Brutal Truth - Need to Control
Earache Records CD 1994
01. Collapse 05:02
02. Black Door Mine 01:41
03. Turn Face 01:29
04. Godplayer 04:06
05. I See Red 02:49
06. Ironlung 04:21
07. Bite the Hand 02:06
08. Ordinary Madness 05:04
09. Media Blitz (Germs cover) 00:56
10. Judgement 02:34
11. Brain Trust 02:43
12. Choice of a New Generation 01:59
13. Mainliner 02:18
14. Displacement 04:14
15. Crawlspace 01:34
Kevin Sharp - Vocals
Brent McCarty - Guitars
Dan Lilker - Bass
Rich Hoak - Drums
Ada kata yang terlalu sering dipakai untuk menjelaskan Need to Control: " Post. " Post-grind, post-punk, post-metal, post-apa saja. Seolah setiap band yang memasukkan satu suara aneh ke dalam musiknya harus segera diberi gelar akademik agar manusia merasa telah memahami sesuatu. Brutal Truth tidak membutuhkan semua itu. Pada 25 Oktober 1994, " Need to Control " muncul sebagai album kedua yang secara sadar menolak mengulang formula " Extreme Conditions Demand Extreme Responses ". Earache merilisnya dengan formasi Kevin Sharp, Dan Lilker, Brent McCarty dan Rich Hoak; Colin Richardson menangani mixing, Stephen Marcussen mastering dan sejak " Collapse ", jelas bahwa Brutal Truth sedang membongkar rumah mereka sendiri. Masalahnya: tidak semua puing yang mereka jatuhkan berhasil dibentuk menjadi bangunan baru. " Extreme Conditions... " adalah deklarasi: cepat, brutal, politis, dan nyaris seperti serangan panik yang direkam ke pita. " Need to Control " mengambil energi tersebut lalu memasukkannya ke dalam ruang yang lebih luas. " Collapse " membuka album dengan langkah lamban, berat dan nyaris death-doom sebelum brutalitas kembali mengambil alih. " Black Door Mine " dan " Turn Face " kemudian menyodorkan grindcore dalam bentuk yang lebih langsung seolah band sengaja memberi pendengar rasa aman sebelum menghancurkannya lagi, Lalu " Godplayer " muncul. Didjeridu Andy Haas membuka trek ini dengan drone rendah sebelum gitar, growl dan blast beat masuk. Pada titik itu, pesan Brutal Truth menjadi terang: mereka tidak lagi tertarik membuktikan bahwa mereka bisa bermain cepat. Mereka ingin membuktikan bahwa grindcore bisa berhenti, berbelok, menggeram, merayap, kemudian meledak lagi. Itulah alasan " Need to Control " penting. Bukan karena ia meninggalkan grindcore, tetapi karena ia memperlebar definisi tentang apa yang dapat dilakukan grindcore tanpa kehilangan kebrutalannya. Decibel kemudian menggambarkan album ini sebagai fase ketika grindcore mereka menjadi lebih lambat, lebih jazzy dan memberi lebih banyak ruang.
" Godplayer " mungkin merupakan miniatur terbaik dari pendekatan album ini. Ada ambient, industrial, thrash, hardcore, death metal, blast beat, groove dan jeda yang terasa seperti seseorang sengaja mencabut kabel dari mesin sebelum menyambungkannya kembali dan anehnya, sebagian besar eksperimen itu terjadi dalam lagu yang sangat singkat. Itulah kecerdasan Brutal Truth di sini: mereka tidak membutuhkan lagu progresif sepanjang sepuluh menit untuk membuktikan bahwa mereka progresif. Mereka menyelundupkan perubahan sebelum pendengar sempat mengajukan keberatan. " Brain Trust " bahkan memperlihatkan Kevin Sharp mengeksplorasi karakter vokal yang lebih liar, sementara " Mainliner " membawa permainan vokalnya menuju wilayah yang semakin absurd. AllMusic secara khusus menyoroti growl dan yelping Sharp sebagai salah satu kekuatan album. Sharp bukan sekadar vokalis yang menjerit mengikuti riff. Ia adalah instrumen tambahan. Growl-nya memberikan bobot death metal; jeritannya memberikan sifat grindcore; perubahan artikulasinya membuat musik terdengar lebih tidak stabil daripada sebenarnya. Permainan instrumennya nyaris tanpa cela. Rich Hoak bermain dengan presisi yang membuat blast beat terdengar seperti senapan otomatis, tetapi ia juga mampu menahan diri ketika materi membutuhkan groove atau ruang. Brent McCarty tidak mengandalkan solo gitar konvensional untuk menunjukkan kemampuan teknis. Senjatanya adalah tekstur dan perubahan riff dan kemudian ada Dan Lilker. Bass Lilker terdengar seperti fondasi bawah tanah yang sengaja dibiarkan sebagian tertutup oleh gitar dan drum. Di sinilah salah satu kekurangan rekaman ini muncul: bass bisa saja dibuat lebih hadir. Tetapi karakter Lilker tetap terasa dalam cara keseluruhan band bekerja keras, cepat, punk, eksperimental dan tidak terlalu peduli terhadap batas genre. Ironisnya, justru ketika semua pemain menunjukkan kemampuan luar biasa, persoalan album bukan lagi " bisakah mereka bermain? " Jawabannya jelas. Persoalannya adalah: " Apakah semua yang mereka mainkan memang perlu berada di sini? "
Inilah bagian yang membuat " Need to Control " jauh lebih menarik untuk diperdebatkan daripada sekadar dipuja. Eksperimen album ini tidak selalu terasa organik. " Collapse " dan " Ordinary Madness " bekerja karena perubahan suasananya mempunyai bobot dramatik. " Ordinary Madness " khususnya memperlihatkan Brutal Truth ketika mereka membiarkan atmosfer menjadi lebih gelap, berat dan doomy. Sementara " I See Red ", " Bite the Hand " dan " Judgement " menunjukkan bahwa ketika band kembali kepada serangan utama mereka, mereka masih mampu menghasilkan momentum yang brutal. Namun beberapa eksperimen lainnya terasa seperti tambahan yang ditempelkan setelah lagu selesai ditulis. Seakan-akan formulanya: tulis lagu grindcore → masukkan bagian aneh → tambahkan noise → selesai dan ketika trik tersebut mulai terbaca, kejutan berubah menjadi formula baru. Ironis sekali. Band yang berusaha melarikan diri dari formula akhirnya menciptakan formula anti-formula. Beberapa pendengar akan menganggapnya sebagai kelemahan; lainnya justru melihat ketidakteraturan itu sebagai inti album. Bahkan ulasan yang lebih positif tetap mengakui bahwa album ini merupakan lompatan besar menuju industrial, ambient, noise dan bentuk eksperimental lainnya. " Ironlung " adalah salah satu contoh paling jelas mengenai risiko tersebut. Noise bukan lagi sekadar efek transisi. Ia menjadi materi. Pada 1994, ini bukan keputusan yang aman. Grindcore sudah dianggap musik yang cukup menjijikkan tanpa perlu menambahkan suara yang terdengar seperti mesin pabrik mengalami gangguan saraf. Tetapi Brutal Truth memahami satu hal penting: kebisingan tidak harus cepat untuk menjadi ekstrem. Di sinilah " Need to Control " memperluas bahasa ekstremitas. Kecepatan hanyalah satu parameter. Tekanan, repetisi, ruang kosong, distorsi dan ketidaknyamanan bisa sama efektifnya.
Kalau gitar dan drum adalah tubuh, Sharp adalah sistem sarafnya. Ia tidak bernyanyi. Ia seperti mengeluarkan isi perut melalui mikrofon. Growl rendah, jeritan tinggi dan suara yang hampir terdengar seperti suara manusia yang sedang mengalami kerusakan perangkat keras menjadi bagian dari komposisi. secara khusus memuji kombinasi vokal Sharp dengan kemampuan instrumental anggota lainnya. Yang membuatnya efektif adalah sinkronisasi. Ketika musik berbelok, vokal ikut berbelok. Ketika riff menjadi mekanis, Sharp terdengar seperti manusia yang terperangkap di dalam mesin. Ketika tempo kembali brutal, ia tidak sekadar mengikuti drummer ia memperburuk suasana. Cover " Media Blitz " milik Germs hanya berdurasi sekitar 56 detik dalam edisi standar dan itu tepat. Tidak semua interupsi harus menjadi eksperimen besar. Kadang-kadang Brutal Truth cukup mengingatkan bahwa akar mereka tetap punk: cepat, pendek, kasar dan tidak tertarik meminta izin. Namun kritik terhadap humor Dan Lilker memang punya dasar estetis yang layak diperdebatkan. Humor dalam proyek-proyek Lilker sering bekerja melalui vulgaritas, absurditas dan penghancuran ekspektasi. Pada titik tertentu, lelucon seperti itu bisa terasa seperti band tertawa lebih keras daripada pendengarnya. Tetapi ada perbedaan penting dengan kritik terhadap cover Pink Floyd dalam sumber awal: " Wish You Were Here " bukan bagian dari 15 lagu edisi standar 1994. Ia muncul pada versi/edisi tambahan bersama materi lain seperti " Painted Clowns ", cover Celtic Frost " Dethroned Emperor " dan " B.T.I.T.B. ". Jadi menjadikan cover tersebut sebagai bukti utama kegagalan artistik album adalah terlalu jauh.
" Need to Control " memiliki banyak momen brilian tetapi tidak selalu memiliki cukup banyak lagu brilian. Perbedaannya penting. Riff yang menarik tidak otomatis menjadi komposisi yang kuat. Transisi yang mengejutkan tidak otomatis menjadi perkembangan. Noise tidak otomatis berarti atmosfer. Eksperimen tidak otomatis berarti kemajuan. Sebagian materi terasa seperti serangkaian ide bagus yang kebetulan berada dalam ruangan yang sama. " Collapse " punya bobot. " Godplayer " punya identitas. " Ordinary Madness " memiliki karakter. " Bite the Hand " menghantam tanpa basa-basi. Tetapi ketika album berjalan lebih jauh, sebagian pendengar dapat merasakan bahwa variasi mulai menggantikan kohesi. Beberapa ulasan bahkan menilai eksperimen tersebut belum selalu sekuat sisi deathgrind-nya dan itu mungkin kritik paling adil terhadap album ini. Mengukur " Need to Control " hanya berdasarkan apakah setiap lagu sempurna adalah kehilangan konteks. Pada 1994, Brutal Truth sedang menunjukkan bahwa grindcore tidak harus terjebak dalam lomba BPM. menempatkan album ini sebagai salah satu rilisan penting dalam perkembangan grindcore dan menyoroti bagaimana didjeridu, interlude statis, breakdown yang lebih jazzy serta ruang yang lebih luas memperluas bahasa band. Itulah warisannya. Bukan kesempurnaan, Kemungkinan, Setelah " Need to Control ", semakin sulit mengatakan bahwa grindcore hanya berarti gitar cepat, blast beat dan vokal yang terdengar seperti orang disiksa di gudang. Brutal Truth membuka pintu. Masalahnya, mereka juga memasukkan terlalu banyak barang ke dalam ruangan.
" Need to Control " adalah album yang jauh lebih penting daripada sekadar " Album grindcore eksperimental ". Ia merupakan rekaman sebuah band yang menyadari bahwa brutalitas tanpa variasi akhirnya berubah menjadi wallpaper. Tetapi eksperimen mereka tidak selalu berhasil. Ada bagian yang terasa visioner. Ada yang terasa dipaksakan. Ada riff yang menggigit dan ada bagian yang terdengar seperti catatan kaki terhadap ide yang jauh lebih baik dan itu membuat album ini lebih manusiawi daripada mitosnya. Brutal Truth tidak menemukan formula sempurna. Mereka menemukan bahwa formula lama sudah tidak cukup, Maka mereka membongkarnya dengan didjeridu, noise, doom, industrial, hardcore, groove, blues, vokal aneh dan sejumlah keputusan yang kadang brilian, kadang seperti orang mabuk memegang remote control studio. Itu bukan kegagalan. Itu juga bukan kemenangan mutlak. Itu adalah eksperimen nyata dan eksperimen nyata memang sesekali menghasilkan sesuatu yang hebat, sesekali menghasilkan sesuatu yang menggelikan, dan sering kali menghasilkan keduanya dalam lagu yang sama. " Need to Control " bukan Brutal Truth yang kehilangan arah. Ini Brutal Truth yang sengaja membakar petanya untuk melihat apakah mereka masih bisa pulang tanpa petunjuk dan ternyata mereka bisa. Hanya saja rumahnya sudah tidak sama lagi.
Home
[CLASSIX MOST WANTED]
[Death/Grind]
[Grindcore]
* Brutal Truth
#Usa
★ Classic Release Academy ★
1994
Earache Records
Brutal Truth - Need to Control CD 1994
Brutal Truth - Need to Control CD 1994
Written by REVIEW LOSTINCHAOS Oktober 04, 2026 0
Langganan:
Posting Komentar
(
Atom
)


0 Comments:
Posting Komentar
Tinggalkan komentar TERBAIK kalian disini, enjoy the sickness !