Incubus - Beyond the Unknown CD 1990

Incubus - Beyond the Unknown
Nuclear Blast Records CD 1990

01. Certain Accuracy 05:36       
02. The Deceived Ones 03:26       
03. Curse of the Damned Cities 05:39       
04. Beyond the Unknown 04:31       
05. Freezing Torment 05:05     
06. Massacre of the Unborn 04:59     
07. On the Burial Ground 06:11       
08. Mortify 03:41


Francis M. Howard - Vocals, Bass, Guitars 
Moyses M. Howard - Drums 


Ada ketidakadilan tertentu dalam sejarah metal: beberapa band harus membangun monumen setinggi gunung agar dikenang, sementara yang lain melakukan sesuatu yang sama pentingnya tetapi akhirnya terkubur di bawah popularitas nama-nama yang lebih besar. Incubus dari Louisiana ini termasuk korban paling menyebalkan dari hukum sejarah tersebut. Bukan karena mereka gagal. Justru sebaliknya. Pada 1990, ketika death metal sedang meninggalkan bentuk primitifnya dan thrash metal mulai kehabisan ruang untuk berlari, Incubus merilis " Beyond the Unknown " sebuah album yang berdiri tepat di garis patahan antara dua dunia itu. Album ini bukan lagi thrash ekstrem seperti " Serpent Temptation " (1988), tetapi juga belum menjadi death metal teknis dalam pengertian modern. Ia berada di wilayah yang jauh lebih menarik: thrash yang mulai kehilangan kesabarannya dan death metal yang belum selesai menemukan bentuk finalnya dan di situlah letak kekuatannya. Untuk memahami " Beyond the Unknown ", jangan mendengarkannya seolah-olah ia lahir di zaman ketika katalog metal sudah memiliki ribuan label subgenre. Pada 1990, istilah death/thrash sendiri masih merupakan wilayah abu-abu. " Altars of Madness ", " Leprosy ", " Chemical Exposure ", " Beneath the Remains ", " Hallucinations ", dan sederet rilisan ekstrem lainnya sedang menunjukkan bahwa batas antara thrash dan death metal bukan tembok hanya garis kapur yang sebentar lagi diinjak sampai hilang. Incubus sudah berada di jalur itu sejak " Serpent Temptation ". Band ini dibentuk pada 1986 oleh Francis dan Moyses Howard bersaudara, yang berasal dari Rio de Janeiro dan kemudian menetap di kawasan New Orleans. Demo " Supernatural Death " muncul pada 1987, disusul " Serpent Temptation " pada 1988. Setelah vokalis/bassist awal Scot LaTour meninggalkan band, Francis mengambil alih vokal, sebuah perubahan yang kemudian beriringan dengan evolusi musikal Incubus. Tetapi jangan terjebak pada narasi sederhana bahwa keluarnya LaTour otomatis " menciptakan " " Beyond the Unknown ". Itu terlalu mudah. Yang bisa dibuktikan adalah perubahan lineup dan pergeseran musikal memang terjadi di antara kedua album. Yang tidak bisa dibuktikan tanpa pernyataan langsung dari para musisi adalah apakah kepergian LaTour merupakan satu-satunya penyebab perubahan tersebut dan justru lebih menarik membiarkannya sebagai pertanyaan. Sebab hasil akhirnya jauh lebih penting daripada gosip kausalitas. Jika " Serpent Temptation " adalah thrash metal yang disuntik adrenalin sampai urat nadinya pecah, maka " Beyond the Unknown " adalah tahap ketika tubuh itu mulai mengalami mutasi. Album pertama masih memiliki energi thrash yang lebih terang: riff-riff cepat, serangan frontal, struktur yang relatif mudah dikenali. " Beyond the Unknown " memperumit semuanya. Bukan dengan menjadi progresif dalam arti akademis. Bukan dengan memamerkan teknik seperti demonstrasi sekolah musik. Tetapi dengan membuat riff bergerak lebih tidak terduga. Ada perubahan tempo. Ada pergantian birama. Ada akselerasi dan pengereman mendadak. Ada groove yang tiba-tiba muncul di tengah tremolo. Ada solo yang seperti dilempar dari balkon gedung yang terbakar. Namun album ini tidak pernah kehilangan satu hal paling penting: arah. Itulah perbedaan antara musik ekstrem yang kompleks dan musik ekstrem yang hanya sibuk. " Beyond the Unknown " tidak menjadi " riff soup ". Ia padat, tetapi tidak kehilangan gravitasi.

Francis M. Howard adalah pusat gravitasi album ini. Bukan hanya karena ia menangani vokal dan gitar, tetapi karena ia juga memainkan seluruh bagian bass pada rekaman album tersebut meskipun Mark Lavenia tercatat sebagai bassist dalam formasi band Dan kontribusi itu terasa. Gitar " Beyond the Unknown " tidak bermain untuk mempercantik lagu. Ia bermain untuk membengkokkan lagu. Riff-riff Francis memiliki karakter yang kasar tetapi terkontrol. Tremolo picking, palm-muted attack, aksentuasi patah, dan lick yang menyelinap keluar dari struktur utama membuat setiap lagu terdengar seperti mesin yang komponennya sengaja dibuat sedikit tidak presisi. Hasilnya adalah ketegangan. kalian selalu merasa lagu ini bisa pecah. Tetapi tidak pernah benar-benar pecah. Itu kontrol dan kontrol jauh lebih brutal daripada kekacauan murni. " Certain Accuracy " langsung menunjukkan bahwa Incubus tidak berniat membuat album lanjutan yang aman. Durasi lebih dari lima menit memberi ruang bagi riff untuk berkembang tanpa harus tunduk kepada formula thrash tiga menit. Ada teknik, tetapi teknik tersebut bukan pajangan. Solo Francis bergerak liar, cepat, dan tajam kadang membawa semangat Kerry King, tetapi dengan kecenderungan yang lebih dekat kepada kekacauan death metal awal. Ini bukan solo yang meminta kalian mengaguminya. Ini solo yang ingin mengganggu keseimbangan lagu dan itu berhasil. Salah satu keputusan terbaik album justru muncul ketika Incubus berhenti berlari. " The Deceived Ones " mengambil pendekatan yang lebih mid-paced dan berat. Di sinilah groove bekerja sebagai senjata. Jika seluruh album berisi blast dan tremolo tanpa rem, efeknya akan menjadi monoton. Tetapi Incubus memahami bahwa kekerasan membutuhkan kontras. Riff yang lebih lambat memberi ruang bagi drum Moyses untuk terdengar lebih berat, sementara gitar mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan tekanan daripada sekadar kecepatan. Ini bukan jeda. Ini adalah ancaman yang berjalan lebih lambat. " Curse of the Damned Cities " adalah salah satu contoh terbaik bagaimana Incubus menggabungkan agresi dan struktur. Riff berpindah dari satu pola ke pola berikutnya tanpa terdengar seperti latihan teknis. Ada swing tertentu dalam permainan drum. Ada hentakan yang terasa lebih hidup dibanding sekadar klik metronom. Dan produksi Tom Morris di Morrisound membantu memperjelas keseluruhan serangan tersebut. Album ini direkam dan dimixing di Morrisound Recordings, Tampa, pada Juni 1990, studio yang pada periode tersebut sudah menjadi salah satu pusat penting produksi death metal Amerika. Hasilnya terdengar lebih bersih daripada " Serpent Temptation " dan di sinilah sebagian pendengar mungkin akan mengeluh.

Moyses M. Howard sering tertutup oleh kegilaan gitar Francis. Padahal justru drum adalah salah satu alasan " Beyond the Unknown " tidak berubah menjadi kekacauan. Permainannya lebih berkembang dibanding " Serpent Temptation ": pola thrash tetap menjadi fondasi, tetapi double bass lebih menonjol, transisi lebih terkontrol, dan aksentuasi terasa lebih disengaja. Ia tidak mencoba menjadi manusia metronom. Ia memainkan lagu. Itu perbedaan besar. Pada bagian yang lebih lambat, groove drum memberi bobot pada riff sehingga album tidak hanya terdengar cepat tetapi juga besar dan untuk musik ekstrem, " besar " sering kali lebih sulit dicapai daripada " cepat ". Judul album ini hampir terdengar terlalu ambisius. " Beyond the Unknown ". Tetapi setelah mendengar keseluruhan materi, judul tersebut tidak lagi terasa sebagai slogan kosong. Karena memang ada sesuatu yang sedang dilewati Incubus. Mereka tidak puas dengan identitas thrash yang sudah mereka bangun. Mereka juga belum menyerah sepenuhnya kepada death metal. Mereka mengambil kedua bahasa itu dan mengacak tata bahasanya. Itulah sebabnya album ini lebih tepat dipahami sebagai death/thrash yang sedang berevolusi, bukan sekadar " Thrash metal yang lebih brutal ". " Freezing Torment " memperlihatkan kemampuan band mempertahankan tekanan dalam durasi yang lebih panjang. Sementara " Massacre of the Unborn " memperlihatkan sisi death metal yang semakin dominan. Riff menjadi lebih gelap. Vokal Francis lebih dekat kepada karakter death metal dibanding artikulasi thrash klasik dan struktur lagu semakin menjauh dari formula konvensional. Namun satu hal tetap dipertahankan: riff selalu menjadi pusat komposisi. Bukan gimmick. Bukan atmosfer. Bukan solo. Riff. Karena dalam metal ekstrem yang bagus, semuanya akhirnya kembali kepada pertanyaan sederhana: Apakah riff tersebut masih terasa mematikan ketika semua ornamen dicabut? Pada " Beyond the Unknown ", sebagian besar jawabannya adalah ya. Durasi lebih dari enam menit menjadikan " On the Burial Ground " salah satu lagu terpanjang dalam album dan ini penting. Band tidak hanya memperpanjang lagu. Mereka menggunakannya sebagai ruang untuk mengembangkan beberapa ide. Tempo berubah. Tekstur berubah. Riff berkembang. Drum memberi respons. Gitar kembali masuk dengan tekanan baru. Ini adalah contoh bagaimana Incubus mulai memahami komposisi sebagai perjalanan, bukan sekadar urutan riff. Tidak sempurna. Tetapi berani. " Morphify " bukan penutup yang membutuhkan sentimentalitas. Ia lebih seperti pintu terakhir yang dibanting. Setelah hampir 40 menit, Incubus tidak memberikan resolusi manis. Membicarakan " Beyond the Unknown " tanpa menyebut Morbid Angel, Sadus, atau Sepultura akan terasa seperti membicarakan gurun tanpa menyebut panas. Tetapi menyebutnya sebagai klon adalah kemalasan. Ada kemiripan atmosfer death metal Amerika. Ada kompleksitas yang dapat mengingatkan pada Sadus. Ada energi Brasil yang terasa dalam agresivitas dan cara riff bergerak. Khusus hubungan dengan Sepultura, konteksnya memang menarik: Francis dan Moyses adalah imigran dari Rio de Janeiro yang kemudian membangun Incubus di Louisiana. Sementara itu, pengaruh ekstrem metal Brasil terutama energi awal Sepultura menjadi bagian penting dari konteks yang membedakan Incubus dari sekadar produk death metal Florida. Tetapi jangan membuatnya terlalu romantis. Kesamaan geografis dan latar budaya bukan bukti otomatis bahwa satu riff lahir dari riff band lain. Yang jelas adalah: Incubus memiliki DNA yang cukup berbeda untuk tidak sekadar menjadi bayangan Morbid Angel.

Tom Morris tahu bagaimana membuat musik ekstrem terdengar keras tanpa kehilangan definisi. " Beyond the Unknown " memiliki drum yang lebih terdengar, gitar yang lebih terbaca, dan keseluruhan spektrum yang lebih terkontrol dibandingkan rekaman debutnya. Memang ada konsekuensi. Sebagian atmosfer busuk dan berdebu dari produksi underground awal menjadi berkurang. Tetapi apakah itu kelemahan? Hanya jika kalian menganggap semua death metal harus terdengar seperti direkam di ruang bawah tanah dengan mikrofon yang hampir mati. Untuk materi serumit ini, produksi yang lebih jelas justru memungkinkan detail gitar dan drum bekerja. Kejernihan di sini bukan kosmetik. Ia adalah alat bedah. Data rilisan mencatat album ini dirilis Nuclear Blast pada 1 September 1990 dan memiliki durasi sekitar 39 menit. Yang mengesankan bukan panjangnya. Yang mengesankan adalah efisiensinya. Tidak ada lagu yang terasa seperti filler. Tidak semua riff sama kuatnya. Tidak semua transisi sempurna. Tetapi album secara keseluruhan memiliki momentum yang sangat baik. identitas Incubus masih berdiri di antara dua dunia. Itu sekaligus kekuatan dan kelemahan. Mereka tidak memiliki brutalitas purba Morbid Angel. Tidak memiliki kecenderungan teknis Atheist yang benar-benar progresif. Tidak memiliki groove sebesar Obituary. Tidak memiliki agresivitas thrash murni seperti Demolition Hammer dan tidak memiliki aura mistis sebesar sebagian besar death metal Florida. Tetapi justru karena itu mereka terdengar seperti Incubus. Kedua, beberapa bagian album memang bisa terasa lebih seperti demonstrasi riff daripada komposisi yang benar-benar monumental. Ketiga, produksi yang lebih bersih mungkin membuat sebagian pendengar kehilangan sedikit " Coffin atmosphere " yang menjadi daya tarik rekaman ekstrem era tersebut. Namun ketiga masalah itu relatif kecil. Karena album ini memiliki sesuatu yang jauh lebih sulit ditemukan: kepribadian. Inilah bagian paling menyedihkan. " Beyond the Unknown " dirilis oleh Nuclear Blast pada saat label tersebut sedang semakin penting dalam perkembangan metal ekstrem Eropa dan internasional. Namun Incubus tidak pernah memperoleh posisi historis yang sebanding dengan sejumlah rekan sezamannya. Pada 1991 band bubar. Kemudian ketika Francis dan Moyses kembali aktif pada akhir 1990-an, persoalan nama menjadi semakin rumit karena band lain bernama Incubus sudah jauh lebih dikenal. Mereka akhirnya menggunakan nama Opprobrium, dan " Beyond the Unknown " kemudian mengalami beberapa edisi remaster/reissue. Ironisnya brutal. Band yang membantu membangun salah satu bentuk awal death/thrash akhirnya harus hidup di bawah nama baru untuk menghindari bayangan nama yang sama. Sejarah kadang memang memiliki selera humor yang buruk. Ada perbedaan antara menjadi pionir dan menjadi pionir yang masuk buku sejarah populer. Incubus jelas termasuk kategori pertama. Mereka tidak menciptakan death metal sendirian. Tidak ada gunanya membuat klaim bombastis seperti itu. Tetapi mereka adalah bagian dari generasi yang menghancurkan batas antara thrash dan death metal, pada saat batas tersebut memang sedang runtuh secara organik dan " Beyond the Unknown " adalah bukti paling matang dari proses tersebut. Opprobrium sendiri masih mengidentifikasi album ini sebagai salah satu rilisan penting dalam sejarah death/thrash dan telah menerbitkan kembali album tersebut dalam beberapa edisi remaster, termasuk edisi 2008 dan 2015. Itu bukan sekadar nostalgia. Itu pengakuan terlambat terhadap sebuah karya yang terlalu lama berada di pinggir halaman.

Sebuah artefak penting dari zaman ketika genre belum sempat membuat pagar " Beyond the Unknown " bukan album sempurna dan justru itu yang membuatnya menarik. Ia adalah rekaman sebuah band yang sedang bergerak lebih cepat daripada kemampuan sejarah untuk memberinya label. Thrash masih ada di dalam darahnya. Death metal sudah menguasai paru-parunya. Technical metal mulai merayap ke otaknya dan hasilnya adalah delapan lagu yang terasa seperti sebuah spesies musik yang sedang mengalami mutasi di depan telinga pendengar. Francis Howard menyusun riff dengan kecerdasan teknis tanpa mengubah album menjadi klinik gitar. Moyses Howard memberikan drum yang lebih disiplin, lebih berat, dan lebih variatif. Tom Morris menyediakan produksi yang cukup bersih untuk memperlihatkan struktur tanpa membunuh keganasannya dan seluruh album bergerak dalam keseimbangan yang aneh tetapi efektif antara kecepatan, groove, kompleksitas, kekerasan, dan atmosfer. Yang paling penting: " Beyond the Unknown " tidak terdengar seperti band yang sedang mencari tren. Ia terdengar seperti band yang belum tahu bahwa apa yang mereka lakukan kelak akan diberi nama oleh orang lain dan mungkin di situlah tragedinya. Incubus tidak terlambat. Mereka justru datang pada waktu yang tepat. Hanya saja sejarah memilih untuk mengingat orang lain. Incubus (1986–1991) → Opprobrium setelah kebangkitan kembali band pada era 1990-an. " Beyond the Unknown " sendiri dirilis pada 1990 melalui Nuclear Blast, direkam di Morrisound Recordings, Tampa, dan menjadi rilisan kedua sekaligus salah satu dokumen terpenting dari fase awal death/thrash Amerika. Kesimpulan akhirnya sederhana: Jika " Serpent Temptation " adalah peringatan, maka " Beyond the Unknown " adalah bukti bahwa Incubus sudah tahu persis bagaimana cara menarik garis antara thrash dan death metal lalu menginjaknya sampai garis itu tidak pernah terlihat lagi.

0 Comments:

Posting Komentar

Tinggalkan komentar TERBAIK kalian disini, enjoy the sickness !

Designed by lostinchaos mediazine