Beheaded - Resurgence of Oblivion
Mighty Music EP 2000
01. Transmutation of Veracity 03:54
02. Extortion of Benevolence 04:54
03. Resurgence of Oblivion 05:19
04. Paramnesic Dream 04:29
05. Suffer Some More 02:44
Lawrence Joyce - Vocals
Omar Grech - Guitars
David Bugeja - Guitars
David Cachia - Bass, Vocals
Chris Brincat - Drums
Ada sesuatu yang ironis dari " Resurgence of Oblivion ". Beheaded datang dari Malta, sebuah pulau yang secara geografis tidak pernah menjadi pusat peta death metal dunia tetapi pada pergantian milenium mereka sudah mampu menghasilkan suara yang cukup brutal untuk berdiri di antara gerombolan Amerika dan Eropa yang berlomba membuat gitar terdengar seperti mesin pemotong tulang dan secara teknis, mereka memang tidak main-main. Masalahnya bukan seberapa brutal Beheaded terdengar. Masalahnya adalah berapa banyak dari kebrutalan itu yang masih tersisa setelah musik berhenti. EP ini awalnya direkam sebagai materi promo pada 1999, kemudian dirilis Mighty Music pada 4 Desember 2000. Lima lagu, 21 menit lebih sedikit: " Transmutation of Veracity ", " Extortion of Benevolence ", " Resurgence of Oblivion ", " Paramnesic Dream " dan " Suffer Some More ". Line-up-nya terdiri dari Lawrence Joyce, David Bugeja, Omar Grech, David Cachia dan Chris Brincat. Rekaman dan mixing berlangsung di Temple Studios, Malta, dengan David Vella sebagai engineer/producer dan Beheaded sebagai co-producer. Singkatnya: lima lagu, lima kali pukul kepala, lalu selesai. Tetapi death metal tidak dinilai berdasarkan jumlah kepala yang berhasil dihantam. Dibanding " Perpetual Mockery ", ada peningkatan nyata pada produksi. Riff Gitar lebih presisi. Distorsi memiliki definisi lebih tajam. Bass jauh lebih terdengar dan tidak sekadar menjadi suara hantu di belakang gitar. Drum Chris Brincat terdengar besar, cepat dan cukup dominan. Secara sonik, Beheaded menjadi lebih kuat. Secara komposisional, mereka justru menjadi lebih aman dan di sinilah paradoks album ini mulai bekerja.
" Perpetual Mockery " memiliki sedikit lebih banyak atmosfer dan ketidakteraturan yang membuat identitasnya terasa lebih manusiawi. " Resurgence of Oblivion " memilih jalur yang lebih brutal, lebih teknis, lebih rapat tetapi juga lebih dekat dengan cetakan brutal death metal internasional yang sedang berkembang saat itu. Autothrall kemudian menilai EP ini jauh lebih " Paint-by-numbers " dibanding debutnya dan menganggap songwriting-nya memiliki kemiripan estetika dengan jalur yang ditempuh band-band seperti Disgorge, Mortal Decay dan Deeds of Flesh. Itu kritik yang sulit dibantah. Beheaded mulai terdengar seperti Beheaded yang sedang bermain dalam genre, bukan selalu Beheaded yang sedang menciptakan dunianya sendiri. Pembuka ini tidak tertarik memperkenalkan siapa pun. Ia langsung menyerang. Brincat melepaskan blast beat dengan konsistensi yang membuat drummer biasa terlihat seperti sedang menunggu lampu hijau. Gitar Bugeja dan Grech mengisi ruang dengan tremolo, muted picking, harmonisasi tajam dan riff yang bergerak cepat. Secara teknik, semuanya bekerja. Namun terlalu banyak bagian terasa seperti variasi dari kalimat yang sama. Blast. Riff. Stop. Blast. Harmony. Chug. Blast lagi. Tidak buruk. Justru sangat kompeten dan itulah masalahnya. Kompetensi adalah standar minimum, bukan alasan untuk mengingat sebuah album dua puluh tahun kemudian. Track kedua memperlihatkan kecenderungan Beheaded untuk memperpadat notasi tanpa selalu memperkaya struktur. Ada lebih banyak perubahan picking. Lebih banyak aksentuasi. Lebih banyak harmonisasi. Lebih banyak pukulan. Tetapi penambahan elemen tidak otomatis menghasilkan kedalaman. Beberapa riff terdengar seperti mencoba melarikan diri dari riff sebelumnya hanya untuk masuk ke riff berikutnya yang memiliki bentuk hampir sama. Ini adalah penyakit klasik brutal death metal awal 2000-an: semua orang belajar bagaimana menjadi lebih ekstrem, tetapi tidak semua orang belajar bagaimana menjadi lebih menarik. Beheaded setidaknya memiliki kualitas permainan yang cukup tinggi sehingga lagu tidak jatuh menjadi sekadar Suffocation worship murahan. Namun bayangan genre terlalu panjang di belakang mereka.
Titel track adalah bagian yang paling mudah dijadikan argumen bagi mereka yang menganggap EP ini sebagai peningkatan besar. Strukturnya lebih terasa. Riff memiliki bobot. Drum dan gitar terkunci dengan sangat rapat. David Bugeja dan Omar Grech memperlihatkan bahwa mereka bukan sekadar dua gitaris yang berlomba memainkan nada paling banyak. Ada harmonisasi, pergantian picking dan lead yang menyelip di antara struktur rhythm section. Sumber underground sezamannya bahkan menganggap lagu ini sebagai salah satu karya terbaik Beheaded dan menekankan kualitas teknik serta produksi EP secara keseluruhan. Namun mendengarkan ulang dengan telinga yang lebih dingin memperlihatkan persoalan lain. Lagu ini lebih impresif daripada memorable. kalian akan mengagumi bagaimana ia dimainkan. Belum tentu kalian mampu bersenandung mengingat riff-nya setelah CD berhenti dan itu dua hal yang sangat berbeda. " Paramnesic Dream " justru memiliki kualitas yang sesuai dengan judulnya. Paramnesia berkaitan dengan distorsi atau kekeliruan ingatan dan musiknya mengalami problem yang sama. Saat dimainkan, semuanya terasa ada, Tetapi beberapa menit kemudian, memori tentang lagunya menguap. Yang tersisa hanya kesan: " Tadi brutal. " Itulah pujian paling malas dalam death metal dan sekaligus yang paling tidak berguna. Karena jika satu-satunya kesimpulan setelah mendengarkan sebuah album adalah " Brutal banget ", maka sebuah mesin penghancur juga memenuhi kriteria tersebut. Track terakhir pendek 2:44 dan menjalankan tugasnya tanpa drama. Ia tidak mencoba menjadi epik. Tidak ada klimaks palsu. Tidak ada outro sentimental. Hanya penghancuran yang selesai ketika waktunya habis dan secara durasi, keputusan ini tepat. 21 menit adalah panjang yang ideal untuk musik seperti ini. Lebih panjang dan repetisinya mungkin akan mulai terlihat seperti cacat. Lebih pendek dan EP ini mungkin terasa seperti demo. Beheaded memilih ukuran yang tepat. Sayangnya, ukuran bukan substansi.
Drum adalah salah satu kekuatan terbesar " Resurgence of Oblivion ". Chris Brincat bermain cepat dan presisi, tetapi yang lebih penting adalah konsistensinya. Ia tidak sekadar menggunakan blast beat sebagai senjata universal. Pola-pola pukulannya memiliki variasi yang membuat rhythm section tetap hidup meskipun gitar terus menumpuk riff. Ini penting karena brutal death metal sering jatuh ke lubang yang sama: drummer dipaksa memainkan satu pola sampai musik kehilangan denyut manusia. Brincat menghindari jebakan tersebut. Arsip personel menunjukkan ia berada di belakang drum Beheaded sejak era demo " Souldead ", kemudian terus bermain pada " Perpetual Mockery ", " Resurgence of Oblivion ", " Recounts of Disembodiment " dan seterusnya. Jadi ini bukan drummer yang kebetulan cepat. Ia adalah bagian dari identitas awal Beheaded. Bugeja dan Grech melakukan pekerjaan yang secara teknis sulit dikritik. Riffing mereka lebih surgical dibanding debut. Ada lightning-fast picking, muted sequences, harmonisasi yang lebih tebal dan lead yang bergerak liar di atas rhythm section. Jejak Slayer dan Pestilence juga terasa dalam pendekatan lead-nya bukan sebagai kutipan langsung, tetapi sebagai bagian dari bahasa death/thrash yang telah diserap lalu dipercepat sampai hampir kehilangan oksigen. Masalahnya: semakin presisi mereka bermain, semakin seragam bentuk beberapa lagu terdengar. Kalian bisa menghitung peningkatan teknisnya. Lebih sulit menghitung peningkatan kepribadiannya. Bass pada " Resurgence of Oblivion " mendapat perlakuan jauh lebih baik daripada debut. Dalam BDM, bass sering diperlakukan seperti warga kelas dua yang hanya dibutuhkan untuk mengisi lubang frekuensi. Di sini ia memiliki tubuh. Tidak selalu menonjol. Tetapi cukup terdengar untuk memberikan dimensi tambahan.
Lawrence Joyce masuk dengan guttural yang dalam dan staccato. Secara teknis cocok. Secara karakter, kurang menggigit. Vokalnya bekerja seperti pasangan alami kick drum: pendek, rendah, teratur, menghantam tepat di antara pukulan gitar. Tetapi justru karena terlalu menyatu dengan rhythm section, ia kehilangan kualitas personal. Dibanding vokalis sebelumnya, Joyce terdengar kurang karismatik dan lebih monoton kritik yang juga muncul dalam evaluasi retrospektif terhadap EP ini. Namun sulit sepenuhnya menyalahkan Joyce. Awal 2000-an sedang dipenuhi band yang mengejar vokal serendah mungkin, seolah kedalaman suara otomatis sama dengan kedalaman musik. Karakter adalah perkara lain. Ini mungkin perubahan terbesar dari debut. Gitar lebih tajam. Drum lebih muscular. Bass lebih hadir. Keseluruhan mix lebih presisi. Bahkan sumber lain yang sangat positif terhadap EP ini memuji kualitas sound dan delivery-nya, sementara ulasan sezaman menempatkannya dalam garis brutal death metal yang berdekatan dengan Suffocation, Fleshcrawl dan Vomit Remnants. Tetapi produksi yang lebih baik tidak selalu menghasilkan pengalaman yang lebih baik. " Perpetual Mockery " memiliki kekasaran yang membuat musik terasa lebih berbahaya. " Resurgence of Oblivion " lebih jelas. Lebih bersih, Lebih profesional. Namun sedikit kehilangan debu kuburan yang membuat death metal terasa seperti death metal. Ia mulai terdengar seperti produk dari genre brutal death metal, bukan suara lima orang yang sedang berusaha menghancurkan dunia dari sebuah pulau kecil di Mediterania.
Ini bukan album buruk. Jauh dari itu dan ada sumber yang bahkan menilainya sebagai karya yang sangat kuat, dengan penekanan pada teknik, kecepatan, produksi dan kualitas lima lagunya. Tetapi review yang hanya berkata " Sangat brutal " sebenarnya tidak melakukan pekerjaan review. Karena brutalitas adalah bahasa. Pertanyaannya adalah apa yang dikatakan dengan bahasa tersebut. Di " Resurgence of Oblivion ", Beheaded berbicara terlalu banyak tentang kemampuan mereka sendiri. Mereka menunjukkan bahwa: mereka bisa bermain cepat, bisa bermain rumit, bisa membuat riff berat, bisa membuat blast beat, bisa menghasilkan tone lebih bagus, bisa memainkan lead. Semua benar. Tetapi album ini terlalu jarang berhenti dan berkata: " Ini sound kami. " dan itulah yang membuatnya tertinggal dari potensi yang diperlihatkan Perpetual Mockery. Yang menarik, sejarah berikutnya menunjukkan bahwa Beheaded kemudian berkembang. " Recounts of Disembodiment " pada 2002 mendapat respons yang jauh lebih positif dari beberapa media, dengan penilaian bahwa band mulai keluar dari kerataan struktural " Resurgence of Oblivion " dan mengembalikan sebagian karakter melodis dari debut. Itu membuat EP ini terasa seperti dokumen transisi. Bukan puncak, Bukan kegagalan, Sebuah tahap. Mereka sedang membuang kulit lama. Sayangnya, sebelum menemukan bentuk baru, mereka sempat terdengar seperti puluhan band lain yang sedang berusaha membuat death metal semakin brutal.
" Resurgence of Oblivion " adalah lima lagu yang dimainkan dengan kemampuan tinggi tetapi tidak selalu ditulis dengan kepribadian yang sama kuatnya. Produksinya meningkat. Permainan gitar lebih kompleks. Bass lebih hidup. Drum Chris Brincat tetap menjadi mesin penghancur. Lawrence Joyce membawa guttural yang sesuai dengan estetika zaman. Tetapi songwriting terlalu sering tunduk kepada formula dan formula brutal death metal pada tahun 2000 adalah lubang hitam: semakin banyak band masuk ke dalamnya, semakin sulit membedakan satu mayat dengan mayat lainnya. Beheaded tidak tenggelam sepenuhnya. Mereka terlalu bagus untuk itu. Tetapi mereka juga belum sepenuhnya muncul sebagai identitas yang tak terbantahkan. " Resurgence of Oblivion " adalah album yang tahu bagaimana menghantam wajah, tetapi belum selalu tahu bagaimana meninggalkan luka dan dalam death metal, luka yang hilang setelah 21 menit bukanlah luka. Itu cuma memar. Kesimpulan editorial: sebuah lompatan produksi dan teknik yang justru sedikit kehilangan atmosfer dan kepribadian debut; brutalitasnya tidak pernah dipertanyakan, tetapi memorabilitasnya masih harus diperjuangkan.
Home
[Brutal Death Metal]
[CLASSIX MOST WANTED]
* Beheaded
#Malta
★ Classic Release Academy ★
2000
Mighty Music
Beheaded - Resurgence of Oblivion EP 2000
Beheaded - Resurgence of Oblivion EP 2000
Written by REVIEW LOSTINCHAOS September 27, 2026 0
Langganan:
Posting Komentar
(
Atom
)


0 Comments:
Posting Komentar
Tinggalkan komentar TERBAIK kalian disini, enjoy the sickness !