Disincarnate - Dreams of the Carrion Kind
Roadrunner Records CD 1993
01. De Profundis 00:45
02. Stench of Paradise Burning 04:50
03. Beyond the Flesh 04:48
04. In Sufferance 04:56
05. Monarch of the Sleeping Marches 05:02
06. Soul Erosion 04:40
07. Entranced 05:51
08. Confine of Shadows 05:04
09. Deadspawn 04:28
10. Sea of Tears 05:01
11. Immemorial Dream 02:15
Bryan Cegon - Vocals
James Murphy - Guitars, Bass
Jason Carman - Guitars
Tommy Viator - Drums
Ada jenis kekecewaan yang justru lahir dari kekaguman terlalu besar. James Murphy adalah salah satunya. Sebelum " Dreams Of The Carrion Kind " muncul, namanya sudah membawa semacam jaminan mutu bagi penggemar Death Metal ekstrem awal ’90-an. Ia pernah berada di orbit Death, Obituary, dan Cancer, tiga nama yang tidak membutuhkan catatan kaki untuk menjelaskan bobotnya. Murphy bukan sekadar gitaris yang kebetulan lewat; solo dan riff yang ia tinggalkan ikut membentuk persepsi tentang bagaimana Death Metal bisa terdengar brutal sekaligus teknis dan melodis. Maka ketika Disincarnate lahir pada 1992, ekspektasinya praktis sudah berdiri terlalu tinggi. Soul Erosion, demo tiga lagu yang direkam di Morrisound Studios bersama Scott Burns dan menampilkan Alex Márquez sebagai session drummer, menjadi batu loncatan menuju debut penuh. Setahun kemudian Roadrunner merilis Dreams Of The Carrion Kind. Album ini kemudian tercatat sebagai satu-satunya full-length Disincarnate dan di sinilah masalahnya dimulai. Secara logika, resepnya hampir mustahil gagal. Murphy menangani lead, rhythm, acoustic guitar sekaligus bass; Jason Carman mengisi gitar rhythm; Tommy Viator berada di belakang drum; Bryan Cegon menjadi vokalis. Album ini juga dibumbui kontribusi Aaron Stainthorpe dari My Dying Bride pada " Monarch Of The Sleeping Marches " dan beberapa backing vocal. Produksi ditangani Colin Richardson, dengan rekaman berlangsung di The Windings, Wales. Namun musik tidak bekerja seperti matematika. Menjumlahkan semua nama besar tidak otomatis menghasilkan identitas besar.
" Dreams Of The Carrion Kind " memang terdengar seperti produk dari lingkungan Death Metal teknikal Amerika awal ’90-an: riff tebal, perubahan tempo, double-bass yang menghantam, vokal guttural, gitar melodis, struktur berlapis dan solo yang menuntut perhatian. w menggambarkan album ini sebagai showcase besar bagi Murphy, sekaligus sebuah karya yang sangat menonjolkan kompleksitas instrumental dan perubahan riff maupun tempo. Tetapi semakin lama didengar, semakin terasa satu persoalan yang tidak bisa ditutupi oleh teknik: Disincarnate belum benar-benar terdengar seperti Disincarnate. Ada ironi besar di sini. Murphy mencoba membangun band sendiri setelah pengalaman singkatnya bersama beberapa institusi penting Death Metal. Tetapi alih-alih sepenuhnya memutus tali dengan masa lalu, " Dreams Of The Carrion Kind " justru membawa terlalu banyak bayangan dari sana. Ada agresi Florida Death Metal. Ada kecenderungan teknikal yang mengingatkan pada Gorguts. Ada sentuhan melodis yang membuka ruang bagi permainan solo Murphy. Ada bagian lambat yang mendekati Doom Metal. Ada riff yang sesekali terasa seperti sedang mencari jalan keluar dari format Death Metal konvensional. Semua bahan itu sebenarnya menarik. Masalahnya: bahan-bahan tersebut lebih terasa sebagai katalog pengaruh daripada bahasa pribadi. " Stench Of Paradise Burning ", " Beyond The Flesh " , " Soul Erosion ", " Confine Of Shadows " dan " Deadspawn " memperlihatkan kemampuan komposisi yang jauh di atas band Death Metal kelas dua. Riff bergerak, tempo berubah, harmoni bergeser, lalu Murphy masuk dengan solo yang memiliki karakter jauh lebih ekspresif daripada sekadar pamer kecepatan. AllMusic secara khusus menyoroti " Stench Of Paradise Burning ", " Beyond The Flesh ", " Soul Erosion " dan " Deadspawn " karena arsitektur riff dan perubahan tempo yang kompleks. Tetapi kecanggihan bukan sinonim dari kepribadian dan itulah dosa terbesar album ini.
Jika ada satu elemen yang secara konsisten menyelamatkan album ini dari menjadi sekadar fosil teknikal Death Metal, jawabannya jelas: James Murphy. Ironisnya, justru ketika Murphy berhenti menjadi arsitek riff dan mulai berbicara melalui gitar lead, Disincarnate terdengar paling hidup. Solo-solonya bukan sekadar demonstrasi bahwa ia bisa memainkan fretboard dengan kecepatan brutal. Ada frase melodis, vibrato, tarik-ulur emosi dan rasa dramatik yang membuat gitar berbicara lebih manusiawi daripada keseluruhan atmosfer albumnya. Di sinilah " Soul Erosion " terasa penting. Versi demo 1992 sudah memuat tiga komposisi yang kemudian masuk ke album: " Stench Of Paradise Burning ", " Soul Erosion ", dan " Confine Of Shadows " dan ketika Murphy melepaskan salah satu solo terbaiknya, tiba-tiba ada sesuatu yang sebelumnya hilang: jiwa. Bukan kebetulan jika momen-momen seperti itu justru paling mudah diingat. Selebihnya, banyak bagian album terasa seperti mesin yang bekerja sempurna tetapi lupa mengapa ia harus bergerak. " Confine Of Shadows " memperlihatkan sisi Disincarnate yang paling menarik. Di sini Murphy tidak sekadar menumpuk riff. Ruang mulai terbentuk. Tempo dan tekstur memberi kesempatan bagi atmosfer untuk bernapas. Gitar melodis tidak hanya berfungsi sebagai ornamen, tetapi menjadi bagian dari narasi musik. Sementara " Entranced " memperlihatkan kemampuan band memainkan wilayah yang lebih lambat dan berat. Ini penting karena Death Metal 1993 sudah mulai memasuki fase ketika kecepatan saja tidak cukup. Suffocation, Gorguts, Immolation dan sejumlah nama lain sedang memperluas batas bahasa ekstrem. Teknik mulai menjadi alat komposisi, bukan sekadar perlombaan. Disincarnate memahami kebutuhan itu. Sayangnya, mereka tidak selalu tahu bagaimana membuat hasil akhirnya menjadi milik mereka sendiri.
Produksi " Dreams Of The Carrion Kind " memiliki bobot yang sesuai dengan zamannya. Gitar tebal, drum memiliki pukulan, vokal Bryan Cegon berada tepat di wilayah guttural Death Metal, dan keseluruhan album memiliki kepadatan sonik yang membuatnya tetap terdengar sebagai produk serius dari era Florida/US Death Metal. Tetapi produksi yang bagus hanya memperbesar apa yang sudah ada. Kalau komposisinya kuat, ia memperjelas kekuatan. Kalau identitasnya kabur, ia hanya membuat kekaburan itu terdengar lebih mahal dan " Dreams Of The Carrion Kind " sesekali terjebak di sana. Vokal Cegon efektif, tetapi bukan tipe vokal yang memiliki karakter unik. Ia menjalankan fungsi dengan benar. Tommy Viator menghantam dengan presisi. Carman menjadi fondasi rhythm guitar yang solid. Murphy mengisi ruang yang sangat besar sebagai gitaris sekaligus bassist. Semua orang bekerja. Tetapi " bekerja " bukanlah kata yang sama dengan " menghidupkan ". Inilah bagian yang mungkin membuat penggemar Murphy ingin melempar kursi. " Dreams Of The Carrion Kind " bukan album buruk. Justru sebaliknya. Ia terlalu bagus untuk disebut buruk, tetapi terlalu generik untuk ditempatkan di altar masterpiece. Durasi album sekitar 47 menit dan berisi sebelas lagu pada edisi awalnya cukup panjang untuk sebuah album yang mengandalkan riff kompleks dan perubahan struktural dan problemnya muncul setelah efek awal menghilang. Pada putaran pertama, tekniknya mengesankan. Putaran kedua, riff-riffnya mulai terbaca. Putaran ketiga, kita mulai bertanya: Apa sebenarnya yang hanya bisa dilakukan Disincarnate? Jawabannya tidak mudah ditemukan. Band seperti Death punya bahasa sendiri. Obituary punya bahasa sendiri. Cancer punya bahasa sendiri. Gorguts punya keganjilan sendiri. Bahkan Monstrosity, yang sering ditempatkan dalam wilayah sonik berdekatan, menunjukkan usaha lebih jelas untuk membangun identitas komposisionalnya sendiri. Disincarnate memiliki kompetensi. Yang kurang adalah sidik jari.
Dan mungkin inilah alasan album ini tetap menarik untuk diperdebatkan lebih dari tiga dekade kemudian. Karena " Dreams Of The Carrion Kind " memperlihatkan batas yang sering dilupakan dalam Metal: virtuositas tidak menyelamatkan lagu yang tidak meninggalkan bekas. Murphy jelas gitaris luar biasa. Rekam jejaknya membuktikan itu. Tetapi album ini justru memperlihatkan bahwa menjadi gitaris hebat dan menjadi songwriter hebat adalah dua persoalan berbeda. Ia mampu menciptakan riff. Ia mampu menciptakan solo. Ia mampu menyusun perubahan tempo. Ia mampu memainkan semuanya dengan presisi. Namun ketika semua elemen itu disatukan, hasilnya sering terasa seperti bangunan megah tanpa alamat emosional. Mungkin itu sebabnya pengalaman mendengarkan album ini sangat tergantung pada ekspektasi. Jika datang sebagai fans Death Metal teknikal 1993, " Dreams Of The Carrion Kind " punya cukup banyak amunisi untuk memuaskan. Riff-riffnya brutal, permainan gitar Murphy mengesankan, aransemen tidak malas, dan beberapa komposisi memang memiliki struktur yang jauh lebih kompleks dibanding Death Metal generik. Tetapi jika datang karena percaya bahwa nama James Murphy otomatis berarti sebuah mahakarya, album ini justru menjadi tamparan. Nama besar menciptakan harapan. Harapan menciptakan mitos dan mitos adalah musuh terburuk sebuah rekaman ketika musiknya sendiri tidak sanggup mempertahankan cerita tersebut. " Dreams Of The Carrion Kind " bukan kegagalan total. Itu terlalu mudah. Ia adalah sesuatu yang lebih menarik: album dengan kemampuan teknis tinggi tetapi identitas yang tidak pernah sepenuhnya lahir.
Ada momen-momen hebat di dalamnya " Beyond The Flesh ", " Confine Of Shadows ", " Soul Erosion ", " Stench Of Paradise Burning " tetapi momen-momen itu terasa seperti kilatan api di ruangan yang terlalu dingin dan mungkin justru di situlah tragedinya. James Murphy datang membawa reputasi sebagai gitaris yang mampu mengubah Death Metal menjadi sesuatu yang lebih tajam, lebih melodis dan lebih teknikal. Disincarnate memiliki semua bahan untuk membuktikannya. Namun pada akhirnya, " Dreams Of The Carrion Kind " lebih banyak memperlihatkan apa yang bisa dilakukan Murphy daripada siapa sebenarnya Disincarnate. Itu perbedaan yang sangat besar. Karena sejarah Metal tidak selalu mengingat album yang dimainkan dengan sangat baik. Sejarah mengingat album yang memiliki wajah sendiri. Dan setelah tiga puluh tahun, " Dreams Of The Carrion Kind " masih berdiri bukan sebagai bangunan yang runtuh, tetapi sebagai monumen yang aneh: kokoh, penuh ukiran, teknikal, sesekali indah, namun terlalu sunyi untuk benar-benar dihuni. James Murphy menemukan api di gitarnya, Sayangnya, Disincarnate tidak pernah berhasil menyalakan seluruh rumah.
Home
[Brutal Death Metal]
[CLASSIX MOST WANTED]
[Death Metal]
[Technical Death Metal]
* Disincarnate
#Usa
★ Classic Release Academy ★
1993
Roadrunner Records
Disincarnate - Dreams of the Carrion Kind CD 1993
Disincarnate - Dreams of the Carrion Kind CD 1993
Written by REVIEW LOSTINCHAOS September 28, 2026 0
Langganan:
Posting Komentar
(
Atom
)


0 Comments:
Posting Komentar
Tinggalkan komentar TERBAIK kalian disini, enjoy the sickness !