Disharmonic Orchestra - Not to Be Undimensional Conscious CD 1992

Disharmonic Orchestra - Not to Be Undimensional Conscious
Nuclear Blast Records CD 1992

01. Perishing Passion 03:29     
02. A Mental Sequence 03:11     
03. Addicted Seas with Missing Pleasure 03:40     
04. The Return of the Living Beat 01:51     
05. Groove 04:59       
06. Idiosyncrasy 04:06       
07. Like Madness from Above 04:22     
08. Time Frame 06:10       
09. Mind Seduction 03:44


Patrick Klopf - Vocals, Guitars
Herwig Zamernik - Bass 
Martin Messner - Drums


" Not to Be Undimensional Conscious " milik Austria’s Disharmonic Orchestra Dirilis pada 1992, album kedua mereka tidak sekadar memperluas batas death metal. Ia seperti mengambil batas tersebut, merobeknya, lalu bertanya mengapa sejak awal manusia begitu sibuk membuat pagar. Jika debut " Expositionsprophylaxe " (1990) sudah memperlihatkan kecenderungan Disharmonic Orchestra untuk menolak disiplin genre, maka " Not to Be Undimensional Conscious " terdengar seperti konsekuensi logis dari tiga musisi yang memutuskan bahwa death metal terlalu nyaman bila hanya dimainkan sebagai death metal. Tiga orang, Satu album dan sebuah keputusan buruk bagi kesehatan mental pendengar. Karena musik ini tidak benar-benar menyerang. Awal 1990-an adalah masa ketika death metal sedang berubah menjadi bahasa global. Amerika punya Atheist dan " Unquestionable Presence ". Florida menghasilkan Obituary, Morbid Angel dan Death. Swedia menghasilkan Entombed, Dismember dan ledakan death metal yang semakin khas. Tetapi Disharmonic Orchestra datang dari Austria sebuah wilayah yang tidak memiliki mesin industri death metal sebesar Florida atau Stockholm dan mungkin justru karena berada di pinggir peta, mereka tidak merasa harus mengikuti aturan pusat. " Not to Be Undimensional Conscious " memang dapat ditempatkan di wilayah Progressive Death/Avant-garde Metal. Tetapi label itu terlalu kecil untuk menampung apa yang sebenarnya terjadi. Ada death metal, Ada grindcore, Ada thrash, Ada jazz, Ada groove yang sangat sederhana, Ada permainan bass yang sangat rumit, Ada struktur ritmis yang terdengar seperti drummer sedang mengalami krisis neurologis dan ada atmosfer yang tidak pernah benar-benar terasa heroik. Ini bukan musik yang ingin memenangkan perang. Ini musik yang ingin membuat kalian mempertanyakan apakah perang itu bahkan nyata. Inilah kunci pertama untuk memahami album ini. Banyak extreme metal bekerja melalui agresi. Dikejar, Dihantam, Dibakar, Diledakkan, Disharmonic Orchestra bekerja dengan mekanisme berbeda, Mereka menekan. Gitar bergerak melalui progresi chord yang miring dan tidak nyaman. Perubahan kunci muncul tanpa meminta izin. Riff kadang terasa sangat sederhana, bahkan hampir primitif, tetapi ditempatkan di atas bass dan drum yang jauh lebih kompleks. Hasilnya aneh: musik bisa sangat rumit tetapi terasa santai dan bisa sangat groove-oriented tetapi terasa mengancam. Itulah paradoks utama album ini. " Not to Be Undimensional Conscious " tidak menciptakan ketegangan dengan terus mempercepat tempo. Ia menciptakan ketegangan dengan membuat pendengar kehilangan orientasi. Kalian tahu ada groove. Kalian bisa merasakannya. Tetapi kalian tidak selalu tahu dari mana groove itu berasal.

Jika ada satu aspek yang membuat album ini begitu istimewa, jawabannya adalah hubungan antara gitar Patrick Klopf dan bass Herwig Zamernik. Keduanya tidak terdengar seperti dua instrumen yang sedang bernegosiasi. Mereka terdengar seperti satu organisme dengan terlalu banyak anggota tubuh. Gitar membawa riff yang kadang begitu sederhana hingga hampir keluar dari wilayah technical death metal dan masuk ke logika groove-heavy ala Carnivore. Lalu bass datang dan melakukan hal yang sama sekali berbeda. Fingerpicking jazzy. Lari nada yang rumit. Pergerakan yang terasa seperti musisi jazz tersesat ke ruang latihan death metal dan memutuskan tidak mau pulang. Biasanya dua pendekatan seperti itu akan saling bertabrakan. Di sini justru menyatu. Gitar memberi tubuh. Bass memberi sistem saraf dan ketika keduanya bertemu dalam satu tone yang berat dan relatif seragam, efeknya luar biasa. Seolah-olah seseorang benar-benar memainkan satu instrumen mutan dengan empat tangan. Ini bukan sekadar produksi yang bagus. Ini adalah keputusan musikal dan keputusan tersebut menjadi salah satu alasan mengapa album ini masih terdengar aneh setelah puluhan tahun. Mari kita singkirkan dulu romantisme. Ya, produksi " Not to Be Undimensional Conscious tidak sempurna ". Drum tidak selalu mendapatkan ruang yang ideal. Vokal kadang terasa terlalu tenggelam. Sebagian detail permainan Martin Messner menuntut perhatian ekstra. Jika standar kalian adalah produksi modern yang setiap instrumennya dipisahkan seperti komponen laboratorium, album ini mungkin akan terdengar sedikit kusut. Tetapi ada ironi yang indah di sini. Kekurangan tersebut justru cocok dengan musiknya. Messner memainkan begitu banyak detail ritmis sehingga ketika drum tidak langsung terbaca, pendengar dipaksa masuk lebih dalam dan setelah masuk, kalian menemukan dunia lain. Vokal juga tidak menjadi pusat gravitasi. Bagus. Karena jika vokal terlalu dominan, musik akan kehilangan sebagian misterinya. Disharmonic Orchestra tidak membutuhkan vokalis yang berdiri di depan seperti diktator. Mereka membutuhkan suara manusia yang tersesat di dalam mesin. Drummer Martin Messner adalah salah satu alasan terbesar mengapa album ini tidak pernah benar-benar dapat dipetakan. Secara teknis, permainan drumnya dapat disebut TDM. Tetapi label itu tidak menjelaskan sensasinya. Ia memainkan pola yang tidak lazim, perpindahan ritme yang aneh, aksen yang muncul di tempat tak terduga, dan kombinasi teknik metal dengan pendekatan yang terasa memiliki akar jazz. Namun anehnya, semuanya tetap mempunyai groove. Ini bagian yang paling mengesalkan. Karena banyak drummer TDM mampu memainkan sesuatu yang sulit.

Lebih sedikit yang mampu membuat sesuatu yang sulit terdengar natural. Messner melakukan hal tersebut. Ia seperti orang yang sedang berjalan santai sambil menghitung persamaan matematika di kepalanya. Pendengar melihat kekacauan. Messner tampaknya melihat jalan setapak. Inilah alasan album ini tidak cukup dibahas hanya berdasarkan genre. " Perishing Passion " memiliki salah satu detail bass yang membuat lagu langsung memiliki identitas. Bukan breakdown. Bukan solo heroik. Bukan blast beat panjang. Bass. Satu keputusan kecil yang membuat sebuah lagu menjadi mudah dikenali dan itulah kecerdasan Disharmonic Orchestra. Mereka memahami bahwa sebuah lagu tidak perlu dibangun dari sepuluh ide besar. Kadang satu ide kecil yang ditempatkan pada saat yang tepat sudah cukup untuk membuat pendengar mengingatnya bertahun-tahun. Kemudian ada " Groove ". Judulnya hampir terdengar terlalu sederhana untuk sebuah album seaneh ini. Tetapi justru lagu ini merupakan manifesto. Di tengah semua kompleksitas, Disharmonic Orchestra menunjukkan bahwa groove tidak membutuhkan kesederhanaan total. Gitar dapat memainkan riff yang sederhana. Bass dapat melakukan sesuatu yang jauh lebih rumit. Drum dapat mengubah aksen sesuka hati. Namun semuanya tetap terasa mengayun. " Groove " adalah bukti bahwa kompleksitas bukan tujuan. Groove adalah gravitasi. Selama gravitasi tetap bekerja, bahkan musik yang sangat aneh masih bisa terasa manusiawi. Judulnya sudah cukup absurd. Kemudian muncul bagian rap dan tiba-tiba album TDM 1992 berubah menjadi sesuatu yang hampir seperti eksperimen dadais. Namun bagian tersebut bukan sekadar gimmick. Justru di situlah karakter Disharmonic Orchestra terlihat paling jelas. Mereka tidak takut merusak ekspektasi. Death metal pada masa itu mulai membangun seperangkat aturan: riff harus begini, vokal harus begitu, produksi harus berat, drum harus cepat dan semua harus terlihat mengerikan. Disharmonic Orchestra seperti menjawab: " Kenapa? " Pertanyaan sederhana. Efeknya destruktif. Potongan vokal yang mengalami distorsi menjadi salah satu detail kecil dalam " Idiosyncrasy ". Lagi-lagi bukan revolusi besar. Tetapi album ini memang tidak bekerja melalui revolusi besar. Ia bekerja melalui akumulasi keanehan kecil. Satu perubahan chord, Satu aksen drum, Satu garis bass, Satu tekstur vokal, Satu transisi. Kemudian semuanya menumpuk sampai musik tersebut terasa seperti mimpi demam yang memiliki logika sendiri dan mungkin itulah definisi terbaik Disharmonic Orchestra: musik yang tidak absurd secara acak; musik yang memiliki logika internal yang hanya diketahui oleh pembuatnya.

" Time Frame " menghadirkan sisi yang lebih rileks dan justru karena album sebelumnya begitu padat, ketenangan ini terasa monumental. Disharmonic Orchestra tidak perlu terus menerus membuktikan bahwa mereka aneh. Mereka tahu kapan harus membiarkan groove bernapas. Di sini filosofi album menjadi semakin jelas: waktu tidak harus dirasakan sebagai garis lurus. Ia dapat melambat. Berputar. Menghilang. Kemudian kembali dalam bentuk yang berbeda. Itulah sensasi yang diberikan album ini secara keseluruhan. Seolah-olah metronomnya bekerja pada dimensi waktu yang berbeda dari pendengar. Kemudian ada judul album: " Not to Be Undimensional Conscious ". Apa artinya? Sulit. Judul lagu juga tidak selalu memberikan jawaban. Liriknya bahkan lebih membingungkan. Tetapi justru di sini kita perlu membedakan abstraksi dengan pretensi. Pretensi menggunakan ketidakjelasan untuk terlihat pintar. Disharmonic Orchestra menggunakan ketidakjelasan untuk menciptakan atmosfer. Pendengar tidak selalu tahu apa yang sedang dibicarakan. Tetapi kita merasakan sesuatu. Paranoia, Kecurigaan, Keterasingan, Kebingungan terhadap realitas. Semacam kesadaran bahwa dunia yang kita anggap normal mungkin sebenarnya tidak pernah normal dan musik mendukung gagasan tersebut. Chord berubah ketika kalian mengira sudah memahami arahnya. Ritme bergeser ketika tubuh mulai mengikuti groove. Bass mengatakan satu hal. Gitar mengatakan hal lain. Drum seperti menolak menjadi mediator. Vokal datang dari kejauhan. Ini bukan album yang ingin menjelaskan dunia. Ia ingin membuat dunia terasa tidak dapat dijelaskan. Inilah perbedaan Disharmonic Orchestra dengan banyak band TDM yang datang kemudian. Mereka tidak memainkan kompleksitas untuk mendapatkan tepuk tangan. Tidak ada perasaan: " Lihat, kami bisa memainkan ini! " Sebaliknya: " Lihat apa yang terjadi jika kita memainkan ini. " Itulah perbedaan besar. Kompleksitas mereka memiliki fungsi atmosferik. Ritme aneh digunakan untuk menciptakan paranoia. Bass jazz digunakan untuk membuat fondasi menjadi tidak stabil. Riff sederhana digunakan sebagai jangkar. Drum kompleks digunakan untuk mengacaukan orientasi. Hasil akhirnya bukan demonstrasi kemampuan. Hasilnya adalah suasana dan itulah mengapa album ini tetap relevan.

Pertanyaan yang lebih menarik adalah: Mengapa album seunik ini tidak menjadi fenomena sebesar band-band death metal yang lebih konvensional? Jawabannya mungkin sederhana. Terlalu aneh. Death metal membutuhkan identitas yang dapat dikenali massa. Entombed punya sound. Obituary punya groove. Morbid Angel punya aura. Atheist punya kompleksitas. Disharmonic Orchestra punya... masalah. Mereka terlalu dekat dengan banyak hal sekaligus tetapi tidak sepenuhnya menjadi salah satunya. Bagi sebagian pendengar, itu kelebihan. Bagi pasar, itu penyakit. Band yang terlalu mudah dikategorikan mudah dijual. Band yang terlalu aneh biasanya menunggu sejarah untuk mengejarnya. Disharmonic Orchestra termasuk yang kedua. Ironisnya, semakin jauh extreme metal bergerak, semakin banyak elemen yang dulu terdengar aneh menjadi bahasa umum. Bass teknikal, Groove ganjil, Time signature tidak lazim. Vokal eksperimental. Riff yang tidak mengikuti struktur konvensional. Progressive death metal, Avant-garde metal dan berbagai bentuk musik ekstrem yang merasa tidak wajib menjelaskan dirinya sendiri. Disharmonic Orchestra berada jauh di depan sebagian perkembangan tersebut. Bukan berarti setiap band modern yang memainkan musik progresif harus dianggap berutang kepada mereka. Tetapi sejarah cukup jelas menunjukkan bahwa ada jalur alternatif dalam metal yang tidak harus berujung pada formula progresif yang kemudian menjadi terlalu aman. Karena masalah terbesar progressive metal modern bukan kurangnya teknik. Masalahnya terlalu banyak teknik yang sudah tahu ke mana harus pergi. Disharmonic Orchestra justru menarik karena mereka tidak selalu tahu dan ketidaktahuan itu menghasilkan sesuatu. Karena " Not to Be Undimensional Conscious " tidak dibangun untuk menjadi produk yang sempurna secara teknis. Ia sempurna sebagai pengalaman dan itu dua hal yang berbeda. Kesempurnaan teknis dapat diukur. Kesempurnaan artistik kadang justru muncul dari ketidakseimbangan. Produksi yang sedikit kusut membuat pendengar bekerja. Bass yang menempel pada gitar membuat instrumen terasa seperti satu organisme. Drum yang sulit ditangkap membuat kita mendengarkan ulang. Vokal yang tidak dominan membuat musik tetap menjadi pusat perhatian. Apa yang terlihat seperti cacat ternyata memperkuat desain keseluruhan. Itulah paradoks album ini. Karena ia tidak menawarkan nostalgia. Ia tidak berkata: " Lihat, kami adalah old school. " Ia tidak membutuhkan label itu.

Album ini tidak terdengar seperti rekonstruksi masa lalu. Ia terdengar seperti masa lalu yang belum mengetahui dirinya sedang menciptakan masa depan. Itulah perbedaan besar dan semakin banyak metal modern yang mencoba terdengar progresif dengan menggabungkan terlalu banyak elemen, semakin jelas betapa elegannya Disharmonic Orchestra. Mereka tidak memasukkan keanehan sebagai dekorasi. Keanehan mengalir keluar secara alami dari cara mereka menulis musik. Itu jauh lebih sulit ditiru. " Not to Be Undimensional Conscious " adalah salah satu album ekstrem awal 1990-an yang terlalu aneh untuk menjadi populer dan terlalu kuat untuk dilupakan. Ia tidak mempunyai agresi langsung seperti death metal tradisional. Tidak mempunyai energi positif " Unquestionable Presence ". Tidak mempunyai formula sederhana yang membuat Entombed mudah dikenali. Sebaliknya, ia menawarkan sesuatu yang jauh lebih sulit: ketidaknyamanan yang memikat. Gitar dan bass menyatu menjadi satu organisme. Drum Martin Messner bergerak seperti sistem saraf yang mengalami hiperaktivitas tetapi tetap menemukan groove. Vokal berfungsi sebagai tekstur, bukan pusat. Lirik dan judul membangun kabut. Perubahan ritme membuat waktu terasa bengkok dan seluruh album berjalan seperti mimpi buruk yang terlalu santai untuk disebut mimpi buruk. Itulah kejeniusan Disharmonic Orchestra. Mereka tidak membuat musik yang terdengar pintar. Mereka membuat musik yang membuat pendengar merasa tidak cukup pintar untuk menjelaskannya dan mungkin itu jauh lebih berharga. Karena setelah puluhan tahun, " Not to Be Undimensional Conscious " tidak terdengar seperti peninggalan yang sudah selesai. Ia masih terdengar seperti pertanyaan. Dan pertanyaan yang bagus tidak pernah benar-benar menjadi tua. Ada album yang penting karena menjadi populer. Ada album yang penting karena memengaruhi ratusan band. Dan ada album yang penting karena membuktikan bahwa sebuah genre sebenarnya tidak pernah memiliki batas hanya terlalu banyak musisi yang takut melangkah melewatinya. Disharmonic Orchestra melangkah. Mereka tidak membawa peta. Tidak meminta izin. Tidak menawarkan penjelasan. Mereka hanya meninggalkan sebuah rekaman yang terdengar seperti wajah manusia yang bentuknya sedikit salah tetapi masih cukup familiar untuk membuat kita merasa tidak nyaman. Itulah " Not to Be Undimensional Conscious ". Bukan death metal yang dibuat lebih teknis, Bukan progressive metal yang dibuat lebih brutal, Bukan avant-garde sebagai kostum, Ini adalah death metal yang kehilangan kesabaran terhadap identitasnya sendiri dan ketika ia akhirnya berhenti berusaha menjadi “normal”, sesuatu yang jauh lebih indah muncul dari kekacauan itu: sebuah album yang sampai hari ini masih terdengar seperti belum pernah meminta izin kepada siapa pun untuk menjadi aneh.

0 Comments:

Posting Komentar

Tinggalkan komentar TERBAIK kalian disini, enjoy the sickness !

Designed by lostinchaos mediazine