Deafness - Oppressing The Silence CD 1996

Deafness - Oppressing The Silence
Independent CD 1996

01. Sciomancy 04:15      
02. Demonic Perversity 04:34      
03. Stories of Pain 03:21      
04. Divine Suffering 04:07      
05. Inferno 04:04      
06. Dawning Chill of Winter 05:26      
07. Man's His Own God 03:11      
08. Outro 00:30


Benjamin Leclerc - Vocals
Marc Paquette - Guitars
Pascal Pauzé - Guitars
François Archambault - Bass
Martin Lefebvre - Drums 


Quebec, khususnya Montreal, kembali membuktikan bahwa musik ekstrem tidak membutuhkan kemasan trendi untuk terdengar meyakinkan. Deafness hadir dengan bekal BDM yang memahami fondasi genrenya: produksi yang bertenaga, permainan instrumen yang kompeten, dan intensitas yang tidak bergantung pada kebisingan semata. Melalui tujuh trek yang sebagian besar layak diputar berulang kali, mereka memperlihatkan potensi yang menjanjikan meski bayang-bayang monotonitas sesekali mengintip ketika tempo terlalu lama dipacu tanpa perubahan berarti. Secara musikal, Deafness berdiri di atas fondasi yang familier, dengan pengaruh Morbid Angel dan Suffocation sebagai referensi utama. Ada pendekatan riff yang agresif, permainan yang menuntut presisi, serta atmosfer gelap yang menempatkan kebrutalan sebagai inti komposisi. Sementara itu, karakter vokalnya mengingatkan pada tradisi Incantation: geraman berat yang mempertebal kesan muram dan memberi musik ini bobot lebih dari sekadar demonstrasi kecepatan. Keunggulan Deafness terletak pada pemahaman bahwa brutal death metal membutuhkan dua hal yang sering gagal berjalan beriringan: kemampuan teknis dan produksi yang memadai. Instrumen terdengar cukup jelas untuk memperlihatkan keterampilan para pemain, tanpa kehilangan daya hantam yang menjadi nyawa musiknya. Mereka tidak sekadar menumpuk blast beat, riff bengis, dan vokal menggeram lalu berharap pendengar menganggapnya ekstrem. Ada fondasi musikal yang solid, dan itulah alasan sebagian besar materi dalam rekaman ini masih memiliki daya tarik untuk didengarkan kembali.

Namun, kebrutalan bukan alasan untuk membiarkan komposisi berjalan di tempat. Pada beberapa bagian, kecepatan yang terus dipertahankan mulai kehilangan daya kejut. Ketika tempo menjadi satu-satunya mesin penggerak, intensitas yang semula terasa mengancam perlahan berubah menjadi repetisi. Kekurangan ini memang tidak mendominasi keseluruhan materi, tetapi cukup untuk menunjukkan bahwa agresi tanpa variasi dapat mengikis ketegangan yang hendak dibangun. Musik ekstrem yang efektif bukan hanya perkara seberapa cepat sebuah band bermain, melainkan seberapa cerdas mereka mengendalikan momentum. Sayangnya, Deafness disebut telah bubar, sebuah kemungkinan yang membuat rekaman ini terasa seperti potret masa depan yang tak pernah sempat terwujud. Dengan kemampuan teknis, produksi yang kuat, dan pemahaman terhadap tradisi brutal death metal, mereka memiliki modal untuk berkembang melampaui pengaruh para pendahulunya. Apakah mereka akan menemukan identitas yang lebih khas seandainya terus berjalan? Itu pertanyaan yang kini hanya bisa dijawab melalui spekulasi.

Pada akhirnya, Deafness bukanlah revolusi BDM, tetapi juga bukan sekadar pengikut yang hidup dari sisa-sisa kejayaan Morbid Angel, Suffocation, atau Cryptopsy. Mereka adalah band yang memahami resep dasarnya dan cukup piawai mengolahnya, meskipun belum sepenuhnya lolos dari jebakan monotonitas. 7 Lagu ini menjadi bukti bahwa potensi tidak selalu berbanding lurus dengan umur buah band. Jika kabar pembubaran itu benar, yang tersisa adalah sebuah kehilangan kecil bagi skena Montreal dan pengingat pahit bahwa tidak semua band yang layak berkembang mendapat kesempatan untuk membuktikannya. Overall : Brutal, solid, dan layak disimak oleh penggemar death metal yang mengutamakan kekuatan musikal di atas sensasi. Deafness mungkin tidak sempat mengubah peta genre, tetapi mereka telah menunjukkan bahwa memahami kebrutalan jauh lebih penting daripada sekadar memainkannya dengan keras.

0 Comments:

Posting Komentar

Tinggalkan komentar TERBAIK kalian disini, enjoy the sickness !

Designed by lostinchaos mediazine