yang membuat kita menunggu resolusi yang tidak pernah datang.

Mari bicara tentang gitar. Karena kalau kita mengabaikan Mathieu Pascal dan Nicolas Alberny, kita hanya akan membicarakan setengah dari fenomena Gorod. Keduanya bermain seperti dua orang yang tidak percaya bahwa gitar harus mempunyai satu fungsi. Riff mereka bisa terdengar seperti: pisau yang dilempar, kabel listrik yang korsleting, harmoni jazz, blues yang dipaksa masuk ke ruang sempit, progresif rock, lalu tiba-tiba kembali menjadi death metal. Tetapi transisinya bukan parade fragmen. Ada motif yang menjaga semuanya tetap terikat. Pada " Signs ", gitar terasa tajam dan angular. Pada " Regret ", muncul nuansa bluesy dan groove. " Crimson " memperlihatkan sisi instrumental yang lebih emosional, dengan picking berat dan solo yang tidak sekadar bertujuan memamerkan kecepatan. Kemudian " Forgiveness " dan " Regret " kembali menggunakan pola-pola berputar yang terasa hampir seperti spiral. Inilah aspek yang membuat " The Ember Gone " lebih menarik daripada sekadar " album TDM yang sangat teknis ". Gitar Gorod tidak hanya bergerak secara horizontal. Ia bergerak secara psikologis. Ia mengubah tekstur. Ia mengubah temperatur. Ia mengubah cara pendengar membaca ruang dan kadang-kadang, teksturnya bahkan terasa lebih dekat dengan Pink Floyd era " Atom Heart Mother " daripada death metal modern yang sibuk menghitung berapa kali mereka dapat melakukan sweep picking dalam satu menit. Itu bukan penghinaan terhadap metal. Itu justru penghargaan terhadap kemungkinan metal. Bassis, Benoit Claus adalah tipe pemain yang sering mendapatkan penghargaan paling sedikit dari pendengar yang terlalu sibuk melihat gitar. Kesalahan klasik. Bass di " The Ember Gone " bekerja sebagai perekat harmonik sekaligus suara independen. Ia tidak selalu mengambil alih panggung, tetapi membangun dasar tempat gitar dapat melakukan hal-hal absurd tanpa seluruh konstruksi runtuh. Beberapa pengulas bahkan mencatat bahwa bass memiliki ruang yang lebih terasa dalam bagian atmosferik, walaupun kejernihan bass dalam keseluruhan mix masih dapat ditingkatkan dan itu kritik yang masuk akal. Dalam musik sepadat ini, setiap frekuensi memiliki perang wilayah. Gitar ingin berbicara. Drum ingin menggigit. Vokal ingin menembus. Bass ingin membuat semuanya tetap berdiri. Hasil akhirnya memang membuat Claus kadang terasa seperti pekerja konstruksi yang tidak pernah menerima tepuk tangan. Tetapi tanpa dia, gedung ini akan roboh.

Ini mungkin bagian yang paling sering diremehkan dalam TDM. Kontrol. Karol Diers tidak memainkan drum seperti seseorang yang baru menemukan pedal double bass. Ia memahami bahwa tidak semua ruang harus diisi. Cymbal digunakan dengan disiplin. Accent ditempatkan pada titik-titik yang mengubah persepsi groove. Blast beat muncul ketika memang diperlukan dan ketika musik bergerak ke wilayah yang lebih atmosferik, Diers tidak merasa wajib mengubahnya menjadi badai cymbal. Ia merespons. Bukan memaksa. Itulah perbedaan drummer yang memainkan lagu dengan drummer yang hanya memainkan instrumen. Ulasan kontemporer juga menyoroti restraint Diers pada bagian lambat serta kemampuannya menahan diri sebelum akhirnya melepaskan double bass dan blast beat ketika musik membutuhkan ledakan. Dalam konteks Gorod, drum bukan tembok. Drum adalah percakapan. Kick menjawab riff. Cymbal memberi aksen. Snare menandai perubahan dan groove menciptakan gravitasi. " Crimson " menarik karena menjadi ruang instrumental yang memungkinkan Gorod menurunkan volume agresinya tanpa kehilangan identitas. Ini bukan interlude kosong. Bukan jeda untuk mengambil napas. Ini adalah pembuktian bahwa Gorod mampu menciptakan emosi tanpa bantuan vokal. Heavy palm-muted picking bertemu dengan solo yang lebih ekspresif, sementara struktur instrumental memberikan kesempatan bagi gitar untuk berbicara dalam bahasa yang lebih melodis dan di sinilah album mulai memperlihatkan sesuatu yang jarang dimiliki technical death metal: rasa kehilangan. Bukan sekadar kekaguman terhadap kemampuan pemain. Ada suasana. Ada warna. Ada ruang kosong. Ada kesan bahwa sesuatu baru saja berakhir dan kita datang terlambat untuk menyaksikannya.

Menjelang akhir album, Gorod semakin menjauh dari kebutuhan untuk terus membuktikan diri. " Ember ", dengan durasi kurang dari dua menit, bekerja seperti fragmen atmosferik yang menghubungkan bagian-bagian besar album. Kemudian " Remains " menjadi penutup dengan ruang yang lebih luas dan atmosfer yang lebih reflektif. Ada semacam kosakata tentang pertanda, tindakan, kesalahan, penyesalan, pembakaran, sisa. Tanpa perlu mengarang isi lirik yang tidak tersedia, urutan tersebut sudah memberikan impresi konseptual yang kuat. Seolah-olah album ini tidak berbicara tentang api yang menyala. Tetapi tentang apa yang tersisa setelah api selesai bekerja dan itu jauh lebih menarik. Produksi " The Ember Gone " memahami satu hal sederhana yang sering dilupakan oleh metal modern: jernih bukan berarti steril. Mathieu Pascal menangani proses rekaman, sementara David Thiers tercatat mengerjakan mixing dan mastering. Keseimbangan antara distorsi dan elemen clean menjadi salah satu faktor penting dalam karakter album. Gitar tetap memiliki gigitan. Namun detail tidak ditenggelamkan. Atmosfer mendapat ruang. Bass tetap berfungsi sebagai fondasi. Drum terdengar sebagai instrumen, bukan sekadar trigger machine. Vokal dapat berubah tekstur tanpa hilang di tengah dinding instrumen. Ini penting karena musik seperti Gorod mudah sekali menjadi korban overproduction. Jika semuanya terlalu keras, tidak ada yang terasa keras. Jika semuanya terlalu padat, tidak ada yang terasa besar. " The Ember Gone " memilih pendekatan yang lebih dinamis dan dinamika tersebut justru membuat bagian agresif terasa lebih agresif. Sekarang bagian yang tidak menyenangkan. Karena review tanpa kritik hanyalah iklan yang memakai tanda baca. " The Ember Gone " memang tidak selalu memiliki gigitan brutal seperti " The Orb ". Beberapa ulasan secara eksplisit menilai bahwa pergeseran ke arah progresif dan virtuosik mengurangi sebagian " tooth " yang membuat " The Orb " begitu agresif. Dan itu benar. Jika yang dicari adalah Gorod yang langsung menghantam dengan technical death metal penuh groove dan agresi, album ini mungkin terasa lebih dingin. Lebih sabar. Lebih cerewet. Lebih eksperimental. Lebih sulit ditelan. Tetapi justru di situlah album ini menolak menjadi produk nostalgia.

Gorod tidak berkewajiban membuat " The Orb 2 ". Mereka tidak perlu mengulang formula yang sudah berhasil hanya karena sebagian pendengar ingin mendengar masa lalu diputar ulang dengan mastering lebih mahal. Musisi yang berhenti berkembang hanya karena penggemarnya takut terhadap perubahan pada akhirnya akan menjadi mesin jukebox. Gorod memilih risiko. Dan risiko tersebut tidak selalu menghasilkan kenyamanan. Syukurlah. Ada alasan mengapa " The Ember Gone " terasa lebih berharga setelah beberapa kali dengar. TDM adalah genre yang sering menghukum pendengar dengan terlalu banyak informasi. Gorod justru membuat informasi tersebut memiliki hierarki. Tidak semua riff sama penting. Tidak semua pukulan drum harus terdengar seperti klimaks. Tidak setiap solo perlu menjadi kompetisi. Tidak setiap perubahan birama perlu diberi lampu neon. Mereka memahami bahwa kompleksitas tanpa dramaturgi hanyalah kebisingan dengan ijazah. Di sinilah " The Ember Gone " menemukan kedewasaannya. Mereka mengambil teknik, kemudian menempatkannya di bawah kebutuhan lagu. Itu adalah perkembangan besar dan mungkin juga alasan mengapa album ini terasa lebih dekat dengan jazz dalam beberapa bagian. " The Ember Gone " bukan album Gorod yang paling mudah. Bukan pula yang paling brutal dan justru karena itu, ia mungkin menjadi salah satu rilisan mereka yang paling menarik. Ini adalah album tentang kontrol. Kontrol terhadap teknik. Kontrol terhadap agresi. Kontrol terhadap ruang. Kontrol terhadap ego instrumental dan yang paling penting kontrol terhadap kebutuhan untuk selalu mengesankan pendengar. Gorod masih memiliki semua senjata TDM yang membuat mereka dihormati: gitar angular, ritme rumit, groove, harmoni aneh, permainan bass yang presisi, drum yang sangat terukur, dan kemampuan memainkan musik yang secara teoritis seharusnya terdengar mustahil. Tetapi " The Ember Gone " menunjukkan bahwa mereka mulai lebih tertarik pada pertanyaan yang lebih sulit: Apa gunanya kemampuan jika tidak ada sesuatu yang ingin dikatakan? Jawaban Gorod adalah album yang gelap, ganjil, teknis, progresif, kadang mengganggu, tetapi tetap sangat musikal. Mereka tidak membuang masa lalu. Mereka mengolahnya. " Transcendence " memberikan petunjuk. " A Maze of Recycled Creeds " memperlihatkan transformasi vokal dan formasi modern. " The Orb " mempertebal identitas progresif dan groove mereka dan kini " The Ember Gone " membawa semuanya menuju wilayah yang lebih introspektif. Perkembangan tersebut konsisten dengan pembacaan terhadap diskografi mereka, sekaligus dengan pengamatan sejumlah kritikus bahwa album terbaru ini mendorong Gorod semakin jauh ke sisi progresif tanpa meninggalkan fondasi TDM. Bukan TDM untuk mereka yang menghitung not. Ini TDM untuk mereka yang masih ingin merasakan sesuatu setelah hitungan berhenti.

0 Comments:

Posting Komentar

Tinggalkan komentar TERBAIK kalian disini, enjoy the sickness !

Designed by lostinchaos mediazine