Control Denied - The Fragile Art of Existence
Nuclear Blast America CD 1999
01. Consumed 07:24
02. Breaking the Broken 05:41
03. Expect the Unexpected 07:18
04. What If...? 04:30
05. When the Link Becomes Missing 05:17
06. Believe 06:10
07. Cut Down 04:50
08. The Fragile Art of Existence 09:38
Tim Aymar - Vocals
Chuck Schuldiner - Guitars
Shannon Hamm - Guitars
Steve DiGiorgio - Bass
Richard Christy - Drums
Ada ironi yang sulit dihindari ketika membicarakan Control Denied: sebuah band yang sejak awal dimaksudkan sebagai kendaraan untuk keluar dari bayang-bayang Death justru terdengar sangat jelas sebagai hasil evolusi musikal Chuck Schuldiner. Tetapi menyebut " The Fragile Art of Existence " sebagai " Death with Clean Vocal " adalah cara malas untuk mendengarkannya. Album ini memang membawa jejak Human, " Individual Thought Patterns ", " Symbolic hingga The Sound of Perseverance, tetapi fondasinya telah dipindahkan. Death Metal tidak lagi menjadi rumah. Ia hanya menjadi salah satu bahan bakar dalam mesin yang kini mengarah ke Progressive Metal, US Power Metal, Speed/Thrash dan Heavy Metal klasik. Sumber retrospektif bahkan menempatkannya sebagai modernisasi dari tradisi US Power Metal era ’80-an yang kemudian diberi teknik Death dan progresif dan di sinilah Chuck Schuldiner menjadi jauh lebih menarik daripada sekadar legenda Death Metal. Ia tidak pernah benar-benar puas tinggal di genre yang ikut ia bentuk. Schuldiner sudah memperlihatkan kecenderungan tersebut jauh sebelum Control Denied lahir. Semakin jauh Death bergerak, semakin kompleks pula struktur musiknya. Human membuka pintu. " Individual Thought Patterns " memperlebar lorong. " Symbolic " membuat melodinya semakin manusiawi. " The Sound of Perseverance " kemudian berdiri di ambang pintu baru. Control Denied tinggal masuk. Secara musikal, garis antara album ini dan " The Sound of Perseverance " memang sangat dekat. Beberapa gagasan bahkan telah berkaitan dengan materi yang semula dikembangkan untuk Control Denied. Namun perbedaan paling mendasar terletak pada cara komposisi tersebut diberi tubuh baru melalui vokal Tim Aymar. Aymar tidak menggeram. Ia menjerit dan perbedaan sederhana itu mengubah seluruh perspektif. Suara tinggi, bersih, melengking dan sesekali menyerupai banshee membuat riff Schuldiner terdengar bukan seperti Death yang mengganti vokalis, tetapi seperti sebuah band Heavy Metal klasik yang kebetulan memiliki otak seorang ekstremis.
" Consumed " langsung memperlihatkan masalah sekaligus kelebihan album ini: terlalu banyak hal terjadi. Riff datang dalam lapisan yang terus bergeser. Bass tidak sekadar mengisi dasar. Drum bergerak melewati perubahan ritmis. Gitar membuka ruang untuk lead lalu menutupnya kembali dengan riff baru. Vokal Aymar harus mencari celah di antara semua aktivitas tersebut. Ini bukan musik yang meminta pendengar bernyanyi bersama. Ini musik yang meminta pendengar memperhatikan dan semakin diperhatikan, semakin banyak detail yang muncul. Namun jangan salah: kompleksitas bukan otomatis kedalaman. Ada bagian ketika Control Denied terdengar seperti lima musisi luar biasa sedang berlomba membuktikan bahwa mereka masih punya satu ide lagi. Mereka memang punya. Masalahnya, kadang pendengar tidak membutuhkan semuanya sekaligus. Tim Aymar adalah pilihan yang sangat penting. Ia memberikan album ini akses menuju dunia Heavy/Power Metal yang tidak mungkin dicapai melalui vokal Schuldiner. Sumber retrospektif menggambarkan pendekatannya sebagai vokal tradisional Heavy Metal dengan karakter kuat, sementara sumber lain menyoroti kemiripannya dengan spektrum penyanyi seperti Halford dan Ray Gillen. Namun vokalnya juga merupakan salah satu aspek paling divisif. Pada bagian terbaik, Aymar terdengar liar, tinggi dan ekspresif. Pada bagian tertentu, ia bisa terdengar terlalu teatral untuk riff yang justru lebih gelap dan kompleks. Di sinilah Control Denied berjalan di garis tipis: musiknya ingin menjadi progresif, agresif dan intelektual; vokalnya kadang membawa tradisi Heavy Metal yang jauh lebih langsung. Kontras itu kadang brilian. Kadang terasa seperti dua dunia sedang berebut mikrofon. Jika ada satu lagu yang menunjukkan mengapa Control Denied tidak pantas direduksi menjadi proyek sampingan Schuldiner, " When the Link Becomes Missing " adalah kandidat kuat. Di sini interaksi gitar dan rhythm section terasa paling kohesif. Riff tidak hanya berfungsi sebagai kendaraan menuju solo. Bass dan gitar saling mengisi, sementara struktur memberikan ruang untuk perubahan atmosfer sebelum kembali menghantam. Steve DiGiorgio adalah salah satu alasan album ini terdengar berbeda. Bassnya bukan bayangan gitar, Ia hidup, Ia bergerak. Ia kadang seperti mencoba mencuri perhatian dari Schuldiner dan Shannon Hamm dan yang lebih penting, ia berhasil tanpa terdengar seperti musisi yang sedang melakukan pemanasan teknik. Sumber retrospektif bahkan menyoroti DiGiorgio sebagai salah satu elemen paling menonjol dalam album karena bass diberi fungsi melodis sekaligus ritmis.
Chuck Schuldiner dan Shannon Hamm adalah pasangan yang sulit diabaikan. Schuldiner memiliki artikulasi riff yang tajam dan sangat presisi. Setiap not terasa memiliki garis tepi. Hamm cenderung lebih cair, dengan pendekatan lead yang lebih mengalir dan penggunaan sweep serta whammy yang memberikan warna berbeda. Perbedaannya justru membuat keduanya bekerja. Mereka tidak terdengar seperti dua gitaris yang saling berebut wilayah. Mereka terdengar seperti dua bahasa yang kebetulan berbicara tentang hal yang sama. Namun kemudian datang solo dan solo lagi. Inilah saat " The Fragile Art of Existence " menunjukkan sisi paling progresif sekaligus paling problematisnya. Beberapa bagian terasa seperti komposisi yang sedang berkembang. Bagian lain terasa seperti komposisi yang menolak berhenti karena semua orang di ruangan masih memiliki kemampuan untuk bermain sesuatu. Sumber kritik retrospektif juga mencatat bahwa banyaknya solo dan bagian instrumental kadang mengganggu aliran komposisi alih-alih memperkuatnya. Justru pada lagu-lagu yang relatif lebih pendek, persoalan album ini menjadi paling jelas. " What If...? " tidak membutuhkan sembilan menit untuk membuktikan apa pun. Ia memiliki ruang lebih jelas untuk vokal, riff dan struktur lagu dan ketika chorus muncul, kita akhirnya mendapatkan sesuatu yang sering hilang di album ini: sebuah titik untuk diingat. Itulah paradoks Control Denied. Mereka sangat pandai menciptakan sesuatu yang mengesankan. Mereka sedikit kurang konsisten dalam menciptakan sesuatu yang mudah diingat. Album ini lebih sering mengajak otak bekerja daripada memberi tangan kesempatan mengepal. Tetapi mungkin memang itu maksudnya. Judul lagu penutup sekaligus pusat konseptual album membawa seluruh pendekatan tersebut ke bentuk paling ambisius. Panjang, padat, progresif, penuh perubahan dan sarat dengan interaksi instrumen. Chuck dan Hamm melepaskan lead yang secara teknis luar biasa, tetapi tetap menjaga agar permainan tidak sepenuhnya berubah menjadi kontes ego dan itu penting. Karena ada garis tipis antara virtuoso dan tukang pamer. Control Denied sering berjalan tepat di atas garis tersebut tanpa jatuh ke sisi yang paling menyebalkan. Album ini memang bisa terasa overblown. Tetapi bahkan ketika berlebihan, ia tetap terasa seperti kelebihan yang disengaja, bukan kekacauan karena tidak tahu apa yang ingin dilakukan.
Mungkin kontribusi paling penting Control Denied bukanlah satu riff tertentu atau satu solo. Melainkan bukti bahwa Chuck Schuldiner tidak pernah benar-benar menjadi budak Death Metal. Ia memang salah satu arsitek genre tersebut. Tetapi ia juga seorang musisi yang terus bergerak. Itulah sebabnya " The Fragile Art of Existence " terdengar begitu familiar sekaligus berbeda. Riffnya masih memiliki DNA Schuldiner. Harmoninya masih membawa aroma Death era akhir. Tekniknya masih ekstrem. Tetapi kerangkanya telah berubah. Death menggunakan agresi sebagai bahasa utama. Control Denied menggunakan agresi sebagai salah satu dialek. Dan itu perbedaan besar. Ada fakta tragis yang membuat album ini semakin sulit dipisahkan dari sejarah personal Schuldiner: " The Fragile Art of Existence " adalah satu-satunya album studio Control Denied yang selesai dirilis dan menjadi album studio terakhirnya sebelum ia meninggal pada 2001. Namun nilai album ini tidak seharusnya hanya bergantung pada tragedi tersebut. Itu justru akan merendahkan musiknya. " The Fragile Art of Existence " layak dibicarakan karena ia menunjukkan seorang komposer yang menolak berhenti berkembang bahkan setelah mencapai posisi yang membuat kebanyakan musisi nyaman mengulang formula yang sama. Schuldiner tidak memilih jalan aman. Ia memilih jalan yang lebih rumit dan tentu saja, jalan itu tidak sempurna. Ada riff yang terasa terlalu sibuk. Ada transisi yang mengganggu. Ada bagian vokal yang mungkin tidak cocok bagi semua telinga. Ada solo yang terasa seperti tambahan karena sang gitaris memang belum ingin pulang. Ada momen ketika progressive metal berubah menjadi " lihat apa yang bisa kami mainkan ". Tetapi di balik semua itu terdapat sesuatu yang jauh lebih penting: rasa ingin tahu. Control Denied tidak menciptakan genre baru. Mereka juga tidak menghapus Death dari sejarah. Mereka melakukan sesuatu yang lebih sederhana dan lebih berbahaya: menunjukkan bahwa setelah membantu menciptakan satu bahasa metal, Chuck Schuldiner masih ingin mempelajari bahasa lain dan " The Fragile Art of Existence " adalah dokumen dari proses tersebut. Ia bukan album untuk karaoke. Bukan album untuk sekadar headbang dari awal sampai akhir. Bukan pula koleksi riff yang dirancang agar mudah dikunyah lalu dilupakan. Ini adalah musik yang menuntut perhatian kadang terlalu banyak perhatian karena Schuldiner lebih tertarik pada pergerakan gagasan daripada sekadar membuat lagu yang mudah diingat. Jika Death adalah kisah tentang evolusi Death Metal, maka Control Denied adalah epilog yang menolak menjadi epilog. Sebuah band yang baru sempat membuat satu album, tetapi album itu cukup untuk memperlihatkan bahwa batas terbesar Schuldiner bukan kemampuan teknisnya. Batas terbesarnya adalah waktu dan waktu, seperti biasa, adalah satu-satunya musuh yang tidak pernah bisa dikalahkan bahkan oleh seorang virtuoso.
Home
[CLASSIX MOST WANTED]
[Progressive Power Metal]
* Control Denied
★ Classic Release Academy ★
1999
Nuclear Blast America
usa
Control Denied - The Fragile Art of Existence CD 1999
Control Denied - The Fragile Art of Existence CD 1999
Written by REVIEW LOSTINCHAOS September 28, 2026 0
Langganan:
Posting Komentar
(
Atom
)


0 Comments:
Posting Komentar
Tinggalkan komentar TERBAIK kalian disini, enjoy the sickness !