Dead World - The Machine CD 1993

Dead World - The Machine
Nuclear Blast Records CD 1993

01. Cold Hate 07:07       
02. Lies 06:07       
03. 180 04:07      
04. Kill 06:37     
05. Blood Everywhere 05:14      
06. The Machine 08:07     
07. Orgy of Self Mutilation 10:06      
08. El Shaddi 06:19


Kevin Kopp - Samples, Vocals Guitars
Jonathan Canady - Samples, Vocals, Bass, Guitars 


Ada album yang gagal karena terlalu sedikit gagasan. Ada pula yang gagal karena terlalu sadar bahwa dunia sedang berubah dan berusaha mengejarnya. " The Machine " milik Dead World berada di wilayah yang lebih menyebalkan: ia punya gagasan, punya atmosfer, punya suara, bahkan punya beberapa lagu yang efektif tetapi terlalu sibuk mencari pintu keluar dari identitas lamanya sampai lupa ke mana sebenarnya hendak pergi. Dead World muncul dari lanskap industrial ekstrem Amerika yang ketika itu masih sangat dekat dengan fondasi Godflesh: gitar rendah, repetisi hipnotik, tekstur mekanis, vokal yang terdengar seperti manusia yang sudah kehabisan alasan untuk berharap. " Collusion " membangun identitas tersebut melalui persilangan industrial metal, death metal dan groove yang kotor. Lalu datang The Machine pada 1993 dan Jon Canady menggeser setir. Bukan sedikit. Ia membantingnya. Pada tahun ketika industrial rock Amerika sedang menemukan jalur menuju arus utama melalui Ministry, Nine Inch Nails dan KMFDM, perubahan Dead World terasa seperti upaya membaca arah angin. Tetapi musik tidak pernah menjadi lebih baik hanya karena mengetahui tren apa yang sedang tumbuh dan " The Machine " adalah bukti yang cukup brutal mengenai hal tersebut. Pengaruh Godflesh masih terasa sebagai kerangka dasar: repetisi, ruang kosong, gitar yang diturunkan, groove lambat dan atmosfer urban yang dingin. Tetapi jika " Collusion " masih membawa bau logam dan karat dari pabrik yang terbakar, The Machine mulai menghapus sebagian besar unsur metalnya. Gitar menjadi lebih sederhana, Riff dipangkas, Distorsi tetap berat, tetapi fungsi gitar berubah dari senjata death metal menjadi blok bangunan industrial rock dan drum machine menggantikan drummer manusia. Secara konseptual, keputusan tersebut masuk akal. Musik yang berbicara mengenai mekanisasi memang mendapatkan keuntungan ketika ritmenya terdengar seperti mesin yang tidak mengenal kelelahan. Kick dan snare yang konsisten menciptakan dorongan dingin dan presisi, sementara gitar rendah bergerak seperti conveyor belt yang tidak pernah dimatikan. Masalahnya, mesin juga tidak memiliki spontanitas. Di sinilah " The Machine " mulai memperlihatkan wajah gandanya. Apa yang secara sonik menjadi kekuatan, secara musikal justru menjadi keterbatasan.

" Cold Hate " adalah salah satu pembukaan paling efektif di album ini. Ia tidak menyerang seperti " Collusion ". Ia merayap. Gitar dan ritme membangun groove yang berulang, kemudian vokal Jonathan masuk dengan pendekatan yang jauh lebih dekat ke industrial rock daripada death metal. Chorus memberikan sedikit perubahan melalui aksentuasi gitar dan ritme yang lebih agresif, sementara sebuah lead guitar singkat memberi retakan pada struktur yang nyaris steril. Di sinilah formula The Machine sebenarnya bekerja. Bukan ketika Dead World mencoba terdengar " Industrial " dalam pengertian kosmetik, tetapi ketika mereka membiarkan repetisi menjadi atmosfer. " Cold Hate " tidak membutuhkan dua puluh riff. Ia membutuhkan satu riff yang cukup buruk untuk terus menghantui kepala dan itu berhasil. Jika " Cold Hate " masih menyisakan agresi, " Lies " menarik rem. Tempo lebih lambat. Tekstur lebih dingin. Echo dan ruang membuat gitar tidak lagi terdengar seperti benda padat, melainkan bayangan dari benda padat tersebut. Perubahan ini penting karena memperlihatkan bahwa Dead World memahami salah satu prinsip dasar musik industrial: kekosongan dapat menjadi instrumen. Tidak semua ruang harus diisi. Tidak semua detik harus dihantam. Namun pendekatan tersebut sekaligus menunjukkan persoalan album. Ketika variasi komposisionalnya minim, atmosfer harus bekerja jauh lebih keras. Jika atmosfer gagal, yang tersisa hanyalah repetisi dan " The Machine " terlalu sering berada tepat di garis tersebut. Hal paling menarik dari album ini bukan jumlah riffnya, tetapi bagaimana riff tersebut diperlakukan. Dead World tidak mengembangkan riff seperti band death metal. Tidak ada kebutuhan untuk membawanya menuju technical flourish, perubahan meter, atau klimaks yang megah. Sebuah pola muncul, dipukul berulang kali, diberi distorsi, lalu dibiarkan mengikis pendengar. Secara filosofis, ini masuk akal. Industrial adalah musik tentang pengulangan yang kehilangan makna tetapi terus dilakukan karena sistem mengharuskannya. Namun secara album, pendekatan tersebut membutuhkan disiplin luar biasa. Godflesh memahami bagaimana membuat repetisi terdengar seperti ancaman. Dead World kadang membuatnya terdengar seperti pekerjaan administrasi. Perbedaannya tipis. Tetapi telinga tahu.

Kemudian datang " Blood Everywhere ", yang bergerak semakin jauh dari metal. Pulsasi kecil dan atmosfer ambient mengambil alih, sementara elemen vokal dan ritmis menjadi jauh lebih minim. Secara tekstural, ini menarik. Sebagai bagian dari album, belum tentu. Ambient membutuhkan ketegangan internal. Kesunyian harus membuat pendengar menunggu sesuatu. Jika tidak, ia hanya menjadi jeda panjang. " Blood Everywhere " kadang terasa seperti yang kedua. " Orgy of Self Mutilation " memperpanjang pendekatan tersebut. Durasi yang lebih panjang memberikan ruang bagi tekstur berkembang, tetapi tidak selalu menyediakan alasan komposisional yang cukup kuat untuk mempertahankan perhatian. Ini bukan soal album harus penuh riff. Justru sebaliknya. Masalahnya adalah ruang kosong juga harus mempunyai isi emosional. Jika tidak, kehampaan berubah menjadi filler. Perubahan vokal menjadi salah satu indikator paling jelas mengenai transformasi Dead World. Pada " Collusion ", vokal memiliki karakter death metal yang jauh lebih kasar dan fisikal. Di " The Machine ", pendekatannya lebih dekat ke industrial rock: lebih datar, lebih artikulatif, lebih menyerupai manusia yang berbicara dari balik dinding beton daripada monster yang keluar dari kuburan. Secara estetika, perubahan ini tepat. Tetapi efek sampingnya jelas. Hilangnya vokal ekstrem berarti hilangnya sebagian besar ancaman biologis dari Dead World. Yang tersisa adalah kebencian sosial dan liriknya memang bergerak ke sana: televisi, alkohol, agama, kekerasan domestik, patriotisme kosong, manusia yang menjalani rutinitas sambil menganggap dirinya bermoral. Bukan puisi Gothic. Bukan mitologi. Lebih seperti seseorang membuka pintu rumah tetangga dan menemukan Amerika kelas pekerja sedang membusuk di ruang keluarga. Itu justru salah satu aspek paling menarik dari album. Sayangnya, musik tidak selalu memiliki daya pukul yang cukup untuk mengangkat observasi tersebut menjadi pengalaman yang benar-benar mengerikan.

Di sinilah perbandingan dengan industrial rock arus utama harus dihentikan. " The Machine " memang muncul pada periode ketika Nine Inch Nails, Ministry dan KMFDM sedang memperluas wilayah industrial ke audiens yang jauh lebih besar. Tetapi Dead World tidak pernah benar-benar menjadi band industrial mainstream dan itu bukan masalah. Masalahnya justru karena album ini terlalu dekat untuk menjadi outsider, terlalu jauh untuk menjadi mainstream. Ia tidak memiliki daya tarik pop-industrial Nine Inch Nails. Tidak memiliki kebrutalan Ministry. Tidak memiliki karakter dance-industrial KMFDM. Tetapi ia juga sudah mengurangi sebagian elemen abrasif yang membuat " Collusion " memiliki identitas. Akibatnya muncul ruang kosong yang aneh: terlalu kasar untuk pesta, terlalu jinak untuk perang. Itulah dilema The Machine. Ironisnya, secara produksi album ini justru cukup meyakinkan. Drum machine memberikan pukulan yang bersih dan konsisten. Gitar rendah memiliki massa yang kuat tanpa sepenuhnya menelan elemen lain. Distorsi bass membantu menciptakan dasar frekuensi yang berat, sementara repetisi ritmis mendapatkan ruang untuk bekerja. Album ini tidak terdengar seperti demo yang kebetulan dicetak. Ia terdengar seperti sebuah keputusan produksi yang sadar dan justru karena produksinya berhasil, kelemahan komposisinya semakin terlihat. Tidak ada kabut produksi untuk menyalahkan. Tidak ada gitar yang terlalu tipis. Tidak ada drum yang tenggelam. Tidak ada excuse. Kalau sebuah bagian terasa kosong, memang karena bagian itu kosong. Inilah pertanyaan yang membuat The Machine menarik untuk dibicarakan kembali. Apakah Dead World gagal karena mereka meninggalkan death metal? Tidak. Perubahan artistik tidak otomatis merupakan pengkhianatan. Apakah mereka gagal karena menggunakan drum machine? Juga tidak. Bahkan keputusan tersebut secara konseptual sangat cocok dengan musik mereka. Masalahnya adalah transformasi itu tidak menghasilkan identitas baru yang sepenuhnya matang. Mereka membongkar rumah lama sebelum rumah baru selesai dibangun. Hasilnya adalah bangunan tanpa fondasi yang jelas. Beberapa bagian sangat efektif. " Cold Hate " memiliki groove yang mudah dikenali. " Lies " berhasil membangun atmosfer dingin. Beberapa bagian ambient memperlihatkan keberanian untuk tidak bergantung pada riff. Tetapi secara keseluruhan, album ini terasa seperti eksperimen yang berhenti tepat ketika eksperimen tersebut mulai menemukan bentuknya dan itu membuatnya frustratif. Karena potensinya nyata.

Ada satu ironi besar dalam " The Machine ". Dead World ingin membuat musik mengenai mekanisasi, rutinitas, alienasi dan kehampaan manusia modern. Mereka berhasil. Mungkin terlalu berhasil. Karena pendengar sendiri akhirnya merasakan rutinitas tersebut. Lagu-lagu bergerak dengan pola yang berulang. Drum machine terus bekerja. Gitar terus berdetak. Vokal terus menyampaikan kebencian. Beberapa ambient passage memperpanjang ruang kosong. Pada satu titik, pendengar bukan lagi mengamati mesin. Pendengar berada di dalam mesin. Apakah itu kegagalan? Secara artistik, bisa diperdebatkan. Secara pengalaman mendengarkan, jelas ada harga yang harus dibayar. Yang membuat " The Machine " tetap layak dibicarakan bukan karena ia merupakan puncak Dead World. Justru sebaliknya. Ia adalah dokumen ketika sebuah band mencoba keluar dari kulit lamanya dan menemukan bahwa kulit baru belum tentu pas. Jika " Collusion " adalah pertemuan antara Godflesh dan death metal Amerika yang menghasilkan sesuatu yang kasar dan aneh, The Machine adalah percobaan membawa DNA tersebut ke dunia industrial rock yang sedang berkembang. Beberapa genetiknya berhasil. Sebagian lainnya mati di meja operasi dan mungkin itulah alasan album ini terasa jauh lebih menarik secara historis daripada sekadar " Album industrial yang kurang berhasil ". Ia memperlihatkan satu momen ketika underground Amerika sedang mencari bahasa baru. Dead World mencoba. Tidak semuanya berhasil. Tetapi setidaknya mereka mencoba sesuatu, sementara terlalu banyak band lain memilih menyalin Godflesh sampai gitar mereka sendiri terdengar seperti meminta izin kepada Justin Broadrick. 

" The Machine " bukan mahakarya. Ia juga bukan sampah yang pantas dibuang ke tong sejarah. Ia adalah eksperimen setengah matang yang memiliki beberapa momen sangat kuat dan satu kelemahan fatal: tidak pernah sepenuhnya memutuskan apakah ingin menjadi mesin industrial atau tetap menjadi monster metal dan dalam kasus Dead World, justru kegagalan menemukan jawaban itulah yang membuat album ini menarik. Karena dunia memang tidak selalu hancur dengan ledakan. Kadang ia hanya berputar. Sampai manusia lupa bahwa dirinya sedang berada di dalam mesin. " The Machine " - Dead World. Bukan revolusi. Bukan evolusi. Lebih seperti mesin yang menyala terlalu lama tanpa tahu siapa yang masih membutuhkan tenaganya.

0 Comments:

Posting Komentar

Tinggalkan komentar TERBAIK kalian disini, enjoy the sickness !

Designed by lostinchaos mediazine