VA. Brutally Sickness - Indonesian Sounds of Death
Extreme Soul Production ' Kaset 1999
01. Brutal Corpse - Out of Normality
02. Motordeath - Under Suppression
03. Delirium Tremens - To Eat My Friend Flesh
04. Necropsy - Headache
05. Dry - Total Kiamat
06. Dajjal - Kriminalisasi Basi
07. Forgotten - Obsesi Mati
08. Deadly Ground - N.G.O.H
09. Geboren - Obstacle on the Moon
10. Naked Truth - Mind Disorder
11. Morbus Corpse - The Unholy Grave
12. Trauma - Tragedi Umat Manusia
13. Victim of Rage - Penjara
14. Bealiah - Embraced by Fire
15. Injected Sufferage - Internal Riots B.T.S
16. Infamy - Day of Dreaming
17. Bloody Gore - Leaping Orgasm
Sejarah Death Metal Indonesia tidak pernah dibangun oleh satu band, satu kota, atau satu label. Ia dibangun oleh keberanian puluhan musisi yang rela mengorbankan kenyamanan demi meninggalkan jejak pada sepotong pita magnetik dan " Brutally Sickness " Vol. 1 adalah salah satu arsip paling jujur yang berhasil menangkap ledakan itu sebelum semuanya berubah menjadi legenda. Ada satu momen yang selalu membedakan kolektor kaset era 1990-an dengan generasi algoritma hari ini. Kami tidak pernah tahu apa yang akan kami dengarkan. Tidak ada playlist recommendation, tidak ada ulasan YouTube, tidak ada media sosial yang sibuk meneriakkan kata "masterpiece" sebelum albumnya benar-benar diputar, yang ada hanyalah sepotong plastik transparan, selembar inlay, aroma tinta cetak yang masih baru, dan keberanian menaruh uang hasil menabung pada sebuah kaset yang bahkan belum tentu bagus. Lalu... " Edaaaannn...! " Itulah respons spontan yang masih terngiang di kepala w ketika " Brutally Sickness - Indonesian Sounds of Death " pertama kali berputar di tape deck. Bukan karena sound-nya paling bersih, Bukan karena mastering-nya mengalahkan rilisan luar negeri, Tetapi karena untuk pertama kalinya sebuah kompilasi Indonesia terdengar seperti deklarasi perang, Bukan perang antarband, Melainkan perang melawan anggapan lama bahwa musik ekstrem Indonesia hanyalah penonton dari revolusi Death Metal dunia.
Di penghujung dekade 1990-an, Extreme Souls Production (ESP) membaca sesuatu yang belum dipahami banyak label independen saat itu. Sebuah label tidak cukup hanya mencetak kaset, Label harus membangun ekosistem, " Brutally Sickness " bukan sekadar kompilasi. Ia bekerja sebagai katalog audio, media promosi, peta skena nasional, sekaligus etalase yang mempertemukan berbagai kota dalam satu pita kaset. Bandung, Jakarta, Yogyakarta, Surabaya dan banyak daerah lainnya di Indonesia. Masing-masing datang membawa logat musikal yang berbeda. Tidak semuanya berada di bawah naungan ESP, namun justru keberagaman itu memperlihatkan bahwa Death Metal Indonesia sedang mengalami ledakan kreativitas yang tidak lagi bergantung pada satu kota atau satu komunitas. Kalau hari ini orang menyebutnya scene networking, pada masa itu semuanya dilakukan melalui kaset, surat, zine fotokopian, dan rasa saling percaya. Menariknya, jilid pertama " Brutally Sickness " belum memperlihatkan batasan genre yang kaku, Hari ini mungkin kita akan sibuk memberi label: Brutal Death Metal, Old School Death Metal, Death/Doom, Black Metal, Death/Grind, Hardcore, Atmospheric Doom. Tetapi ketika kompilasi ini lahir, semua definisi itu terasa jauh kurang penting dibanding satu syarat sederhana: Asal ekstrem, Asal brutal, Asal jujur. Maka tidak mengherankan bila di dalam satu kaset yang sama kita dapat menemukan Brutal Corpse berdampingan dengan Geboren, Dry, Bealiah, Deadly Ground, hingga Dajjal. Secara kuratorial mungkin terdengar liar. Namun justru kekacauan itulah yang mencerminkan wajah asli Movement Underground Indonesia saat itu. Scene belum mengenal pagar, semua masih saling bertukar energi.
Cover art " Brutally Sickness - Indonesian Sounds of Death " mungkin tidak langsung memancarkan aura ekstrem jika hanya dilihat dari dominasi warna dan tata letaknya. Namun kesan itu berubah total begitu ilustrasi gory-nya diperhatikan lebih dekat dan berubah semakin drastis ketika pita mulai diputar. Karena sesungguhnya artwork hanyalah pintu masuk meskipun itu imej yang menjijikkan sekalipun. Teror sesungguhnya berada di dalam. Begitu Side A berjalan, pendengar tidak diberi kesempatan beradaptasi. ESP seperti sengaja menyusun urutan lagu agar setiap band menyerang dari sudut yang berbeda. Bukan sekadar menyusun daftar lagu. Melainkan membangun dramaturgi, Lebih dari Kompilasi, Kesalahan terbesar jika membaca Brutally Sickness hari ini adalah menganggapnya sekadar kumpulan lagu promosi. Pandangan itu terlalu dangkal. Kompilasi ini adalah dokumen sosial. Ia merekam bagaimana band-band Indonesia membangun identitasnya sebelum internet menyeragamkan selera. Ia memperlihatkan bagaimana setiap kota memiliki karakter produksi yang berbeda. Bagaimana Bandung membawa disiplin komposisi, Yogyakarta menampilkan kebrutalan teknis, Surabaya mempertahankan energi mentah, sementara Jakarta menghadirkan pendekatan yang lebih beragam. Yang lebih penting lagi, kompilasi ini menangkap momen ketika hampir seluruh band masih berada pada fase paling lapar dalam kariernya. Belum ada status legenda. Belum ada nostalgia. Belum ada kultus. Yang ada hanyalah musisi-musisi muda yang ingin membuktikan bahwa Death Metal Indonesia pantas disejajarkan dengan siapa pun dan justru karena itulah Brutally Sickness masih terasa hidup hingga sekarang. Banyak band di dalamnya memang telah bubar. Sebagian berganti nama, sebagian memilih diam, sebagian personelnya bahkan telah tiada namun pita kaset ini tetap berputar sebagai kapsul waktu yang menyimpan satu kenyataan penting:
Side A track list dimulai dengan " Out of Normality " nya dari Dedengkot BDM Keren asal Jogja yang memang sedang naik daun namanya karena juga sukses menciptakan sound ala amerika banget dengan skill permainan memukau di era 90'an, BRUTAL CORPSE ! dari demo " Fucked Full of Maggots " yang begitu menghebohkan ketika pertama kali diperkenalkan sebagai rilisan independen, ga lama kemudian demo ini dirilis ulang oleh ESP tahun 2000 dan tahun 2017 malah rilis format CD juga oleh Jesuiscidal Records. konsep musikalnya asli ajib banget nih band, meski ga menelan durasi lagu sampai 2 menit, namun daya hancurkan emang gokil !!! Dari EP kaset " Despair " tahun 1998, dedengkot sadis Barudak Bandung MOTORDEATH Memang ga ada lawan ! BDM Keren di era-nya jelas sudah menyita perhatian sekali untuk menjadi memorable. " Under Suppression " menjadi Anthem track wajib dimana aja band ini perform karena ikatan emosionalnya sudah diciptakan pada track edan ini. Suffocation menjadi tambah liar dan pertemuan intens Malevolent Creation juga Kataklysm ! Dari Jakarta ada DELIRIUM TREMENS menyajikan umpatan kemarahan dengan " To Eat My Friend Flesh ", salah satu dedengkot ibu kota yang mungkin terlambat merilis materinya sejak terbentuk tahun 1995 dan tahun 2000 mereka berhasil merilis demo " Psychodynamic Theory of Sadistic Perversion " via Demented Mind Records. pertemuan musikal karakteristik sound ala Deicide dan Cannibal Corpse bener-bener menyajikan pembantaian membabi buta hingga tetes darah terakhir. Mungkin ga banyak yang tau kalo band proyek sangar Bandung ini digawangi dari band Motordeath dan Forgotten, NECROPSY membuat konspirasi musikal mematikan yang tidak banyak melepas karakterstik style band awal mereka, cuman tensi emosional mereka lebih ledakkan disini, keren banget proyek ini, cuman sayang belum sampai merilis full album mereka terlalu disibukkan dengan band utama mereka. Single " Headache " tetap menjadi artefak penting dalam movement DM Bandung khususnya meski jarang terdokumentasi, sehingga mungkin jarang yang mengenal nama mereka diproyek iseng iseng membunuh ini. Perwakilan dari Surabaya, ada DRY dengan " Total Kiamat ", track paling fenomenal ketika pertama kali dirilis dengan menyajikan gaya Brutal Blasting Black metal yang intens ! dicomot dari EP ke-2 " Belenggu Kelam " Tahun 1998 rilis via Army of Darkness, Dry mempertontonkan gaya barbar kegelapan untuk pertama kalinya di Tanah Air dengan sentuhan kuat Blasting Black metal ala Marduk, soundnya emang bener-bener kiamat banget ! Balik ke Bandung, ada penampilan menarik dari band yang memiliki Gimmick kostum ala GWAR banget terkhusus dengan frontman vocalisnya, Yup nama DAJJAL tentu begitu melekat dihati karena karakteristrik-nya sudah terbaca publik sejak kemunculannya. dengan " Kriminalisasi Basi " dari debut album perdana " Amarah " tahun 2000 rilis via Bandung Sound Productions, gaya BDM beringas begitu tercium biadab menyerang dari segala penjuru diaransemennya, tapi sayang cuman singkat durasi lagunya meski sangat intens dan brutal ! Nah yang satu ini jelas bukan kaleng kaleng, salah satu Dedengkot Ujungberung Bandung, FORGOTTEN, menjadi sangat kontroversial di era-nya dengan lirik-lirik sarkatis di materi full perdananya " Obsesi Mati " rilis oleh ESP Tahun 2000, dan momen kompilasi ini menjadi sangat tepat sekali memperkenalkan sentuhan musikal fresh mereka dibanding sebelumnya. pertemuan Malevolent Creation dan Solstice sangat kuat memenuhi Artileri emosional skilling mereka, sangat pantas eksistensi mereka begitu sampai hari ini sangat diperhitungkan. Bandung masih mengisi setlist berikutnya, kalo yang ini " Mungkin " jauh dari Tema Death Metal sendiri, karena DEADLY GROUND, cuman sendirian dikompilasi ini yang memainkan konsep Hardcore dipadu dengan Thrash Metal, beruntung lagu " N.G.O.H " disajikan dengan beat dan emosi yang terbakar, ga heran daya ledak-nya cukup kerasa disandingkan dengan beberapa kebuasan Band lainnya. Nah ini juga agak " Lain " lagi, sehingga Deadly Ground masih ada temannya tersesat di Kompilasi ini hahaha ... GEBOREN ! masih dari Bandung, Unit Atmospheric Death/Doom Metal ini memperkenalkan " Obstacle on the Moon " dari full album pertamnya " Obstacle on the Moon " tahun 1999 rilis via ESP. rilisan album perdana ini ternyata cukup sukses dipasaran ketika dirilis hingga sold out, ga heran tahun 2003, ESP merilis ulang-nya kembali karena permintaan masih tinggi. sentuhan Amorphis terasa begitu kuat dalam band dengan menghadirkan juga Female Vocal sebagai pemanis nuansa Atmospheric Death/Doom-nya. Bandung masih merajalela dengan invasi rilisan rilisannya, ESP berkesempatan memperkenalkan salah satu Unit Death Metal berbahaya-nya, NAKED TRUTH ! dari Demo perdana sejak band terbentuk pada 1995, " Mind Disorder " menjadi bukti eksistensinya jangan dipandang sebelah mata. pengaruh American Death Metal dinamis ala Monstrosity, Malevolent Creation hingga Suffocation menjadi dasar perpaduan musikal yang mereka ciptakan dengan sangat apik. Demo ini sempat menghebohkan ketika pertama dirilis Tahun 1998 via Homeless Crew langsung sold out ! MORBUS CORPSE dengan " The Unholy Grave " menyerang selanjutnya dengan atmosfir yang gelap dan menggilas ! Salah satu Dedengkot Death Metal Ujungberung, namun sayang eksistensi mereka kurang melahirkan debut Demo atau album selain beberapa single yang mereka kontribusikan dibeberapa kompilasi, dan band ini minim informasi sekali. buat kalian yang suka Swedish Death Metal meski sound mereka belum maksimal tapi kekuatan musikalnya ga bisa dipandang sebelah mata. Sementara dari Jakarta juga diwakilkan ke salah satu Godfather-nya, TRAUMA, yang tahun 1998 merilis debul album perdananya " Extinction of Mankind " via Morbid Noise Production. Nino cs berkesempatan mempromosikan lebih intens debut Death Metal ala Avulsed, Six Feet Under hingga Massacre. salah satu Anthem track-nya " Tragedi Umat Manusia " menampilkan sisi ter-beringas, dengan sound typical 90'an, sayang kurang menampilkan sound Guitar yang terdengar lebih jelas ketimbang distorsinya, namun sound 90'an terbentuk karena era pada saat itu, padahal melodic riff nya memiliki aransemen yang keren. VICTIM OF RAGE, salah satu diantara band yang muncul diera 90'an Bandung menyajikan " Penjara " dari materi Full album pertama " Termusnahkan " tahun 2002 via TSP Records yang termasuk telat rilis ketika berpromosi di Kompilasi ini. sentuhan Brutal Death/Grind yang enerjik dan Powerfully cukup menjadi media memuntahkan emosi mereka dalam lagu. perpaduan dramatis Suffocation dan Cannibal Corpse mereka sederhanakan lagi dengan pembantaian massal mereka lewat komposisi audio. Ternyata Dry tidak sendirian Gess, karena ada BEALIAH, One Man Project asal Jakarta menawarkan gempuran Black Metal yang intens dan cepat dengan balutan Atmosfir yang menciptakan kegelapan tak bertuan pada " Embraced by Fire ", jeritans scream insane yang tidak jelas pattern liriknya cukup memberi nuansa brutalitas komposisi. dicomot dari debut full albumnya " Weeping at the Crimson Moon " tahun 1999 via THT Productions. pertemuan antara Dark Funeral dan The Abyss ditambahkan element Synthesizer menciptakan sound dramatis yang belum banyak dilakukan oleh band pada era 90'an. Nah kalo yang ini debut perdana vocalis Man yang namanya terangkat sejak bergabung di band Jasad, Yess INJECTED SUFFERAGE adalah kendaraan utama awalnya. dengan " Internal Riots B.T.S " penampilannya serba ngebut dengan sentuhan kuat BDM/Grind dengan pengaruh Goregrind style. ketukan Hypersnare yang tidak kenal kendor sepertinya menderu seperti suara AK47 yang menyerang membabi buta. Bandung memang sangat mendominasi materi Kompilasi ini, giliran band Extreme Metal yang cepat dan dinamis dari INFAMY dengan " Day of Dreaming " emang asli mengacak ngacak fokus mereka dengan sound mereka yang unik dan memorable. diambil dari mari Promo 1999, Infamy masih kental elemen death metal-nya sebelum terjangkit style Melodic Death Metal menjelang tidak aktifnya band ini tahun 2017. tentu memorial banget kalo inget konsep Death metal pertama mereka di Kompilasi ini, sayang semua mengalami proges dan pergantian konsep musikal-nya. Sebagai Closing, Godfather BDM Kebanggan Jakarta, BLOODY GORE ! memuntahkan " Leaping Orgasm " dari rekaman Promotape '98 nya, terdengar banget Suffocation nya Indonesia yang melekat pada tubuh mereka perlahan mereka singkirkan dengan permainan yang lebih biadab ! sayang seribu sayang eksistensi mereka harus terhenti bersama dikuburkannya Frontman band untuk selamanya di alam fana sebelum merubah nama band mereka menjadi Funeral Inception.
Pita Magnetik yang Menyatukan Revolusi Death Metal Indonesia ! Sejarah selalu memiliki kebiasaan buruk. Ia lebih mudah mengingat para pemenang daripada para perintis. Ia lebih sering mengabadikan nama-nama besar daripada puluhan wajah yang berkeringat di ruang latihan sempit, menggadaikan uang saku untuk menyewa studio, lalu menggandakan kaset secara mandiri dengan harapan sederhana: ada seseorang di kota lain yang mau mendengarkan musik mereka. Begitulah Scene Death Metal Indonesia tumbuh, Bukan dari ruang rapat industri musik, Bukan dari strategi pemasaran perusahaan rekaman. Melainkan dari jejaring bawah tanah yang dibangun oleh semangat do-it-yourself, surat-menyurat antarzine, pertukaran kaset lewat pos, hingga panggung-panggung kecil yang lebih sering dipenuhi debu daripada sorotan lampu. Karena itu, memahami sejarah Death Metal Indonesia hanya melalui deretan album klasik atau nama-nama besar adalah cara pandang yang terlalu sempit. Yang sesungguhnya membangun fondasi skena bukan hanya band yang kemudian menjadi legenda, tetapi juga puluhan kelompok yang mungkin hanya sempat merilis satu demo, satu lagu kompilasi, atau bahkan menghilang sebelum sempat menyelesaikan album perdana. Mereka adalah batu bata pertama yang menopang bangunan besar bernama movement underground. Di titik inilah " Brutally Sickness - Indonesian Sounds of Death " memperoleh makna yang jauh melampaui statusnya sebagai kaset kompilasi, bukan sekadar kumpulan lagu, namun adalah dokumen antropologi musik ekstrem Indonesia. Menjelang akhir dekade 1990-an, gelombang Death Metal Indonesia sedang bergerak dalam frekuensi yang sulit dibendung. Bandung melahirkan generasi baru dengan disiplin komposisi yang kuat. Yogyakarta menyuguhkan Brutal Death Metal yang semakin matang. Surabaya mempertahankan agresi khas Jawa Timur, sementara Jakarta menawarkan keragaman pendekatan musikal yang tidak kalah eksplosif. Semuanya tumbuh hampir bersamaan, Namun komunikasi antarkota masih terbatas, Internet belum menjadi ruang distribusi, Media sosial bahkan belum menjadi imajinasi, Kaset pitalah yang mengambil alih fungsi itu. Dalam konteks tersebut, " Brutally Sickness - Indonesian Sounds of Death " berperan sebagai simpul yang mempertemukan berbagai skena dalam satu medium. Ia membuka ruang bagi pendengar untuk mengenali bahwa perkembangan Death Metal Indonesia tidak pernah berpusat pada satu kota saja. Setiap wilayah membawa dialek musikal, karakter produksi, dan identitas yang berbeda, tetapi semuanya berbicara dalam bahasa ekstrem yang sama. Kompilasi ini menjadi semacam peta sonik tentang bagaimana Indonesia mulai membangun identitas Death Metal-nya sendiri. Keberanian Sebelum Kesempurnaan !
Jika didengar dengan telinga modern, sebagian materi dalam kompilasi ini mungkin terasa kasar. Level instrumen belum sepenuhnya seimbang. Frekuensi gitar kadang tenggelam. Snare terlalu tajam, Noise masih terdengar jelas, Namun menghakimi rekaman-rekaman ini menggunakan standar produksi masa kini sama kelirunya dengan menilai lukisan gua menggunakan kamera digital. Keterbatasan teknologi adalah realitas zamannya. Yang patut diapresiasi justru keberanian mereka untuk tetap berkarya di tengah fasilitas yang minim. Karena sebelum era plug-in, amp simulator, editing digital, dan AI mastering, setiap nada direkam dengan risiko yang nyata. Kesalahan tidak selalu bisa diperbaiki. Waktu studio sangat mahal. Kaset kosong bukan barang murah bagi musisi independen. Setiap menit rekaman memiliki harga dan setiap lagu lahir dari pengorbanan yang jauh lebih besar daripada sekadar biaya produksi. Salah satu kekuatan terbesar " Brutally Sickness - Indonesian Sounds of Death " adalah keberaniannya merangkul keragaman. Di dalam satu kaset, pendengar dapat menemukan Brutal Death Metal yang menghantam tanpa ampun, Old School Death Metal yang berakar pada tradisi Amerika, Black Metal yang dingin dan penuh atmosfer, hingga Hardcore dan Death/Doom yang menawarkan pendekatan berbeda. Secara kuratorial, pilihan itu mungkin tampak liar, Namun justru di situlah nilai historisnya. Kompilasi ini menangkap masa ketika batas genre belum berubah menjadi tembok eksklusif. Musisi lebih sibuk menciptakan musik daripada memperdebatkan label subgenre. Yang dinilai adalah energi, kejujuran, dan keberanian, bukan seberapa presisi sebuah band memenuhi definisi tertentu. Semangat itu kini terasa semakin langka. Lebih dari Sekadar Nostalgia Mengingat kembali " Brutally Sickness - Indonesian Sounds of Death " bukan berarti menolak perkembangan zaman. Justru sebaliknya. Kompilasi ini mengingatkan bahwa kualitas sebuah karya tidak selalu lahir dari fasilitas terbaik, melainkan dari keyakinan para pembuatnya. Banyak band dalam rilisan ini memang tidak pernah menjadi nama besar. Sebagian berhenti setelah satu demo. Sebagian kehilangan arsip. Sebagian lain hanya hidup di ingatan para kolektor kaset. Namun sejarah tidak hanya ditulis oleh mereka yang bertahan paling lama. Ia juga ditulis oleh mereka yang sempat menyalakan api, meski hanya sebentar. Tanpa mereka, tidak akan ada generasi berikutnya yang memiliki pijakan.
Hari ini, " Brutally Sickness - Indonesian Sounds of Death " telah berubah menjadi barang koleksi yang semakin sulit ditemukan. Nilainya bukan semata karena kelangkaannya, melainkan karena ia menyimpan rekaman jujur tentang fase ketika Death Metal Indonesia sedang mencari bentuk terbaiknya. Ia memperlihatkan keberanian sebuah label independen menyatukan berbagai kota, berbagai karakter, dan berbagai visi musikal ke dalam satu pita magnetik. Lebih penting lagi, ia mendokumentasikan momen ketika musik ekstrem Indonesia masih bergerak murni karena idealisme. Bukan algoritma, Bukan statistik streaming, Bukan strategi pemasaran. Melainkan karena ada sekelompok anak muda yang percaya bahwa distorsi, blast beat, dan growl mampu menjadi bahasa yang sama kuatnya dengan pidato atau manifesto. Pada akhirnya, sejarah Death Metal Indonesia memang tidak pernah dibangun oleh satu band, satu kota, atau satu label. Ia berdiri di atas keberanian puluhan musisi yang rela mengorbankan waktu, tenaga, dan kenyamanan demi meninggalkan jejak pada sepotong pita magnetik dan di antara sekian banyak artefak yang lahir dari era itu, " Brutally Sickness - Indonesian Sounds of Death " tetap berdiri sebagai salah satu kapsul waktu paling jujur bukan karena ia sempurna, melainkan karena ia merekam sebuah ledakan kreatif sebelum nama-nama di dalamnya menjelma menjadi legenda, sementara sebagian lainnya perlahan menghilang bersama desir putaran kaset yang terus berputar melawan lupa.
Noted : Selamat datang di arsip kebisingan. Mari kembali mengunjungi era ketika musik ekstrem Indonesia belum mencari pengakuan karena sejak awal, ia memang lahir untuk menjadi ancaman. kemudahan itu berdiri di atas penderitaan panjang sebuah generasi yang pernah dianggap bising, sesat, dan tidak memiliki masa depan. Sejarah memang punya kebiasaan buruk: menikmati hasilnya, lalu melupakan mereka yang membangunnya. Karena itu, beberapa rilisan Indonesia dari era 90-an bukan sekadar album tua yang berdebu di rak kolektor. Mereka adalah artefak. Dokumen hidup. Bukti bahwa negeri ini sejak awal telah memelihara bibit kebrutalan musikal yang terlalu liar untuk dipelihara, namun terlalu berharga untuk dilupakan. Potensi yang sejak hari pertama sudah terdengar berbahaya. Rubrik Review khusus ini w namakan " HOMEGROWN INDONESIAN MENACE " atau (HIM) bukan sekadar nostalgia murahan atau romantisme para generasi yang hari ini kalian olok olok sebagai " Para Oruang tua ". Ini adalah upaya membuka kembali lembaran sejarah yang membentuk identitas musik ekstrem Indonesia, sebuah percik'an kisah tentang karya-karya yang menolak tunduk pada zaman, tetap relevan, dan masih sanggup menggigit puluhan tahun kemudian, dimana kita masih menjadi pengkonsumsi musik cadas sejak awal dekade 90-an, masa ketika ekstremitas belum menjadi komoditas, ketika kaset digandakan berkali-kali hingga suaranya remuk, zine fotokopian berpindah tangan seperti barang selundupan, dan setiap rilisan baru terasa seperti menemukan senjata rahasia.



0 Comments:
Posting Komentar
Tinggalkan komentar TERBAIK kalian disini, enjoy the sickness !