Hellgods - When the Forest Become My Kingdom
Unkind Productions ' Kaset 1997
01. The Blackness of the Night 03:02
02. Hell Sexual Darkness 02:07
03. Infernal Mysticism 03:09
04. Father South 03:41
05. Blackened War 01:44
06. In the Battle of Barbarian's War 02:21
07. When the Forest Become My Kingdom 05:19
08. Nocturnal Holocaust 02:56
Ade Black Wizard - Vocals
Loex Blackstorm - Guitars
Abu Blackened Ash - Guitars
Nchex Barbarian - Bass
Agung Abyssia - Drums
Tahun-tahun awal Black Metal Indonesia adalah masa ketika informasi bergerak lebih lambat daripada rasa penasaran. Belum ada media sosial, Belum ada layanan streaming, Belum ada algoritma yang setiap hari menyodorkan band baru ke layar telepon genggam. Yang ada hanyalah zine fotokopian, kaset yang berpindah tangan, surat-menyurat antarkolektor, dan satu rubrik musik di media cetak yang mampu membuat sebuah nama mendadak dibicarakan di berbagai kota. Di tengah keterbatasan itulah, satu nama muncul dengan cara yang hampir teatrikal, HELLGODS. Nama yang terdengar bombastis, Visual yang memancing imajinasi, Lalu musik yang ternyata tidak sekadar menjual citra. Band asal Bandung yang mulai aktif sekitar 1995 ini datang ketika Black Metal Indonesia masih mencari identitasnya sendiri. Sebagian besar skena masih memandang Norwegia sebagai kompas mutlak, sementara banyak band lokal sibuk menerjemahkan estetika Eropa ke dalam bahasa mereka masing-masing. Hellgods memilih jalan yang sedikit berbeda. Mereka tidak mengejar kecepatan semata. Mereka memburu atmosfer. " Kabut Keabadian ": Ketika Sebuah Lagu Mengubah Skala Pengenalan Band, Banyak band besar lahir dari album, Hellgods lebih dahulu dikenali lewat satu lagu.
Masuknya " Kabut Keabadian " ke dalam kompilasi nasional Metalik Klinik Jilid #1 menjadi momentum yang sulit dilepaskan dari sejarah awal mereka. Pada era ketika kompilasi masih menjadi sarana distribusi paling efektif untuk memperkenalkan band lintas daerah, kemunculan lagu tersebut membawa nama Hellgods melampaui batas skena Bandung. Efeknya terasa nyata. Publik mulai mencari demo mereka. Nama Hellgods mulai beredar dari mulut ke mulut dan ketika album " When the Forest Become My Kingdom " akhirnya dirilis, mereka datang bukan sebagai band asing, melainkan sebagai nama yang sudah lebih dulu memancing rasa ingin tahu. Melodi yang Tidak Kehilangan Kegelapan Menyebut musik Hellgods sebagai Black Metal saja terasa terlalu sempit. Menyebutnya Melodic Black Metal pun masih belum sepenuhnya mewakili. Yang mereka bangun adalah keseimbangan antara agresi dan atmosfer. Pengaruh Naglfar terasa pada permainan riff yang dingin namun tetap tajam. Jejak Agathodaimon muncul dalam kecenderungan harmonisasi melodis, sementara nuansa teatrikal awal Cradle of Filth sesekali hadir melalui dinamika komposisi dan pendekatan atmosfer. Namun Hellgods tidak berhenti sebagai kumpulan referensi.
Mereka menyaring pengaruh tersebut menjadi bahasa musikal yang terasa lebih organik dan sesuai dengan karakter skena Indonesia saat itu. Riff yang Tidak Sekadar Menyerang Kekuatan terbesar album ini justru berada pada gitar. Riff-riff tidak hanya berfungsi sebagai mesin agresi. Mereka menjadi pembangun lanskap. Melodi bergerak seperti kabut yang perlahan menelan hutan, sebelum akhirnya pecah menjadi ledakan tremolo yang tetap mempertahankan arah harmoninya. Solo-solo gitar juga tidak hadir sebagai demonstrasi teknik. Ia muncul sebagai momen reflektif yang memperluas emosi lagu, memberi ruang bernapas sebelum badai berikutnya datang menghantam. Pendekatan semacam ini masih terasa tidak lazim untuk banyak rilisan Black Metal Indonesia pada pertengahan 1990-an, yang umumnya lebih menekankan repetisi dan kekasaran daripada pembangunan atmosfer. Primitif, Tetapi Tidak Sederhana, Salah satu ironi terbesar album ini adalah kesan " primitif"-nya. Produksi memang masih kasar, Aransemen kadang terdengar mentah, Namun di balik lapisan tersebut tersembunyi komposisi yang jauh lebih kompleks daripada kesan pertama.
Ada transisi yang tidak mudah ditebak. Ada perubahan dinamika yang dirancang perlahan. Ada motif melodi yang terus muncul dalam bentuk berbeda hingga album selesai. Semakin sering didengar, semakin banyak detail kecil yang mulai memperlihatkan dirinya. Album ini tidak meminta pendengar untuk langsung menyukainya. Ia meminta kesabaran. Ketika Produksi Menjadi Pedang Bermata Dua Jika ada satu aspek yang paling sering diperdebatkan dari rilisan ini, jawabannya adalah kualitas produksinya. Karakter rekamannya cukup jelas untuk memperlihatkan struktur lagu, tetapi keseimbangan antar-instrumen belum sepenuhnya tercapai. Pada beberapa bagian, frekuensi tertentu terasa saling bertumpuk sehingga intensitas musikal sedikit kehilangan ruang bernapas. Dengan pendekatan pencampuran modern, terutama pengendalian dinamika dan kompresi yang lebih presisi, kemungkinan besar lapisan-lapisan melodinya akan terdengar lebih terbuka. Namun kekurangan itu juga menjadi bagian dari identitas zamannya. Ia mengingatkan bahwa banyak mahakarya bawah tanah Indonesia lahir bukan dari studio beranggaran besar, melainkan dari semangat yang jauh melampaui fasilitas yang tersedia.
Bandung sering disebut sebagai barometer musik independen Indonesia. Label itu memang terdengar klise. Namun album ini menjadi salah satu alasan mengapa sebutan tersebut terus bertahan. Hellgods memperlihatkan bahwa Black Metal lokal tidak harus menjadi salinan mentah dari Norwegia. Mereka mulai memperkenalkan pendekatan yang lebih melodis, lebih emosional, dan lebih terbuka terhadap eksplorasi harmoni tanpa kehilangan karakter gelap yang menjadi inti genre tersebut. Di tengah gelombang band-band yang berlomba terdengar paling ekstrem, Hellgods memilih terdengar paling atmosferik dan pilihan itu justru membuat mereka lebih mudah dikenali. Apakah " When the Forest Become My Kingdom " adalah album Black Metal terbaik Indonesia pada masanya? Jawabannya akan selalu bergantung pada sudut pandang pendengar. Namun satu hal jauh lebih mudah disepakati. Album ini adalah salah satu rilisan yang membantu memperluas definisi Black Metal Indonesia. Ia menunjukkan bahwa kegelapan tidak selalu harus hadir dalam bentuk kebisingan mutlak, Ia bisa lahir dari melodi, Dari atmosfer, Dari ruang-ruang sunyi di antara dentuman blast beat dan dari keberanian menulis lagu dengan visi yang melampaui sekadar imitasi. Tiga dekade kemudian, banyak album Black Metal telah hadir dengan produksi yang jauh lebih megah, teknik yang lebih rumit, dan teknologi yang lebih canggih. Namun tidak banyak yang masih mampu menghadirkan sensasi seperti ketika pertama kali mendengar " Kabut Keabadian " bergema dari sebuah kaset kompilasi nasional. Karena bagi satu generasi metalhead Indonesia, Hellgods bukan sekadar band. Mereka adalah kabut pertama yang membuat hutan Black Metal Nusantara tampak begitu luas, misterius, dan layak dijelajahi lebih dalam.
Noted : Selamat datang di arsip kebisingan. Mari kembali mengunjungi era ketika musik ekstrem Indonesia belum mencari pengakuan karena sejak awal, ia memang lahir untuk menjadi ancaman. kemudahan itu berdiri di atas penderitaan panjang sebuah generasi yang pernah dianggap bising, sesat, dan tidak memiliki masa depan. Sejarah memang punya kebiasaan buruk: menikmati hasilnya, lalu melupakan mereka yang membangunnya. Karena itu, beberapa rilisan Indonesia dari era 90-an bukan sekadar album tua yang berdebu di rak kolektor. Mereka adalah artefak. Dokumen hidup. Bukti bahwa negeri ini sejak awal telah memelihara bibit kebrutalan musikal yang terlalu liar untuk dipelihara, namun terlalu berharga untuk dilupakan. Potensi yang sejak hari pertama sudah terdengar berbahaya. Rubrik Review khusus ini w namakan " HOMEGROWN INDONESIAN MENACE " atau (HIM) bukan sekadar nostalgia murahan atau romantisme para generasi yang hari ini kalian olok olok sebagai " Para Oruang tua ". Ini adalah upaya membuka kembali lembaran sejarah yang membentuk identitas musik ekstrem Indonesia, sebuah percik'an kisah tentang karya-karya yang menolak tunduk pada zaman, tetap relevan, dan masih sanggup menggigit puluhan tahun kemudian, dimana kita masih menjadi pengkonsumsi musik cadas sejak awal dekade 90-an, masa ketika ekstremitas belum menjadi komoditas, ketika kaset digandakan berkali-kali hingga suaranya remuk, zine fotokopian berpindah tangan seperti barang selundupan, dan setiap rilisan baru terasa seperti menemukan senjata rahasia.



0 Comments:
Posting Komentar
Tinggalkan komentar TERBAIK kalian disini, enjoy the sickness !