Allegaeon - The Ossuary Lens
Metal Blade Records CD 2025
01. Refraction 00:58
02. Chaos Theory 04:32
03. Driftwood 04:29
04. Dies Irae 03:47
05. The Swarm 03:27
06. Carried by Delusion 04:48
07. Dark Matter Dynamics 06:02
08. Imperial 04:07
09. Wake Circling Above 06:54
10. Scythe 05:40
Ezra Haynes - Vocals
Greg Burgess - Guitars
Michael Stancel - Guitars, Vocals
Brandon "Booboo" Michael - Bass, Vocals
Jeff Saltzman - Drums
" The Ossuary Lens ", album studio ke 7 dari unit Fort Collins, Colorado ini, adalah jawaban mereka, jawaban yang tidak selalu sempurna, tetapi jauh lebih menarik daripada sekadar parade fretboard. Dirilis melalui Metal Blade Records pada 4 April 2025, album berdurasi 44 menit 44 detik ini menjadi semacam titik temu antara dua wajah Allegaeon: band technical death metal yang sejak awal gemar memperlakukan gitar seperti laboratorium fisika, dan band yang kini semakin sadar bahwa melodi, dinamika, vokal bersih, atmosfer, serta ruang kosong bisa sama brutalnya dengan blast beat dan ada satu fakta yang membuat semuanya semakin menarik. Ezra Haynes kembali, Vokalis orisinal yang terakhir tampil penuh bersama Allegaeon di " Elements of the Infinite " kini kembali ke mikrofon. Setelah era Riley McShane, kembalinya Haynes bukan sekadar pergantian personel. Ia seperti membuka kembali sebuah pintu yang sudah lama dikunci dan menemukan bahwa ruangan di belakangnya ternyata sudah berubah total. Allegaeon tidak kembali ke masa lalu. Mereka membawa masa lalu itu masuk ke ruangan baru dan kemudian membakarnya. Album dibuka oleh " Refraction ", Kurang dari satu menit. Cukup untuk membangun atmosfer sebelum semuanya dihantam oleh " Chaos Theory ". Tidak ada basa-basi. Tidak ada intro tiga menit berisi suara angin, burung gagak, dan seseorang membaca puisi tentang kehampaan. Untunglah. Allegaeon tahu bahwa pendengar TDM bukan sedang membeli paket meditasi. Mereka datang untuk dihantam dan " Chaos Theory " memenuhi kontrak tersebut. Jika ingin menjelaskan Allegaeon kepada seseorang yang belum pernah mendengarnya, " Chaos Theory " adalah kartu nama yang cukup brutal. Riff bergerak cepat. Thrash menyelip di antara struktur TDM. Gitar terus berubah arah seolah-olah kedua gitaris sedang berlomba menemukan jalan keluar dari labirin yang mereka buat sendiri. Ada energi Psycroptic. Ada kompleksitas ala Gory Blister. Tetapi Allegaeon tidak membiarkan semuanya berubah menjadi masturbasi teknis tanpa tujuan. Itulah perbedaan penting. Riff bukan sekadar dekorasi untuk solo. Riff adalah narasi dan ketika bagian akustik muncul menjelang akhir, efeknya bukan seperti tombol " breakdown " yang ditempelkan demi memenuhi checklist metal modern. Ia memberi ruang. Kemudian menghantam lagi. Itu adalah salah satu trik paling efektif " The Ossuary Lens " : Allegaeon mengerti bahwa kontras membuat kekerasan terasa lebih keras. Lalu ada " Driftwood " dan inilah tempat jebakan pertama album. Jika Kalian mendengar " Driftwood " sebagai single sebelum mendengarkan album secara penuh, Kalian mungkin mengira Allegaeon sedang bergerak menuju wilayah MDM yang lebih atmosferik. Tidak sepenuhnya. " Driftwood " memang memperlihatkan sisi melodis yang lebih terbuka, termasuk clean vocal, tetapi sebagian besar " The Ossuary Lens " masih berdiri kokoh di tanah TDM. Album ini tidak berubah menjadi Opeth-lite, juga tidak mencoba menjadi salinan " The Gallery " versi Amerika. Justru di sinilah Allegaeon menjadi lebih menarik. Mereka mengambil melodi sebagai bahasa, bukan sebagai genre dan vokal bersih menjadi warna, bukan identitas baru.
Kembalinya Ezra Haynes mudah sekali dijadikan bahan nostalgia. " Vokalis lama kembali! " Selesai. Artikel berikutnya. Tetapi itu terlalu malas. Haynes tidak kembali untuk membuktikan bahwa 2014 lebih baik daripada 2025. Ia kembali ke band yang sudah berkembang jauh dari tempat ia meninggalkannya. Itulah yang membuat kehadirannya menarik. " The Ossuary Lens " adalah album pertama Allegaeon yang menghadirkan Haynes kembali secara penuh sejak " Elements of the Infinite " dan Soundnya memberi album ini sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan plugin, Karakter, Growl tetap menjadi senjata utama. Namun clean vocal muncul di titik-titik yang tepat. Tidak berlebihan. Tidak tiba-tiba menjadi chorus radio. Tidak ada upaya murahan untuk membuat TDM terdengar " Accessible ". Ketika clean vocal masuk, ia justru membuat kemunculan brutal berikutnya terasa lebih besar. Itulah dinamika. Bukan kompromi. " Dies Irae " memperlihatkan wajah Allegaeon yang lebih gelap. Lebih cepat, Lebih agresif, Hampir blackened di beberapa bagian, Gitar kembali bekerja seperti mesin pemotong logam. Greg Burgess dan Michael Stancel adalah pusat gravitasi album ini, tetapi justru karena mereka begitu dominan, ada risiko klasik: pendengar bisa lupa bahwa lagu masih harus bernapas. Untungnya Allegaeon memahami kapan harus menahan diri. Tidak selalu, Tetapi cukup sering. Kemudian " The Swarm ". Ini adalah salah satu lagu yang memperlihatkan betapa dekatnya Allegaeon dengan wilayah deathgrind ketika mereka benar-benar menginjak pedal. Technical groove, Blast beat, Riff yang bergerak seperti sekumpulan serangga yang baru saja diberi akses internet. Cepat, Berisik. Mengancam, Namun justru karena durasinya relatif singkat, ia tidak sempat berubah menjadi latihan endurance dan itu keputusan yang cerdas. " The Swarm " adalah contoh bagaimana TDM seharusnya bekerja: datang, hancurkan, pergi, Tidak perlu tinggal di rumah kalian selama 17 menit. Salah satu kesalahan paling umum ketika membicarakan Allegaeon adalah terlalu sibuk membahas gitar. Wajar, Gitar mereka memang seperti kebakaran laboratorium. Tetapi " The Ossuary Lens " juga memberi ruang kepada bass. Brandon " Booboo " Michael tidak sekadar menjadi semen di bawah gedung pencakar langit gitar. Bass-nya memiliki karakter, Ada fill, Ada counterpoint, Ada momen ketika ia muncul dari balik dinding gitar dan menuntut perhatian dan ketika TDM memberi ruang seperti itu kepada bass, hasilnya membuat keseluruhan arsitektur terdengar lebih hidup. Ini bukan lagi " Gitar dengan drum ". Ada band di sana. Lalu datang salah satu momen paling menyenangkan dalam album: " Dark Matter Dynamics " . Guest contribution dari Adrian Bellue menghadirkan permainan gitar akustik bernuansa flamenco, yang kemudian diintegrasikan dengan struktur teknikal Allegaeon. Kredit resmi mencatat Bellue pada acoustic guitar dan songwriting untuk track tersebut. Ini bukan gimmick dan itu penting. Acoustic section bukan sekadar " lihat, kami juga bisa lembut ". Melodinya diteruskan. Ide gitar akustik berkembang menjadi bahasa gitar elektrik dengan demikian, bagian akustik terasa seperti bagian dari komposisi, bukan jeda iklan. Itulah salah satu kualitas terbaik album ini. Allegaeon memahami kontinuitas. " Imperial " membawa album kembali ke wilayah agresif. Tidak perlu banyak ornamen. Tidak perlu menjelaskan bahwa mereka bisa bermain cepat. Kita sudah tahu. Yang menarik justru bagaimana lagu ini memperlihatkan bahwa formula Allegaeon sebenarnya cukup elastis. TDM dapat menjadi kendaraan untuk riff yang agresif tanpa harus selalu berakhir pada perlombaan solo dan ketika mereka menahan diri, justru kekuatan riff menjadi lebih jelas.
Kemudian datang lagu yang paling berbahaya bagi ekspektasi pendengar: " Wake Circling Above ". Enam menit lima puluh empat detik. Lambat, Gelap, Atmosferik, Doomy, Orkestra, Clean vocal dan nyaris tidak terdengar seperti lagu Allegaeon yang selama ini kalian kenal. Stancel menjelaskan bahwa lagu ini berawal dari permintaan Haynes agar Allegaeon membuat sesuatu yang " slow and heavy ", dengan inspirasi Dimmu Borgir dan Septicflesh. Ia juga menyebutnya sebagai lagu yang paling berbeda di album, tetapi tetap mempertahankan " Allegaeon-isms " dan justru di sinilah kritik paling menarik terhadap album ini muncul. Jika " Wake Circling Above " adalah lagu pertama yang kalian dengar, kalian mungkin berharap seluruh album bergerak ke arah ini. Tidak, Ia tidak dan bagi sebagian pendengar, itu bisa terasa seperti ditipu, Tetapi setelah dipikirkan lagi, mungkin justru itulah poinnya. " Wake Circling Above " bukan peta menuju album. Ia adalah lubang di tengah album. Sebuah ruang gelap tempat semua kecepatan sebelumnya tiba-tiba kehilangan arti. Judul " The Ossuary Lens " bukan sekadar estetika gothic. Band menjelaskan bahwa album ini bukan concept album dalam pengertian tradisional, tetapi seluruh lagu berhubungan dengan perspektif berbeda terhadap kematian. Haynes menyebut kata " Ossuary " menjadi relevan karena album tersebut melihat kematian dari berbagai sudut dan itu menjelaskan mengapa album ini terasa lebih emosional dibanding sekadar TDM biasa. " Scythe " menjadi penutup yang tepat. Melodi, Atmosfer, Vokal, Gitar dan rasa bahwa semua yang terjadi sebelumnya akhirnya menemukan tempatnya. Jika " Chaos Theory " memperlihatkan kemampuan teknis Allegaeon, " Wake Circling Above " memperlihatkan keberanian mereka untuk memperlambat, maka Scythe adalah kompromi antara dua dunia tersebut. Bukan kompromi dalam arti negatif. Lebih seperti rekonsiliasi. Teknik bertemu melodi. Kemarahan bertemu keheningan dan manusia akhirnya bertemu dengan sesuatu yang sejak awal tidak pernah bisa dikalahkan: kematian. Dave Otero kembali di belakang meja produksi di Flatline Audio, Denver, dan ini merupakan kolaborasi keenamnya dengan Allegaeon. Hasilnya tidak mengejutkan: besar, bersih, presisi, brutal Namun yang lebih penting adalah bagaimana produksi tersebut mempertahankan perbedaan antara setiap lapisan. Gitar tidak sekadar menjadi dinding. Bass masih punya ruang. Drum tetap memiliki impact, Vokal tidak tenggelam dan ketika bagian akustik muncul, ia tidak terdengar seperti rekaman dari kamar mandi kemudian ditempel ke master track. Untuk musik yang begitu padat, itu bukan prestasi kecil dan akhirnya kita sampai pada persoalan utama. Allegaeon bisa melakukan terlalu banyak hal. Itulah berkah mereka. Sekaligus kutukan, TDM adalah genre yang mudah terjebak dalam kompetisi: Siapa paling cepat? Siapa paling rumit? Siapa paling banyak nada dalam delapan detik? Siapa bisa memainkan arpeggio sambil melakukan operasi jantung? " The Ossuary Lens " cukup pintar untuk memahami bahwa permainan semacam itu tidak cukup. Namun kadang-kadang mereka masih berdiri terlalu dekat dengan tepi jurang tersebut. Ada momen ketika riff terasa seperti terlalu banyak informasi. Ada bagian yang terasa lebih mengesankan bagi gitaris daripada pendengar biasa. Tetapi justru ketika Allegaeon menurunkan intensitas ketika mereka memainkan acoustic melody, clean vocal, doom, orchestration atau bass counterpoint album ini memperoleh denyut manusianya dan itulah ironi terbesarnya: Allegaeon paling mengesankan bukan ketika mereka menunjukkan bahwa mereka mampu melakukan apa saja. Mereka paling mengesankan ketika mereka tahu apa yang tidak perlu dilakukan.
" The Ossuary Lens " bukan album yang mencoba menyelamatkan TDM. Genre tersebut tidak membutuhkan penyelamat. Yang dibutuhkan adalah band yang mengingat bahwa teknik hanyalah alat. Allegaeon memahami itu. Belum sempurna. Kadang masih terlalu tergoda oleh kecepatan. Kadang gitar terlalu sibuk berbicara satu sama lain sampai pendengar membutuhkan subtitle. Namun dibanding banyak rekan sebidangnya, Allegaeon memiliki sesuatu yang lebih berharga daripada kemampuan teknis: mereka memiliki rasa komposisi. Mereka tahu kapan harus mempercepat. Kapan harus memperlambat, Kapan harus memberi ruang, Kapan harus mengeluarkan melodi, Kapan membiarkan vokal bersih masuk dan yang paling penting kapan harus berhenti menunjukkan betapa pintar mereka. Kembalinya Ezra Haynes juga tidak terasa seperti nostalgia murahan. Ia justru menjadi bagian dari evolusi terbaru Allegaeon. " The Ossuary Lens " bukan " Elements of the Infinite II ". Bukan pula " Damnum " dengan vokalis lama. Ia adalah bab berikutnya dan mungkin itulah cara paling sehat untuk melihat karier band veteran: bukan bertanya apakah mereka masih terdengar seperti dulu, melainkan apakah mereka masih memiliki alasan untuk terdengar berbeda. Allegaeon punya alasan itu. Mereka hanya menyembunyikannya di antara blast beat, tremolo picking, acoustic guitar, clean vocal, flamenco phrasing, orchestral swell, dan dosa-dosa kecil para gitaris yang terlalu mencintai fretboard. Pada akhirnya, " The Ossuary Lens " bukan tentang seberapa cepat Allegaeon dapat memainkan kematian. Ini tentang bagaimana mereka akhirnya belajar menatap kematian dari jarak yang berbeda dan dari sana, sesuatu yang lebih manusiawi muncul. Bukan mayat, Bukan tengkorak, Bukan gimmick, Melainkan kesadaran bahwa bahkan musik yang dibuat oleh para teknisi paling presisi sekalipun tetap membutuhkan satu hal yang tidak bisa diukur metronom: Technical death metal tanpa penyakit ego. Rumit tanpa sepenuhnya kehilangan jiwa. Brutal tanpa takut menjadi indah. Allegaeon tidak membuang masa lalu mereka membedahnya, mengamati tulangnya, lalu memasukkannya kembali ke mesin yang lebih besar.
Home
[Technical Death Metal]
[Technical Melodic Death Metal]
* Allegaeon
#Usa
2025
Metal Blade Records
Allegaeon - The Ossuary Lens CD 2025
Allegaeon - The Ossuary Lens CD 2025
Written by REVIEW LOSTINCHAOS Agustus 19, 2026 0
Langganan:
Posting Komentar
(
Atom
)


0 Comments:
Posting Komentar
Tinggalkan komentar TERBAIK kalian disini, enjoy the sickness !