Spazztic Blurr - Before...and After CD 1988

Spazztic Blurr - Before...and After 
Earache Records 12" vinyl 1988

01. Blurr Hogs 03:37       
02. Images 02:30     
03. ABC's 00:41     
04. Spazztic Puke 01:08     
05. Fuck Yeah 01:41     
06. Bouge Jonzin 02:45     
07. Call in Sick 01:36     
08. Bedrock Blurr 01:26     
09. He-Not-A-Home Me Marco 03:21     
10. Unless.... 00:01     
11. Let There Be Blurr 01:14       
12. Ace 02:11      
13. Def Metal 02:29      
14. Mexicalli 06:55


Tito Matos - Vocals
Marco Zorich - Guitars
"Booger Bass" Dave - Bass
"Burger King" Eric - Drums 


Ketika Kekacauan Menjadi Teknik, Lelucon Menjadi Senjata, dan Musik Menolak Duduk Manis di Dalam Kotak Ada album yang ingin terdengar serius. Ada album yang ingin terdengar brutal. Ada pula album yang tampaknya ingin menertawakan kedua tujuan tersebut sambil menginjak pedal gas sampai mesin meledak. " Before...and After " milik Spazztic Blurr berada di kategori terakhir. Dirilis oleh Earache Records pada 1988 sebagai MOSH 5, album ini berisi 14 lagu dengan durasi sekitar 31 menit, menampilkan Tito Matos, Marco Zorich, Dave Merrick, dan Eric "Burger King" French. Sebelumnya, formasi ini sudah melempar Bedrock Blurr ke dunia bawah tanah pada 1986, sebuah demo yang hari ini justru terasa seperti dokumen penting mengenai betapa jauhnya musik ekstrem bisa didorong sebelum istilah " Grindcore " benar-benar menjadi bahasa yang mapan dan di sinilah masalah pertama muncul. Bagaimana seseorang harus mereview album yang secara sadar menolak untuk bersikap normal? Spazztic Blurr memang memiliki kecepatan, riff, blast beat, distorsi dan agresi yang bisa membuat band crossover lain terdengar seperti sedang pemanasan. Namun semua perangkat itu dipakai untuk sesuatu yang lebih nakal: mengacaukan ekspektasi pendengar. Ini bukan sekadar musik ekstrem yang diberi humor. Ini adalah humor yang diberi persenjataan ekstrem. Spazztic Blurr lahir dari Portland, Oregon, dengan keterkaitan langsung terhadap Wehrmacht. F.O.A.D. Records kemudian mendeskripsikan mereka sebagai proyek thrashcore supercepat yang muncul dari anggota Wehrmacht pada pertengahan 1980-an, dengan kombinasi hardcore berkecepatan tinggi, speed metal, thrash, dan humor yang nyaris tidak punya rem. Konteks tahun 1986–1988 penting. Hari ini, musik yang mencampur grindcore, hardcore, thrash, surf, jazz, funk, komedi, spoken word, dan segala macam suara absurd bukan sesuatu yang mengejutkan. Internet sudah membuat setiap kemungkinan genre tersedia dalam satu klik. Tetapi pada pertengahan 1980-an, ekstremitas masih merupakan wilayah yang sedang dipetakan. Napalm Death belum menjadi institusi sejarah ketika Bedrock Blurr muncul. Scum baru hadir pada 1987. Dan Spazztic Blurr sudah memiliki rekaman 1986 dengan " Bedrock Blurr ", " ABC's ", " Bonanza Blurr 5-0 ", " Spazztic Puke ", " Wipe Out ", " Call in Sick " dan " Mexacalli " di dalamnya. Artinya, kecepatan mereka bukan sekadar gimmick retrospektif yang dibesar-besarkan setelah sejarah selesai ditulis. Mereka memang datang terlalu cepat.

" Blurr Hogs " langsung memberi tahu pendengar bahwa album ini tidak akan menyediakan jalur aman. Riff gitar bergerak dengan energi crossover yang kasar, tetapi struktur tidak pernah benar-benar dibiarkan menetap. Ada dorongan thrash, akselerasi hardcore, hentakan yang mengingatkan pada embrio grindcore, kemudian perubahan yang terasa seperti band sedang mengejek aturan komposisi. Yang menarik bukan sekadar cepatnya. Yang menarik adalah cara mereka memahami kecepatan sebagai bahan komedi. Pada band ekstrem biasa, blast beat berarti ancaman. Pada Spazztic Blurr, blast beat bisa menjadi punchline. Itulah salah satu alasan album ini terdengar berbeda dari sekadar thrashcore cepat. F.O.A.D. sendiri kemudian menggambarkan mereka sebagai perpaduan hardcore ekstrem, speed metal dan thrash yang dibumbui humor tanpa henti. " Images " menunjukkan bahwa di balik kegilaan tersebut terdapat musisi yang sebenarnya tahu apa yang mereka lakukan. Marco Zorich bukan gitaris yang hanya mengandalkan tiga chord dan volume. Ada kecenderungan memasukkan lick, perubahan tekstur, permainan tremolo dan frase yang terasa lebih luas daripada vocabulary hardcore konvensional. Dave Merrick justru menjadi salah satu elemen yang membuat kekacauan ini tidak sepenuhnya ambruk. Bassnya bukan sekadar bayangan gitar. Ia bekerja sebagai semacam rel kereta api yang menjaga kereta sinting ini tetap berada di jalurnya. Ini penting karena " Before...and After " sering terdengar seperti rekaman yang sengaja ingin menghancurkan struktur, padahal struktur tersebut sebenarnya tetap ada. Ia hanya disamarkan oleh pergantian mood, tempo, joke, interupsi dan suara-suara yang tampaknya muncul dari seseorang yang baru saja menelan satu tong bir dan menonton terlalu banyak kartun. Di sini Spazztic Blurr memperlihatkan filosofi mereka secara paling telanjang. " ABC's " bukan sebuah lagu yang perlu dianalisis seperti komposisi prog-metal. Ia adalah interupsi. Sebuah ejekan terhadap keseriusan album ekstrem dan justru karena sangat singkat, ia bekerja. Metal ekstrem sering memiliki penyakit yang sama dengan bioskop blockbuster: semuanya harus terasa penting. Spazztic Blurr menolak itu. Mereka memahami bahwa satu potongan absurd berdurasi beberapa puluh detik dapat mengacaukan persepsi pendengar terhadap keseluruhan album lebih efektif daripada sepuluh menit solo gitar.

" Spazztic Puke " adalah salah satu contoh bagaimana band ini memakai kecepatan sebagai estetika, bukan sekadar kompetisi. Gitar bergerak cepat, drum menghantam dengan kasar, vokal Tito Matos terdengar seperti seseorang yang sedang berusaha menyelesaikan seluruh lirik sebelum lagu selesai. Tetapi jangan salah memahami kekacauan ini sebagai ketidakmampuan. Ada perbedaan besar antara musik yang buruk karena pemainnya tidak mampu dan musik yang sengaja dibuat kacau untuk menghasilkan efek tertentu. Spazztic Blurr berada di wilayah kedua meskipun sesekali memang berjalan terlalu jauh sampai batas antara " Chaotic " dan " Berantakan " menjadi sangat tipis dan di sinilah kritik paling sah terhadap " Before...and After " muncul. Tidak setiap kekacauan menghasilkan sesuatu. Kadang ia hanya menghasilkan kekacauan. " Fuck Yeah " adalah salah satu momen ketika keahlian instrumental mereka lebih mudah terlihat. Riff bekerja lebih tajam. Tempo menjadi mesin pendorong. Ada rasa crossover yang jelas, tetapi tidak pernah sepenuhnya menyerah kepada template thrash metal. Marco Zorich bermain seperti gitaris yang tidak mau menerima bahwa gitar hanya boleh menghasilkan satu jenis emosi. Ia bisa agresif, melodis, absurd, bahkan terasa seperti sedang meminjam bahasa surf rock. Dan itu bukan kebetulan. " Before...and After " memang terus mengingatkan bahwa para pemainnya mempunyai referensi yang jauh lebih luas daripada metal. Salah satu kesalahan terbesar ketika membahas Spazztic Blurr adalah menganggap mereka hanya mesin komedi. " Bouge Jonzin " menunjukkan sisi berbeda. Ada ruang. Ada groove. Ada kesempatan bagi materi untuk bernapas dan justru pada bagian seperti ini kita bisa melihat bahwa kemampuan mereka tidak sepenuhnya bergantung pada kecepatan. F.O.A.D. menggambarkan permainan era klasik Spazztic Blurr sebagai kombinasi kecepatan ekstrem dengan permainan instrumental yang terampil. Itulah bagian yang sering hilang ketika album ini hanya dibicarakan sebagai " Funny metal ". Humornya memang penting. Tetapi musikalitasnya adalah alasan lelucon itu bisa berdiri.

" Call in Sick " memiliki energi yang terasa sangat dekat dengan akar hardcore. Namun tempo membuatnya berbeda. Eric French memainkan drum bukan sebagai penghias ritme, melainkan sebagai mesin yang terus menekan lagu ke depan. Pada Bedrock Blurr, ia sudah memainkan materi yang secara historis terdengar sangat cepat untuk 1986; katalog Metal Archives mencatat demo tersebut direkam pada tahun itu dan berisi sembilan lagu dengan durasi total sekitar 20 menit. Karena itu, menyebut Eric hanya sebagai “drummer band lucu” adalah penghinaan terhadap bagian paling serius dari proyek ini. Ironisnya, orang paling serius di album ini mungkin justru orang yang memukul drum seolah-olah sedang berusaha menghancurkan studio. Ketika " Bedrock Blurr " muncul di album, kita mendapatkan semacam kilas balik terhadap DNA band. Versi ini penting karena lagu tersebut berasal dari demo 1986 yang menjadi fondasi awal Spazztic Blurr. Tracklist demo itu memperlihatkan betapa awal mereka sudah mencampurkan kecepatan ekstrem dengan parodi dan eksplorasi gaya: " ABC's ", " Wipe Out ", " Call in Sick " hingga " Mexacalli ". Dari perspektif sejarah, ini jauh lebih menarik daripada sekadar bonus nostalgia. " Bedrock Blurr " membuktikan bahwa konsep Spazztic Blurr bukan sesuatu yang ditemukan Earache kemudian. Earache hanya memberikan wadah yang lebih besar kepada kegilaan yang sudah ada. Di tengah semua kecepatan, humor dan kebisingan, " He-Not-a-Home " terasa seperti sebuah penyimpangan yang disengaja. Tempo memberikan ruang. Gitar terdengar lebih terbuka. Vokal tidak harus terus-menerus menjerit dan tiba-tiba kita sadar bahwa band ini sebenarnya bisa membuat lagu yang lebih mudah dicerna kalau mereka mau. Mereka tidak mau. Itulah inti masalahnya. Spazztic Blurr tidak sedang mencari formula. Mereka sedang mencari batas dan setelah batas ditemukan, mereka menendangnya sampai jebol. Ada alasan mengapa track seperti ini tetap relevan dalam konteks album. Ia hampir seperti tanda baca. Satu detik, Selesai. Tidak ada kewajiban menjadi " lagu " dan sekali lagi, Spazztic Blurr memperlihatkan bahwa mereka memahami sesuatu yang sering dilupakan musisi: durasi bukan ukuran nilai artistik.

" Let There Be Blurr " terdengar seperti pernyataan manifesto yang sengaja dibuat bodoh. Namun riff-nya tetap mempunyai tenaga. Di sini kemampuan Marco dan Dave menjadi penting. Gitar dan bass tidak berjalan sebagai dua instrumen yang terpisah, melainkan sebagai pasangan yang memungkinkan lagu bergerak cepat tanpa kehilangan fondasi dan itu salah satu kunci album. Kekacauan membutuhkan disiplin. Tanpa disiplin, ia hanya noise. Spazztic Blurr terkadang memang jatuh ke dalam noise, tetapi pada momen terbaiknya mereka menunjukkan bahwa chaos yang bagus harus dirancang. " ACE " terasa seperti surat cinta yang ditulis menggunakan spidol permanen oleh orang mabuk kepada Ace Frehley. Tetapi referensi rock klasik seperti ini penting. Spazztic Blurr tidak hanya menertawakan metal. Mereka menertawakan seluruh kultur rock: pose, ikon, gaya hidup, mitologi superstar dan kebutuhan musisi untuk terlihat keren dan karena mereka sendiri adalah pemain yang sangat terampil, lelucon tersebut menjadi lebih tajam. Mereka mampu memainkan permainan rock-star. Mereka hanya memilih untuk menginjak papan permainannya. Judulnya saja sudah merupakan provokasi. " Def Metal " terdengar seperti ejekan terhadap kebutuhan scene untuk menentukan apa yang metal dan apa yang bukan. Apakah ini thrash? Grindcore? Hardcore? Crossover? Surf metal? Comedy rock? Jawabannya: semuanya sekaligus, dan tidak satu pun. w mencatat album ini sebagai full-length Earache dengan 14 lagu, tetapi klasifikasi genre di sekitar rilisan ini memang selalu menjadi wilayah yang tidak nyaman dan itu justru kekuatannya. Genre adalah peta. Spazztic Blurr memilih membakarnya. Kemudian datang " Mexicalli ". Hampir tujuh menit. Dalam album yang sebagian besar bergerak seperti granat yang dilempar ke ruangan sempit, durasi ini terasa seperti lelucon besar. Namun justru di sinilah album menemukan salah satu bentuk terbaiknya. Tracklist resmi mencatat " Mexicalli " sebagai lagu terpanjang di album, 6:55 dan keputusan menutup album dengan lagu seperti ini sangat tepat. Bukan karena paling brutal. Justru karena paling tidak peduli terhadap ekspektasi.

Kritik terhadap vokal Spazztic Blurr sebenarnya valid. Vokal Tito Matos tidak selalu memiliki kedalaman atau artikulasi yang membuat lirik mudah ditangkap. Dalam materi secepat ini, suara gitar, bass dan drum dapat dengan mudah menelannya. Tetapi menilai vokalnya dengan standar death metal atau thrash tradisional juga keliru. Tito tidak sedang mencoba menjadi penyanyi virtuoso. Ia adalah aktor utama dalam komedi musikal ini. Vokalnya harus terdengar seperti seseorang yang ikut terseret ke dalam kekacauan. Karena itu, kekurangannya sekaligus menjadi bagian dari identitasnya. Di sinilah album menjadi jauh lebih serius daripada yang ingin diakui oleh bandnya sendiri. Eric French adalah salah satu elemen yang membuat Spazztic Blurr layak ditempatkan dalam pembicaraan sejarah ekstremitas musik 1980-an. Bedrock Blurr berasal dari 1986, dan dokumentasi katalog menunjukkan bagaimana materi tersebut sudah bermain dengan tempo yang luar biasa untuk zamannya. Kemudian sejarah grindcore berkembang. Napalm Death mengeluarkan " Scum ". Earache membangun katalog ekstremnya. Dan ketika kompilasi Grindcrusher berkembang menjadi The Ultimate Earache, Spazztic Blurr masuk bersama nama-nama seperti Morbid Angel, Repulsion, Carcass, Terrorizer, Entombed, Napalm Death, Bolt Thrower, Lawnmower Deth, O.L.D. dan lainnya melalui " He-Not-A-Home ". Itu menempatkan Spazztic Blurr dalam konteks yang menarik: mereka berada di lingkungan ekstrem yang sama, tetapi tidak benar-benar berbicara dengan bahasa yang sama. Ini mungkin aspek paling menarik dari " Before...and After ". Earache pada era tersebut identik dengan ekstremitas. Tetapi ekstremitas memiliki banyak wajah. Ada grindcore, Ada death metal, Ada industrial, Ada hardcore yang semakin brutal dan kemudian ada Spazztic Blurr. Mereka seperti badut yang masuk ke pemakaman, kemudian memainkan jazz sambil menyalakan chainsaw. F.O.A.D. sendiri kemudian mengaitkan Spazztic Blurr dengan gelombang thrashcore West Coast dan menyandingkan mereka dalam konteks historis dengan Wehrmacht, Cryptic Slaughter serta nama-nama Earache-era seperti Unseen Terror, Intense Degree, Lawnmower Deth, O.L.D., Heresy dan Concrete Sox. Mereka bukan sekadar produk Earache. Mereka adalah anomali di dalam katalog Earache dan anomali biasanya lebih sulit dilupakan daripada produk yang sempurna mengikuti sistem.

Sekarang bagian yang tidak menyenangkan. " Before...and After " bukan album sempurna. Bahkan jauh dari itu. Ada bagian ketika kekacauan terdengar seperti keputusan artistik. Tetapi ada pula bagian ketika kekacauan terdengar seperti empat orang terlalu menikmati lelucon internal mereka sendiri. Beberapa transisi terasa lebih seperti sketsa daripada komposisi. Beberapa riff selesai sebelum sempat berkembang. Beberapa bagian eksperimental terasa cerdas pada pendengaran pertama, tetapi kehilangan daya setelah pengulangan. Dan inilah paradoks album ini: Spazztic Blurr terlalu berbakat untuk disebut sekadar berantakan, tetapi terlalu mabuk oleh gagasan mereka sendiri untuk selalu terdengar terkontrol. Itulah sebabnya album ini bisa terdengar brilian pada hari Senin dan menyebalkan pada hari Selasa. Bukan karena pendengarnya berubah. Karena album ini memang dibangun untuk menciptakan hubungan cinta-benci. Pada akhirnya, " Before...and After " tidak perlu dibela sebagai " Masterpiece " hanya karena ia cult. Cult status tidak otomatis menghapus kelemahan. Sebaliknya, album ini juga tidak pantas direduksi menjadi kumpulan lelucon murahan dengan soundtrack berisik. Ada kemampuan instrumental nyata di sini. Ada keberanian komposisional. Ada pemahaman terhadap crossover. Ada kecepatan yang secara historis menarik. Ada kemampuan menggabungkan surf, hardcore, thrash, grind, funk, jazz, rock klasik, sketsa komedi dan bahkan materi bergaya lagu anak-anak ke dalam satu benda yang secara ajaib masih bisa disebut album dan yang terpenting, ada kepribadian. Dalam dunia musik ekstrem yang kemudian dipenuhi band-band berlomba terdengar lebih gelap, lebih brutal, lebih cepat dan lebih " Serius ", Spazztic Blurr justru mengambil jalan yang berlawanan: mereka menjadi lebih gila. Itu bukan kelemahan. Itu adalah manifesto. " Before...and After " terdengar seperti musik yang dibuat oleh orang-orang yang memahami teknik tetapi menolak menyembah teknik. Mereka bisa bermain cepat, tetapi tidak ingin kecepatan menjadi agama. Mereka bisa menulis riff, tetapi tidak ingin riff menjadi aturan. Mereka bisa berada di lingkungan Earache, tetapi tidak mau terdengar seperti produk Earache dan mungkin di situlah letak keabadian album ini. Bukan karena semua lagunya bagus. Bukan karena semua leluconnya lucu. Bukan karena semua eksperimennya berhasil. Tetapi karena setelah puluhan tahun, masih ada momen ketika pendengar berhenti dan berpikir: " Apa-apaan yang baru saja saya dengar? " Dalam sejarah musik ekstrem, respons semacam itu jauh lebih berharga daripada sekadar terdengar keras. Karena kebisingan bisa ditiru. Kecepatan bisa dipelajari. Distorsi bisa dibeli. Tetapi kepribadian tidak bisa diproduksi massal. Spazztic Blurr punya itu dalam jumlah yang nyaris tidak sehat dan " Before...and After " adalah bukti bahwa terkadang album paling serius adalah album yang sama sekali tidak peduli untuk terlihat serius. If you're serious, you lose.

0 Comments:

Posting Komentar

Tinggalkan komentar TERBAIK kalian disini, enjoy the sickness !

Designed by lostinchaos mediazine