Storm Upon the Masses - The Ones who Came Back
Dolorem Records CD 2018
01. Cyclonic Entity 04:29
02. Last Rites 02:56
03. Rising Darkness 04:08
04. Skullfucked 02:47
05. Savorless Sadistic Ritual 03:14
06. Assault Inferior Domain 03:56
07. Regenerate to Annihilate 02:53
08. Storm of Rapture 04:05
09. The Arrival 02:10
10. The Ones Who Came Back 02:25
11. Sworn to Blasphemy 03:49
Brecht Putteneers - Vocals
Sandro Di Cairano - Guitars
Jurgen Hondshoven - Guitars
Tom Swinnen - Bass
Bart Vanderheyden - Drums
Tidak semua badai datang untuk mengubah cuaca. Sebagian datang hanya untuk merobek atap rumah dan meninggalkan puing. Storm Upon The Masses memilih jenis kedua. Berasal dari Zonhoven, Limburg, Belgia, band yang telah bergerak sejak 2009 ini akhirnya menerjemahkan masa inkubasinya menjadi debut penuh " The Ones Who Came Back ", dirilis 23 Maret 2018 oleh Dolorem Records. 11 lagu, sekitar 36 menit, tanpa banyak basa-basi dan hampir tanpa ruang untuk bernapas. Setelah EP Vengeance of Madness pada 2015, mereka tidak datang membawa revolusi; mereka datang membawa BDM yang sangat terlatih untuk menghantam tepat di wajah dan justru karena itu, album ini bekerja. " Cyclonic Entity " membuka rekaman dengan atmosfer singkat sebelum semuanya runtuh. Kemudian gitar Sandro Di Cairano dan Jurgen Hondshoven masuk seperti dua mesin pemotong yang disetel pada putaran maksimum. Blast-beat Bart Vanderheyden tidak sekadar menjadi dekorasi kecepatan, sementara bass Tom Swinnen memberikan denyut berat di bawah kekacauan. Brecht Putteneers mengisi celah dengan growl rendah yang tidak mencoba terdengar eksotis ia hanya terdengar seperti seseorang yang sudah kehabisan alasan untuk bersikap sopan. Komposisi ini memperlihatkan formula utama mereka: riff cepat, groove berat, tremolo, blast-beat, lalu kembali ke pukulan mid-tempo sebelum mesin dinaikkan lagi. Tidak revolusioner. Sangat efektif.
" Rising Darkness " bahkan lebih menarik karena Storm Upon The Masses memahami satu hal yang sering dilupakan band brutal death: kecepatan bukan satu-satunya bentuk kekerasan. Bagian groove memberikan tubuh pada lagu, sementara riff yang lebih patah membuat transisi terasa seperti tulang yang dipelintir. Horns Up juga mengidentifikasi pengaruh kuat scene brutal death Italia seperti Hour of Penance dan Hideous Divinity, sebuah perbandingan yang masuk akal mengingat album ini dimix dan dimaster Stefano Morabito di 16th Cellar Studio, Roma dan di sinilah produksi album menjadi senjata. Sound " The Ones Who Came Back " jauh lebih bersih dan terkompresi dibanding death metal underground yang sengaja dibiarkan membusuk. Tetapi kejernihan itu tidak mengorbankan bobot. Gitar tetap tajam, drum terdengar presisi, dan low-end tidak berubah menjadi lumpur. Morabito tahu bagaimana membuat BDM terdengar besar tanpa menjadikannya sekadar kebisingan digital. Namun ada harga yang harus dibayar. Album ini terlalu nyaman dengan formulanya sendiri. " Last Rites ", " Skullfucked ", " Savorless Sadistic Ritual ", " Regenerate To Annihilate " dan " Storm Of Rapture " semuanya kompeten. Bahkan sangat kompeten. Masalahnya justru di situ: mereka sering terasa seperti variasi dari mesin yang sama. Riff berubah, tempo bergeser, tetapi kepribadian lagunya tidak selalu ikut berubah. Ini BDM dalam bentuk paling literal: brutal, padat, cepat dan kadang terlalu patuh terhadap definisinya sendiri. " Assault Inferior Domain " menjadi salah satu pengecualian paling kuat. Riff dan vokal bekerja secara simultan, tempo berganti tanpa kehilangan momentum, dan durasinya yang singkat membuat lagu ini terasa lebih padat daripada beberapa komposisi lain. Ia tidak membuang waktu untuk membuktikan betapa ekstremnya mereka; ia cukup melakukannya. Justru di sini terlihat potensi terbesar Storm Upon The Masses: ketika mereka berhenti sekadar mengejar intensitas dan mulai memikirkan arsitektur kekerasan, Kemudian datang " The Arrival ".
Sebagai interlude berdurasi 2:10, penempatannya menjelang dua lagu terakhir memang memberi kesempatan telinga untuk bernapas. Tetapi secara dramaturgis, ia juga sedikit merusak momentum yang telah dibangun delapan lagu sebelumnya. Ketika sebuah album hanya berdurasi 36:52, dua menit bukan jumlah yang sepele. Setiap detik harus punya alasan. Setelah itu, " The Ones Who Came Back " kembali menyalakan mesin. Dengan durasi hanya 2:25, lagu ini mungkin merupakan contoh paling ekstrem dari pendekatan mereka: masuk, menghantam, selesai. Tidak ada kebutuhan untuk memperpanjang penderitaan dan " Sworn To Blasphemy " menutup album dengan perubahan tempo yang cukup untuk membuktikan bahwa mereka masih mampu mengubah arah tanpa kehilangan karakter. Namun setelah semuanya selesai, pertanyaan yang lebih penting muncul: Apa yang benar-benar tertinggal? Itulah kelemahan terbesar album ini. Kita mengingat badai, tetapi tidak selalu mengingat petir mana yang menyambar lebih dulu. Sebelas lagu tersebut terdengar sangat seragam dalam bahasa musiknya. Riff memang berbeda, tetapi karakter keseluruhannya begitu konsisten sampai beberapa bagian mulai melebur menjadi satu blok brutal death yang panjang. Kritik serupa muncul dalam ulasan kontemporer: kekuatan album terletak pada intensitas, presisi dan produksi, sementara keterbatasannya berada pada minimnya variasi dan kecenderungan lagu-lagu untuk bergerak dalam wilayah sonik yang sama. Tetapi menyebutnya monoton juga terasa terlalu mudah. Karena " The Ones Who Came Back " sebenarnya memiliki kontrol. Mereka tahu persis bagaimana brutal death harus dimainkan. Mereka tahu kapan harus mempercepat, kapan harus mengunci groove, kapan gitar harus memotong dan kapan drum harus menjadi palu. Bahkan keterbatasan variasinya terasa seperti keputusan estetis: Storm Upon The Masses tidak ingin membawa pendengar berwisata. Mereka ingin membawa pendengar ke satu tempat, kemudian menghancurkan tempat itu selama 36 menit.
Artwork Daemorph memperkuat gagasan tersebut fantasi kehancuran dengan naga, prajurit dan makhluk raksasa yang membuat manusia terlihat seperti serangga bersenjata buruk. Visual dan musik bertemu pada satu konsep sederhana: manusia mencoba melawan sesuatu yang skalanya jauh lebih besar daripada kemampuan mereka dan mungkin itu juga cara paling tepat membaca album ini. Bukan sebagai karya brutal death yang ingin menemukan kembali masa depan genre, tetapi sebagai penghormatan terhadap bahasa lama yang dimainkan dengan standar produksi modern. Ada jejak Hour of Penance dan Hideous Divinity, ada disiplin death metal Eropa, ada BDM yang mengutamakan teknik tanpa harus berubah menjadi klinis. Bahkan Metal Archives mencatat formasi lengkapnya: Vanderheyden, Swinnen, Di Cairano, Hondshoven dan Putteneers 5 pemain yang terdengar seperti sudah tahu persis apa yang mereka cari. Menariknya, perjalanan mereka tidak berhenti di sini. Storm Upon The Masses kemudian kembali dengan " Crusher of Souls " pada 2024, menegaskan bahwa " The Ones Who Came Back " bukan eksperimen satu kali, melainkan fondasi dari identitas yang terus mereka kembangkan. Jadi, apakah ini album brutal death yang sempurna? Tetapi apakah ia tahu bagaimana membuat death metal terdengar kejam, berat, presisi dan tidak membuang waktu? Sangat tahu. " The Ones Who Came Back " adalah album yang kekuatannya sekaligus menjadi kutukannya. Storm Upon The Masses menemukan sound mereka tetapi kemudian terlalu lama tinggal di dalam suara tersebut. Mereka tidak menciptakan badai baru. Mereka hanya memastikan badai lama masih memiliki cukup tenaga untuk menghancurkan kota dan ketika " The Ones Who Came Back " selesai, yang tersisa bukan melodi yang akan terus bersenandung di kepala. Yang tersisa adalah suara reruntuhan.
Home
[Brutal Death Metal]
* Storm Upon the Masses
#Belgia
2018
Dolorem Records
Storm Upon the Masses - The Ones who Came Back CD 2018
Storm Upon the Masses - The Ones who Came Back CD 2018
Written by REVIEW LOSTINCHAOS Oktober 11, 2026 0
Langganan:
Posting Komentar
(
Atom
)


0 Comments:
Posting Komentar
Tinggalkan komentar TERBAIK kalian disini, enjoy the sickness !