Miscreance - Reminiscence CD 2026

Miscreance - Reminiscence
Season of Mist CD 2026

01. Trait d'Union 04:31     
02. Vision 03:59     
03. Scalp Ceremony 03:14       
04. Synaptic Cortex Dissection 05:02     
05. Oracle's Rift 05:06     
06. The Moaning Hill 02:45     
07. Symbiosis 04:12 
08. Zenith of a Dying Sun 04:19     
09. Mirage 04:27


Andrea Feltrin - Drums, Vocals
Andrea Granauro - Guitars
Tommaso Cappelletti - Guitars
Jean Claude Rossignol - Bass 


TDM sudah terlalu lama menjadi taman bermain bagi manusia-manusia yang tampaknya menganggap metronom sebagai kitab suci. Semua harus presisi, semua harus rumit, semua harus dimainkan secepat mungkin dan, entah bagaimana, lagu akhirnya terdengar seperti ujian masuk konservatori yang dibungkus distorsi. Miscreance datang membawa kabar buruk bagi formula tersebut. Setelah " Convergence " pada 2022 memperlihatkan bahwa kuartet Italia ini mampu mengawinkan keganasan death metal dengan simpul-simpul technical thrash yang liar, " Reminiscence " memilih untuk tidak mengulang kemenangan. Mereka justru mengambil formula tersebut, membongkarnya, membakarnya, lalu menyusun kembali kepingannya seperti artefak dari peradaban yang bahkan tidak masuk katalog sejarah. Konsepnya terdengar gila. Bagus. Metal ekstrem memang tidak pernah benar-benar membutuhkan kewarasan. Miscreance menyebut " Reminiscence " sebagai semacam " lost album " dari sebuah peradaban yang tidak diketahui futuristik sekaligus sangat primitif, ditemukan melalui perjalanan waktu yang lahir dari " halusinasi kolektif ". Kedengarannya seperti seseorang terlalu lama mendengarkan Voivod sambil membaca teori arkeologi kosmik. Namun anehnya, konsep tersebut tidak berhenti sebagai kosmetik. Musiknya benar-benar terdengar seperti artefak.

" Convergence " adalah pernyataan bahwa Miscreance bisa bermain. " Reminiscence " adalah pernyataan bahwa mereka tahu untuk apa kemampuan tersebut digunakan. Perbedaannya sangat besar. Di album sebelumnya, energi Miscreance terasa mentah, visceral, teknis, dan sengaja dibuat sulit diprediksi. Tempo dapat berubah begitu cepat hingga pendengar harus memastikan apakah lagu memang berubah atau pemutar musik sedang mengalami gangguan mental. Tetapi pada " Reminiscence ", kegilaan itu mendapatkan konteks. Riff-riff tidak sekadar datang lalu menghilang. Mereka memiliki motif, kembali dalam bentuk berbeda, berputar mengitari gagasan tertentu, lalu berpindah menuju bagian berikutnya dengan logika yang mungkin baru terasa setelah beberapa kali mendengarkan. Itulah tanda perkembangan songwriting. Kompleksitas tidak lagi menjadi tujuan. Kompleksitas menjadi bahasa dan Miscreance berbicara bahasa itu dengan aksen alien. Pembukaan " Reminiscence " sudah cukup untuk memperingatkan bahwa ini bukan perjalanan nyaman. Clean guitar dengan efek chorus berhadapan dengan perkusi yang terdengar seperti ritual kuno sebelum " Trait d’Union " meledak melalui riff tajam dan lincah. Kontras tersebut penting. Miscreance tidak membuka album dengan blast beat dan riff yang langsung menyatakan perang. Mereka membuka dengan ruang. Kemudian ruang itu dihancurkan. " Trait D’Union " bergerak seperti mesin yang kehilangan manual operasinya: riff melompat, memantul, memotong arah, tetapi tetap memiliki pijakan. Ada nuansa technical thrash, death metal, dan progresif yang saling bertabrakan tanpa pernah benar-benar menjadi tabrakan lalu lintas. Inilah salah satu kemampuan terbesar Miscreance: mereka mampu membuat musik yang sangat tidak stabil terdengar tetap terorganisasi. Bukan pekerjaan mudah. Sebagian band mencoba hal serupa dan hasilnya seperti isi hard disk yang korup. Miscreance justru membuat kekacauan itu memiliki bentuk.

Jika musik Miscreance adalah labirin, vokal Andrea Feltrin adalah lampu yang sengaja dipasang terbalik. Tidak ada pendekatan vokal konvensional di sini. Feltrin bergerak antara: barking thrash klasik, blackened rasp, growl yang tertekan, pekikan seperti manusia yang sedang berusaha keluar dari perangkap, dan ekspresi vokal yang terdengar seperti suara dari tempat yang tidak seharusnya memiliki bahasa. Hasilnya bisa menjadi love-it-or-hate-it affair dan memang seharusnya begitu. Vokal yang terlalu aneh selalu membawa risiko. Sebagian pendengar akan menganggapnya sebagai elemen karakter yang membuat Miscreance berbeda. Sebagian lain mungkin ingin Feltrin kembali ke growl death metal standar dan membiarkan gitar melakukan seluruh pekerjaan gila. Masalahnya: vokal standar akan menghancurkan konsep album ini. " Reminiscence " membutuhkan sound yang terasa tidak sepenuhnya manusia. Apalagi sebagian lirik menggunakan bahasa rekaan yang sengaja dibuat menyerupai bahasa kuno sekaligus alien. Setiap lagu bahkan memiliki semacam identitas tersembunyi melalui judul alternatif yang hanya diketahui dari lembar lirik. " The Moaning Hill ", misalnya, ternyata menyimpan nama " Vukìniwa ". Detail kecil semacam ini menunjukkan bahwa Miscreance tidak hanya membuat album tentang peradaban fiktif. Mereka membangun artefaknya. Bahasa, judul, sound, instrumen, tekstur semuanya menjadi bagian dari world-building. Gitar adalah pusat gravitasi " Reminiscence ". Tommaso Cappelletti dan Andrea Granauro bermain seolah-olah konsep " riff yang mudah diikuti " merupakan penghinaan pribadi. Namun sekali lagi, kegilaan tersebut tidak sepenuhnya acak. Mereka memiliki kemampuan menjaga motif agar album tidak berubah menjadi katalog lick. Pada " Scalp Ceremony ", triplet machine-gun terdengar tajam seperti sabetan pedang. Pada " The Moaning Hill ", arpeggio bergerak cepat dan berputar, memberikan sensasi seperti pesawat luar angkasa yang menerobos ladang asteroid tanpa hak untuk gagal dan kemudian datang bagian yang paling menyebalkan sekaligus paling mengagumkan: solo. Miscreance tampaknya memutuskan bahwa solo gitar yang sekadar bagus adalah dosa. Maka mereka menambahkan whammy. Banyak whammy.

Solo-solo di album ini tidak terdengar seperti kompetisi shred standar. Ada sesuatu yang hampir Vivaldian dalam cara frase dibentuk, tetapi kemudian dihantam dive bomb, squeal, slide, jeritan harmonik dan gerakan yang terdengar seperti gitar sedang mengalami epilepsi. Alih-alih menjadi virtuoso yang sopan, mereka memilih menjadi virtuoso yang tidak punya sopan santun dan itu jauh lebih menyenangkan. Ada momen ketika pendengar secara spontan hanya mampu berkata: " Apa-apaan ini? " Lalu memutar ulang. Kemudian berkata lagi: " Apa-apaan ini? " Lalu menyadari bahwa bagian tersebut justru semakin bagus setelah beberapa kali didengar. Itulah jebakan " Reminiscence ". Semakin lama didengarkan, semakin banyak detail yang muncul. Pengaruh memang terasa, Ada keganjilan kosmik ala Voivod, Ada kecerdasan jazz-metal Atheist, Ada kecenderungan hiperaktif yang bisa mengingatkan pada TDM paling eksentrik. Tetapi " Miscreance " tidak terdengar seperti sekadar kolase pengaruh. Mereka mengambil serpihan tersebut kemudian mengubahnya menjadi sesuatu yang lebih tribal, lebih ritualistik, dan lebih konseptual. Hasil akhirnya terasa seperti TDM yang ditemukan oleh seorang arkeolog dari masa depan. Ironisnya, semakin kompleks musik mereka, semakin penting elemen primitifnya. Karena di sinilah konsep album bekerja paling efektif. Masa depan dan masa lalu bukan dua kutub. Mereka bertemu. Mesin bertemu ritual. Presisi bertemu insting. Teknologi bertemu tubuh dan death metal menjadi bahasa penghubung. Andrea Feltrin juga bertanggung jawab atas drum, dan ini membuat pertanyaan yang cukup serius: Bagaimana seseorang memainkan drum seperti orang kesurupan sambil mengeluarkan vokal seperti orang yang sedang dikurung di dimensi lain? Jawaban paling aman: Jangan coba di rumah. Permainan drum Feltrin benar-benar liar, tetapi bukan liar tanpa disiplin. Ia berpindah melalui time signature yang tidak lazim, tempo yang berubah mendadak, blast beat, skank beat, groove yang terasa seperti chant ritual, hingga aksen jazz yang diselipkan ke dalam struktur brutal.

" Oracle’s Rift " menjadi contoh bagus bagaimana pendekatan tersebut bekerja. Ada groove. Ada ruang. Ada aksentuasi yang tidak terduga. Kemudian semuanya bergerak lagi. Yang menarik adalah Feltrin tidak memperlakukan drum sebagai alat untuk mengisi seluruh ruang. Ia menggunakan drum untuk mengubah bentuk ruang. Itulah perbedaan besar. Drummer buruk bermain semakin banyak ketika musik semakin kompleks. Drummer bagus tahu bahwa kompleksitas terkadang justru membutuhkan pengosongan. Feltrin memahami keduanya. Jean-Claude Rossignol mendapatkan salah satu keuntungan terbesar dalam produksi " Reminiscence ": bass terdengar jelas dan tebal dan untuk album sepadat ini, itu sangat penting. Bass bukan sekadar mengikuti root note gitar. Ia memberikan tubuh pada komposisi. Gitar dapat melakukan berbagai manuver matematis di atas fretboard karena bass menjaga fondasinya tetap memiliki berat. Hasilnya adalah low-end yang tidak sekadar terdengar. Ia terasa. Seperti benda Mesolitik yang dipukulkan ke tulang. Brutal, tetapi tidak keruh dalam TDM, itu adalah pencapaian tersendiri. Di sinilah " Reminiscence " benar-benar memutuskan untuk berhenti berpura-pura sebagai album TDM biasa. Kehadiran musisi tamu Leo Di Angilla membawa bongos, water drums, berbagai perkusi, didgeridoo, flute, hingga berimbau. Jika daftar instrumen tersebut terdengar seperti bahan untuk festival musik dunia, bukan rekaman death metal, tepat sekali. Itulah maksudnya. Perkusi ini memberi album atmosfer ritualistik dan tribal yang sangat berbeda. Gitar terdengar seperti mesin. Drum bergerak seperti organisme. Bass memberikan massa. Sementara perkusi tambahan membawa sesuatu yang lebih tua sebuah sensasi bahwa musik ini bukan hanya dimainkan oleh manusia modern, tetapi seolah-olah digali dari kebudayaan yang hilang.

Di sinilah konsep " Futuristik sekaligus primitif " menjadi masuk akal dan ketika harmoni gitar yang liar mulai bertemu warna perkusi tersebut, " Reminiscence " memperoleh identitas yang sulit ditiru. Banyak band bisa memainkan TDM. Jauh lebih sedikit yang mampu membuatnya terdengar seperti upacara bagi spesies yang belum pernah ditemukan. " The Moaning Hill " adalah salah satu titik di mana seluruh pendekatan album terasa menyatu. Arpeggio bergerak cepat. Riff melingkar. Tempo berubah. Gitar seperti melayang. Perkusi memberikan denyut primitif. Vokal terdengar seperti transmisi dari sesuatu yang tidak sepenuhnya bisa diterjemahkan. Ini bukan sekadar lagu. Ini adalah lingkungan. Pendengar tidak diarahkan dari A ke B secara nyaman. Pendengar dilempar ke dalamnya dan semakin lama berada di dalamnya, semakin jelas bahwa struktur tersebut sebenarnya tidak seacak yang terlihat. Miscreance memberi kita ilusi kekacauan. Di baliknya terdapat kontrol. Judulnya sudah cukup menjelaskan bahwa ini bukan album untuk kelas meditasi. Namun " Scalp Ceremony " menarik karena mempertemukan agresi dengan presisi. Triplet machine-gun menjadi salah satu elemen paling tajam dalam album. Tetapi ketajamannya tidak datang dari kecepatan semata. Ia datang dari penempatan. Riff tidak terasa seperti berlari tanpa tujuan. Ia seperti ritual yang diulang dengan ketelitian mengerikan dan di titik ini, konsep peradaban kuno kembali muncul TDM biasanya identik dengan masa depan cyborg, matematika, mesin. Miscreance membawa kita ke arah sebaliknya: bagaimana jika presisi mekanis ternyata merupakan bagian dari ritual manusia purba? Itulah paradoks yang membuat Reminiscence menarik. Kesalahan terbesar saat mendengarkan album seperti ini adalah mengharapkan semuanya langsung masuk. Tidak akan dan itu bukan kelemahan. " Reminiscence " adalah album yang meminta waktu. Jika " Convergence " adalah audisi, maka " Reminiscence " adalah pertunjukan penuh. Namun bukan pertunjukan yang berdiri di atas kemampuan teknis semata. Miscreance telah menemukan sesuatu yang jauh lebih penting: identitas.

Mereka tidak hanya ingin menjadi TDM band Italia yang memainkan riff sulit. Mereka ingin menciptakan dunia. Dunia itu berisi bahasa yang tidak dikenal, judul tersembunyi, suara vokal yang aneh, gitar yang bergerak seperti organisme, drum yang menolak diam, bass yang mempertahankan fondasi, serta instrumen tradisional yang membuat seluruh mesin metal tersebut terasa seperti ritual dan semua itu tetap berada dalam satu kerangka. Itulah pencapaian terbesar album ini. Kegilaan tidak pernah kehilangan arah. " Reminiscence " bukan TDM untuk pendengar yang membutuhkan pegangan tangan. Ia adalah musik yang sengaja mencabut lantai dari bawah kaki Anda, lalu menertawakan kepanikan yang terjadi. Namun di balik semua kerumitan itu ada sesuatu yang sangat manusiawi: rasa ingin tahu. Keinginan untuk mengetahui bagaimana musik bisa terdengar jika masa lalu dan masa depan ditabrakkan dalam satu ruang. Miscreance menjawabnya dengan album yang brutal tetapi eksperimental, teknis tetapi atmosferik, futuristik tetapi purba. Mereka memahami bahwa teknik hanyalah alat. Yang penting adalah dunia yang dibangun menggunakan alat tersebut. Dan dunia " Reminiscence " terasa seperti tempat yang seharusnya tidak kita kunjungi. Karena mungkin memang ada alasan mengapa peradaban itu hilang. Mungkin mereka memainkan musik seperti ini terlalu keras. Atau mungkin, jauh lebih menyeramkan mereka menemukan sesuatu yang lebih tua daripada manusia. Miscreance hanya membawa pulang rekamannya. Kita yang cukup bodoh untuk memutarnya. Miscreance tidak lagi sekadar bermain di arena TDM. Mereka telah membangun arena sendiri dan tampaknya arena tersebut berdiri di atas reruntuhan peradaban yang tidak pernah tercatat dalam sejarah.

0 Comments:

Posting Komentar

Tinggalkan komentar TERBAIK kalian disini, enjoy the sickness !

Designed by lostinchaos mediazine