Pathology Stench - Gluttony CD 1997

Pathology Stench - Gluttony
Immortal Souls Productions CD 1997

01. Chained by Freedom 04:07     
02. The Lost World 05:47     
03. New Time of Apocalypse 03:56       
04. No Interest 02:32       
05. I Believe Indians 03:03 
06. Sexual Massacre of Childhood 04:29     
07. My Painful Paradise 03:35     
08. Gluttony 03:40       
09. Without a Stain 02:41       
10. You Are Murdered by Your Hypocrisy 03:21     
11. Practical Brutality 03:13


Báro - Vocals
Ľubo - Guitars
Kučo - Bass 
Vlado - Drums


Ada Cover Art album yang cukup dilihat sekali untuk menetap selamanya di kepala. Namun, jangan buru-buru menganggap Pathology Stench sebagai sekadar pemasok horor visual. Di balik nama yang seolah menjanjikan parade gore ala Carcass, band ini justru bergerak lebih dekat ke wilayah " Harmony Corruption "-era Napalm Death: death metal yang berlumuran grindcore, tetapi lebih tertarik membedah kebusukan sosial ketimbang memamerkan anatomi tubuh yang hancur. Kekejamannya bukan cuma perkara daging dan darah; ada masyarakat yang ikut membusuk di baliknya. Aura Eropa Timur yang melekat pada musik mereka memberi karakter tersendiri. Bukan berarti setiap riff otomatis memiliki identitas geografis, tetapi ada kesan kasar, dingin, dan tidak terlalu terpoles yang membuat materi ini terasa jauh dari death metal modern yang sibuk memamerkan presisi seperti mesin industri. Jejak awal 1990-an menjadi fondasi utamanya, tanpa harus terjebak menjadi replika museum dari era ketika distorsi gitar terdengar seperti ancaman terhadap kesehatan publik.Yang menarik, Pathology Stench tidak menggantungkan seluruh kekuatannya pada kecepatan. Riff tremolo dan permainan gitar yang bergerak cepat bersanding dengan palm-muted riff berat, hentakan groovy, serta pola stop-and-go yang memotong momentum secara tajam. Ada skank beat, D-beat, double kick, hingga ledakan blast beat yang muncul sebagai bagian dari dinamika, bukan sekadar kewajiban administratif sebuah album ekstrem.

Komposisinya juga tidak selalu tunduk pada formula bait-jembatan-refrain yang diputar sampai pendengar menyerah. Pergantian tempo yang sulit ditebak, transisi yang lebih berliku, serta permainan lead guitar dan solo yang cukup menarik memberi materi ini ruang untuk berkembang. Setelah sekitar lima tahun menuju album debut, setidaknya band ini terdengar memiliki waktu untuk meracik lagu, bukan sekadar menumpuk riff brutal lalu berharap kebisingan akan menyelesaikan sisanya. Namun, kompleksitas bukan sinonim kejeniusan. Struktur yang tidak mudah ditebak memang menjaga pendengaran tetap aktif, tetapi konsekuensinya, sejumlah lagu tidak langsung menancap dalam ingatan. Pathology Stench lebih menawarkan pengalaman untuk dibedah berulang kali daripada sederet nomor yang langsung menjadi senjata andalan setelah satu kali putar. Ini death metal untuk pendengar yang bersedia bekerja sedikit lebih keras, bukan konsumen yang menuntut setiap lagu menyodorkan klimaks dalam tiga puluh detik. Sektor vokal menjadi bagian paling problematis sekaligus paling ganjil. Growl rendah dan vokal bergaya barking cukup sesuai dengan karakter musiknya, tetapi tenaga dan daya hantamnya terkadang terasa kurang. Ada agresi, hanya saja belum selalu disertai wibawa yang membuat vokal terasa seperti ancaman nyata. Gaya penyampaiannya pun cenderung bebas mengikuti arus instrumen, alih-alih mengunci setiap aksen ritmis secara presisi.

Lalu muncul suara yang terdengar seperti makhluk kerdil yang tersesat dari ruang bawah tanah karakter vokal yang mengingatkan pada pendekatan Chris Barnes era modern Six Feet Under. Pilihan yang, tergantung selera, bisa dianggap sebagai variasi eksentrik atau gangguan terhadap atmosfer. Bagi penggemar pendekatan vokal tersebut, ini mungkin bonus. Bagi yang menginginkan geraman lebih berwibawa dan konsisten, bagian ini justru berpotensi mengikis intensitas. Tidak semua keanehan otomatis menjadi keunikan; kadang-kadang, suara aneh ya hanya suara aneh. Secara lirik, Pathology Stench memiliki sasaran yang lebih tajam daripada sekadar katalog kekejian. Tema tentang masyarakat yang menindas warganya, penyalahgunaan kekuasaan, dan sistem yang memperlakukan manusia tanpa empati tetap relevan setelah puluhan tahun. Di sinilah pendekatan mereka memperoleh bobot: kebrutalan musik menjadi bahasa untuk mengungkap kekerasan yang dilembagakan, bukan sekadar dekorasi bagi citra ekstrem. Ironisnya, monster paling mengerikan tidak selalu membutuhkan taring atau darah; terkadang ia mengenakan seragam, duduk di balik meja, dan menyebut penindasan sebagai prosedur. Produksinya memang belum memiliki daya pukul yang sepenuhnya sebanding dengan intensitas komposisi. Ada agresi dan karakter bass yang cukup tebal, sementara tiap instrumen masih dapat dikenali dengan baik. Kejelasan ini menjadi nilai tambah karena kompleksitas riff dan perubahan ritme tidak tenggelam dalam kabut distorsi. Namun, suara yang relatif kurang bertenaga membuat sebagian momentum kehilangan daya ledaknya. Brutalitasnya hadir, tetapi tidak selalu menghantam sekeras yang dijanjikan materi.

Meski demikian, performa instrumental secara keseluruhan cukup solid. Kekurangan pada produksi dan vokal tidak sampai meruntuhkan keseluruhan bangunan musik. Justru kombinasi antara riff berat, dinamika grindcore, perubahan tempo, dan atmosfer death metal klasik membuat album ini tetap menarik untuk ditelusuri. Pada akhirnya, Pathology Stench bukan band yang harus dipuja hanya karena membawa aroma masa lalu. Nostalgia adalah komoditas murah ketika sebuah band cukup meniru suara lama tanpa memahami mengapa musik itu dahulu terasa berbahaya. Di sini, warisan awal 1990-an masih memiliki fungsi: menjadi kerangka bagi musik ekstrem yang menggabungkan kekerasan sonik dengan kritik sosial, meskipun eksekusinya belum sepenuhnya tajam di setiap lini. sebuah sajian OSDM yang bersinggungan dengan grindcore, memiliki komposisi dinamis, riff yang variatif, dan muatan sosial yang tetap menggigit. Vokal yang tidak selalu meyakinkan, produksi yang kurang menghantam, serta minimnya lagu yang benar-benar melekat menjadi cacat nyata. Namun, bagi pencari death metal era lama yang lebih menyukai kekacauan terstruktur daripada kebisingan tanpa arah, Pathology Stench layak mendapat perhatian. Bukan mahakarya yang mengubah peta ekstrem metal, melainkan pengingat bahwa musik paling brutal kadang tidak sedang menceritakan tubuh yang hancur melainkan sistem yang terus menghancurkan manusia, lalu berpura-pura tidak bersalah.

0 Comments:

Posting Komentar

Tinggalkan komentar TERBAIK kalian disini, enjoy the sickness !

Designed by lostinchaos mediazine