Possessed - Seven Churches CD 1986

Possessed - Seven Churches
Combat Records CD 1986

01. The Exorcist 04:52       
02. Pentagram 03:34      
03. Burning in Hell 03:10      
04. Evil Warriors 03:44       
05. Seven Churches 03:14     
06. Satan's Curse 04:15       
07. Holy Hell 04:12       
08. Twisted Minds 05:10       
09. Fallen Angel 03:58       
10. Death Metal 03:15


Jeff Becerra - Vocals, Bass
Larry LaLonde - Guitars
Mike Torrao - Guitars
Mike Sus - Drums


Dirilis Possessed pada 1985 melalui Combat Records, album ini berisi sepuluh lagu dengan Jeff Becerra pada vokal/bass, Mike Torrao dan Larry LaLonde pada gitar, serta Mike Sus di belakang drum. Materinya direkam 30 Maret–5 April 1985, diproduseri Randy Burns, dan kemudian menjadi salah satu rekaman yang paling sering ditempatkan di titik peralihan antara thrash metal dan kelahiran death metal. AllMusic bahkan mengategorikannya sekaligus sebagai heavy metal, speed/thrash, dan death metal sebuah pengakuan sederhana bahwa musik ini memang menolak garis batas yang kemudian dibuat para pengarsip. Jadi mari berhenti sebentar dengan pertanyaan malas: ini thrash atau death metal? Jawabannya: keduanya. Lebih tepat lagi, " Seven Churches " adalah death/thrash metal dalam bentuk embrionik thrash yang didorong melewati batas kewajaran sampai karakteristiknya mulai melahirkan bahasa death metal sendiri. Decibel menggambarkannya sebagai langkah berikutnya setelah thrash, sementara publik menyebutnya sebagai penghubung penting antara dua dunia tersebut dan justru di situlah nilai sejarahnya. Bukan karena Possessed memiliki semua jawaban, tetapi karena mereka cukup brutal untuk mengajukan pertanyaan yang belum punya nama. " Seven Churches " membuka pintunya dengan sesuatu yang nyaris seperti lelucon sinematik: intro keyboard bernuansa " Tubular Bells " karya Mike Oldfield, musik yang terkenal melalui " The Exorcist " (1973). Versi yang digunakan di sini diaransemen/dimainkan dalam konteks album oleh produser Randy Burns, lalu mendadak diputus sebelum " The Exorcist " menghantam seperti pintu kamar mayat yang ditendang dari dalam. Setelah itu, tidak banyak ruang untuk negosiasi.

" The Exorcist " langsung memperlihatkan formula Possessed: riff cepat, tremolo picking, perpindahan senar yang agresif, melodi bernuansa jahat, dan struktur yang tidak terlalu peduli apakah pendengar mampu bernapas atau tidak. " Pentagram " meneruskan kegilaan tersebut dengan riff yang lebih menyerupai serpihan kaca daripada komposisi gitar konvensional. " Burning in Hell " dan " Evil Warriors " mempertahankan akselerasi, sementara " Seven Churches " sendiri terdengar seperti titik temu antara thrash Bay Area, energi Venom, dan keganasan Slayer yang dibuang ke dalam tungku yang suhunya dinaikkan beberapa derajat terlalu tinggi. Tidak ada keanggunan di sini Dan memang tidak perlu. " Seven Churches " bukan album yang ingin memperlihatkan bahwa Possessed mampu memainkan musik rumit. Ia ingin menunjukkan apa yang terjadi ketika kemampuan teknis digunakan untuk membuat musik terdengar lebih berbahaya daripada seharusnya. Mike Torrao dan Larry LaLonde adalah pusat gravitasi album ini. Riff-riff mereka dibangun dari tremolo picking, perpindahan string, pola-pola cepat, serta melodi yang terdengar seperti sedang mengejar sesuatu yang tidak seharusnya dikejar. Secara teknis, permainan tersebut memang belum mencapai kompleksitas death metal generasi berikutnya. Tetapi persoalannya bukan kompleksitas absolut. Persoalannya adalah serangan. " LaLonde " kemudian akan terkenal jauh dari dunia ekstrem metal melalui Primus, tetapi di sini ia masih menjadi salah satu arsitek suara gitar paling liar dari era tersebut. Catatan kredit menunjukkan kontribusi songwriting LaLonde pada " Seven Churches ", sementara Torrao tercatat sebagai penulis utama seluruh album. Solo-solonya? Jangan dibesar-besarkan.

Sebagian besar adalah shredding liar, whammy-bar abuse, dan demonstrasi kecepatan yang lebih dekat dengan kegilaan remaja daripada kejeniusan komposisional. Tetapi justru itu cocok. Meminta solo Possessed terdengar elegan sama absurdnya dengan meminta gergaji mesin menyanyikan opera. Nada gitarnya juga panas, tajam, dan berisik. Ia bukan suara gitar modern yang dipoles sampai setiap frekuensi mendapat izin dari konsultan mastering. Ia menggigit Dan kadang-kadang ia juga terlalu menggigit. Inilah bagian yang membuat " Seven Churches " benar-benar penting. Jeff Becerra tidak sekadar bernyanyi dengan suara kasar. Ia terdengar seperti tenggorokannya sedang berusaha mengeluarkan sesuatu yang seharusnya dikubur. Growl-nya berada di wilayah midrange belum menjadi cetak biru vokal death metal seperti yang kemudian dipopulerkan generasi berikutnya. Namun karakter vokal tersebut sudah menggeser definisi tentang seberapa " berat " suara manusia dapat terdengar dalam musik ekstrem. secara khusus menempatkan vokal Becerra sebagai salah satu elemen yang membantu membentuk bahasa vokal death metal. menempatkan " Seven Churches " sebagai salah satu fondasi awal death metal. Tentu, mengatakan bahwa Becerra " menemukan " death-metal growl sendirian akan terlalu sederhana. Kam Lee di Death sudah bereksperimen dengan vokal yang lebih rendah pada periode yang sama, sementara tradisi vokal agresif sudah jauh lebih tua melalui Lemmy, Cronos, dan sejumlah pelopor ekstrem lainnya. Namun sejarah bukan lomba mencari satu orang yang mendapat mahkota. Yang lebih penting adalah siapa yang membuat bahasa itu terdengar cukup jelas sehingga generasi berikutnya dapat menggunakannya sebagai kosakata. Dan dalam hal itu, Becerra punya posisi yang sangat penting.

Ketika " Death Metal " mencapai bagian akhirnya, teriakan dan growl tersebut terdengar seperti prototipe sebuah spesies baru. Belum sempurna. Belum stabil. Tetapi hidup. Mike Sus bukanlah Mike Portnoy yang tersesat di tahun 1985. Ia tidak membutuhkan reputasi sebagai virtuoso. Tugasnya jauh lebih sederhana: jangan biarkan mesin ini kehilangan kecepatan. Pada " The Exorcist ", pukulan drum mengikuti dan mempertebal gerakan riff sehingga gitar yang sudah frenetik menjadi semakin panik. Ketika gitar berlari, drum ikut berlari. Ketika musik mengerem, drum memberi ruang untuk transisi tersebut. Itulah sebabnya momen seperti bagian bridge " Burning in Hell " atau pembukaan " Fallen Angel " terasa penting. Karena album ini begitu konsisten menyerang dengan kecepatan tinggi, sedikit perubahan tempo otomatis memiliki bobot dramatis lebih besar. " Seven Churches " belum mengenal bahasa death metal modern yang penuh blast beat, double-bass barrage, poliritmik, atau pergantian meter yang semakin kompleks. Tetapi ia sudah memahami satu prinsip dasar musik ekstrem: kekerasan tidak selalu membutuhkan kecanggihan; kadang ia hanya membutuhkan momentum. Di sinilah " Seven Churches " bisa diperdebatkan tanpa harus mengurangi status historisnya. Produksinya kasar. Reverb cukup tebal. Instrumen terdengar menyatu dalam sebuah massa suara yang kadang membuat detail riff sulit dipisahkan secara langsung. Bahkan Decibel mengakui bahwa rekaman ini pada dasarnya bekerja sebagai satu " blur " besar, meski tetap memberi ruang bagi lagu-lagunya untuk bernapas. Dan ya, itu kekuatan sekaligus kelemahan.

Pada satu sisi, produksi tersebut memberi album atmosfer mentah yang sulit direplikasi oleh rekaman ekstrem metal modern yang terlalu sibuk memastikan setiap kick drum terlihat seperti diagram medis. Di sisi lain, beberapa bagian gitar terutama pada materi seperti " Fallen Angel " dan " Death Metal " bisa terasa terselubung oleh kepadatan mix. Namun ada kesalahan besar jika kita menggunakan standar produksi 2026 untuk menghakimi rekaman 1985. " Seven Churches " bukan produk dari era di mana death metal sudah memiliki template produksi. Justru sebaliknya: album ini ikut membantu menciptakan template yang kelak akan diperbaiki, diperberat, dan diproduksi ulang oleh generasi setelahnya. Produksi ini bukan sempurna. Tetapi ketidaksempurnaannya merupakan bagian dari dokumen. Yang menarik adalah bagaimana " Seven Churches " sebenarnya tidak menawarkan spektrum dinamika yang sangat luas. Mayoritas materi bergerak dalam orbit kecepatan, agresi dan riffing yang terus menekan. mencatat bahwa album ini memiliki sedikit variasi warna dibanding perkembangan death metal yang datang kemudian. Tetapi beberapa lagu memperlihatkan bahwa Possessed bukan sekadar mesin thrash yang diprogram untuk bergerak cepat. " Twisted Minds " memberikan variasi paling menarik dengan permainan riff yang lebih berayun sebelum kembali dihantam oleh agresi black/thrash. " Fallen Angel " menciptakan ruang melalui perubahan tempo dan atmosfer. " Satan’s Curse " menunjukkan bagaimana Possessed dapat membuat thrash terdengar jauh lebih gelap tanpa kehilangan fondasi kecepatannya Dan kemudian ada " Death Metal ". Judulnya nyaris seperti deklarasi yang terlalu polos. Tidak ada teori. Tidak ada manifesto akademis. Tidak ada kebutuhan untuk menjelaskan bahwa mereka sedang menciptakan sesuatu. Mereka hanya menamai monster itu, Death Metal, Ironisnya, sejarah kemudian melakukan sisanya.

Judul album merujuk pada tujuh gereja di Asia Minor dalam Kitab Wahyu. Hubungan tersebut jelas menarik secara tematik, mengingat seluruh album penuh dengan citra neraka, kutukan, iblis, eksorsisme, dan anti-religiusitas. Tetapi di sinilah kritik perlu menjaga jarak dari romantisasi. Tidak ada alasan kuat untuk mengubah " Seven Churches " menjadi kuliah teologi hanya karena judulnya meminjam simbolisme Revelation. Membaca setiap lagu sebagai representasi langsung dari masing-masing gereja Ephesus menjadi " The Exorcist ", Smyrna menjadi " Burning in Hell ", dan seterusnya adalah permainan interpretatif yang menarik, tetapi bukan fakta historis yang perlu dipaksakan sebagai maksud asli band dan terus terang, album ini tidak membutuhkan gimmick tersebut. Kekuatan " Seven Churches " bukan berada pada teka-teki teologisnya. Kekuatan album ini berada pada bunyinya. Simbolisme adalah dekorasi. Riff adalah fondasinya. Menyebut " Seven Churches " album death metal pertama memang sudah menjadi bagian dari sejarah musik ekstrem. menggunakan formulasi tersebut, sementara publik menempatkannya sebagai salah satu fondasi awal death metal dan membedakannya dari " Scream Bloody Gore " milik Death yang datang dua tahun kemudian. Namun istilah " Pertama " selalu membutuhkan tanda bintang. Death sudah aktif dan merekam demo pada periode yang sama. Hellhammer, Venom, Slayer dan sejumlah band ekstrem lain sudah mengikis fondasi heavy metal menuju sesuatu yang lebih buas. " Seven Churches " bukan muncul dari ruang hampa.

Yang membuatnya istimewa adalah kombinasi. Thrash memberikan kecepatan dan struktur. Extreme metal memberikan kegelapan. Possessed menambahkan vokal yang jauh lebih brutal, riff yang lebih liar, atmosfer yang lebih menyeramkan, serta agresi yang membuat semuanya terdengar seperti sedang menuju sebuah bentuk musik baru. Itulah mengapa menyebutnya sekadar thrash terasa terlalu sempit. Menyebutnya death metal dalam pengertian modern juga terlalu sederhana. Death/thrash adalah deskripsi yang lebih jujur. " Seven Churches " bukan album paling teknis. Bukan pula album dengan produksi paling jelas. Tidak semua solo mengagumkan dan tidak setiap lagu memiliki kedalaman komposisional yang sama. Tetapi mengkritiknya hanya berdasarkan standar tersebut sama seperti mengkritik fosil karena tidak bisa berlari. Nilai sebenarnya " Seven Churches " terletak pada posisinya di garis evolusi. Ia menangkap momen ketika thrash mulai kehilangan batas kewajaran, lalu memuntahkan sesuatu yang kelak disebut death metal. Death kemudian mengambil bahasa itu, memperberatnya, memperjelasnya dan menjadikannya sebuah genre yang lebih matang melalui " Scream Bloody Gore " pada 1987. Possessed tidak menciptakan seluruh DNA death metal. Mereka melakukan sesuatu yang mungkin lebih penting: mereka memperlihatkan seperti apa bentuk monster itu sebelum manusia sepakat memberinya nama. Itulah mengapa " The Exorcist ", " Pentagram ", " Satan’s Curse ", " Fallen Angel ', dan terutama " Death Metal " masih terdengar relevan.

Bukan karena nostalgia, Bukan karena legenda dan jelas bukan karena setiap riff di sini sempurna. Tetapi karena ada energi tertentu yang tidak dapat dipoles ulang tanpa membunuhnya. " Seven Churches " terdengar seperti sekelompok anak muda yang menemukan bahwa mereka dapat membuat musik jauh lebih ekstrem daripada yang seharusnya diizinkan pada 1985 lalu memilih untuk tidak meminta izin. 40 tahun kemudian, genre boleh berganti nama, produksi boleh menjadi lebih berat, gitar boleh menjadi lebih teknis, dan vokal boleh turun sampai terdengar seperti mesin penggiling manusia. Tetapi sumber apinya masih terlihat di sini. Bukan sekadar thrash. Bukan sekadar death. Ini adalah momen ketika keduanya bertabrakan dan sesuatu yang lebih buruk lahir dari tabrakan itu. Review bukan pengadilan, tetapi juga bukan fan club. " Seven Churches " tidak perlu dipuja sebagai kitab suci death metal. Dengarkan saja rekamannya. Jika setelah 40 tahun ia masih terdengar seperti ancaman, sejarah sudah memberikan kesaksiannya sendiri.

0 Comments:

Posting Komentar

Tinggalkan komentar TERBAIK kalian disini, enjoy the sickness !

Designed by lostinchaos mediazine