Tympanic Membrane - Tympanic Membrane
Unkind Productions ' Kaset 1996
01. Orgasmic Rush 01:13
02. Putrefy in Seven Seconds 01:30
03. Unnatural Surgerial 05:36
04. Genetica Sexual Garbage 04:23
05. Gu' Tenggu Sabu 03:17
06. The End of Traggical Episodic Roentgenologisty 03:09
07. Shaman 02:42
Panji Maulana - Vocals
Allan Ruslana - Guitars
Angelick Vaulina - Bass
Dida Rustandi - Drums
Bandung pada pertengahan 1990-an adalah kota yang terlalu sibuk untuk sekadar mengikuti arus. Di setiap sudut ruang latihan, demo kaset diputar bergantian. Distorsi menjadi bahasa sehari-hari, sementara studio rekaman independen bekerja hampir tanpa jeda demi mengabadikan ledakan kreativitas skena bawah tanah. Namun di tengah dominasi Brutal Death Metal, Grindcore, Black Metal, hingga Thrash Metal, selalu ada segelintir musisi yang memilih berjalan di lorong paling sempit, lorong yang bahkan sebagian metalhead enggan memasukinya. Lorong itu bernama Goregrind dan di Bandung, salah satu nama yang paling serius menempuh jalur tersebut adalah TYMPANIC MEMBRANE ! Band ini memang tidak pernah menikmati sorotan sebesar rekan-rekan sezamannya. Mereka bukan wajah utama skena Ujungberung, bukan pula nama yang paling sering menghiasi zine nasional. Namun justru di situlah letak nilai historisnya. Mereka menjadi bukti bahwa perkembangan musik ekstrem Indonesia tidak pernah dibangun oleh satu formula, melainkan oleh keberanian berbagai band mengeksplorasi cabang-cabang ekstrem yang saat itu bahkan masih terdengar asing.
Sulit membahas Tympanic Membrane tanpa menyebut pengaruh besar Carcass. Namun mengatakan mereka sekadar " Carcass copycat " adalah penyederhanaan yang terlalu malas. Yang mereka adopsi bukan hanya karakter riff atau struktur lagu, melainkan filosofi musikalnya. Spirit era " Reek of Putrefaction " dan " Symphonies of Sickness " mengalir deras di seluruh album. Aroma transisi menuju " Necroticism - Descanting the Insalubrious " juga mulai terasa melalui komposisi yang lebih terarah, sementara beberapa gagasan melodis perlahan mengisyaratkan ketertarikan terhadap fase " Heartwork " hingga " Swansong ". Di sisi lain, pengaruh General Surgery ikut membentuk pendekatan mereka terhadap riff yang pendek, padat, dan sarat atmosfer bedah forensik. Namun Tympanic Membrane tidak berhenti sebagai fotokopi dua nama besar tersebut. Mereka menerjemahkan pengaruh itu ke dalam konteks Bandung, lengkap dengan keterbatasan produksi, karakter lokal, dan semangat independen yang menjadi napas utama skena Indonesia saat itu.
Kurang dari Tiga Puluh Menit, Lebih dari Sekadar EP, Secara durasi, album ini bahkan belum mencapai tiga puluh menit. Menurut standar sekarang, banyak orang mungkin akan menggolongkannya sebagai sebuah EP. Namun durasi tidak pernah menjadi ukuran kedalaman. Tujuh lagu di dalamnya justru terasa seperti satu sesi autopsi yang berlangsung tanpa jeda. Tidak ada ruang untuk basa-basi. Setiap riff hadir seperti sayatan pisau bedah. Setiap pergantian tempo terasa seperti perubahan tekanan darah di atas meja operasi. Album ini bergerak cepat, padat, dan nyaris tanpa kompromi. Panji dan Tantangan Menemukan Identitas Vokal Salah satu aspek yang paling menarik untuk dibahas adalah penampilan vokal Panji. Di sinilah album ini memperlihatkan sisi manusianya. Musikalitas band terdengar semakin matang, tetapi karakter vokal masih berada dalam fase pencarian. Alih-alih menggunakan guttural yang sangat dalam seperti banyak vokalis Goregrind Eropa, Panji lebih mengandalkan pendekatan emosional yang kasar, penuh noise, dan kadang terdengar seperti jeritan yang dipaksa keluar dari paru-paru yang sudah terlalu lama menghirup formalin. Pendekatan ini memang tidak selalu menghasilkan artikulasi yang ideal, Namun justru memberi identitas mentah yang sulit dipalsukan.
Seandainya teknologi efek harmonizer dan teknik produksi vokal modern lebih mudah diakses pada masa itu, kemungkinan besar karakter vokalnya akan berkembang ke arah yang berbeda. Tetapi sejarah tidak mengenal kata " Seandainya " dan justru keterbatasan itulah yang membuat album ini terasa begitu autentik. Produksi yang Tidak Sempurna, Tetapi Sangat Jujur Jika didengar menggunakan standar rekaman ekstrem modern, kelemahan produksinya segera terlihat, Noise masih muncul di beberapa jeda. Keseimbangan instrumen belum sepenuhnya presisi. Beberapa frekuensi saling bertabrakan. Namun mengkritik album ini hanya berdasarkan kejernihan suara sama saja seperti menilai foto jurnalistik hanya dari resolusinya. Yang jauh lebih penting adalah informasi yang berhasil disampaikan dan dalam konteks itu, TYMPANIC MEMBRANE berhasil. Produksi yang kasar justru memperkuat atmosfer klinis, kotor, dan mengganggu yang menjadi inti estetika Goregrind generasi pertama.
Lirik-lirik mereka berkutat pada terminologi medis, anatomi tubuh, patologi, dan citraan gore tema yang sejak lama menjadi bagian dari tradisi Goregrind internasional. Penggunaan elemen-elemen tersebut lebih berfungsi sebagai estetika khas subgenre daripada deskripsi realistis, sekaligus mempertegas identitas musikal yang mereka pilih. Tympanic Membrane memahami bahwa Goregrind bukan hanya persoalan suara yang brutal. Ia juga membangun dunianya sendiri melalui bahasa dan bahasa mereka adalah ruang operasi. Salah satu fakta yang sering terlupakan adalah bahwa perjalanan Tympanic Membrane tidak berhenti di Indonesia. Ketika banyak band lokal masih berjuang memperluas distribusi domestik, Morbid Records dari Jerman melihat potensi pada album ini. Pada 1998, label tersebut mendistribusikan rilisan mereka ke berbagai wilayah di Eropa, Amerika, dan Asia. Untuk ukuran band independen Indonesia pada akhir 1990-an, pencapaian itu bukan sekadar prestasi administratif. Ia merupakan pengakuan bahwa musik ekstrem dari Bandung mampu berbicara dalam bahasa yang dipahami komunitas internasional. Distribusi tersebut juga membuka rencana kerja sama lanjutan berupa split album. Sayangnya, rencana itu tidak pernah benar-benar terwujud. Bukan karena kualitas musiknya, Melainkan karena realitas yang jauh lebih sederhana: kehidupan di luar panggung.
Seperti banyak band bawah tanah Indonesia, Tympanic Membrane akhirnya berhadapan dengan musuh yang tidak bisa dikalahkan oleh distorsi. Waktu, Kesibukan pekerjaan, Keluarga, Perubahan prioritas hidup. Setelah sekitar lima belas tahun berjalan di jalur bawah tanah, aktivitas band perlahan meredup hingga resmi berakhir pada 2007. Luka terbesar datang beberapa tahun kemudian ketika gitaris sekaligus backing vocalist Rico Strangepop wafat pada 2012. Kepergian Rico bukan sekadar kehilangan seorang personel. Ia menjadi penutup simbolis bagi satu bab penting dalam perjalanan Tympanic Membrane. Setelah peristiwa itu, para personel memilih meninggalkan dunia musik dan melanjutkan hidup di jalur masing-masing. Tidak ada reuni besar, Tidak ada tur perpisahan, Hanya keheningan, Kadang, akhir yang paling menyedihkan memang datang tanpa suara. Tympanic Membrane mungkin tidak pernah menjadi nama yang paling sering disebut ketika orang membicarakan sejarah Metal Bandung.
Mereka juga bukan band dengan katalog paling panjang. Namun warisan mereka tidak diukur dari jumlah rilisan atau besarnya panggung yang pernah dinaiki. Warisan mereka lahir dari keberanian memainkan subgenre yang pada masanya bahkan belum memiliki pasar yang jelas di Indonesia. Mereka membuktikan bahwa menjadi berbeda sering kali jauh lebih sulit daripada menjadi populer dan justru karena memilih jalan yang sepi itulah, Self-Titled milik Tympanic Membrane tetap layak dipandang sebagai salah satu artefak penting dalam sejarah musik ekstrem Indonesia. Ia bukan album yang berteriak meminta dikenang. Ia hanya terus berdiam di rak-rak kolektor, menunggu seseorang memutar kembali pita kasetnya. Lalu menyadari bahwa jauh sebelum Goregrind menjadi istilah yang akrab di telinga metalhead Indonesia, pernah ada empat anak Bandung yang dengan tenang membedah anatomi musik ekstrem menggunakan pisau bedah bernama Tympanic Membrane.
Noted : Selamat datang di arsip kebisingan. Mari kembali mengunjungi era ketika musik ekstrem Indonesia belum mencari pengakuan karena sejak awal, ia memang lahir untuk menjadi ancaman. kemudahan itu berdiri di atas penderitaan panjang sebuah generasi yang pernah dianggap bising, sesat, dan tidak memiliki masa depan. Sejarah memang punya kebiasaan buruk: menikmati hasilnya, lalu melupakan mereka yang membangunnya. Karena itu, beberapa rilisan Indonesia dari era 90-an bukan sekadar album tua yang berdebu di rak kolektor. Mereka adalah artefak. Dokumen hidup. Bukti bahwa negeri ini sejak awal telah memelihara bibit kebrutalan musikal yang terlalu liar untuk dipelihara, namun terlalu berharga untuk dilupakan. Potensi yang sejak hari pertama sudah terdengar berbahaya. Rubrik Review khusus ini w namakan " HOMEGROWN INDONESIAN MENACE " atau (HIM) bukan sekadar nostalgia murahan atau romantisme para generasi yang hari ini kalian olok olok sebagai " Para Oruang tua ". Ini adalah upaya membuka kembali lembaran sejarah yang membentuk identitas musik ekstrem Indonesia, sebuah percik'an kisah tentang karya-karya yang menolak tunduk pada zaman, tetap relevan, dan masih sanggup menggigit puluhan tahun kemudian, dimana kita masih menjadi pengkonsumsi musik cadas sejak awal dekade 90-an, masa ketika ekstremitas belum menjadi komoditas, ketika kaset digandakan berkali-kali hingga suaranya remuk, zine fotokopian berpindah tangan seperti barang selundupan, dan setiap rilisan baru terasa seperti menemukan senjata rahasia.



0 Comments:
Posting Komentar
Tinggalkan komentar TERBAIK kalian disini, enjoy the sickness !