Baphomet - The Dead Shall Inherit CD 1992

Baphomet - The Dead Shall Inherit
Peaceville Records CD 1992

01. The Suffering 05:01       
02. Through Deviant Eyes 04:01      
03. Leave the Flesh 03:00       
04. Valley of the Dead 04:19      
05. Torn Soul 03:10     
06. Vile Reminiscence 03:00      
07. Boiled in Blood 04:29     
08. Age of Plague 03:31       
09. Infection of Death 03:23     
10. Streaks of Blood 04:37


Tom Frost - Vocals
Dave Craiglow - Guitars
Gary Schipani - Bass
Rick Breier - Drums 

 
Ketika death metal Amerika awal ’90-an meledak, New York memiliki cukup banyak monster untuk membuat peta geografis genre ini terlihat seperti daftar TKP: Suffocation, Immolation, Incantation dan sederet nama lain yang kemudian memperoleh tempat permanen dalam sejarah. Di tengah kerumunan tersebut, Baphomet muncul dari Buffalo pada akhir ’80-an dengan pendekatan yang tidak jauh dari bahasa brutal death metal Amerika, tetapi memiliki cukup banyak penyimpangan kecil untuk membuat " The Dead Shall Inherit " (1992) terdengar lebih berkarakter daripada reputasinya yang sering dianggap sekadar kultus bawah tanah dan mungkin memang itulah kutukannya. Baphomet tidak cukup berbeda untuk menjadi revolusioner, tetapi terlalu bagus untuk dianggap sekadar pengikut. " The Dead Shall Inherit " adalah death metal yang memahami bahwa kekejaman tidak selalu membutuhkan kecepatan; terkadang riff paling efektif justru adalah riff yang menyeret tubuhmu ke lantai. Salah satu detail menarik dari album ini adalah komposisinya. Dari materi test pressing, hanya empat lagu yang dipertahankan, sementara enam komposisi baru masuk ke album penuh. Keputusan tersebut penting karena memperlihatkan bahwa Baphomet tidak sekadar mendokumentasikan masa lalu mereka. Mereka sedang mencoba bergerak. " Tormented Soul " yang sebelumnya muncul pada EP 1990 sudah memiliki fondasi kuat: riff agresif dengan aksen thrash yang membuat struktur bergerak cepat tanpa kehilangan bobot. " Boiled in Blood " dan " Infection of Death ", yang telah muncul pada materi live/EP awal, membawa energi lama tersebut ke album. Namun enam lagu baru justru memperlihatkan band yang mulai menemukan bentuknya sendiri dan di situlah album ini menjadi menarik.

" The Suffering " tidak langsung melempar pendengar ke blastbeat. Ia membuka dengan atmosfer yang menyeramkan, lalu perlahan membangun tegangan sebelum riff utama menerjang. Keputusan ini sederhana tetapi efektif. Intro berfungsi sebagai ruang tunggu sebelum kekerasan, bukan sekadar efek horor yang ditempelkan demi kosmetik. Begitu gitar masuk, struktur lagu bergerak antara riff cepat dan bagian yang lebih berat, menciptakan kontras yang membuat tempo terasa lebih brutal daripada jika seluruh lagu dimainkan dengan kecepatan maksimum. Riff cepat memberikan momentum. Bagian lambat memberikan bobot dan keduanya saling membutuhkan. Inilah salah satu kekuatan utama Baphomet: mereka mengerti bahwa perubahan tempo bukan sekadar dekorasi teknis. Ia adalah alat dramaturgi. Sebagai materi lama, " Torn Soul " menarik karena memperlihatkan DNA Baphomet sebelum album penuh. Strukturnya relatif langsung, tetapi riff memiliki pukulan yang segera dikenali. Gitar bergerak dari pola thrashy menuju groove yang lebih berat, lalu kembali mempercepat tekanan. Tidak ada keinginan untuk memamerkan kompleksitas. Yang dikejar adalah daya hantam dan justru karena itu lagu ini tidak terasa seperti sisa demo yang dipaksakan masuk ke album. Ia masih mampu berdiri di antara materi baru. Jika harus menunjuk salah satu komposisi yang menunjukkan perkembangan band, " Through Deviant Eyes " adalah kandidat kuat. Lagu ini dibangun dari mid-tempo yang terasa seperti pukulan berulang ke tulang rusuk. Kemudian Baphomet mengubah perspektifnya melalui ledakan tempo yang lebih cepat. Tetapi bagian terbaik datang sekitar pertengahan lagu. Setelah akselerasi tersebut, mereka menjatuhkan tempo ke riff lambat yang jauh lebih berat, sementara vokal dibagi ke kedua kanal sehingga terdengar seperti suara yang datang dari dua arah. Ini bukan sekadar " Breakdown ". Ini perubahan gravitasi. Seluruh tubuh lagu tiba-tiba menjadi lebih berat dan di sini Baphomet menunjukkan sesuatu yang sering hilang dari death metal yang terlalu sibuk mengejar kecepatan: kesabaran.

Pengaruh Suffocation memang sulit disangkal di sini. Riff bekerja melalui sinkopasi, hentakan ritmis, dan pergantian antara ledakan cepat dengan groove berat. Tetapi menyebutnya hanya sebagai tiruan Suffocation berarti melewatkan cara Baphomet menyusun bagian-bagiannya. Mereka tidak terus menerus memecah lagu menjadi demonstrasi teknis. Riff tetap menjadi pusat. Drum mengikuti gitar tanpa mengubur struktur dan vokal Tom Frost menjadi lem yang menyatukan semuanya. " Leave the Flesh " memang bisa membuat leher bekerja lembur, tetapi kekuatannya bukan sekadar kemampuan membuat kepala bergerak. Ia punya arsitektur. Materi lama seperti " Boiled in Blood " membawa sisi Baphomet yang lebih langsung. Riff tidak banyak bernegosiasi. Drum bergerak agresif, gitar mengandalkan pola yang mudah ditangkap, dan Frost mengisi ruang dengan vokal kasar yang tidak terdengar seperti salinan sempurna dari growler lain. Di sinilah peran vokalnya menjadi penting. Frost tidak memiliki vokal " Monster " yang sekadar rendah. Suaranya memiliki tekstur kasar, seperti tenggorokan yang sudah rusak tetapi masih dipaksa mengeluarkan ancaman. Ia tidak hanya mengisi lagu. Ia memberikan wajah kepada Baphomet. Kemudian datang " Streaks of Blood " dan tiba-tiba Baphomet melakukan sesuatu yang tidak terlalu lazim dalam death metal brutal mereka: keyboard dan bass menciptakan atmosfer horor. Ini penting. Karena tanpa momen semacam ini, " The Dead Shall Inherit " berisiko terlalu dekat dengan formula brutal death metal Amerika pada zamannya. Keyboard tersebut tidak mengubah Baphomet menjadi gothic metal. Tidak pula dipakai untuk menciptakan kemegahan murahan. Fungsinya lebih sederhana: memberi warna pada ruang kosong. Bass memperkuat atmosfer tersebut, dan justru di sini terdengar salah satu kualitas terbaik album: Gary Schipani tidak diperlakukan seperti bayangan gitar. Bass-nya benar-benar terdengar. Kadang ia mengikuti fondasi gitar, kadang menciptakan jalurnya sendiri, dan pada beberapa bagian justru menjadi elemen yang membuat musik terasa lebih dalam. Dalam produksi death metal awal ’90-an, itu bukan hal sepele.

" Infection of Death " kembali membawa materi lama dengan pendekatan yang lebih ganas. Strukturnya bekerja melalui akselerasi dan riff yang relatif pendek, membuat lagu terasa seperti mesin yang tidak memiliki rem. Tetapi Baphomet tidak terjebak dalam blastbeat terus-menerus. Mereka tetap memberikan ruang bagi groove. Perubahan tersebut menjaga lagu dari penyakit yang sering menimpa death metal cepat: semuanya terdengar cepat, sehingga pada akhirnya tidak ada yang terasa cepat. Kontras adalah senjata. Baphomet cukup pintar untuk menggunakannya. Lagu utama album bekerja paling efektif ketika Baphomet membiarkan riff memiliki ruang. Alih-alih mengisi seluruh durasi dengan perubahan, mereka membangun struktur melalui pengulangan riff yang diberi variasi ritmis. Ini membuat lagu terasa besar tanpa perlu menjadi rumit dan itu sebenarnya merupakan filosofi tersembunyi album ini: ulang riff yang tepat, ubah tekanan, lalu biarkan pendengar merasakan perbedaannya. Tidak perlu tujuh belas modulasi. Tidak perlu gitar yang berlari tanpa tujuan. Death metal bukan ujian masuk konservatorium. Jika gitar Dave Craiglow memberikan kerangka, Rick Breier memberikan otot, dan Gary Schipani memberikan kedalaman, maka Tom Frost memberikan wajah. Vokalnya kasar, dalam, tetapi tidak kehilangan tekstur. Ini penting karena death metal awal ’90-an mulai dibanjiri vokalis yang berlomba terdengar serendah mungkin. Hasilnya sering kali adalah suara yang secara teknis brutal tetapi secara karakter identik. Frost berbeda. Ia terdengar sakit. Bukan sekadar rendah dan ketika pola vokalnya ditempatkan di atas riff yang berubah tempo, ia menjadi instrumen ritmis tersendiri. Beberapa frase mengikuti groove, beberapa justru melawan aksen gitar. Itulah mengapa vokalnya tetap mudah diingat meskipun musik Baphomet berdiri di tengah lautan death metal Amerika.

Ada satu ironi dalam rekaman ini. " The Dead Shall Inherit " memang terdengar brutal, tetapi produksinya tidak selalu memiliki kebusukan organik yang kita harapkan dari death metal bawah tanah. Ada sedikit kesan terlalu dipoles. Gitar memiliki bobot, tetapi tidak selalu sebuas yang seharusnya. Namun justru karena bass Schipani cukup terdengar, album mendapatkan dimensi yang sering hilang dari produksi death metal sejenis. Ini bukan produksi sempurna. Tetapi kekurangannya tidak menghancurkan materi dan ketika riff, drum, bass, dan vokal bertemu dengan tepat, album tetap memiliki kemampuan untuk terdengar seperti sesuatu yang tidak seharusnya berada di luar kuburan. Label seperti " Suffocation-style " memang mudah ditempelkan. Ada groove, Ada tempo ekstrem, Ada bagian lambat, Ada riff sinkopasi, Tetapi Baphomet memiliki beberapa detail yang membuat mereka tidak sepenuhnya tenggelam dalam bayangan scene New York. " Streaks of Blood " dengan atmosfer keyboard/bass-nya. Vokal Frost. Permainan bass Schipani. Cara mereka menggabungkan riff thrash dengan struktur mid-tempo dan terutama kemampuan untuk membuat bagian lambat terdengar seperti beban, bukan sekadar tempat drummer beristirahat. Itulah identitas Baphomet. Tidak cukup besar untuk disebut revolusi. Tetapi cukup khas untuk membuat " The Dead Shall Inherit " tidak layak diperlakukan sebagai footnote. Pada akhirnya, " The Dead Shall Inherit " bukan album yang mengubah wajah death metal Amerika. Tetapi siapa yang masih membutuhkan klaim sebesar itu? Album ini melakukan sesuatu yang jauh lebih sulit: ia bertahan. Tidak semua riff adalah mahakarya. Tidak semua transisi sempurna. Produksinya bisa lebih brutal. Beberapa struktur masih sangat terikat pada bahasa death metal awal ’90-an. Namun materi utamanya kuat.

Bahkan setelah tiga dekade, lagu-lagu seperti " The Suffering ", " Through Deviant Eyes ", " Leave the Flesh ", " Torn Soul ", dan " Streaks of Blood " masih memiliki alasan musikal untuk diputar kembali dan itulah ukuran sebenarnya sebuah rekaman. Bukan berapa banyak orang yang menyebutnya klasik. Bukan berapa mahal vinyl-nya sekarang. Bukan berapa banyak band generasi berikutnya mengaku terpengaruh. Tetapi apakah setelah puluhan tahun, ketika jarum menyentuh permukaan piringan hitam, riff-nya masih punya gigi. Baphomet punya. " The Dead Shall Inherit " mungkin pernah terlupakan ketika nama-nama yang lebih besar mengambil alih sejarah. Namun musik yang bagus memiliki kebiasaan buruk: ia menolak mati sesuai jadwal. Baphomet tidak menciptakan death metal baru. Mereka mengambil bentuk yang sudah ada, membuatnya lebih berat, memberinya beberapa sudut aneh, lalu membiarkannya membusuk dengan cukup anggun dan tiga puluh lebih tahun kemudian, baunya masih menyengat.

0 Comments:

Posting Komentar

Tinggalkan komentar TERBAIK kalian disini, enjoy the sickness !

Designed by lostinchaos mediazine