Caliban - Vent CD 2001

Caliban - Vent
Lifeforce Records CD 2001

01. Entrance 01:35      
02. Fire of Night 03:13       
03. Love Taken Away 03:43       
04. In the Eye of the Storm 04:49      
05. About Time and Decisions 05:41      
06. Roots of Pain 04:41     
07. Happiness in Slavery 03:07       
08. Tyranny of Small Misery 04:39       
09. For... 04:47     
10. My Last Beauty 04:35     
11. New Kind of Freedom 03:59      
12. Sycamore Dreams 03:53 
13. Erase the Enemy 04:35      
14. Exit 01:47


Andy - Vocals
Marc - Guitars
Engin - Bass
Robert - Drums
 

Ada masa ketika Caliban terdengar seperti band yang benar-benar ingin menghancurkan sesuatu. Bukan menghancurkan playlist, bukan menghancurkan algoritma streaming, dan jelas bukan menghancurkan hati dengan chorus arena-rock murahan. Mereka menghancurkan riff. " Vent ", album kedua Caliban yang dirilis pada 27 Januari 2001 melalui Lifeforce Records, adalah artefak dari periode ketika metalcore Eropa masih terasa seperti persilangan berbahaya antara hardcore dan death metal Swedia sebelum genre tersebut menemukan formula komersial yang kemudian membuat separuh band terdengar seperti produser pop yang kebetulan memiliki gitar tujuh senar. Album ini memuat 14 lagu dengan durasi sekitar 55 menit, dimulai dari " Entrance " dan ditutup " Exit " dan ya, 55 menit adalah waktu yang cukup lama untuk sebuah album metalcore. Untungnya, Caliban pada titik ini masih punya cukup amunisi untuk mengisinya. " Fire of Night " langsung membuka pintu dengan kekerasan yang tidak membutuhkan basa-basi: riff cepat, tremolo picking, palm-muted chugging dan breakdown yang menghantam seperti pintu besi dilempar dari lantai dua. Andreas Dörner terdengar jauh lebih liar di sini teriakannya tinggi, kasar, gugup, bahkan sedikit manik. Ada semacam kepanikan yang membuat vokalnya terasa manusiawi; bukan sekadar template harsh vocal yang bisa dipasang ke hampir semua band metalcore setelah 2005 di sinilah kekuatan utama  " Vent " : Caliban belum sepenuhnya memisahkan agresi dari melodi. Marc Görtz mengerti bahwa riff berat tidak harus berarti riff bodoh. " Love Taken Away " mempertemukan tremolo picking dan palm-muted chugging dengan arpeggio melodis, sementara " Roots of Pain " memasukkan pembukaan bernuansa traditional metal sebelum kembali digulung oleh mesin ritmis mereka. Pengaruh death metal Swedia sangat terasa, khususnya tradisi riff melodis yang mengingatkan pada generasi akhir At the Gates. Namun Caliban tidak terdengar seperti sedang melakukan cosplay terhadap Gothenburg; mereka mengambil bahasanya lalu memasukkannya ke dalam struktur metalcore yang lebih kasar.

Itu penting. Sebab pada awal 2000-an, metalcore sedang menemukan bentuk modernnya. Di Amerika, nama seperti Undying dan Darkest Hour sedang menunjukkan bahwa hardcore tidak harus terus-menerus terdengar seperti hardcore. Di Eropa, Caliban berada dalam ekosistem yang sama dengan gelombang baru metalcore ekstrem yang kemudian turut membentuk identitas Lifeforce Records. Label itu sendiri menempatkan Vent berdampingan secara historis dengan rilisan Caliban sebelumnya dan kemudian dengan album-album Heaven Shall Burn, Deadsoil, Fear My Thoughts, Cataract dan sederet nama yang membantu membangun bahasa metalcore Eropa awal 2000-an. Riff Dulu, Pose Belakangan Kekuatan Vent tidak terletak pada orisinalitas mutlak. Jujur saja: banyak materi di sini masih berjalan di jalur yang sudah dibuka oleh death metal Swedia, thrash, hardcore dan metalcore generasi sebelumnya. Tetapi eksekusi lebih penting daripada klaim orisinalitas. Bagian cepat justru menjadi senjata terbaik mereka. Drum tidak sekadar berfungsi sebagai metronom untuk breakdown; ketika tempo naik, permainan menjadi galloping, snare-heavy dan lebih agresif. Bass mengikuti bobot gitar dengan pukulan tebal, sementara china crash digunakan dengan cukup bebas untuk memperbesar kesan brutal. Saat breakdown tiba, semuanya berubah menjadi massa suara yang lebih berat dan sederhana. Formula ini memang bukan penemuan ilmiah. Tetapi pada " Vent ", formula tersebut masih memiliki denyut. Masalah album justru muncul ketika Caliban mulai mencoba melonggarkan rantai. " Happiness in Slavery " menghadirkan piano mellow dan vokal perempuan, memberi ruang atmosferik di tengah album yang hampir terus-menerus bergerak. Secara konseptual, keputusan tersebut menarik karena menunjukkan bahwa mereka tidak ingin menjadikan agresi sebagai satu-satunya bahasa. Namun eksperimen semacam ini juga memperlihatkan titik rawan yang kelak semakin besar dalam perjalanan mereka: ketika melodi menjadi tujuan, bukan lagi kontras terhadap kekerasan.

" My Last Beauty " bahkan memperlihatkan penggunaan elemen elektronik, sementara " Tyranny of Small Misery " mulai membuka pintu menuju pendekatan yang lebih modern. " Sycamore Dreams " menjadi kasus yang lebih problematis karena menggabungkan vokal bernuansa emosional dengan pendekatan alternative rock yang jauh lebih lunak. Kritik terhadap bagian-bagian tersebut memang sudah muncul dalam ulasan terdahulu, meski penilaiannya bersifat subjektif. Namun menariknya, justru bagian-bagian yang dianggap menyimpang itu sekarang terdengar seperti fosil kecil dari masa depan Caliban. Bukan karena " Vent " sudah menjadi album modern. Justru sebaliknya. Ia menunjukkan sebuah band yang masih berada di persimpangan. Satu kaki mereka masih tertanam dalam death metal Swedia. Kaki lainnya mulai mengendus kemungkinan baru dan sejarah kemudian menunjukkan ke mana kaki kedua itu berjalan. Bukan Album Sempurna Mari jangan mengubah Vent menjadi kitab suci hanya karena apa yang terjadi pada Caliban setelahnya. Album ini bukan mahakarya metalcore yang tanpa cacat. Struktur lagunya kadang terlalu panjang, beberapa riff terasa seperti variasi dari kosakata yang sama, dan durasi hampir 55 menit membuat repetisi semakin mudah terlihat. Lambgoat pada 2001 juga mencatat pola dasar album ini sebagai kombinasi riff metal cepat dengan groove breakdown, sembari menilai vokal Dörner relatif terbatas secara jangkauan. Itulah titik yang membuat Vent menarik sekaligus terbatas. Caliban belum menemukan cara untuk membuat setiap menit terdengar esensial. Tetapi mereka tahu bagaimana membuat gitar terdengar berbahaya dan kadang itu sudah cukup.

Yang paling menarik adalah kontras antara kekuatan material dan keterbatasan komposisinya. " Fire of Night ", " Love Taken Away ", " Roots of Pain " dan beberapa bagian " In the Eye of the Storm " memperlihatkan band yang memahami momentum. Mereka tahu kapan harus mempercepat riff, kapan menurunkan tempo, dan kapan membiarkan melodi menyelinap di antara reruntuhan breakdown. Sementara " Sycamore Dreams " dan beberapa eksperimen modern lainnya terasa seperti kartu nama yang dikirim terlalu cepat kepada masa depan. Sebuah Foto Sebelum Wajah Berubah Vent akhirnya lebih penting sebagai snapshot daripada sebagai monumen. Ia menangkap Caliban pada titik ketika mereka masih memiliki kekasaran Eropa yang khas, ketika metalcore belum sepenuhnya menjadi industri chorus besar, clean vocal dramatis, produksi ultra-polished dan formula emosional yang dapat diprediksi dari tiga detik pertama. Bahkan diskografi berikutnya memperlihatkan perubahan tersebut. Shadow Hearts hadir setelah Vent pada 2003, dan materi Caliban kemudian terus bergerak menuju pendekatan yang lebih melodis dan modern. Karena itu, mendengarkan Vent hari ini terasa sedikit seperti menemukan foto seseorang sebelum mereka menjadi orang yang kita kenal. Wajahnya sama. Tetapi ekspresinya berbeda. Ada kemarahan yang belum dipoles. Ada ambisi yang belum diberi kemasan. Ada melodi yang belum dipaksa menjadi sentimental. Ada breakdown yang masih berfungsi sebagai senjata, bukan sebagai tombol otomatis untuk mengajak penonton melakukan circle pit dan mungkin itulah alasan Vent masih memiliki daya tarik historis.

Caliban di sini belum berusaha menjadi segala sesuatu. Mereka hanya berusaha menjadi berat. Tidak semuanya berhasil. Tidak semuanya perlu. Tetapi ketika " Fire of Night " mulai menyala dan gitar Görtz mengiris di antara tremolo, chugging dan melodi, kita mendengar sesuatu yang sekarang terasa hampir langka: sebuah band metalcore yang belum takut terdengar kejam. " Vent " bukan bukti bahwa Caliban pernah sempurna. Ini bukti bahwa mereka pernah memiliki gigi dan sebelum industri mengajari mereka cara tersenyum, gigi itu masih cukup tajam untuk meninggalkan bekas. Sebuah dokumen penting metalcore Eropa awal 2000-an kasar, melodis, tidak sempurna, kadang terlalu panjang dan sesekali salah belok, tetapi jauh lebih berbahaya ketika Caliban membiarkan riff berbicara daripada ketika mereka mencoba menjelaskan perasaan.

0 Comments:

Posting Komentar

Tinggalkan komentar TERBAIK kalian disini, enjoy the sickness !

Designed by lostinchaos mediazine