Alkhemia - Häxen CD 2026

Alkhemia - Häxen
Non Serviam Records CD 2026

01. Zeitgeist 05:04      
02. Excressence 07:15      
03. Hissing Ratz 05:39      
04. Prekonition 07:20      
05. Stars and Frozen Faces 04:53      
06. Nonsense 06:22      
07. Remnants 06:33


James Spar - Vocals
Maxime "LePrince" Beiler - Guitars
Thomas Fontaine - Guitars
A.S.A - Bass, Guitars, Vocals
Alex Josien - Drums
 

Orwellian bukan sekadar dunia yang gelap. Ia adalah dunia ketika kontrol menjadi kebiasaan, kepatuhan dianggap kewajaran, dan mereka yang menolak mengikuti aturan diperlakukan sebagai penyakit. Alkhemia mengambil gagasan itu lalu membuang kantor kementerian, telescreen dan Big Brother ke dalam kabut okultisme. Dalam Häxen, para penyihir bukan sekadar penghuni dunia fantasi; mereka adalah metafora bagi individu yang menolak menjadi bagian dari masyarakat yang memaksa semua orang memakai wajah yang sama dan menariknya, musiknya memang terdengar seperti dunia yang sedang kehilangan kewarasan. Dirilis 13 Maret 2026 melalui Non Serviam Records, " Häxen " adalah album kedua Alkhemia setelah " Abraxas " (2024). 7 lagu, sekitar 43 menit, dengan Maxime " LePrince " Beiler dan Thomas Fontaine pada gitar, A.S.A. pada bass/gitar/vokal, James Spar pada vokal dan Alex Josien di belakang drum. Seluruh album direkam, dimixing dan dimaster A.S.A. di Negurah Studio. Tidak ada revolusi genre di sini. Untungnya. Karena Alkhemia tidak membutuhkan revolusi. Mereka membutuhkan atmosfer yang mampu menggigit. " Zeitgeist " langsung menunjukkan bagaimana formula itu bekerja. Riff tremolo bertumpuk di atas blast-beat dan double bass, tetapi gitar tidak sekadar berlari. Ada melodi yang menggantung seperti kabut, clean guitar yang muncul sesaat, lalu kembali ditelan distorsi. Bahkan efek detak jantung dan hujan di bagian awal memperlakukan lagu ini seperti adegan pembuka sebuah film yang tidak pernah benar-benar menjelaskan apa yang sedang terjadi. Kemudian " Excressence " datang dan menghancurkan pintu. Tujuh menit lebih berisi riff yang jauh lebih agresif, tempo tinggi dan blast-beat yang nyaris tanpa kompromi. Namun Alkhemia tidak menjadikan kecepatan sebagai tujuan akhir. Mereka menggunakan kecepatan untuk membangun dread perasaan bahwa sesuatu sedang mengejar, tetapi tidak pernah benar-benar terlihat. Di sinilah gitar menjadi pusat gravitasi album.

Tiga pemain Beiler, A.S.A. dan Fontaine mengisi ruang dengan lapisan tremolo yang saling bertumpuk. Tetapi kekuatan mereka bukan sekadar jumlah riff. Yang bekerja adalah cara melodi-melodi tersebut menciptakan sensasi luas sementara ritme terus mendorong pendengar ke depan. Hasilnya adalah black metal yang terdengar besar tanpa harus mengandalkan dinding suara murahan. " Hissing Ratz " kemudian memperlihatkan sisi lain. Tempo melambat, piano masuk, gitar menjadi lebih melankolis, dan suasana berubah dari badai menjadi semacam kesedihan yang membusuk. Ini salah satu keputusan terbaik album karena memberikan sesuatu yang terlalu sering dilupakan black metal modern: ruang untuk bernapas. Thrashocore juga mencatat perubahan ini sebagai pergeseran menuju wilayah yang lebih lambat, nostalgik dan melankolis setelah keganasan " Excressence ". Kemudian Häxen kembali mengeras melalui " Prekonition " dan " Stars and Frozen Faces ". Yang menarik, Alkhemia tidak membangun variasi melalui perubahan genre. Mereka tetap berada di wilayah black metal, tetapi mengubah temperatur. Ada bagian yang dingin, bagian yang agresif, bagian yang hampir meditatif, lalu ledakan kembali muncul. Ini jauh lebih efektif daripada menjejalkan symphonic keyboard atau folk interlude hanya demi membuktikan bahwa sebuah album memiliki " Variasi ". Tidak perlu. Kadang variasi terbaik hanyalah membiarkan satu riff terasa cukup lama sampai pendengar mulai tidak nyaman. " Nonsense " membawa lapisan chorale/choral yang memberikan nuansa ritual, sementara " Remnants " menggunakan bunyi jam berdetak untuk mempertebal kesan bahwa dunia album ini bergerak menuju sesuatu yang tidak bisa dihentikan. Detail-detail kecil tersebut penting karena Häxen sebenarnya bukan hanya kumpulan lagu. Ia dibangun sebagai narasi atmosferik dan drum Alex Josien justru menarik karena tidak dipaksa menjadi pusat perhatian.

Produksi A.S.A. menempatkan gitar dan vokal lebih dominan, sehingga blast-beat Josien terasa seperti mesin di balik layar. Ia tetap agresif, tetapi tidak terdengar seperti demonstrasi teknik yang sengaja ditempelkan di depan mix. Ini keputusan yang cerdas. Banyak produksi black metal modern begitu terobsesi membuat setiap instrumen terdengar " Jelas " sampai akhirnya tidak ada lagi misteri di dalam musiknya. " Häxen " masih menyisakan kabut. Vokal James Spar juga bekerja dalam fungsi yang sama. Ia tidak mencoba menjadi pusat narasi. Vokal lebih sering menjadi tekstur gelap yang melebur ke dalam gitar. Masalahnya, di sinilah kelemahan konseptual album mulai terlihat: liriknya sulit ditangkap tanpa booklet atau teks lengkap. Sumber resmi menyebut James Spar sebagai penulis lirik, sementara A.S.A. menangani musik sekaligus produksi. Namun ketika kata-kata tidak mudah ditangkap, sebagian detail cerita yang seharusnya menjadi fondasi konsep akhirnya hanya bisa ditebak dari atmosfer dan efek suara. Itu bukan kegagalan musik. Tetapi sebagai album konseptual, ini kehilangan kesempatan. Karena " Häxen " sebenarnya memiliki gagasan yang lebih menarik daripada sekadar " Witchcraft is evil ". Alkhemia menggambarkan " Modern sorcerers " sebagai orang-orang yang terpinggirkan karena menolak konformitas individu yang menjadi sasaran stigma justru karena tidak mau menerima norma yang mereka benci. Dalam konteks itu, witchcraft hanyalah bahasa simbolik untuk perlawanan terhadap masyarakat yang mengubah kepatuhan menjadi kebajikan dan di sinilah hubungan dengan Orwell menjadi lebih masuk akal. Bukan karena " Häxen " adalah versi metal dari 1984. Bukan. Orwell berbicara mengenai kekuasaan yang mengontrol manusia melalui sistem. Alkhemia berbicara tentang manusia yang dikucilkan karena menolak sistem sosial yang menentukan apa yang boleh dipercaya, bagaimana seseorang harus hidup, dan siapa yang pantas dianggap " Normal ". Keduanya bertemu di satu tempat: ketakutan terhadap individu yang tidak mau patuh.

Secara musikal, " Häxen " juga tidak sepenuhnya sempurna. Empat puluh tiga menit black metal dengan kepadatan atmosfer seperti ini membutuhkan konsentrasi. Beberapa riff cenderung melebur ke dalam satu sama lain, dan meskipun " Zeitgeist ", " Excressence " serta " Hissing Ratz " memiliki identitas yang cukup kuat, sebagian materi di tengah album lebih mudah diingat sebagai suasana daripada lagu individual. Bahkan salah satu ulasan yang positif terhadap album ini mencatat bahwa memorabilitas menjadi aspek yang lebih lemah dibandingkan songwriting dan musicianship. Tetapi mungkin itu harga yang harus dibayar untuk jenis musik seperti ini. " Häxen " tidak selalu ingin memberikan chorus yang bisa dinyanyikan setelah album selesai. Ia ingin meninggalkan temperatur. Dingin, Gelap, Tercekik dan sedikit paranoid. Alkhemia terbentuk di Prancis pada 2020, dan " Häxen " menunjukkan bahwa mereka semakin memahami identitas tersebut pada album kedua. Mereka tidak mencoba menghidupkan kembali black metal 1990-an secara literal, juga tidak mengejar eksperimen avant-garde demi terlihat pintar. Mereka mengambil melodic black metal, menambahkan tekstur ritual, sedikit doom-like melancholy, produksi yang terkontrol, kemudian membiarkan semuanya tumbuh menjadi atmosfer yang cukup luas untuk menelan lagu-lagunya sendiri. Itulah kekuatan sekaligus kelemahannya. " Häxen " adalah album yang lebih mudah dirasakan daripada dijelaskan dan mungkin itu justru tepat.

Karena dunia Orwellian tidak selalu membutuhkan monster yang berteriak. Kadang monster terbaik adalah sistem yang berbicara dengan suara tenang, menawarkan keamanan, meminta kepatuhan, lalu perlahan menghapus siapa pun yang menolak. Alkhemia tidak memberikan soundtrack untuk kemenangan. Mereka memberikan soundtrack untuk orang-orang yang masih berdiri ketika semua orang lain sudah berlutut. " Häxen " bukan mahakarya tanpa cela. Beberapa lagu terlalu lama tinggal dalam kabut yang sama, liriknya membutuhkan akses lebih baik agar konsepnya benar-benar utuh, dan tidak semua riff meninggalkan luka yang sama dalam. Tetapi ketika gitar-gitar itu bertemu dengan blast-beat, piano, chorus ritual, hujan, detak jantung dan ruang kosong, Alkhemia berhasil menciptakan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada sekadar album black metal yang " Gelap ". Mereka menciptakan atmosfer sebuah masyarakat yang takut pada mereka yang tidak mau tunduk dan di dunia yang semakin gemar menyebut kepatuhan sebagai kewarasan, itu adalah jenis kegelapan yang terasa terlalu masuk akal.

0 Comments:

Posting Komentar

Tinggalkan komentar TERBAIK kalian disini, enjoy the sickness !

Designed by lostinchaos mediazine