Warface - Insanity of the Obsessed
Deathquake Records CD 2006
01. Judgement Defiles 03:43
02. Fatal Inequity 02:12
03. Full Term Refuse 03:40
04. Insanity of the Obsessed 03:26
05. Suppression of Heresy 03:25
06. Fragmented Salvation 03:01
07. Climatic Annihilation 03:42
08. Out of Death 03:49
09. Induction 05:07
Dave Smith - Vocals, Bass
Laura Christine - Guitars
Scott Ellis - Drums
Ada masa ketika death metal tidak membutuhkan gimmick untuk terdengar mengerikan. Cukup gitar yang salah nada, drum yang menghantam seperti palu, vokal dari dasar tenggorokan, dan riff yang membuat leher terasa seperti benda sekali pakai. " Insanity of the Obsessed ", album pertama Warface, jelas memahami resep tersebut. Masalahnya: memahami resep tidak otomatis membuat masakannya enak. Warface bermain di wilayah yang sudah dipetakan terlalu baik oleh Morbid Angel, Malevolent Creation, Dying Fetus, Cannibal Corpse, Deicide, hingga Suffocation. Ada tremolo klasik, palm-muted chug, breakdown lambat ala brutal death metal, chromatic movement, serta rangkaian riff yang sengaja dibuat atonal melalui whole-half, diminished, augmented, dan chromatic scales. Secara teknis, semuanya ada. Secara karakter, persoalannya justru dimulai dari sana. Riff Warface dibangun dari beberapa blok yang terus diputar: power chord → palm mute → tremolo → single-note melody → hammer-on/pull-off → ulangi. Formula itu bukan dosa. Death metal dibangun dari repetisi, disiplin, dan variasi terhadap bentuk-bentuk yang terbatas. Masalahnya, Warface terlalu sering terdengar seperti sedang mengisi kotak-kotak dalam formulir death metal daripada menulis lagu. Ada riff berat. Ada riff cepat. Ada riff gelap. Tetapi terlalu sedikit yang terasa seperti Warface. Pengaruh Morbid Angel terasa pada tremolo dan pendekatan riff yang lebih liar. Cannibal Corpse dan Deicide muncul melalui pola single-note serta permainan hammer-on/pull-off. Sementara sisi brutalnya sesekali merangkak menuju Devourment, Vomit Remnants, Vile, dan Guttural Secrete. Semua referensi tersebut sah. Yang tidak sah adalah ketika pendengar bisa menebak dari mana sebuah riff berasal bahkan sebelum lagu selesai.
Ada satu hal yang tidak bisa diperdebatkan: Laura punya kemampuan gitar. Chops-nya ada. Tekniknya bukan masalah. Riff tertentu menunjukkan bahwa ia memahami bagaimana membangun ketegangan melalui interval yang tidak nyaman, kromatisme, serta perubahan tekstur. " Fatal Inequity " menjadi bukti paling jelas. Riff-nya memiliki gigitan yang tidak ditemukan secara konsisten di materi lain. Ada momentum dan identitas yang lebih terasa, seolah untuk beberapa menit Warface berhenti memikirkan pengaruh dan mulai menulis musik mereka sendiri. Sayangnya, momen seperti itu terlalu jarang. Sebagian besar riff bergerak dari satu pola menuju pola berikutnya tanpa benar-benar pergi ke mana-mana. Atualitasnya memang membuat musik terdengar gelap, tetapi gelap bukan berarti otomatis menarik. Ketika kromatisme digunakan tanpa perkembangan komposisional, hasilnya bukan teror hanya kebingungan yang dipoles. Death metal tidak membutuhkan riff yang semakin rumit. Ia membutuhkan riff yang punya alasan untuk ada. Drumming memiliki cukup banyak blast beat dan double bass untuk memenuhi kebutuhan genre. Secara teknis, tidak buruk. Tetapi produksi membuat semuanya terasa seperti mesin yang bekerja berdasarkan jadwal kantor. Drum terdengar kering, tipis, dan mekanis. Tidak ada pukulan besar yang membuat kick terasa menghantam dada. Tidak ada snare yang benar-benar membuka ruang. Semuanya terdengar seperti diketuk dari jarak aman. Ironisnya, permainan drum sebenarnya memiliki energi yang bisa menopang materi ini. Namun energi tersebut terkubur oleh rekaman yang tidak memberi tubuh pada instrumen. Death metal membutuhkan pukulan. " Insanity of the Obsessed " terlalu sering hanya memberikan bunyi pukulan.
Produksi adalah salah satu kelemahan terbesar album ini. Gitar memang berat, tetapi berat tanpa kehidupan. Distorsinya memiliki massa, namun tidak memiliki tekstur. Drum terdengar terpisah dengan cukup jelas, tetapi kehilangan pukulan dan kedalaman. Dan bass? Jika memang ada, ia tampaknya menjalani kehidupan rahasia di bawah tanah. Bass begitu tenggelam di balik gitar sampai nyaris tidak berkontribusi terhadap keseluruhan sonik. Dalam death metal, gitar yang terlalu dominan dapat dengan mudah mengubah low-end menjadi bubur frekuensi. Di sini, persoalannya bukan sekadar mixing balance; hilangnya bass membuat keseluruhan album kehilangan fondasi. Hasil akhirnya terdengar seperti death metal yang direkam setelah denyut nadinya diambil. Ironisnya, kelemahan paling mengganggu bukan datang dari instrumen, melainkan Dave. Secara live, menurut pengalaman sumber yang menyaksikan Warface, band ini jauh lebih brutal. Dan itu justru membuat versi studio semakin mengecewakan. Vokal gutturalnya terdengar monoton, datar, bahkan sesekali seperti orang yang sedang berbicara sambil menarik napas ke dalam mikrofon. Death metal tidak menuntut vokalis menjadi aktor panggung. Tetapi ia tetap membutuhkan intensitas. Dave tidak selalu terdengar seperti sedang marah, kesakitan, atau mengancam. Ia terdengar seperti sedang menyelesaikan pekerjaan. Dan death metal yang terdengar seperti pekerjaan rumah adalah masalah besar. " Insanity of the Obsessed " jelas tidak kekurangan leluhur. Morbid Angel memberikan kegilaan riff, Deicide memberikan kekejaman melodik, Cannibal Corpse menyumbang pola riff dan agresi, Suffocation memberi gravitasi brutal, Dying Fetus dan gerombolan brutal death modern menyuntikkan bobot serta groove.
Tetapi pengaruh bukan identitas. Album debut memang tidak harus menemukan bahasa musik yang sepenuhnya baru. Bahkan sebagian besar album death metal klasik juga dibangun dari saling meminjam, mengembangkan, lalu memelintir bahasa yang sudah ada. Namun Warface terlalu sering berhenti pada tahap " saya tahu bagaimana death metal seharusnya terdengar. " Mereka belum cukup sering mencapai tahap: " Saya tahu bagaimana Warface seharusnya terdengar. " Insanity of the Obsessed " bukan kegagalan. Ia memiliki riff bagus, kemampuan gitar yang nyata, permainan drum yang cukup agresif, serta fondasi death metal yang kokoh. Tetapi album ini juga terlalu kering, terlalu repetitif, terlalu bergantung pada formula, dan terlalu lemah secara vokal untuk meninggalkan bekas yang dalam. Ironisnya, justru " Fatal Inequity " memperlihatkan masalah terbesar album ini: ketika Warface menemukan riff yang benar-benar memiliki karakter, seluruh materi lain mendadak terasa lebih generik. Potensinya ada. Taringnya juga ada. Yang belum ada adalah gigitan yang meninggalkan luka. Jika Warface ingin berkembang, mereka tidak membutuhkan lebih banyak blast beat atau riff yang semakin teknikal. Mereka membutuhkan komposisi yang lebih berani, produksi yang memberi tubuh pada permainan, vokal yang benar-benar hidup, dan yang paling penting keberanian untuk berhenti terdengar seperti gabungan dari band-band yang mereka kagumi. Karena death metal sudah memiliki cukup banyak tiruan. Yang kurang adalah band yang berani membuat kebrutalan terdengar seperti milik mereka sendiri.
Home
[Brutal Death Metal]
[Female Fronted]
* Warface
#Usa
2006
Deathquake Records
Warface - Insanity of the Obsessed CD 2006
Warface - Insanity of the Obsessed CD 2006
Written by REVIEW LOSTINCHAOS Oktober 03, 2026 0
Langganan:
Posting Komentar
(
Atom
)


0 Comments:
Posting Komentar
Tinggalkan komentar TERBAIK kalian disini, enjoy the sickness !