Panic - Fact CD 1993

Panic - Fact
Metal Blade Records CD 1993

01. Die Tryin' 03:16       
02. Close My Eyes and Jump 03:26     
03. Burn One 05:16       
04. Nonchalance 04:28 
05. Two Things (XYY) 04:06       
06. Hit and Dragged 03:52      
07. Rotator 03:52     
08. Gone Bad 04:22      
09. Hell No Fuck Yes 03:37       
10. Think About It 02:30


Jeff Braimes - Vocals
Martin Chandler - Guitars, Vocals 
George Hernandez - Bass
Jack Coy - Drums, Vocals


Ada ironi pahit di balik " Fact ". Panic datang dari Seattle, tetapi musik mereka sama sekali tidak mengikuti arus grunge yang sedang menguasai kota itu. Mereka justru membawa thrash metal yang keras, kasar, dan penuh sikap ke Metal Blade pada awal dekade ’90-an. Setelah " Epidemic " (1991), mereka mencoba bergerak lebih lebar. Hasilnya adalah " Fact ", dirilis pada Mei 1993 album yang masih ingin terdengar seperti thrash, tetapi sudah terlalu tergoda oleh groove, hard rock, punk, dan sensibilitas alternative metal. Masalahnya bukan bahwa Panic berubah. Masalahnya: mereka berubah tanpa menemukan alasan musikal yang cukup kuat. Panic sebenarnya bukan pendatang baru yang muncul tiba-tiba. Akar mereka sudah ada sejak era Cold Steel pada pertengahan ’80-an, kemudian berkembang menjadi Panic pada 1987 dan melewati beberapa demo sebelum akhirnya menandatangani kontrak dengan Metal Blade. Epidemic membawa mereka ke orbit thrash yang sangat kompetitif, bahkan dengan keterlibatan Gary Holt dan Rick Hunolt dari Exodus dalam produksi serta gitar tamu. Itu penting, karena " Fact " terdengar seperti reaksi terhadap dunia yang berubah. Pada 1993, thrash klasik tidak lagi menjadi pusat alam semesta metal. Death metal sedang tumbuh liar, alternative metal semakin besar, dan groove mulai mengubah cara band-band ekstrem memandang riff. Panic merespons dengan melonggarkan struktur mereka. Riff menjadi lebih gemuk. Tempo lebih sering ditahan. Groove diberi ruang. Namun energi yang dahulu terasa seperti serangan, sekarang lebih sering terdengar seperti ajakan mengangguk dan untuk band yang pernah membawa senjata thrash, itu bukan peningkatan kecil. Itu amputasi karakter.

" Die Tryin’ " membuka album dengan pendekatan yang relatif aman. Jeff Braimes masih menggeram dengan gaya vokal kasar dan konfrontatif, sementara Martin Chandler menyusun riff yang mengingatkan bahwa Panic belum sepenuhnya membuang masa lalu. Tetapi ketajamannya sudah berkurang. Tidak ada lagi perasaan bahwa riff sedang mengejar leher pendengar. Semuanya terasa lebih longgar, lebih " Rock ", seolah band mulai mempertimbangkan apakah musik mereka masih harus menjadi ancaman. Inilah pola yang kemudian terus berulang. Panic masih tahu bagaimana memainkan thrash. Mereka hanya tidak lagi selalu tahu mengapa harus memainkannya. Ini salah satu lagu yang paling mudah menyelamatkan " Fact " dari kebosanan. Intro-nya memiliki riff yang catchy dan segera bekerja. Ada momentum. Ada dorongan. Ada sensasi bahwa Panic bisa kembali menggigit kapan saja. Namun begitu lagu mulai berkembang, energi tersebut dipaksa masuk ke riff yang lebih punky dan groove-oriented. Harmoni vokal semakin dekat dengan formula heavy metal Amerika yang sedang berkembang. Hasilnya mudah dicerna. Tetapi mudah dicerna bukan sinonim dari kuat. " Close My Eyes and Jump " memperlihatkan dilema utama album ini: Panic memiliki kemampuan membuat riff yang langsung menempel di kepala, tetapi terlalu sering mengorbankan keganasan demi aksesibilitas.

" Fact " bukan groove metal murni. Menyebutnya demikian juga terlalu malas. Yang terjadi lebih menarik dan sekaligus lebih menyedihkan. Panic mengambil struktur thrash, memperlambat beberapa bagian, mempertebal riff, kemudian memasukkan nuansa hard rock, punk, dan alternative metal. Hasilnya adalah suara transisi yang sangat khas awal ’90-an: belum cukup modern untuk menjadi alternative metal, tetapi sudah terlalu jinak untuk menjadi thrash yang benar-benar berbahaya. " Nonchalance " adalah contoh buruk dari kecenderungan tersebut. Groove-nya tidak cukup kuat untuk menjadi identitas dan vokal Braimes pada beberapa bagian bahkan mendekati ekspresi grunge yang terasa seperti kostum. " Two Things (XYY) " lebih catchy, tetapi kembali menghadapi masalah yang sama: bagian-bagian bagus muncul, lalu struktur lagu tidak melakukan cukup banyak hal untuk membuatnya bertahan dalam ingatan. Riff bukan sekadar soal berat. Riff harus punya alasan untuk hidup. Kemudian " Hit and Dragged " datang dan memperlihatkan apa yang sebenarnya hilang dari sebagian besar album. Di sini Panic terdengar lebih fokus. Tempo lebih agresif. Riff lebih konsisten. Struktur tidak terlalu sibuk mencari identitas baru. Ada rasa thrash yang lebih jelas, tetapi tidak terdengar seperti nostalgia murahan. Inilah salah satu track yang membuktikan bahwa masalah " Fact " bukan kemampuan bermain. Mereka bisa. Yang bermasalah adalah keputusan. Ketika Panic berhenti berusaha terdengar lebih " Modern ", mereka justru terdengar lebih hidup.

Rotator membawa eksperimen groove dan bluesy riff lebih jauh, tetapi hasilnya tidak selalu menyenangkan. Bagian verse terasa terlalu longgar dan chorus mendekati wilayah hard rock yang hampir membuat album ini kehilangan garis batas metalnya. Ada sesuatu yang menarik di sini: Panic tampaknya memahami bahwa thrash lama sedang mengalami kelelahan kreatif. Mereka ingin memperbaruinya. Tetapi pembaruan tanpa karakter baru hanya menghasilkan musik lama yang kehilangan bagian terbaiknya. Kemudian datang " Gone Bad ". Inilah saat album benar-benar menunjukkan sisi komprominya. Panic mencoba memperkenalkan sisi melodis yang lebih lunak, tetapi tidak menemukan kedalaman emosional yang diperlukan untuk membuat pendekatan tersebut terasa penting. Ia lebih terdengar seperti kewajiban struktural sebuah " Power ballad " yang harus ada karena album metal Amerika awal ’90-an tampaknya percaya setiap rekaman membutuhkan satu. Masalahnya sederhana: Panic tidak terdengar seperti band yang membutuhkan balada. Mereka membutuhkan riff. Menariknya, album justru kembali menemukan sedikit nyawa menjelang akhir. " Hell No Fuck Yes " membawa energi punk-metal yang lebih kasar dan langsung. Tidak elegan, tetapi setidaknya memiliki sikap. " Think About It " bahkan terasa seperti Panic akhirnya berhenti berpikir terlalu banyak. 2 lagu ini memang bukan mahakarya. Namun ada sesuatu yang menyenangkan dari keduanya: mereka tidak berusaha menjadi sesuatu yang bukan Panic. Ironisnya, itu datang setelah sebagian besar album selesai.

Secara produksi, " Fact " cukup baik untuk standar zamannya. Gitar memiliki bobot dan kejernihan yang membuat riff mudah diikuti. Drum terdengar cukup eksplosif, sementara keseluruhan rekaman memiliki polish yang jauh lebih profesional daripada sekadar demo thrash bawah tanah. Namun low-end bukan kekuatannya. Bass terasa lebih dominan di register tinggi daripada memberi fondasi rendah yang benar-benar mengguncang. Akibatnya, musik terdengar lebih tipis daripada yang seharusnya untuk album yang semakin bergantung pada groove. Penilaian retrospektif terhadap album juga mencatat kekurangan pada bottom-end tersebut. Ini menjadi kontradiksi kecil tetapi penting. Musiknya semakin berat, tetapi tubuh suaranya tidak selalu ikut menjadi berat. Satu hal yang relatif konsisten adalah Jeff Braimes. Ia tidak tiba-tiba berubah menjadi penyanyi bersih atau mencoba menjadi frontman alternative rock. Vokalnya masih kasar, shouted, dan penuh permusuhan. Itulah salah satu jangkar album. Tetapi justru karena vokalnya masih membawa karakter lama, perubahan musik di belakangnya semakin terlihat. Braimes terdengar seperti orang yang masih ingin berkelahi. Bandnya mulai terdengar seperti sedang mencari pekerjaan. Ada kesalahan besar jika " Fact " hanya disebut album buruk. Tidak.

Album ini memiliki riff catchy, produksi solid, energi yang cukup, dan beberapa lagu yang bekerja dengan baik. Bahkan materi promosi Metal Blade pada 1993 menggambarkannya sebagai metal yang cepat, keras, langsung, dan penuh riff chunky serta permainan ritmis yang eksplosif. Billboard pada periode yang sama juga memosisikannya sebagai bagian dari kebangkitan kembali power-thrash/metal di tengah perubahan lanskap radio metal. Tetapi promosi label adalah satu hal. Mendengarkan albumnya tiga dekade kemudian adalah hal lain dan di sinilah " Fact " kalah. Bukan karena terlalu modern. Bukan karena terlalu groove. Bukan karena thrash harus selalu dimainkan dengan kecepatan maksimum. Ia kalah karena terlalu banyak bagian terdengar seperti keputusan kompromi. " Epidemic " mungkin lebih kasar dan kurang fleksibel, tetapi ia memiliki identitas yang lebih jelas. Keterlibatan Gary Holt dan Rick Hunolt dari Exodus juga memperkuat hubungan Panic dengan tradisi thrash Bay Area pada rekaman tersebut. " Fact " justru memutus sebagian fondasi itu. Mereka ingin berkembang. Tetapi perkembangan tersebut tidak menghasilkan bahasa baru yang sepenuhnya milik Panic. Mereka bergerak ke wilayah yang sudah dihuni Pantera, Sacred Reich, M.O.D., Testament, dan sederet band Amerika lain yang sedang mencoba bertahan di tengah perubahan zaman. semua menggolongkan Panic dalam jalur thrash yang berdekatan dengan sekolah Pantera dan Sacred Reich. Jadi masalahnya bukan bahwa Panic terdengar terlalu groove. Masalahnya adalah groove tersebut tidak cukup personal untuk menggantikan identitas thrash yang mereka lepaskan.

" Fact " adalah dokumen kecil dari momen besar: 1993, ketika thrash metal sedang mencari cara untuk tetap hidup tanpa terdengar seperti fosil. Panic mencoba. Mereka memperlebar groove, melonggarkan struktur, memasukkan hard rock dan punk, mempertebal riff, dan membuat musik yang lebih mudah dicerna. Beberapa hasilnya bekerja. Sebagian lainnya terdengar seperti thrash yang kehilangan alamat. " Close My Eyes and Jump " dan " Hit and Dragged " memperlihatkan potensi yang sebenarnya. " Hell No Fuck Yes " dan " Think About It " bahkan menyisakan percikan liar di bagian akhir. Tetapi terlalu banyak materi di antaranya menghabiskan energi pada riff sederhana yang tidak cukup memorable untuk menggantikan keganasan " Epidemic " dan itulah tragedinya. Panic bukan band yang tidak mampu. Mereka hanya memilih jalan yang membuat kemampuan terbaik mereka semakin sulit terlihat. " Fact " bukan kehancuran total. Ia adalah album transisi yang terlalu lama tinggal di tengah jalan terlalu thrash untuk menjadi alternative metal, terlalu groove untuk menjadi thrash murni, terlalu catchy untuk disebut agresif, tetapi tidak cukup berkarakter untuk menjadi klasik. Pada 1993, itu mungkin terdengar seperti strategi bertahan hidup. Hari ini, ia terdengar seperti peringatan. Ketika sebuah band takut tertinggal zaman, mereka kadang justru meninggalkan satu-satunya hal yang membuat mereka layak diingat.

0 Comments:

Posting Komentar

Tinggalkan komentar TERBAIK kalian disini, enjoy the sickness !

Designed by lostinchaos mediazine