Exit-13 - Ethos Musick CD 1994

Exit-13 - Ethos Musick
Relapse Records CD 1994

01. Societally Provoked Genocidal Contemplation 05:02       
02. Ethos Musick 01:41     
03. Facilitate the Emancipation of Your Mummufied Mentality 04:24     
04. Diet for a New America 03:11      
05. Anthropocentric Ecocidal Conundrum 03:43      
06. Reevaluate Life! 01:43 
07. Legalize Hemp Now! (including a Warm Wave of Euphoria) 07:38      
08. Open Season (The Story of Hunter Slaughter) 05:23     
09. My Minds Mine! 04:27       
10. Earth First! 04:36     
11. Only Protest Gives a Hope of Life! 03:55       
12. Disemboweling Party 01:28 
13. An Electronic Fugue for the Imminent Demise of Planet Earth 28:03


Bill Yurkiewicz  - Vocals, Samples, Power Electronics
Steve O'Donnell - Guitars
Dan Lilker - Bass, Keyboards, Samples
Scott Lewis - Drums, Percussion
 

Ada alasan mengapa Ethos Musick terasa seperti seseorang memasukkan grindcore ke dalam mesin penghancur, lalu memutuskan bahwa hasil serpihannya masih terlalu masuk akal. Dan Lilker memang ada di sini. Scott Lewis dari Brutal Truth juga ada. Tetapi menjadikan album ini sekadar " proyek Dan Lilker berikutnya" adalah cara tercepat untuk gagal memahami Exit–13. Lilker dan Lewis adalah bagian dari mesin, sementara pusat gravitasi tetap berada pada Bill Yurkiewicz dan Steve O’Donnell. Yurkiewicz menangani vokal, lirik, samples dan power electronics; O’Donnell membangun fondasi gitarnya. Bahkan kredit resmi album menempatkan Lilker juga pada bass, keyboard dan samples bukan sebagai dalang tunggal dan hasilnya? Berisik. Berat. Aneh. Kadang lucu. Sering menjengkelkan. Tetapi hampir tidak pernah bodoh. Pada permukaan, perbandingan dengan Brutal Truth memang tidak terhindarkan. Ada blast beat, gitar kasar, vokal abrasif dan energi yang terasa seperti ingin merobek kabel listrik dari dinding. Tetapi Exit–13 tidak memiliki disiplin brutalitas yang sama. Brutal Truth bisa membuat kecepatan terdengar seperti hukum alam. Exit–13 justru senang menghancurkan hukum tersebut. Sebuah lagu dapat melaju seperti grindcore konvensional, lalu mendadak mengubah bentuk menjadi groove rock tua, menyisakan ruang untuk gitar akustik, atau membiarkan solo improvisasional masuk seperti orang mabuk yang salah alamat tetapi ternyata membawa ide bagus. public juga mencatat bahwa pendekatan album ini secara sadar mencampurkan doom tradisional dengan blues dan jazz. Itulah inti " Ethos Musick ". Album ini tidak ingin menjadi lebih brutal daripada band lain. Ia ingin menjadi lebih menyebalkan untuk dikategorikan dan pada 1994, itu merupakan sikap yang cukup radikal.

" Societally Provoked Genocidal Contemplation " membuka album dengan judul yang sudah terdengar seperti manifesto yang ditulis setelah tiga hari kurang tidur. " Ethos Musick ", " Facilitate the Emancipation of Your Mummified Mentality ", " Diet for a New America " dan " Anthropocentric Ecocidal Conundrum " menunjukkan bahwa Exit–13 tidak sekadar menggunakan musik sebagai kendaraan untuk menghantam telinga. Mereka menggunakannya sebagai media agitasi. Tracklist-nya sendiri adalah peta kekacauan: dari lagu-lagu pendek hingga " Legalize Hemp Now! (Including a Warm Wave of Euphoria) " yang mencapai lebih dari tujuh menit, kemudian " Open Season ", " My Minds Mine! ", " Earth First! " dan akhirnya monolit noise berdurasi 28 menit. Ini bukan sequencing yang dirancang agar nyaman. Ini dirancang agar mengganggu kenyamanan dan di situlah album bekerja paling efektif. Yurkiewicz tidak memiliki pandangan yang terlalu romantis terhadap umat manusia. Judul " Societally Provoked Genocidal Contemplation " sudah cukup menjelaskan arah moral album. " Diet for a New America " dan " Anthropocentric Ecocidal Conundrum " menyerang hubungan manusia dengan konsumsi dan lingkungan; " Open Season " mengarahkan senjatanya kepada budaya berburu; sementara " Legalize Hemp Now! " terang-terangan membawa isu kriminalisasi ganja ke dalam medan perang mereka. " Earth First! " bahkan menggunakan spoken-word material sebagai bagian dari konstruksi album. Yang menarik bukan semata-mata apakah pendengar setuju. Yang menarik adalah Exit–13 menolak memisahkan musik ekstrem dari posisi moralnya. Mereka tidak membuat lagu politik lalu menyelipkan riff sebagai dekorasi. Musiknya sendiri menjadi bentuk protes: kasar, tidak nyaman, tidak kompromistis. Tentu, beberapa gagasan terdengar sangat khas aktivisme radikal awal 1990-an. Ada bagian yang kini bisa terasa naif, ada pula yang terasa terlalu didaktik. Tetapi menilai karya seperti ini hanya dari standar politik hari ini juga terlalu mudah. Dokumen underground tidak selalu harus menjadi buku panduan. Kadang ia cukup menjadi foto wajah sebuah kegelisahan pada zamannya.

Salah satu senjata terbaik Exit–13 justru bukan gitar atau drum, melainkan cut-up dan sampling. Suara manusia, dialog, rekaman lingkungan dan potongan spoken-word disisipkan ke dalam komposisi seperti serpihan kaca. Ia menciptakan semacam dokumenter sosial yang sengaja direkam melalui pengeras suara rusak. Dalam " Earth First! ", misalnya, spoken-word material bukan sekadar intro kosmetik. Ia mengubah cara kita mendengar lagu setelahnya. Musik menjadi komentar terhadap komentar. Ini adalah metode yang kelak terasa semakin lazim dalam industrial, noise dan experimental metal, tetapi pada konteks Ethos Musick semuanya terasa seperti kolase liar dari televisi, aktivisme, budaya sampah dan paranoia. Exit–13 tidak sekadar memainkan lagu. Mereka mengacak-acak lingkungan informasi di sekitar lagu itu. Lilker adalah magnet perhatian, tetapi " Ethos Musick " tidak hidup karena reputasinya. Bassnya memberikan fondasi bawah yang berat, sementara keterlibatannya pada keyboard dan samples memperluas spektrum album. Scott Lewis membawa bahasa drum yang secara alami mengingatkan pada Brutal Truth, terutama ketika blast beat mulai menghujam. Tetapi identitas Exit–13 tidak pernah sepenuhnya larut menjadi Brutal Truth versi eksperimental. Kredit dan sejarah lineup memperjelas bahwa ini adalah formasi Exit–13 sendiri, bukan Brutal Truth dengan nama palsu. Perbedaannya justru ada pada keberanian untuk berhenti. Untuk melambat, Untuk membuat groove, Untuk memasukkan blues, Untuk membiarkan noise berbicara dan kemudian kembali menghantam.

Lalu datanglah monster terakhir. " An Electronic Fugue for the Imminent Demise of Planet Earth. " 28 menit, Instrumental, Noise, Bukan bonus track yang bisa diabaikan sambil membereskan kamar. Ini adalah pernyataan bahwa setelah sebelas lagu menyerang telinga dengan musik, Exit–13 masih merasa pendengar belum cukup dihukum. mencatat durasinya 28:03 dan mengklasifikasikannya sebagai instrumental. Secara musikal, ini jelas bukan " lagu " dalam pengertian konvensional. Ia lebih dekat kepada serangan terhadap konsep musik itu sendiri. Televisi tanpa sinyal. Elektronik yang sekarat. Frekuensi yang tidak mau menyelesaikan kalimat. Sebuah lanskap suara yang sengaja menolak resolusi dan justru karena itu, track tersebut menjadi epilog konseptual yang sempurna: jika album ini berkali-kali berbicara mengenai kehancuran manusia dan planet, maka penutupnya tidak perlu memberi kita riff kemenangan. Ia memberi kita suara kehancuran. Ini bukan album yang akan membuat setiap penggemar grindcore tersenyum. Bahkan sebagian penggemar grindcore mungkin akan bertanya: mengapa harus ada blues, jazz, spoken word, samples dan 28 menit noise ketika kita bisa saja mendengar blast beat? Pertanyaan yang sah. Jawabannya sederhana: Karena Exit–13 tidak puas menjadi mesin blast beat. Mereka ingin membuktikan bahwa ekstremitas tidak hanya diukur dari BPM atau seberapa cepat drummer mampu menghancurkan snare. Ekstremitas juga bisa berarti membuat pendengar berpikir ketika mereka sebenarnya hanya ingin headbang dan itu jauh lebih mengganggu.

" Ethos Musick " adalah album yang secara sengaja menolak kenyamanan genre. Ia memang memiliki DNA grindcore dan bayangan Brutal Truth yang sulit disembunyikan, tetapi fondasinya terlalu liar untuk disebut sekadar kloning. Doom, blues, jazz, punk, noise, sampling dan power electronics dirakit menjadi kolase yang terdengar seperti aktivisme lingkungan setelah dilempar ke dalam mesin penghancur industri. Tidak semuanya berhasil. Beberapa eksperimen terasa lebih seperti provokasi daripada komposisi. Sebagian gagasan politiknya terlalu gamblang. Dan 28 menit noise di akhir adalah jenis keputusan yang membuat pendengar kasual mencari tombol eject dengan refleks bertahan hidup. Tetapi itulah Exit–13. Mereka tidak menjual kesempurnaan. Mereka menjual ketidaknyamanan dan untuk album yang berbicara mengenai manusia sebagai spesies yang mampu menghancurkan segala sesuatu yang disentuhnya, mungkin tidak ada bentuk musik yang lebih tepat daripada rekaman yang juga terdengar seperti sedang berusaha menghancurkan stereo kalian. Bukan grindcore paling bersih. Bukan eksperimen paling elegan. Bukan pula album yang ramah pendengar. Tetapi sebagai artefak underground 1994, " Ethos Musick " memiliki sesuatu yang jauh lebih sulit dibuat: karakter. Exit–13 tidak meminta izin untuk menjadi aneh. Mereka menjadikan keanehan sebagai senjata.

0 Comments:

Posting Komentar

Tinggalkan komentar TERBAIK kalian disini, enjoy the sickness !

Designed by lostinchaos mediazine