Abominant - Unspeakable Horrors CD 1996

Abominant - Unspeakable Horrors 
Wild Rags Records CD 1996

01. Intro 01:24       
02. Intentionally Accused 03:22      
03. Corrupting Morality 04:10     
04. Calls from Beyond 04:39       
05. Lost 03:50     
06. The Ecstasy of Sufferance 03:00      
07. Abominant 05:23       
08. Child of the Sky 04:35     
09. Age of Chaos 04:30      
10. Unspeakable Horrors 04:40


Mike Barnes - Vocals
Timmie Ball - Guitars
Mike May - Bass
Craig Netto - Drums 


Ada ironi yang sulit diabaikan dari " Unspeakable Horrors " : ketika album ini akhirnya muncul pada 31 Oktober 1996, dunia death metal sudah mulai meninggalkan bentuk yang justru paling dikuasai Abominant. Bukan karena mereka gagal membaca zaman, melainkan karena zaman memang bergerak terlalu cepat. Abominant terbentuk di Elizabethtown, Kentucky, pada 1993 dari reruntuhan beberapa band lokal seperti Sarcoma dan Effigy. Setelah Never Truly Dead dan sebuah demo 1994, mereka masuk ke orbit Wild Rags dan akhirnya melahirkan debut ini. Masalahnya, " Unspeakable Horrors " sebetulnya bukan album yang benar-benar " lahir " pada 1996. Tujuh materi awal direkam Juli 1995 di New Power Studio, Louisville, sementara tiga lagu tambahan direkam Maret 1996 di Ramcat Studio. Rencana awalnya adalah merilis tujuh lagu tersebut melalui Arctic Circle Records pada 31 Oktober 1995. Dua minggu sebelum tanggal rilis, label itu bangkrut dan tutup. Wild Rags kemudian mengambil alih, meminta tiga lagu tambahan, dan merilis album ini tepat setahun setelah tanggal yang semula direncanakan. Jadi, menyebut Abominant " Terlambat  memang benar secara kalender, tetapi agak tidak adil secara musikal. Mereka bukan terlambat bermain death metal. Mereka hanya terlambat tiba di toko ketika pesta sudah berganti ruangan dan pesta itu memang sedang berubah. 1996 adalah tahun ketika formula death metal Amerika awal dekade mulai kehilangan posisi sentralnya. Sebagian band memperluas eksperimen, sebagian bergerak menuju bentuk yang lebih teknis, atmosferik atau industrial, sementara black metal Eropa mulai memperoleh perhatian jauh lebih besar. Dalam situasi semacam itu, Abominant justru menancapkan kaki lebih dalam ke tanah. Tidak ada usaha keras untuk menjadi futuristis. Tidak ada kosmetik progresif yang dipaksakan. Tidak ada tremolo-picking berlebihan demi mengejar tren. Yang ada adalah death metal Amerika yang masih memahami bahwa riff bagus tidak membutuhkan sertifikat kebaruan. " Unspeakable Horrors " berdiri di wilayah yang mudah dikenali oleh penggemar Deicide, Sinister, Gorguts era awal, bahkan " Osculum Obscenum "-nya Hypocrisy atau " Scrolls of the Megilloth " milik Mortification. Perbandingan tersebut bukan sekadar tempelan nama besar: karakter album memang bertumpu pada death metal yang brutal tetapi tetap memberi ruang bagi riff thrash, groove, perubahan tempo dan hook yang mudah melekat.

10 track dengan durasi sekitar 39 menit membuat album ini tidak terasa seperti satu blok kebisingan tanpa pintu keluar. Struktur lagunya cukup beragam untuk memberi paru-paru kesempatan bernapas sebelum kembali dihantam dan itu penting. Karena death metal yang hanya tahu cara berlari akhirnya terdengar seperti mesin rusak. Kekuatan utama Abominant ada pada gitar. Bukan gitar yang ingin memamerkan IQ. Bukan pula gitar yang mengejar kompleksitas demi kompleksitas. Riff-riffnya bekerja secara fungsional: cepat ketika harus menyerang, thrashy ketika perlu menggiring momentum, lalu turun ke bagian yang lebih berat dan groovy sebelum kembali menendang pedal gas. Ada cukup banyak motif yang memiliki daya ingat jenis hook yang setelah beberapa kali putaran mulai tinggal di kepala seperti parasit yang menolak mati. " Intentionally Accused ", " Corrupting Morality ", dan " Calls from Beyond " memperlihatkan fondasi tersebut dengan cukup jelas, sementara " Abominant " menjadi salah satu titik yang paling merepresentasikan identitas musikal mereka. Tracklist resminya memang menunjukkan rentang materi yang cukup lebar, dari tiga menit hingga lebih dari lima menit, sehingga album tidak dibangun menggunakan satu pola tempo yang dipompa ulang sepuluh kali. Namun Abominant juga belum sepenuhnya menemukan cara untuk membuat setiap ide terasa sama tajamnya. Beberapa transisi terasa lebih sebagai kebutuhan struktural daripada keputusan artistik. Sesekali atmosfer dan elemen keyboard muncul seperti kabut tipis berguna untuk warna, tetapi tidak cukup dominan untuk mengubah karakter dasar musik. Itu justru keputusan yang tepat: keyboard dipakai sebagai atmosfer, bukan sebagai tongkat sulap untuk membuat death metal terdengar " Epik ". Syukurlah. Metal sudah cukup lama menderita karena orang menemukan synthesizer lalu mengira dirinya menemukan Wagner.

Vokal Mike Barnes merupakan salah satu elemen yang paling mudah dikenali dalam album ini. Growl beratnya berada di jalur yang dekat dengan tradisi Glen Benton, tetapi sesekali diberi aksen scream yang membuat teksturnya tidak sepenuhnya monoton. Ia tidak sedang mencoba menjadi monster teatrikal. Ia terdengar seperti manusia yang sudah terlalu lama hidup di dalam sesuatu yang busuk. Lirik-lirik seperti " Intentionally Accused " memperlihatkan kecenderungan Abominant terhadap paranoia, penderitaan, tuduhan, kehancuran dan pencarian kebebasan tema yang lebih gelap secara psikologis daripada sekadar parade gore. Di sinilah album mendapatkan sedikit kedalaman yang sering hilang dari death metal generasi tersebut. Tetapi ada beberapa eksperimen vokal yang justru mengganggu. " The Ecstasy of Sufferance " menggunakan bagian spoken-word yang terasa seperti tamu tak diundang. Penutup “Unspeakable Horrors” juga membawa pendekatan vokal dan tekstur yang lebih eksperimental. Secara teori, variasi tersebut membantu memecah formula. Secara praktik, hasilnya tidak selalu meyakinkan. Tidak semua penyimpangan dari formula adalah perkembangan. Kadang-kadang itu hanya penyimpangan. Inilah kelemahan paling nyata. " Unspeakable Horrors " terdengar berat, jelas dan cukup agresif, tetapi gitar tidak memperoleh posisi yang seharusnya. Karakternya cenderung tipis dibandingkan standar produksi death metal besar pada masa itu. Hasil akhirnya memberikan sensasi seperti demo yang berhasil naik kelas menjadi album, bukan album yang sejak awal diproduksi dengan kekuatan sonik maksimal dan ironi itu makin terasa karena materi seperti ini sebenarnya membutuhkan gitar yang lebih besar, lebih tebal dan lebih frontal. Bayangkan jika riff-riff tersebut memperoleh pendekatan produksi ala Scott Burns pada periode terbaiknya: kick drum lebih menghantam, gitar lebih tebal, bass lebih terintegrasi dan keseluruhan mix mempunyai bobot yang lebih mengancam. Itu tentu hanya hipotesis editorial, bukan fakta sejarah. Tetapi justru di situlah frustrasinya: lagunya sudah punya taring, sementara produksinya tidak selalu memberinya rahang yang cukup kuat untuk menggigit. Menariknya, keluhan terhadap produksi bukan persoalan yang sepenuhnya asing dalam perjalanan Abominant. Mike Barnes sendiri kemudian mengkritik buruknya produksi In Darkness Embrace dalam wawancara, menunjukkan bahwa persoalan rekaman memang menjadi bagian dari sejarah band tersebut.

Ada kecenderungan membaca sejarah Abominant dari belakang: karena materi-materi mereka kemudian mendapatkan pengaruh black metal yang lebih kentara, debut ini kadang ditempatkan sebagai titik awal menuju evolusi tersebut. Namun konteksnya perlu diperjelas. " Unspeakable Horrors " sendiri adalah rekaman death metal. Perubahan menuju karakter yang lebih blackened tidak terjadi secara dramatis di album ini. Bahkan dalam wawancara jauh setelah periode debut, Barnes menjelaskan bahwa pengaruh black metal makin terlihat pada fase berikutnya, terutama setelah Jim Higgins bergabung; ia menyebut pengaruh tersebut hadir dalam permainan, songwriting, tremolo dan blasting. Jadi debut ini lebih tepat dipandang sebagai dokumen dari Abominant sebelum identitas mereka mengalami perluasan, bukan sebagai album blackened death metal yang gagal menjadi hitam dan justru karena itulah ia menarik. " Unspeakable Horrors " tidak revolusioner. Tidak perlu dipaksa menjadi revolusioner. Album ini tidak menemukan bahasa baru untuk death metal. Ia juga tidak memiliki produksi monumental yang membuat setiap riff terdengar seperti bangunan beton runtuh. Bahkan beberapa keputusan vokal dan atmosfernya terasa setengah matang. Tetapi menilainya hanya dari seberapa " Baru " ia terdengar pada 1996 berarti kehilangan konteks terpenting. Abominant adalah band underground yang mempertahankan bahasa death metal ketika banyak orang mulai mencari bahasa baru. Mereka tidak menjual masa lalu; mereka memang masih tinggal di dalamnya dan kadang-kadang, itu justru lebih jujur.

" Unspeakable Horrors " adalah rekaman yang terlambat datang, tetapi tidak datang dengan rasa malu. Ia membawa death metal awal dekade 1990-an ke sebuah tahun yang sudah mulai bosan terhadapnya, lalu berdiri di sana seperti orang keras kepala yang menolak mengganti jaket hanya karena mode sudah berubah. Tidak sempurna. Tidak inovatif. Tidak terdengar mahal. Tetapi riff-nya bekerja, tempo-nya bernapas, vokalnya punya karakter, dan sebagian besar lagunya memiliki daya tahan yang jauh lebih besar daripada produksi yang membungkusnya. Abominant tidak memenangkan perlombaan melawan zaman. Mereka bahkan tidak mencoba. Mereka hanya terus memainkan death metal ketika zaman mulai mencari sesuatu yang lain dan mungkin itulah nilai historis sebenarnya dari Unspeakable Horrors: bukan sebagai mahakarya yang mengubah genre, melainkan sebagai bukti bahwa underground tidak selalu bergerak maju kadang ia bertahan, menggali lebih dalam, dan menolak mati. Pure, stubborn, late-'80s/early-'90s-minded US death metal surviving in a 1996 world that had already begun looking elsewhere. penggila Deicide era awal, Sinister, Gorguts awal, Hypocrisy era " Osculum Obscenum ", Mortification dan kolektor US death metal underground 1990-an.

0 Comments:

Posting Komentar

Tinggalkan komentar TERBAIK kalian disini, enjoy the sickness !

Designed by lostinchaos mediazine