Mortem - Mørketid
Peaceville Records CD 2026
01. Mørketid 06:04
02. The Mighty Odious 04:43
03. Skyggeånd 07:34
04. Blodvassen grunn 05:44
05. Aftermath 04:09
06. Den sanne Gud 05:22
07. Mørkets ormebol 05:52
08. Ditt ødes ære 05:10
Marius Vold - Vocals
Tor Stavenes - Bass
Steinar Johnsen - Keyboards
Hellhammer - Drums
Astennu - Add. Guitars
Dunia black metal Norwegia yang " terlalu " dikultuskan di scene kita hahaha, sejarah sering kali diperlakukan layaknya kitab suci. Nama-nama besar diulang tanpa henti, demo-demo usang dipuja seperti relik, sementara terlalu banyak band baru sibuk memoles estetika bangkai ketimbang menulis riff yang layak dikenang. Ironisnya, sebagian besar "penjaga tradisi" justru hanya menjadi kurator museum nostalgia. Mortem datang untuk menertawakan semua itu. Band kugiran yang dibentuk pada 1987 bahkan sebelum gelombang kedua black metal benar-benar meledak tidak pernah memiliki kebutuhan untuk membuktikan status kultusnya. Dengan fondasi yang dibangun oleh Steinar "Sverd" Johnsen (Arcturus), Marius Vold (eks-Thorns, eks-Arcturus), Hellhammer (Mayhem, Arcturus, The Kovenant), serta formasi awal yang pernah melibatkan Tor Stavenes (Seidemann/1349), Mortem adalah bagian dari DNA sejarah ekstrem Norwegia, bukan sekadar penonton yang datang belakangan. Debut penuh mereka, " Ravnsvart " (2019), menjadi bukti bahwa veteran masih mampu berbicara dalam bahasa kekerasan tanpa terdengar usang. Tujuh tahun berselang, album kedua hadir bukan sebagai nostalgia yang dibungkus ulang, melainkan sebagai deklarasi bahwa usia hanya angka ketika kreativitas masih memiliki taring. Banyak band veteran terdengar seperti mesin waktu yang rusak, mereka hanya mampu mengulang masa lalu dengan kualitas rekaman yang lebih baik, Mortem melakukan sebaliknya.
Akar musik mereka memang tetap berpijak pada Norwegian second-wave black metal, tetapi album ini tidak pernah terdengar sebagai replika " De Mysteriis Dom Sathanas ", " Hvis Lyset Tar Oss ", atau " Transilvanian Hunger ". Yang muncul justru perpaduan antara agresi primitif, atmosfer kosmik, orkestrasi sintetis, dan kecerdasan komposisi yang lahir dari pengalaman puluhan tahun. Mereka memahami satu hal yang sering dilupakan banyak band revival: tradisi bukan berarti berhenti bergerak. Produksi: Kabut Dingin yang Dibangun dengan Presisi Modern Salah satu kemenangan terbesar album ini terletak pada produksinya. Alih-alih mengejar estetika lo-fi secara artifisial penyakit yang belakangan menjangkiti terlalu banyak band black metal modern, Mortem memilih keseimbangan yang jauh lebih elegan. Gitar tetap tajam seperti bilah es, Drum terdengar eksplosif tanpa kehilangan ruang bernapas, Keyboard memperoleh posisi penting sebagai pencipta lanskap atmosfer, bukan sekadar dekorasi simfonik murahan. Setiap lapisan sound memiliki ruang sendiri, membuat kompleksitas aransemen tetap mudah diikuti tanpa mengorbankan rasa dingin khas black metal Norwegia.
Keputusan produksi ini memperlihatkan kedewasaan. Album terdengar megah, tetapi tidak bombastis. Bersih, tetapi tidak steril, Gelap, tanpa harus sengaja terdengar buruk. Kalau Hellhammer adalah jantung mekanis album ini, maka Sverd adalah jiwa yang mengisinya. Permainan keyboard Sverd menjadi pembeda utama Mortem dibanding mayoritas band black metal atmosferik saat ini. Alih-alih sekadar mengisi ruang kosong, sintetisnya menciptakan dimensi baru: kosmik, angker, dan sesekali nyaris progresif. Warna-warna ini mengingatkan pada karya-karya Arcturus, periode futuristik The Kovenant, bahkan kemegahan awal Dimmu Borgir, tetapi tetap mempertahankan identitas yang lebih liar dan lebih purba. Di sisi lain, Hellhammer kembali membuktikan mengapa namanya masih dianggap salah satu drummer paling berpengaruh dalam sejarah extreme metal. Blast beat-nya bukan sekadar cepat. Ia memahami kapan harus menghancurkan, kapan harus memberi ruang, dan kapan membiarkan groove mid-tempo berbicara lebih keras daripada ledakan kecepatan. Permainan drumnya terasa progresif tanpa pernah kehilangan naluri barbar.
Album dibuka melalui " Mørketid, " sebuah manifesto yang langsung memperlihatkan seluruh kekuatan Mortem. Riff dingin khas Norwegia berpadu dengan orkestrasi sintetis yang membangun lanskap luas, seolah pendengar sedang berdiri sendirian di pegunungan bersalju sambil menunggu datangnya kiamat. Atmosfer menjadi senjata utama, tetapi agresi tidak pernah dikorbankan. " The Mighty Odious " memperlihatkan wajah paling brutal album. Blast beat Hellhammer menghujam tanpa ampun, sementara melodi gitar tetap mampu menciptakan kait emosional yang kuat. Di sinilah Mortem menunjukkan bahwa ekstremitas dan musikalitas tidak harus saling membunuh. " Skyggeånd " menjadi salah satu puncak artistik album. Riff-riff tajamnya seakan berasal dari era sebelum black metal memiliki aturan baku. Bagian tengah yang melambat memberi ruang bagi sintetis menghantui seluruh komposisi sebelum lagu kembali menghantam dengan kebrutalan yang terkendali. Lagu ini menjadi contoh sempurna bagaimana dinamika jauh lebih mematikan daripada sekadar memainkan tempo maksimum sepanjang waktu. Pada " Blodvassen Grunn, " gitar bergerak seperti badai Arktik, sementara keyboard menyelimuti seluruh komposisi dengan aura spektral yang nyaris sinematik. Produksi yang presisi membuat seluruh lapisan ini terdengar jelas tanpa kehilangan nuansa dingin.
Sementara " Aftermath " menghadirkan salah satu komposisi paling progresif di album. Solo gitar yang lebih melodis, ritme drum yang berubah-ubah, hingga permainan dinamika memperlihatkan bahwa Mortem tidak pernah puas menjadi band black metal konvensional. Lalu hadir " Den Sanne Gud, " mungkin salah satu lagu paling megah dalam keseluruhan album. Orkestrasi simfonik, synth yang mencekam, vokal parau Marius Vold, serta solo gitar yang penuh tensi menciptakan pengalaman musikal yang tidak hanya terdengar gelap, tetapi juga agung. Dua trek penutup, " Mørkets Ormebol" dan " Ditt Ødes Ære, " menjadi penegasan bahwa para veteran ini masih memahami bahasa asli black metal sebelum genre tersebut berubah menjadi industri estetika. Secara karakter, Mortem berada di titik yang unik. Agresi mentahnya memiliki hubungan darah dengan Mayhem. Atmosfer avant-garde dan kosmiknya jelas mengingatkan pada Arcturus. Pendekatan keyboard yang luas membawa memori kepada era klasik The Kovenant, sementara kemegahan simfoniknya sesekali bersinggungan dengan fase awal Dimmu Borgir, namun Mortem tidak terdengar sebagai gabungan keempat nama tersebut. Justru pengalaman panjang para personelnya membuat seluruh pengaruh itu melebur menjadi identitas yang utuh.
Album ini tidak mengejar nostalgia, Ia memperlihatkan bagaimana para pelaku sejarah memilih melanjutkan percakapan yang pernah mereka mulai puluhan tahun lalu. Yang membuat album ini benar-benar menonjol bukan sekadar kualitas teknisnya. Melainkan kemampuannya menjaga keseimbangan antara rasa takut dan rasa kagum. Riff-riff dingin tidak hanya menghadirkan agresi, Keyboard tidak sekadar menciptakan atmosfer, Vokal tidak hanya menyampaikan lirik. Seluruh elemen bekerja sebagai satu narasi besar mengenai kehampaan, kematian, kosmos, dan keterasingan manusia. Black metal terbaik memang tidak pernah sekadar berbicara tentang Setan. Ia selalu berbicara tentang kesendirian dan Mortem memahami itu sepenuhnya. Banyak band tua bertahan karena nama besar. Banyak pula yang terus berkeliling dunia memainkan lagu-lagu lama sambil menjual nostalgia sebagai komoditas. Tidak ada yang salah dengan itu, tetapi sejarah musik ekstrem tidak pernah bergerak maju karena orang-orang yang puas memandangi album klasik dari balik etalase.
Mortem memilih jalan yang lebih berisiko. Mereka tidak menghapus akar yang mereka tanam sendiri pada akhir 1980-an, tetapi juga tidak membiarkannya membatu. Album kedua ini memperlihatkan bagaimana pengalaman puluhan tahun dapat diterjemahkan menjadi komposisi yang matang, atmosfer yang kaya, dan produksi yang modern tanpa kehilangan jiwa primitif black metal. " Mørketid " mengingatkan bahwa kegelapan bukanlah ruang yang beku. Ia adalah lanskap yang terus berubah, sama seperti manusia yang menciptakannya. Tradisi hanya akan tetap hidup ketika berani bertransformasi, bukan ketika dipuja tanpa pertanyaan. Di tengah gelombang band yang berlomba-lomba terdengar " lebih 1993 daripada tahun 1993 sendiri ", Mortem justru memilih menjadi sesuatu yang jauh lebih sulit: terdengar relevan tanpa mengkhianati sejarahnya. Dan mungkin di situlah letak kemenangan terbesar album ini. Ia bukan sekadar penghormatan terhadap masa lalu Norwegia, melainkan bukti bahwa bara pertama yang menyalakan black metal belum pernah benar-benar padam ia hanya berpindah tangan kepada mereka yang masih tahu bagaimana menjaganya tetap menyala.
Mortem - Mørketid CD 2026
Written by REVIEW LOSTINCHAOS Juli 25, 2026 0
Langganan:
Posting Komentar
(
Atom
)


0 Comments:
Posting Komentar
Tinggalkan komentar TERBAIK kalian disini, enjoy the sickness !