Nuclear Blast Allstars - Out of the Dark (20 Years Nuclear Blast) CD 2007

Nuclear Blast Allstars - Out of the Dark (20 Years Nuclear Blast)
Nuclear Blast Records CD 2007

01. Dysfunctional Hours (Vocal Anders Fridén) 04:23       
02. Schizo (Vocal Peter Tägtgren) 03:32     
03. Devotion (Vocal Jari Mäenpää) 03:40       
04. The Overshadowing (Vocal Christian Älvestam) 03:43      
05. Paper Trail (Vocal John Bush) 04:19      
06. The Dawn of All (Vocal Björn "Speed" Strid) 04:10      
07. Cold Is My Vengeance (Vocal Maurizio Iacono) 03:46     
08. My Name Is Fate (Vocal Mark Osegueda) 04:02       
09. The Gilded Dagger (Vocal Richard Sjunnesson) 04:30     
10. Closer to the Edge (Vocal Roland Johansson)04:36


Dirk Verbeuren - Drums 
Peter Wichers - Guitars, Bass, Keyboards
Henry Ranta - Drums 


Ada sesuatu yang selalu agak mencurigakan dari proyek all-star. Ketika terlalu banyak nama besar dikumpulkan dalam satu ruangan, hasilnya sering kali seperti pesta reuni yang semua tamunya membawa ego masing-masing: mahal, ramai, penuh foto, tetapi belum tentu ada yang benar-benar pulang membawa cerita. " Nuclear Blast Allstars - Out of the Dark " setidaknya menghindari jebakan terburuk itu. Dirancang sebagai pasangan gelap dari " Into the Light ", proyek ini lahir untuk memperingati 20 tahun Nuclear Blast dan memperlihatkan sisi katalog label yang lebih dekat dengan melodic death metal, thrash, modern metal, industrial metal, hingga sentuhan black metal. Seluruh materi utama ditulis dan diproduksi oleh mantan gitaris Soilwork Peter Wichers, sementara vokal diserahkan kepada figur berbeda dari berbagai band Nuclear Blast. Konsepnya sederhana. Satu penulis, Sepuluh vokalis, Sepuluh kepribadian dan sebuah pertanyaan yang jauh lebih sulit: apakah musiknya cukup kuat untuk berdiri tanpa nama-nama besar di sampulnya? Jawabannya tidak selalu " Ya ". Tetapi cukup sering untuk membuat proyek ini jauh lebih menarik daripada sekadar katalog promosi label. Hal paling menarik dari " Out of the Dark " justru bukan siapa yang bernyanyi. Melainkan seberapa jauh Wichers mampu mengubah bahasa musiknya berdasarkan karakter vokalis yang berdiri di depannya. Ini bukan album Soilwork dengan sepuluh penyanyi tamu dan itu penting. Wichers tidak sekadar menulis riff lalu membiarkan vokalis terkenal menempelkan identitas mereka di atasnya. Banyak lagu justru terasa dirancang dengan karakter vokalis tertentu sebagai bagian dari arsitektur komposisinya. Hasilnya membuat album terdengar seperti sebuah kompilasi yang aneh tetapi koheren: semua lagu baru, tetapi setiap lagu seolah berasal dari band berbeda. Di sinilah proyek tersebut menemukan nilai eksperimentalnya bukan eksperimental dalam pengertian avant-garde. Lebih sederhana: seberapa lentur satu songwriter dapat bekerja tanpa kehilangan sidik jarinya sendiri?

Album dibuka dengan salah satu kolaborasi yang paling mudah ditebak sekaligus paling efektif. " Dysfunctional Hours " segera memperlihatkan bagaimana Wichers memahami karakter Anders Fridén tanpa membuatnya terdengar seperti parodi In Flames. Ada melodi gitar yang kuat. Ada riff berat. Ada chorus catchy. Namun yang paling penting: Fridén tidak dipaksa menggunakan pendekatan vokal yang terlalu melodramatis atau clean-heavy. Ia terdengar lebih dekat dengan clean scream yang tajam, agresif, tetapi tetap memiliki hook dan di situlah lagu ini berhasil. Bukan karena ia terdengar seperti In Flames. Tetapi karena ia memperlihatkan versi alternatif dari apa yang In Flames sendiri sebenarnya masih mampu lakukan ketika melodinya tidak diperlakukan seperti aksesori radio. Wichers menyusun lagu dengan struktur yang relatif konvensional, tetapi gitar latar terus memberikan gerakan kecil yang menjaga komposisi tidak mandek. Melodi tidak menjadi hiasan. Melodi menjadi mesin. Di sini Wichers mulai bermain lebih dekat dengan masa lalunya. " Schizo " dibangun di atas riff melodic death metal yang jauh lebih atmosferik, kemudian mencapai titik penting pada bagian harmoni gitar di sekitar pertengahan lagu. Ada sesuatu yang terasa seperti Soilwork era " A Predator’s Portrait " di sana. Bukan kebetulan. Wichers memang merupakan salah satu arsitek penting dari bahasa gitar Soilwork pada periode tersebut. Tetapi kehadiran Peter Tägtgren memberikan warna berbeda. Vokalnya membawa bobot yang lebih kasar, lebih gelap, lebih beracun. Ketika harmoni gitar masuk, kontras antara melodi dan vokal kasar justru menjadi daya tarik utama. Kemudian datang solo. Tidak panjang. Tidak berlebihan. Tetapi memiliki ciri Wichers yang sangat jelas. " Schizo " adalah salah satu momen ketika album berhenti menjadi proyek label dan mulai terasa seperti album metal yang benar-benar memiliki identitas. Dan tiba-tiba Wichers membakar peta. " Devotion " oleh Jari Mäenpää (Wintersun) bergerak ke wilayah yang jauh lebih ekstrem: blast beat, riff cepat, atmosfer gelap, lapisan synth dan rasa black metal yang cukup kentara. Jari Mäenpää menjadi pilihan yang sangat tepat. Vokalnya bergerak dari scream kacau menuju clean vocal berlapis dan bahkan bagian spoken/whispered yang memberikan tekstur lebih sinematik. Ini bukan sekadar lagu cepat. Komposisinya bekerja melalui kontras. Blast beat menciptakan urgensi. Synth memperluas ruang. Riff cepat membuat tubuh bergerak. Vokal berlapis memberi dimensi emosional dan ketika semua unsur tersebut bertemu, " Devotion " menjadi salah satu eksperimen paling menarik dalam album. Riff sekitar menit pertama merupakan salah satu highlight karena tidak bergantung pada solo gitar untuk menciptakan klimaks. Wichers membuktikan sesuatu yang sederhana: riff yang tepat dapat lebih mematikan daripada gitaris yang terlalu sibuk membuktikan dirinya.

Bahkan tanpa embel-embel nama besar, " The Overshadowing " oleh Christian Älvestam (Scar Symmetry) memiliki kualitas songwriting yang paling lengkap. Ini pusat gravitasi album. Christian Älvestam adalah senjata yang sempurna untuk materi seperti ini karena kemampuan vokalnya memungkinkan komposisi bergerak antara guttural growl dan clean singing yang megah tanpa terdengar seperti dua penyanyi berbeda sedang berebut mikrofon dan Wichers memanfaatkan itu. Verse memberikan tekanan, Growl memberi bobot., Chorus membuka ruang, Clean vocal mengangkat melodi, Kemudian solo gitar masuk dan mengambil alih atmosfer, Di sinilah permainan gitar Wichers terasa paling hidup. Ada melodinya. Ada tekniknya. Tetapi teknik tersebut masih melayani lagu. Itu perbedaan antara gitaris yang memainkan solo dan gitaris yang tahu mengapa solo harus berada di sana. " The Overshadowing " bukan sekadar salah satu lagu terbaik dalam proyek ini. Ia adalah bukti bahwa konsep all-star dapat menghasilkan sesuatu yang lebih dari sekadar memorabilia ketika komposisi menjadi prioritas utama. Tidak ada keharusan bagi Out of the Dark untuk terus berlari di jalur melodic death metal. " Paper Trail " oleh John Bush (ex-Anthrax) justru menurunkan tempo dan mengubah pusat gravitasi menjadi groove-heavy hard rock dengan aroma Spiritual Beggars. Gitar low-tuned membuat riff terasa berlumpur. Berat. Kotor. Nyaris sludge. Kemudian John Bush masuk dan mendadak semuanya masuk akal. Karakter vokal Bush yang lebih rendah dan penuh tekanan memberikan dimensi berbeda terhadap musik Wichers. Lagu ini tidak membutuhkan scream. Ia membutuhkan suara manusia yang terdengar seperti sudah terlalu lama menelan asap dan kemarahan. Yang menarik, terdapat sebuah lick gitar yang mengingatkan pada materi Wichers dari Young Guitar DVD era 2004. Detail semacam ini memang hanya akan membuat penggila gitar tersenyum. Namun justru detail kecil seperti inilah yang menunjukkan bahwa Wichers tidak sekadar menjadi " Gitaris tamu " dalam proyeknya sendiri. Ia adalah pusatnya. " The Dawn of All " Wichers dan Björn " Speed " Strid (Soilwork) pernah menjadi bagian penting dari mesin Soilwork, sehingga wajar apabila pendengar berharap menemukan kembali atmosfer " Steelbath Suicide " atau " A Predator’s Portrait ". Harapan tersebut tidak sepenuhnya terpenuhi. Intro memang menggunakan harmonized octave-style riffing yang mengingatkan pada Soilwork klasik. Tetapi setelah itu lagu bergerak menuju pendekatan yang lebih modern: verse lebih bersih, chorus lebih catchy, dan struktur lebih dekat dengan Soilwork era " Figure Number Five " atau " Stabbing the Drama ". Speed terdengar nyaman. Melodinya bekerja. Hook-nya kuat. Tetapi dibandingkan beberapa lagu lain di album, " The Dawn Of It All " terasa terlalu aman. Bukan gagal. Hanya kurang menggigit dan setelah sebuah proyek memberikan " Devotion " serta " The Overshadowing ", standar pendengar otomatis menjadi lebih kejam. Sekarang kita masuk ke ruang bawah tanah. " Cold Is My Vengeance " merupakan salah satu materi paling brutal dalam album. Riff lebih berat, double bass lebih dominan, blast beat muncul dengan lebih agresif, sementara struktur gitar mendekati technical death metal tanpa benar-benar masuk ke wilayah tersebut. Maurizio Iacono terdengar seperti seseorang yang datang bukan untuk menyanyi, melainkan untuk menagih utang. Masalahnya adalah justru di sini. Kekerasan tidak otomatis menghasilkan karakter. Lagu ini brutal. Tetapi tidak terlalu memorable. Tidak banyak lead. Tidak ada solo. Beberapa riff terdengar luar biasa berat, tetapi keseluruhan lagu terasa lebih pendek daripada durasi sebenarnya karena tidak cukup banyak perubahan struktural yang meninggalkan bekas. Ini adalah contoh bagus bahwa intensitas dan kualitas songwriting adalah dua binatang berbeda. Yang satu dapat membuat leher sakit. Yang lain membuat lagu ingin diputar kembali. Mark Osegueda (Death Angel) Sayangnya, proyek ini juga memiliki titik lemah yang tidak perlu disamarkan. " My Name Is Fate " adalah salah satunya. Bukan lagu buruk. Masalahnya: ia tidak memiliki cukup alasan untuk diingat. Ada melodic line yang menarik di bawah verse, tetapi keseluruhan riff terasa generik dibandingkan standar yang sudah ditetapkan album sebelumnya. Vokal Mark Osegueda juga tidak mendapatkan materi yang cukup kuat untuk menunjukkan karakter uniknya. Ini penting karena proyek semacam " Out of the Dark " hidup dari perbedaan karakter. Ketika komposisinya generik, identitas vokalis ikut tenggelam. Dan di sini nama besar tidak dapat menyelamatkan lagu.

Richard Sjunnesson & Roland Johansson (Sonic Syndicate) Di sini Wichers masuk ke wilayah metalcore dengan " The Gilded Dagger " . Riff staccato. Stop-start. Verse yang mengandalkan pukulan ritmis. Chorus clean yang lebih besar. Formula ini memang sangat sesuai dengan karakter Sonic Syndicate, tetapi sekaligus menjadi salah satu titik di mana Out of the Dark terasa paling dekat dengan produk zamannya. Untungnya, chorus bekerja. Clean vocal memberikan pelebaran yang dibutuhkan dan ketika lagu memasuki bagian akhir, intensitas meningkat. Tetapi struktur verse terlalu lama bertahan pada formula yang sama. Sebuah solo gitar mungkin dapat memecahkan monoton tersebut. Sayangnya, kesempatan itu dilewatkan. Hasilnya adalah lagu yang kompeten tetapi tidak sepenuhnya mengancam. Lalu Guillaume Bideau (Mnemic) Kemudian Wichers menemukan kembali pisaunya. " Closer To The Edge " menggabungkan groove low-tuned, industrial metal, modern melodic death metal, dan atmosfer yang mengingatkan pada persilangan Fear Factory–Mnemic–Soilwork. Tetapi yang membuat lagu ini berhasil bukan kompleksitasnya. Justru kesederhanaannya. Riff pembuka sangat besar. Groove-nya langsung terbaca. Tidak perlu tujuh perubahan tempo untuk membuat kepala bergerak dan keputusan menjadikan riff utama tersebut sebagai chorus memperkuat efeknya. Guillaume Bideau kemudian menambahkan clean vocal yang memperbesar hook tanpa menghilangkan agresi. Ada juga layered scream/clean vocal yang membuat lagu terasa lebih modern. Ini adalah salah satu contoh terbaik bagaimana Wichers mampu mengambil formula modern metal dan membuatnya terasa lebih tajam daripada sekadar kumpulan preset produksi. Sepuluh lagu pertama memperlihatkan eksperimen yang cukup jelas. Wichers menulis musik dengan satu sidik jari, tetapi membiarkan karakter vokalis mengubah bentuk akhirnya. Itulah alasan " Out of the Dark " tetap menarik meskipun beberapa lagunya terasa biasa saja. Album ini bergerak dari: melodic death metal → thrash → black metal → modern metal → groove metal → industrial → metalcore → death metal tanpa sepenuhnya kehilangan benang merah dan itu bukan pencapaian kecil. Tetapi jangan salah memahami keberagaman sebagai keberanian mutlak. Sebagian besar eksperimen di sini masih berakar pada bahasa metal yang sudah mapan. Wichers tidak sedang menghancurkan batas genre. Ia sedang menggeser furnitur di dalam ruangan yang sudah dibangun orang lain. Tetap berguna. Tetapi jangan disebut revolusioner.

Versi edisi terbatas menghadirkan disc kedua berisi materi lama, langka, dan unreleased dari berbagai band yang pernah berada di bawah payung Nuclear Blast. Secara artistik, disc ini jelas tidak memiliki kohesi seperti album utama. Namun sebagai artefak sejarah label, justru di sinilah nilai tambahnya. Disc pertama adalah proyek. Disc kedua adalah arsip dan arsip kadang lebih berharga daripada sesuatu yang sengaja dibuat untuk terlihat berharga. Bagi pendengar baru, materi tambahan ini bahkan berpotensi menjadi pintu masuk menuju nama-nama lama dalam katalog Nuclear Blast yang mungkin telah hilang dari radar. Bagi kolektor, tentu saja, keberadaan materi langka merupakan alasan tersendiri. Tetapi bila pertanyaannya sederhana apa alasan utama membeli rilisan ini? Jawabannya tetap disc pertama. Karena di sanalah eksperimen sebenarnya terjadi. " Nuclear Blast Allstars - Out of the Dark " bukan album sempurna. Bahkan cukup jelas di mana ia tersandung. " My Name Is Fate " terlalu generik. " Cold Is My Vengeance " memiliki kekuatan tetapi kurang identitas. " The Gilded Dagger " terlalu lama bergantung pada formula metalcore yang familiar dan beberapa bagian album terdengar seperti katalog genre yang sedang dipajang di etalase toko. Tetapi membatasi album ini pada kelemahannya berarti kehilangan hal yang jauh lebih menarik. Peter Wichers berhasil membuktikan bahwa songwriting dapat menjadi lebih penting daripada identitas band asal para vokalis. Ia mengambil sepuluh suara yang berbeda dan memaksa masing-masing masuk ke dunia musik yang berbeda pula. Anders Fridén mendapatkan melodic death metal modern, Tägtgren mendapat ruang untuk kegelapan Hypocrisy, Mäenpää mendapatkan atmosfer ekstrem, Älvestam mendapatkan arena sempurna untuk permainan clean/growl, Bush mendapat groove berat, Iacono mendapat kekerasan death metal, Bideau mendapat industrial modern dan di antara semuanya, Wichers tetap meninggalkan sidik jari yang tidak mudah dihapus. Ironisnya, proyek yang seharusnya menjadi perayaan katalog sebuah label justru memperlihatkan sesuatu yang lebih personal: seberapa besar seorang songwriter dapat mengubah musik ketika ia berhenti terikat pada satu band. " Out of the Dark " memang tidak seimajinatif Into the Light dalam beberapa aspek, dan sebagian besar eksperimennya masih bermain aman di dalam pagar melodic death/modern metal. Tetapi ia memiliki cukup banyak momen kuat untuk menolak status sebagai sekadar proyek seremonial.

Ini bukan mahakarya, Ini bukan " Among The Living "-nya MDM, Ini bahkan bukan album yang setiap lagunya akan bertahan sama kuatnya setelah bertahun-tahun, Tetapi beberapa bagian terbaiknya " Schizo ", " Devotion ", " The Overshadowing ", " Paper Trail ", dan " Closer To The Edge " menunjukkan apa yang terjadi ketika musisi berhenti bertanya " apa yang sedang populer? " dan mulai bertanya “seberapa jauh riff ini dapat dibawa? " dan mungkin itulah alasan " Out of the Dark " masih layak dibicarakan. Dua puluh tahun Nuclear Blast dirayakan dengan cara yang paling masuk akal untuk sebuah label metal: bukan dengan pidato. Bukan dengan nostalgia kosong. Tetapi dengan gitar distorsi, drum yang dihantam seperti pintu penjara, sepuluh vokalis yang berbeda, dan seorang songwriter yang diberi terlalu banyak kebebasan. Sebagian eksperimen berhasil. Sebagian jatuh ke jurang formula. Tetapi setidaknya mereka mencoba membuka pintu dan dalam dunia metal yang terlalu sering mengemas ulang masa lalu lalu menjualnya sebagai keberanian, usaha semacam itu masih pantas dihargai. " The light had its celebration, The dark came with teeth "

 

0 Comments:

Posting Komentar

Tinggalkan komentar TERBAIK kalian disini, enjoy the sickness !

Designed by lostinchaos mediazine