Saidan - Fangdriller: Scars Beneath Memory's Wrist CD 2026

Saidan - Fangdriller: Scars Beneath Memory's Wrist
Avantgarde Music CD 2026

01. Razorblade Temptation 05:42       
02. Rapture (I'll Wait for You) 04:02       
03. Immersed by Eternity's Blade 03:42     
04. Kara no Bara 04:43       
05. Womb of Hatred 05:06       
06. Stained Glass Sin - Fang Driller 07:10       
07. Her Lips Pressed Against a Coffin Nail 04:43       
08. Ethereal Blood 04:45       
09. Beat to Death 05:31       
10. Mortuary 01:43


Splatterpvnk - Vocals, Guitars, Bass, Keyboards
Hundosai - Drums 


Black metal selalu memiliki paradoks yang lucu, Genre yang lahir sebagai simbol pemberontakan justru dipenuhi polisi moral yang sibuk mengawasi siapa yang " Cukup trve ", siapa yang " terlalu bersih ", siapa yang " terlalu melodis ", dan siapa yang dianggap mengkhianati kitab suci Norwegia awal 1990-an. Ironisnya, sebagian besar penjaga gerbang itu lebih rajin menghitung kadar kvlt dibanding benar-benar mendengarkan musik. Untungnya, Saidan tampaknya tidak pernah peduli. Sejak kemunculannya di awal dekade 2020-an, Duo asal Nashville, Tennessee, Amrik ini berkembang jauh melampaui status " Band melodic black metal baru ". Mereka datang membawa semangat hardcore punk, riff-riff heavy metal klasik, sensibilitas visual kei Jepang, horor psikologis Asia, hingga melodi yang lebih dekat kepada Iron Maiden dibanding kubangan lo-fi ala gelombang kedua black metal. Bagi kaum puritan? Ini mungkin penghujatan. Bagi siapa pun yang memahami bahwa musik selalu berkembang? Ini adalah salah satu evolusi paling menarik dalam black metal modern dan melalui " Fangdriller: Scars Beneath Memory's Wrist ", Saidan akhirnya mencapai bentuk paling matang dari identitasnya sendiri. Saidan bukan lagi band yang sekadar memainkan melodic black metal. Mereka sedang membangun bahasa baru.

Fondasi musik mereka memang masih berpijak pada tremolo picking, blast beat, dan jeritan khas black metal. Namun lapisan-lapisan lain terus bermunculan: solo gitar bernuansa New Wave of British Heavy Metal, harmoni neoklasik, chorus yang nyaris berjiwa power metal, ritme punk yang liar, hingga atmosfer teatrikal yang mengingatkan estetika visual kei Jepang. Yang menarik, semua itu tidak terdengar seperti eksperimen yang dipaksakan. Sebaliknya, Saidan justru terdengar semakin nyaman menjadi dirinya sendiri. Alih-alih mempertanyakan " Apakah ini masih black metal? ", mereka memilih pertanyaan yang jauh lebih penting: " Apakah musik ini jujur? " Dan jawabannya terdengar jelas sepanjang album. Salah satu keputusan paling cerdas dalam " Fangdriller " adalah pendekatan produksinya. Album ini memiliki kejernihan yang jarang ditemukan dalam black metal modern, tetapi tetap menyisakan sedikit tekstur kasar di latar belakang. Noise tipis itu menjadi pengingat bahwa Saidan belum sepenuhnya meninggalkan akar underground mereka. Gitar ditempatkan sebagai pemeran utama. Setiap riff terdengar terang, setiap harmoni memiliki ruang, sementara solo gitar memperoleh panggung yang layak tanpa pernah mengubur instrumen lain.

Drum terdengar eksplosif, presisi, dan penuh tenaga dari drummer Hundosai (Tormentum, Vampirska, Velvet Cross, ex-Of Serpents, ex-TOL, Mask the Madness, sorroware, ex-Ysbrydnos), sementara bass meski tidak selalu berada di depan, tetap memberi fondasi groove yang kokoh. Pendekatan produksi ini bahkan lebih dekat kepada album-album klasik Judas Priest atau Iron Maiden dibanding tradisi black metal Norwegia yang sengaja mengubur kejernihan demi atmosfer. Ironis? Justru di situlah kekuatan Saidan. Mereka membuktikan bahwa produksi bersih tidak otomatis menghilangkan kegelapan. Ia hanya membuat pendengar mampu mendengar setiap luka dengan lebih jelas. Kalau ada satu alasan utama mengapa Saidan terus melesat, jawabannya sederhana: riff, Bukan blast beat, Bukan corpse paint, Bukan estetika Jepang melainkan gitar. Album ini dipenuhi melodi yang melekat di kepala hanya dalam satu kali dengar, sesuatu yang semakin langka di tengah black metal modern yang sering lebih sibuk membangun atmosfer daripada menulis riff yang benar-benar hidup. Pengaruh Iron Maiden, Dissection, hingga nuansa neoklasik terasa sangat kuat, tetapi Saidan berhasil mengolah semuanya menjadi bahasa yang sepenuhnya milik mereka. Di sinilah mereka mengingatkan bahwa melodi bukan lawan ekstremitas. Melodi justru membuat kebrutalan memiliki arah.

Sejak detik pertama setlist track album dibuka, Saidan langsung melepaskan rentetan riff bergaya NWOBHM yang dibalut aura punk dan black metal. Pendekatan ini membuat keseluruhan album terasa seperti sebuah rock opera hitam, di mana setiap lagu memiliki karakter melodinya sendiri. " Razorblade Temptation " menjadi salah satu manifesto terbaik mereka. Melodinya besar, riff-nya menggigit, sementara vokal tajam membelah seluruh lanskap musik tanpa kehilangan daya tarik anthemik. Di sinilah Saidan mulai menjauh dari definisi black metal konvensional dan mendekati wilayah melodic extreme metal yang jauh lebih luas. " Immersed By Eternity's Blade " serta " Ethereal Blood " melanjutkan pesta melodi tersebut. Keduanya dipenuhi hook gitar yang nyaris membuat pendengar lupa bahwa mereka sedang mendengarkan black metal. Namun setiap kali chorus mulai terasa terlalu indah, blast beat kembali datang mengingatkan bahwa pisau masih berada di tenggorokan. Eksperimen mulai terlihat melalui " Rapture (I'll Wait for You) " dan " Womb of Hatred. " Pola drum dan bass yang lebih terbuka memberi ruang bagi dinamika baru, memperlihatkan keberanian band meninggalkan struktur tradisional demi sesuatu yang lebih progresif. Pendekatan serupa berlanjut pada " Kara No Bara " yang menghadirkan instrumen bersih dan nuansa melankolis sebelum kembali memasuki badai distorsi. Semua perubahan itu terasa organik.

Tidak ada satu pun yang terdengar seperti strategi marketing lewat gimmick. Meski album ini dipenuhi warna cerah, Saidan tidak sepenuhnya meninggalkan sisi kelam mereka. Nomor " Stained Glass Sin // Fang Driller " menjadi momen paling atmosferik. Bagian tengah lagu bergerak lambat dengan orkestrasi simfonik yang menciptakan rasa takut tanpa harus mengandalkan kecepatan. Inilah salah satu trek yang paling dekat dengan akar black metal klasik mereka. Sebaliknya, " Beat to Death " mengejutkan melalui bagian jam-oriented yang hampir terdengar improvisasional. Keputusan semacam ini memperlihatkan bahwa Saidan semakin percaya diri membiarkan lagu berkembang secara alami, bukan mengikuti formula. dan ketika pendengar mulai merasa telah memahami arah album, mereka justru menutup semuanya melalui " Mortuary. " Outro akustik bernuansa grunge dengan clean vocal yang pudar terdengar seperti cahaya terakhir sebelum layar benar-benar gelap. Penutup yang berani dan sangat manusiawi. Sulit mencari band lain yang bergerak di wilayah yang sama. Secara melodi, Saidan memiliki semangat Dissection. Solo gitar mereka menyerap banyak warisan Iron Maiden. Energi punk yang meledak-ledak mengingatkan pada Kvelertak, sementara keberanian teatrikal serta sentuhan budaya Jepang membuat mereka sesekali mengingatkan pada spektrum visual kei ekstrem yang pernah dipopulerkan oleh band-band seperti Sigh, meski dengan pendekatan yang jauh lebih langsung. Namun Saidan tidak pernah terdengar seperti salinan.

Justru keberanian menyatukan seluruh pengaruh itulah yang membuat mereka semakin sulit dikategorikan dan itu adalah kemenangan. Sejarah black metal selalu dipenuhi perdebatan mengenai kemurnian. Ironisnya, hampir semua band besar yang kini dianggap legenda justru menjadi besar karena mereka berani melanggar aturan yang berlaku pada zamannya. " Fangdriller: Scars Beneath Memory's Wrist " melanjutkan tradisi pemberontakan itu. Saidan memahami bahwa identitas bukanlah pagar yang membatasi kreativitas, melainkan fondasi untuk terus berkembang. Mereka tidak membuang akar black metal, tetapi menolak menjadikannya penjara. Sebaliknya, mereka membiarkan heavy metal klasik, hardcore punk, power metal, horor Jepang, hingga estetika visual kei masuk ke dalam komposisi tanpa kehilangan benang merah musikal. " Fangdriller: Scars Beneath Memory's Wrist " berbicara tentang keberanian menerima seluruh lapisan diri termasuk kontradiksi yang selama ini dianggap kelemahan. Di dunia yang gemar memaksa segala sesuatu masuk ke dalam kotak-kotak genre, Saidan justru menunjukkan bahwa kebebasan artistik lahir ketika seorang musisi berhenti meminta izin untuk berubah. Mungkin akan ada yang berkata bahwa album ini " Tidak cukup black metal. " Biarkan saja. Ia lahir dari keberanian menyalakan api di tempat yang tidak diizinkan untuk terbakar. dan melalui Fangdriller, Saidan tidak hanya membakar batas-batas genre mereka menari di atas abunya sambil terus menulis salah satu bab paling menarik dalam evolusi melodic black metal modern. Dalam tahun yang dipenuhi rilisan luar biasa, album ini berdiri bukan karena paling ekstrem, melainkan karena paling berani menjadi dirinya sendiri.

0 Comments:

Posting Komentar

Tinggalkan komentar TERBAIK kalian disini, enjoy the sickness !

Designed by lostinchaos mediazine