Crocell - Swarm of Insects
Emanzipation Productions CD 2026
01. Sarcophagus 05:07
02. Sculptor of Nations 05:42
03. Swarm of Insects 03:25
04. Traitors' Blood 05:57
05. Layrinthian Tunnels 05:36
06. Shredded Banners 05:06
07. Wolfen Man 05:08
08. Volcano 05:46
Asbjörn Steffensen - Vocals
Tommy Christensen - Guitars
Mads Gath - Guitars
Onkel Kusse - Bass
Andreas Posselt - Drums
Denmark mungkin tidak pernah memiliki satu " Senjata rahasia " metal yang begitu dominan hingga mampu menguasai peta seperti Swedish Death Metal, Norwegian Black Metal, atau Finnish Symphonic Metal. Tetapi bukan berarti negeri ini miskin taring. Masalahnya, Crocell justru datang membawa genre yang sudah memiliki terlalu banyak predator: Blackened Death Metal ! " Swarm Of Insects ", album penuh ketujuh mereka, seharusnya menjadi kesempatan untuk menunjukkan mengapa band veteran masih layak didengarkan ketika formula ini sudah dipenuhi nama-nama seperti Behemoth, Belphegor dan Hate. Sayangnya, album ini lebih sering terdengar seperti gerombolan serangga yang berisik daripada sengatan yang benar-benar menyakitkan. Sarcophagus dimulai dengan gitar tunggal sebelum seluruh band masuk. Secara teori, ini adalah konstruksi klasik untuk membangun ketegangan sebelum pintu neraka dibuka. Masalahnya: pintunya tidak pernah benar-benar dibanting. Bagian awal terasa hambar, dan ketika tempo akhirnya meningkat, lagu memang membaik, tetapi kerusakan impresi pertama sudah terjadi. Lebih buruk lagi, " Sarcophagus " merupakan salah satu komposisi paling banal dalam album. Tidak jelek, Tidak kacau, Tidak memalukan, Hanya... tidak penting dan dalam musik ekstrem yang dibanjiri ribuan rilisan setiap tahun, tidak penting adalah dosa yang jauh lebih sulit dimaafkan daripada sekadar buruk. " Sculptor Of Nations " sedikit memperbaiki keadaan dengan pengaruh Black Metal yang lebih kentara. Vokal Asbjørn Steffensen sesekali berubah menjadi teriakan putus asa, memberikan tekstur emosional yang justru lebih efektif daripada sekadar mengandalkan growl dan agresi. Ada atmosfer di sini. Ada karakter. Tetapi Crocell belum sepenuhnya tahu bagaimana mengubah momen bagus menjadi identitas. " Swarm Of Insects " sendiri seharusnya menjadi pusat gravitasi album. Lagu ini memang lebih energik, menggabungkan ekstremitas Black Metal dengan agresi yang mendekati Grindcore. Namun lagi-lagi masalahnya muncul: sulit diingat. Ini problem terbesar album secara keseluruhan. Riff boleh cepat. Drum boleh ganas. Vokal boleh terdengar seperti seseorang sedang berusaha mengeluarkan paru-parunya melalui tenggorokan. Tetapi jika setelah lagu selesai pendengar tidak membawa satu pun riff, transisi atau motif vokal bersamanya, semua kekerasan itu hanya menjadi kebisingan yang sudah selesai bekerja.
Blackened Death Metal hidup dari atmosfer sekaligus identitas riff. Crocell punya yang pertama. Mereka terlalu sering kekurangan yang kedua. Hampir semua lagu berdurasi lima menit atau lebih, dan di sinilah album mulai tersandung oleh ambisinya sendiri. Labyrinthian Darkness adalah contoh paling jelas. Lagu ini sebenarnya termasuk materi yang lebih menyenangkan, tetapi lima setengah menit terasa terlalu panjang. Tidak ada alasan struktural yang cukup kuat untuk mempertahankan durasi tersebut, terlebih ketika lagu akhirnya ditutup dengan white noise. Itu bukan atmosfer. Itu bisa saja hanya tanda bahwa lagu tersebut sudah kehabisan sesuatu untuk dikatakan. " Shredded Banners " bahkan lebih bermasalah. Begitu hambarnya materi ini, perhatian bisa dengan mudah berpindah ke mana saja tanpa merasa kehilangan sesuatu. Lagu berjalan, tetapi tidak meninggalkan jejak dan itu ironis untuk sebuah album yang mengusung judul seperti " Swarm Of Insects ". Serangga seharusnya mengganggu. Album ini terlalu sering hanya lewat. " Traitor's Blood " memperlihatkan problem Crocell dalam bentuk paling frustratif: terdapat bagian yang menarik, tetapi gagasan tersebut tidak pernah benar-benar berkembang menjadi sesuatu yang memorable. Band ini jelas tahu cara memainkan musiknya. Itu bukan persoalannya. Teknik bukan titik lemah mereka. Energi juga bukan masalah. Yang kurang adalah kemampuan menyaring. Tidak semua riff perlu dipertahankan. Tidak semua lagu perlu lebih dari lima menit. Tidak semua transisi harus ada. Kadang sebuah lagu justru menjadi lebih ganas ketika band cukup berani membunuh bagian yang tidak diperlukan. Menjelang akhir, " Swarm Of Insects " akhirnya mulai menunjukkan wajah yang lebih meyakinkan. " Wolfen Man " memperlihatkan bahwa Crocell tampaknya lebih nyaman ketika sisi Black Metal diberi ruang lebih besar. Riff terasa lebih hidup, atmosfer lebih gelap, dan energi yang dihasilkan lebih cocok untuk panggung. Di sinilah album mulai terasa seperti memiliki denyut. Bukan sekadar bermain ekstrem, tetapi benar-benar menciptakan suasana. " Volcano " bahkan membuka dengan riff Black Metal yang sangat menjanjikan dan langsung membawa energi tersebut ke verse. Ini adalah salah satu momen ketika Crocell akhirnya terdengar seperti band yang tahu ke mana mereka ingin membawa pendengar. Lalu mereka melakukan kesalahan yang sama. Terlalu lama. Riff yang awalnya menggigit mulai kehilangan ketajamannya karena terus dipertahankan. Ketika lagu akhirnya fade out, perhatian pendengar ikut menguap dan itu menjadi metafora yang nyaris sempurna untuk " Swarm Of Insects ". Ada bara, tetapi terlalu banyak abu.
Sulit menyebut " Swarm Of Insects " sebagai album buruk. Crocell jelas memiliki kemampuan instrumental. Permainan mereka cukup solid, agresif dan memahami bahasa Black/Death Metal. Tidak ada kesan bahwa band ini tidak tahu apa yang sedang mereka lakukan. Justru sebaliknya. Mereka terlalu tahu formula tersebut dan mungkin itu problemnya. Album ini bermain aman di wilayah yang sudah sangat dikenal. Black Metal memberikan tremolo dan atmosfer. Death Metal memberikan bobot dan agresi. Sedikit sentuhan Grindcore meningkatkan intensitas. Vokal ekstrem mengikat semuanya. Secara matematis, semuanya masuk akal. Secara emosional, tidak banyak yang tertinggal. Ketika Behemoth, Belphegor atau Hate mengeluarkan materi Blackened Death Metal, persoalannya bukan hanya seberapa cepat mereka bermain. Mereka memiliki bahasa riff, karakter atmosfer dan identitas sonik yang membuat pendengar dapat mengenali siapa yang sedang bermain bahkan sebelum logo muncul. Crocell belum memberikan sidik jari sekuat itu di sini. Judul " Swarm Of Insects " menjanjikan sesuatu yang mengganggu: sesuatu yang kecil, banyak, agresif dan sulit dibasmi. Tetapi album ini justru lebih dekat dengan suara dengung yang terdengar dari kejauhan. Kalian tahu ia ada, Kalian tahu ia bergerak. Namun setelah beberapa saat, otak berhenti memperhatikannya. Itulah paradoks album ini. " Swarm Of Insects " bukan kegagalan. Ia bahkan tidak cukup buruk untuk menjadi bahan celaan yang menyenangkan. Album ini jauh lebih sulit dikritik daripada itu karena sebagian besar masalahnya justru berasal dari sesuatu yang lebih menyebalkan: ketidakberkesanan. kalian selesai mendengarkannya tanpa merasa telah membuang waktu. tetapi juga tanpa merasa telah mendapatkan sesuatu. Crocell tampaknya masih memiliki api. Yang mereka perlukan bukan lebih banyak bahan bakar, melainkan pisau yang lebih tajam untuk memangkas semua yang tidak perlu. Karena Blackened Death Metal tidak kekurangan kekerasan. Yang langka adalah identitas dan pada " Swarm Of Insects ", Crocell belum cukup menyengat untuk membuat kita peduli ketika gerombolannya akhirnya pergi.
Home
[Black/Death Metal]
* Crocell
#Denmark
2026
Emanzipation Productions
Crocell - Swarm of Insects CD 2026
Crocell - Swarm of Insects CD 2026
Written by REVIEW LOSTINCHAOS September 28, 2026 0
Langganan:
Posting Komentar
(
Atom
)


0 Comments:
Posting Komentar
Tinggalkan komentar TERBAIK kalian disini, enjoy the sickness !