Anthrax - Cursum Perficio
Nuclear Blast Records CD 2026
01. Persistence of Memory 01:07
02. The Long Goodbyes 05:34
03. It's for the Kids 04:20
04. Everybody's Got a Plan 04:36
05. The Edge of Perfection 06:46
06. Infectious 05:16
07. NYC 93 04:48
08. Cursum Perficio 06:08
09. Target on My Back 04:31
10. Watch It Go 05:43
11. My Victory 04:54
Joey Belladonna - Vocals
Scott Ian - Guitars
Jonathan Donais - Guitars
Frank Bello - Bass
Charlie Benante - Drums
Frasa Latin itu dapat diterjemahkan sebagai " My journey is over " atau " I complete my journey. " Untuk sebuah band yang telah menghabiskan lebih dari empat dekade mengunyah kebisingan, perubahan zaman, pergantian vokalis, pasang-surut thrash metal, dan absurditas industri musik, judul tersebut terdengar seperti epitaf. Namun Anthrax tampaknya belum tertarik dikubur. Sepuluh tahun setelah " For All Kings " (2016), Anthrax kembali dengan album studio ke-12 mereka. " Cursum Perficio " dirilis pada 18 September 2026 via Megaforce di Amerika Serikat dan Nuclear Blast di Eropa. Scott Ian juga menjelaskan bahwa proses aktual pengerjaan album baru dimulai sekitar 2022 dan master akhirnya berada di tangannya pada November 2025 jadi jarak sepuluh tahun antarrilisan tidak sepenuhnya berarti sepuluh tahun tanpa aktivitas kreatif dan mungkin justru di situlah persoalannya. Karena setelah menunggu selama satu dekade, ekspektasi menjadi monster yang sulit dibunuh. Scott Ian pernah membandingkan energi album ini dengan " Among The Living ". Pernyataan semacam itu tentu saja mengundang masalah. " Among The Living " bukan sekadar album bagus; ia merupakan salah satu dokumen penting dari era ketika thrash metal sedang menemukan bentuk paling brutal sekaligus paling menyenangkan. Maka ketika sebuah album baru diposisikan terlalu dekat dengan bayangan klasik tersebut, pendengar otomatis datang membawa pisau. " Cursum Perficio " tidak sepenuhnya memenuhi fantasi itu. Tetapi ia juga tidak datang untuk meminta maaf. " Persistence Of Memory " hanya berdurasi sekitar satu menit, tetapi fungsinya cukup jelas: bukan lagu pembuka dalam pengertian konvensional, melainkan lorong gelap menuju album. Judulnya sengaja menggemakan " Persistence Of Time " (1990), tetapi musiknya tidak sekadar menjadi replika masa lalu. Ia membangun ketegangan. Kemudian " The Long Goodbye " masuk dengan riff mid-tempo yang berat, mengandalkan chugging dan ruang kosong lebih daripada kecepatan. Charlie Benante tidak langsung menyalakan mesin thrash; ia memilih menghantam dengan groove yang memberi Frank Bello ruang untuk membuat fondasi bass terasa lebih tebal. Keputusan tersebut penting. Anthrax pada usia sekarang tidak lagi perlu membuktikan bahwa mereka mampu memainkan thrash cepat. Itu sudah selesai sejak lama. Pertanyaan yang lebih menarik adalah: apa yang dapat dilakukan sebuah band berusia puluhan tahun ketika kecepatan bukan lagi satu-satunya ukuran agresi? Jawabannya ada di sini: berat, groove, artikulasi riff, dan kontrol dinamika. Masalahnya, " The Long Goodbye " juga memperlihatkan kelemahan album sejak awal. Lagu ini kompeten, solid, bahkan memiliki chorus yang mudah menempel, tetapi tidak langsung menyambar tenggorokan seperti yang diharapkan dari sebuah pembuka album yang membawa beban sejarah sebesar ini. Ia berjalan, Ia tidak meledak dan setelah menunggu sepuluh tahun, pendengar mungkin berhak menuntut ledakan.
Kemudian datang " It’s For The Kids ". Nah, ini Anthrax yang dicari. Riff-nya tajam, cepat, nakal, dan memiliki karakter " Madhouse " tanpa menjadi fotokopi murahan. Charlie Benante mendorong lagu dengan pukulan yang padat sementara Scott Ian dan Jonathan Donais membangun dinding riff yang terasa seperti mesin tua yang kembali dinyalakan setelah lama disimpan di gudang. Ada squeal gitar, Ada aksen rhythm yang patah-patah, Ada mosh section. Ada gang vocal. Ada chorus yang meminta kerumunan ikut berteriak. Dengan kata lain: Anthrax. Tetapi yang membuat lagu ini lebih menarik adalah kontras antara musik yang terdengar seperti pesta dan lirik yang jauh lebih pahit. Sentimen seperti " your thoughts and prayers mean nothing " bukan sekadar slogan kasar untuk membuat crowd meloncat. Ia menyentil kebiasaan sosial yang terlalu mudah berhenti pada simbol simpati ketika konflik nyata membutuhkan keberanian untuk berhadapan dengan perbedaan. Di sini Anthrax melakukan sesuatu yang selalu menjadi salah satu kekuatan mereka: membuat musik terdengar menyenangkan sementara gagasannya tidak selalu menyenangkan. Itulah mengapa " It’s For The Kids " bekerja ". Ia bukan nostalgia. Ia adalah nostalgia yang diberi pisau. Sumber-sumber kontemporer juga menangkap hubungan lagu ini dengan energi era " Among The Living " dan " Persistence Of Time ", tetapi yang menarik adalah bagaimana elemen tersebut ditempatkan dalam produksi modern, bukan sekadar cosplay terhadap tahun 1987. " Everybody’s Got A Plan " kemudian mengubah temperatur. Tidak secepat " It’s For The Kids ", tetapi lebih mengandalkan groove, hook gitar, dan melodi vokal Joey Belladonna. Frank Bello sekali lagi menjadi pengikat yang membuat riff tidak terdengar seperti sekadar susunan power chord. Ada sedikit aroma hard rock klasik di sini. Ada permainan gitar yang lebih melodis dan ada sesuatu yang sangat Anthrax: kemampuan membuat riff berat terdengar seperti sesuatu yang sebenarnya menyenangkan untuk dimainkan bersama teman-teman di ruang latihan. Namun justru di titik ini " Cursum Perficio " memperlihatkan identitasnya. Album ini tidak mengejar satu formula. Ia tidak berusaha menjadi " Among The Living II ". Ia tidak pula mencoba mengulang " Sound Of White Noise " atau " Persistence Of Time " secara harfiah. Sebaliknya, Anthrax mengambil potongan-potongan masa lalunya lalu memasukkannya ke dalam mesin penulisan lagu yang sekarang. Hasilnya tidak selalu sempurna. Tetapi setidaknya hidup. Jika ada satu lagu yang paling jelas memperlihatkan bahwa Anthrax tidak sedang sekadar menjual masa lalu, maka " The Edge Of Perfection " adalah kandidat utamanya. Hampir tujuh menit. Atmosfer lebih luas. Tempo tidak menjadi pusat perhatian. Riff berkembang secara bertahap. Ada bagian gitar yang bersih sebelum Jonathan Donais dan Scott Ian kembali menyeret lagu menuju wilayah yang lebih gelap. Bahkan terdapat tekstur yang mengingatkan pada black metal dan anehnya, eksperimen tersebut tidak terasa dipaksakan. Justru karena Anthrax tidak mencoba menjadi band black metal. Mereka hanya mencuri temperatur gelapnya. Itu perbedaan penting. Banyak band veteran ketika mencoba " Bereksperimen " terdengar seperti sedang mengisi formulir: hari ini kami akan melakukan sesuatu yang berbeda. Anthrax cukup pintar untuk tidak mengumumkannya. Lagu ini bergerak seperti cuaca buruk. Tidak buru-buru. Tidak memerlukan blast beat sebagai bukti keberanian. Benante menggunakan drum untuk membangun skala, sementara Belladonna diberikan ruang untuk memperpanjang garis vokal dan membuat chorus terdengar monumental. Scott Ian memang pernah menyebutnya sebagai salah satu lagu terbaik yang pernah ditulis Anthrax. Klaim sebesar itu tentu bisa diperdebatkan. Tetapi sebagai bukti bahwa band ini masih bersedia keluar dari pagar yang mereka bangun sendiri, " The Edge Of Perfection " jauh lebih penting daripada hiperbola tersebut.
Salah satu keberhasilan terbesar " Cursum Perficio " justru terletak pada cara Joey Belladonna digunakan. Belladonna tidak mencoba terdengar seperti Joey Belladonna tahun 1987. Itu keputusan yang sehat. Ada bagian ketika ia terdengar lebih longgar dan ekspresif; ada pula saat ia didorong ke register tinggi yang membuat karakter vokalnya semakin teatrikal. Dalam lagu-lagu berat dan lambat, ia mendapatkan ruang untuk menahan nada lebih panjang. Namun produksi vokalnya terkadang terlalu agresif. Ketika semuanya didorong maksimal, ekspresivitas Belladonna sedikit kehilangan ruang untuk bernapas. Ironisnya, album yang berbicara tentang perjalanan, ingatan, kehilangan, dan kemungkinan akhir justru sesekali terlalu sibuk untuk memberi ruang pada kesunyian dan itu salah satu paradoks album ini. Anthrax ingin terdengar besar. Kadang-kadang mereka terlalu besar. " Infectious " bergerak lebih lambat dan lebih berat. Riff-nya memiliki karakter yang dapat dengan mudah dibayangkan dibawakan oleh John Bush. Bukan karena Belladonna gagal, melainkan karena struktur riff dan atmosfernya membawa memori kuat terhadap periode Anthrax 1990-an. Ini bukan hal buruk. Justru menarik. Anthrax memiliki sejarah vokal yang terbelah cukup jelas: Belladonna membawa karakter high-register dan melodic attack, sementara era Bush memperkenalkan bobot vokal yang lebih rendah dan agresif. " Cursum Perficio " tidak mencoba menghapus perbedaan itu. Sebaliknya, beberapa komposisinya seolah membuka pintu menuju kedua periode tersebut. Hasilnya membuat album terasa seperti semacam arsip hidup. Bukan museum. Arsip hidup. Perbedaan kecil, tetapi penting. Lalu " NYC 93 " menghantam dengan sesuatu yang jauh lebih punk. Judulnya sudah menjadi petunjuk. Ini bukan perjalanan nostalgia yang romantis tentang New York. Ini lebih seperti mengorek luka lama dari trotoar, klub, lorong, dan kultur underground yang membentuk identitas Anthrax. Tempo dan groove-nya lebih langsung. Vokal Belladonna terdengar lebih keras. Gang vocal Scott Ian memberikan sensasi komunal yang menjadi salah satu DNA Anthrax. Kalimat " it ain’t worth doin’ unless you do it to death " bekerja bukan karena filosofinya rumit, tetapi karena ia memiliki energi slogan yang memang diciptakan untuk diteriakkan bersama. Ini adalah jenis lagu yang tidak membutuhkan penjelasan akademis. Ia membutuhkan amplifier dan kerumunan.
Lagu judulnya adalah salah satu pusat gravitasi album. Lebih dari enam menit, ia tidak terburu-buru. Ada riff yang lebih dinamis, bagian bersih, ruang untuk lead guitar, perubahan tensi, kemudian kembali ke tubuh utama lagu. Yang menarik adalah cara Anthrax mengolah tema finalitas tanpa menjadikannya melodrama murahan. " Perjalanan selesai " tidak harus berarti " band bubar. " Ia bisa berarti perjalanan menuju satu fase tertentu telah selesai dan mungkin itulah pembacaan paling masuk akal terhadap album ini. Scott Ian sendiri berhati-hati ketika ditanya apakah judul tersebut merupakan bentuk perpisahan. Ia menekankan bahwa pendengar seharusnya memiliki ruang untuk mengambil makna sendiri dari karya Anthrax. Sikap itu terasa tepat. Karena " Cursum Perficio " lebih menarik ketika dibaca sebagai refleksi terhadap waktu daripada sebagai surat bunuh diri musikal. Bagian akhir album kembali menunjukkan dua wajah Anthrax. " T.O.M.B. " (Target on My Back) mengandalkan groove yang berat dan repetisi ritmis. Tidak berusaha menjadi lagu tercepat, tetapi cukup keras untuk membuat tubuh bergerak. Kemudian " Watch It Go " mengubah atmosfer menjadi lebih brutal. Riff lebih rendah. Drum lebih agresif. Tempo berubah-ubah. Ada sedikit aroma Slayer dalam cara lagu tersebut menyerang, sementara low-slung riff-nya membawa bayangan metal alternatif era 1990-an. Bukan pencurian, Lebih seperti serpihan DNA yang telah lama mengendap dalam musik Anthrax dan kemudian " My Victory ". Sebagai penutup, lagu ini melakukan sesuatu yang masuk akal: mengembalikan band kepada wilayah yang paling mereka kuasai riff berat, melodi kuat, chorus besar, dan breakdown yang memberi kesempatan terakhir bagi pendengar untuk menganggukkan kepala sebelum semuanya berhenti. Ia bukan ending yang eksperimental. Ia adalah ending yang familiar dan mungkin memang begitu seharusnya. Di sinilah kritik terhadap " Cursum Perficio " menjadi lebih menarik. Produksinya besar. Drum Charlie Benante terdengar monumental. Bass Frank Bello memiliki bobot yang cukup untuk menopang riff. Dua gitar Scott Ian dan Jonathan Donais mendapat ruang untuk membangun lapisan rhythm maupun lead. Semuanya terdengar profesional. Namun ada konsekuensi dari produksi sebesar itu: beberapa bagian kehilangan sedikit kekotoran yang justru membuat thrash klasik terasa berbahaya. Anthrax tidak terdengar seperti band yang sedang mempertaruhkan hidupnya di ruang latihan. Mereka terdengar seperti band legendaris yang tahu persis berapa besar ruangan yang harus mereka isi. Itu mengesankan. Sekaligus sedikit berbahaya. Karena metal yang terlalu terkontrol kadang kehilangan kemampuan untuk menggigit. Untungnya, " It’s For The Kids ", " NYC 93 ", dan " Watch It Go " masih memiliki cukup racun untuk menjaga album tetap hidup.
" Cursum Perficio " bukan Among The Living. Tidak ada alasan mengapa harus begitu. Anthrax tahun 2026 bukan Anthrax tahun 1987. Dunia tempat mereka menulis musik juga bukan dunia yang sama. Yang lebih penting adalah apakah mereka masih memahami mengapa riff-riff tersebut bekerja. Jawabannya: ya. Mereka memahami groove. Mereka memahami chorus. Mereka memahami kapan harus mempercepat tempo dan kapan membiarkan satu riff menghantam berulang-ulang. Mereka memahami pentingnya gang vocal. Mereka memahami bahwa lagu thrash tidak selalu membutuhkan kecepatan maksimal. Dan yang paling penting, mereka masih memahami bahwa humor, energi, kemarahan, dan kecerdasan dapat hidup dalam satu lagu tanpa harus saling membunuh. Beberapa ulasan awal juga melihat Cursum Perficio sebagai album yang menyatukan berbagai periode karier Anthrax, dari thrash klasik hingga elemen era 1990-an dan pendekatan modern. Masalah utama " Cursum Perficio " bukan kurangnya kemampuan. Justru sebaliknya. Kemampuan teknis Anthrax sudah terlalu mapan untuk diperdebatkan. Masalahnya adalah songwriting economy. Ada bagian yang seharusnya dapat dipadatkan. Ada riff yang terasa lebih menarik daripada lagu yang membungkusnya. Ada beberapa momen ketika atmosfer dan produksi terdengar lebih besar daripada substansi komposisinya. Beberapa kritik awal juga menemukan persoalan serupa: album ini memiliki sejumlah puncak yang sangat kuat, tetapi tidak seluruh materi memiliki daya pukul yang sama. Namun ketika album mencapai titik terbaiknya, Anthrax terdengar seperti band yang tidak sedang mengenang masa muda. Mereka sedang menolak menjadi tua secara musikal. Itu berbeda. " Cursum Perficio " adalah album tentang waktu, tetapi tidak tunduk kepada waktu. Ia membawa " Madhouse ", " Persistence Of Time ", " Sound Of White Noise ", energi era John Bush, groove modern, sedikit bayangan black metal, sedikit punk, bahkan serpihan heavy metal klasik lalu membiarkannya bertabrakan dalam satu tubuh. Tidak semuanya berhasil. Tetapi hampir semuanya memiliki alasan untuk berada di sana dan mungkin itu yang paling manusiawi dari album ini. Anthrax tidak mencoba membuktikan bahwa mereka masih berusia dua puluh lima tahun. Mereka hanya membuktikan bahwa mereka masih punya sesuatu untuk dikatakan. Setelah 45 tahun, itu jauh lebih penting daripada memainkan riff secepat mungkin. Judulnya mengatakan perjalanan telah selesai. Musiknya berkata sebaliknya dan selama Charlie Benante masih bisa membuat drum terdengar seperti reruntuhan gedung, Frank Bello masih mampu mengunci groove, Scott Ian masih bisa mengeluarkan riff yang langsung dikenali dalam dua detik, Jonathan Donais masih membakar lead di atasnya, dan Joey Belladonna masih dapat berdiri di tengah semua kebisingan itu lalu mengangkat chorus menuju atap maka mungkin " Cursum Perficio " bukan batu nisan. Mungkin ini hanya tanda kilometer. Perjalanan selesai? Belum. Perjalanan berubah dan Anthrax tampaknya masih terlalu keras kepala untuk turun dari bus.
Home
[Groove Metal]
[Thrash Metal]
* Anthrax
#Usa
2026
Nuclear Blast Records
Anthrax - Cursum Perficio CD 2026
Anthrax - Cursum Perficio CD 2026
Written by REVIEW LOSTINCHAOS September 19, 2026 0
Langganan:
Posting Komentar
(
Atom
)


0 Comments:
Posting Komentar
Tinggalkan komentar TERBAIK kalian disini, enjoy the sickness !