Pyracanda - Thorns CD 1992

Pyracanda - Thorns
Aaarrg Records CD 1992

01. At the Abyss 05:23       
02. The Dragon's Cult 05:10       
03. Shut Up 03:29       
04. Two Sides of a Coin 05:03       
05. Soulstrip 03:44     
06. 18 Degrees 03:56     
07. Montezumas Revenge 04:08 
08. Bad Conscience 02:23 
09. Senile Decay 05:28     
10. Thorns 05:03


Hansi Nefen - Vocals 
Dennis Vaupel - Guitars
Sven Fischer - Guitars
Dieter Wittbecker - Bass
Elmar Gehenzig - Drums


Ada ironi yang menyakitkan dalam sejarah Thrash Metal: ketika sebuah genre mulai menemukan bentuknya, industri segera menemukan cara untuk menjualnya sampai bentuk itu kehilangan tulang. Pyracanda muncul tepat di ujung persoalan tersebut. Setelah " Two Sides Of A Coin " menerjemahkan energi Bay Area ke dalam tubuh band Jerman dengan riff cepat, melodi kuat dan struktur yang cukup berlapis, Thorns datang pada 1992 dengan beban yang lebih berat: bagaimana berkembang tanpa kehilangan wajah sendiri? Masalahnya, album ini menjawab pertanyaan tersebut dengan cara yang tidak selalu menguntungkan. " Thorns " direkam pada Juli 1991 di Phoenix Studio, Bochum-Herne, dengan formasi Hansi Nefen, Sven Fischer, Dennis Vaupel, Dieter Wittbecker dan Elmar Gehenzig tetap utuh. Ralf Hubert figur penting di balik Mekong Delta bertindak sebagai produser. Sepuluh lagu berdurasi sekitar 43 menit kemudian dirilis melalui Aaarrg Records. Secara teknis, ini bukan langkah mundur. Secara artistik? Di sinilah duri itu mulai menusuk. Pyracanda sendiri menggambarkan debut mereka sebagai perpaduan speed metal berdensitas tinggi, melodi kuat, pengaruh New Wave Of British Heavy Metal dan early Metallica. Untuk Thorns, mereka mengakui adanya perluasan menuju progressive rock Itu terdengar menjanjikan di atas kertas. Masalahnya, musik tidak pernah peduli pada kertas. " Thorns " memang memperlihatkan gitar yang lebih teknikal, tempo yang lebih bervariasi dan kecenderungan groove yang lebih kuat. Tetapi perkembangan itu tidak selalu terasa seperti evolusi organik. Kadang terdengar seperti sebuah band yang sedang membuka terlalu banyak pintu sekaligus dan kemudian lupa pintu mana yang sebenarnya ingin mereka masuki.

" At The Abyss " memberikan pembukaan yang nyaris ideal. Gitar bersih dan nuansa flute membangun atmosfer ganjil sebelum riff gitar masuk dengan agresi semi-teknikal. Ada ketegangan. Ada ruang. Ada janji. Lalu lagu berubah menjadi Thrash yang sangat familiar dan momentum itu berhenti tepat ketika seharusnya meledak. Ini bukan masalah kemampuan. Justru sebaliknya. Mereka mampu memainkan materi tersebut. Yang kurang adalah keputusan komposisional yang benar-benar berani. Di tengah material yang sering kehilangan arah, Hansi Nefen justru menjadi salah satu aset paling konsisten. Vokalnya tidak sekadar berfungsi sebagai pengeras suara bagi riff. Ada karakter kasar dan sedikit teatrikal yang membuat beberapa bagian terasa lebih manusiawi. Ketika musik mulai terdengar seperti katalog pengaruh, Nefen masih memberikan sesuatu yang menyerupai identitas. " Shut Up " adalah contoh paling jelas. Tempo meningkat, gitar menjadi lebih tajam, bass dan drum mendorong lagu ke depan, sementara Nefen memberikan energi yang lebih agresif. Ini salah satu momen ketika Pyracanda terdengar seperti band yang tahu apa yang mereka inginkan. Sayangnya, lagu itu tidak tinggal cukup lama di kepala dan itulah problem Thorns secara keseluruhan. Banyak bagian bagus ketika sedang dimainkan, tetapi terlalu sedikit bagian yang tetap hidup setelah musik berhenti. " The Dragon’s Cult " punya riff pembuka yang solid dan secara eksplisit masih bergerak dalam bahasa Thrash klasik. Namun semakin jauh lagu berjalan, semakin terasa bahwa Pyracanda sedang mengandalkan perangkat yang sudah tersedia daripada menciptakan perangkat baru. Ini bukan tuduhan plagiarisme. Ini persoalan dialek. Mereka berbicara dengan tata bahasa Metal yang benar, tetapi aksennya terlalu umum. Riff-riffnya kompeten. Transisinya bekerja. Solo gitar memiliki fungsi. Bass terdengar lebih jelas dibanding produksi debut. Tetapi hampir tidak ada satu momen yang membuat pendengar spontan berkata: ini hanya bisa Pyracanda. Dan dalam genre yang pada 1992 sudah dipenuhi puluhan band dengan kemampuan teknis tinggi, perbedaan antara " bagus " dan " penting " adalah identitas.

Kemudian datang " Soulstrip ". Jika " At The Abyss " adalah bukti bahwa Pyracanda masih mempunyai nyali untuk membuka album dengan sesuatu yang atmosferik dan eksperimental, " Soulstrip " justru memperlihatkan sisi paling problematis dari keinginan mereka untuk berkembang. Ada kecenderungan hard-rock/pop-metal yang membuat lagu ini terasa terlalu jinak dibandingkan fondasi Thrash yang mereka bangun sebelumnya. Bukan karena Metal harus selalu brutal. Bukan pula karena melodi adalah dosa. Persoalannya adalah fungsi. Eksperimen yang bagus memperluas identitas. Eksperimen yang buruk hanya mengaburkan identitas. " Soulstrip " lebih dekat kepada yang kedua. Ralf Hubert bukan nama sembarangan. Ia dikenal sebagai mastermind Mekong Delta dan terlibat sebagai produser " Thorns ". Bahkan sejarah resmi Pyracanda secara langsung mengaitkan album ini dengan upaya memasukkan elemen progressive rock. Namun hasil produksinya tidak selalu memberi tubuh sebesar yang dibutuhkan musik tersebut. Dibandingkan karakter " Two Sides Of A Coin ", gitar " Thorns " terdengar lebih tipis dan lebih crunchy. Di satu sisi, ini membuat detail permainan lebih mudah terbaca. Bass juga mendapatkan ruang yang cukup untuk muncul dalam beberapa bagian instrumental. Di sisi lain, hilangnya bobot membuat beberapa riff kehilangan daya hantam. Thrash membutuhkan dua hal yang sering bertentangan: ketajaman dan massa. Thorns mendapatkan yang pertama lebih sering daripada yang kedua. Akibatnya, ketika riff bagus muncul, ia lewat terlalu cepat tanpa meninggalkan luka yang cukup dalam. Ironisnya, salah satu materi yang paling meyakinkan justru adalah " Montezumas Revenge " . Lagu ini terasa lebih dekat dengan formula Pyracanda yang sebenarnya: mid-tempo Thrash, riff yang bergerak, gitar yang cukup melodis tanpa menjadi manis, serta struktur yang tidak berusaha terlalu keras untuk terlihat pintar. Tidak semuanya berhasil menjadi klasik, tetapi setidaknya lagu ini memahami satu prinsip sederhana yang beberapa lagu lain lupakan: riff harus punya alasan untuk diingat.

" Bad Conscience " juga bekerja dalam bentuk lebih singkat dan agresif. " Senile Decay " mencoba mengembalikan sisi teknikal, sementara lagu penutup " Thorns " menyatukan beberapa elemen yang paling efektif dari album: tempo lebih berat, variasi riff dan vokal Nefen yang lebih teatrikal. Tidak semuanya brilian. Tetapi di sinilah Pyracanda terdengar paling masuk akal dan akhirnya kita sampai pada masalah yang tidak bisa disamarkan oleh produksi, reputasi produser atau kecanggihan gitar, Filler. " Thorns " memiliki terlalu banyak material yang terasa seperti draft yang lolos ke pressing plant. Bukan karena lagu-lagunya dimainkan buruk. Justru itu yang membuatnya menyebalkan. Band ini jelas mampu. Mereka tahu cara memainkan Thrash. Mereka tahu cara menyusun riff Mereka tahu bagaimana memasukkan perubahan tempo. Mereka tahu bagaimana membuat gitar terdengar teknikal tanpa berubah menjadi latihan sekolah musik. Tetapi mereka terlalu sering berhenti pada tahap " ini lumayan " dan " lumayan " adalah kata paling berbahaya dalam seni. Album Metal yang buruk setidaknya memberi alasan untuk marah. Album yang luar biasa memberi alasan untuk kembali. " Thorns " terlalu sering hanya memberi alasan untuk mengangguk lalu mengganti kaset. Jika " Two Sides Of A Coin " adalah Pyracanda yang sedang mengejar sesuatu, Thorns terdengar seperti Pyracanda yang sudah mendapatkannya lalu tidak yakin harus membawanya ke mana. Debut mereka punya fokus yang lebih jelas. Sejarah resmi band sendiri menggambarkan album pertama sebagai perpaduan speed metal berenergi tinggi, melodi dan pengaruh NWOBHM/Metallica yang membentuk identitas mereka. " Thorns " justru membuka lebih banyak cabang: Progressive Metal, Heavy Metal, groove, hard rock, Thrash teknikal. Secara teori, itu perkembangan. Secara praktik, hasilnya lebih mirip krisis identitas dengan produksi profesional.

Dan tidak, ini bukan berarti Aaarrg Records atau Ralf Hubert secara otomatis “merusak” Pyracanda. Klaim semacam itu terlalu mudah dan tidak didukung bukti sejarah yang cukup. Yang bisa dikatakan secara faktual adalah bahwa perpindahan dari No Remorse ke Aaarrg terjadi di antara dua album, sementara Thorns memang diproduksi Hubert dan secara resmi diposisikan sebagai album yang memperluas pendekatan musik mereka. Sisanya adalah wilayah kritik dan kritiknya sederhana: eksperimen mereka tidak selalu menghasilkan penemuan. Ada alasan mengapa Thorns tetap menarik dibicarakan lebih dari tiga dekade kemudian. Bukan karena ia masterpiece. Justru karena ia memperlihatkan sesuatu yang lebih manusiawi: sebuah band yang mencoba bergerak ketika dunia musik di sekelilingnya sedang berubah. 1992 bukan lagi 1988. Thrash sedang menghadapi kejenuhan. Death Metal mulai mengubah definisi ekstremitas. Alternative rock sedang mengambil alih perhatian. Banyak band mulai mengubah penampilan, suara dan arah. Di tengah perubahan itu, Pyracanda mencoba memperlebar pagar mereka sendiri. Tetapi memperlebar pagar tidak selalu berarti memperluas wilayah Kadang-kadang kita hanya mendapatkan halaman yang lebih besar untuk tersesat. " Thorns " adalah album seperti itu. Ada riff bagus. Ada permainan gitar yang kompeten. Ada atmosfer yang menarik. Ada vokal Nefen yang memberikan karakter. Ada beberapa komposisi yang seharusnya bisa menjadi fondasi sesuatu yang lebih besar. Tetapi terlalu banyak ide berhenti sebagai ide. Pyracanda tidak gagal karena mereka kehilangan kemampuan. Mereka gagal menangkap momen dan dalam Thrash Metal, momen adalah segalanya. " Thorns " membawa pisau ketika dunia membutuhkan kapak. Duri tetap tajam. Hanya saja, Pyracanda tidak pernah benar-benar berhasil membuat kita berdarah.

 

0 Comments:

Posting Komentar

Tinggalkan komentar TERBAIK kalian disini, enjoy the sickness !

Designed by lostinchaos mediazine