VA. Death Is Just The Beginning, MMXVIII CD 2018

VA. Death Is Just The Beginning, MMXVIII
Nuclear Blast Records CD 2018

01. Benediction - Tear Off These Fucking Wings (Demo)    
02. Kataklysm - The Awakener (Re-Recorded)    
03. Hypocrisy - They Lie    
04. The Spirit - Illuminate The Night Sky    
05. Insidious Disease - Soul Excavation    
06 Memoriam - War Rages On (Demo)    
07. Possessed - Abandoned (Demo)    
08. Thy Art Is Murder - The Son Of Misery    
09. Immolation - Morbid Visions    
10. Nailed To Obscurity - King Delusion    
11. Bleeding Gods - Beloved By Artemis    
12. Decapitated - Sane    
13. Aenimus - Before The Eons    
14. Paradise Lost - Frozen Illusion    
15. Carcass - A Wraith In The Apparatus    
16 Brujeria - Viva Presidente Trump!


Pada tahun 1990, Nuclear Blast merilis kompilasi pertama " Death Is Just The Beginning " yang menampilkan artis death metal mereka, sebagian besar dari mereka cukup underground karena death metal sendiri adalah genre yang sangat baru pada waktu itu. Seiring dengan bertambahnya daftar artis Nuclear Blast, kompilasi juga bertambah banyak menjadi 2 CD yang dipenuhi dengan lagu-lagu yang belum dirilis oleh band-band kultus dan pendatang baru seperti Dimmu Borgir, Amorphis, dan Meshuggah, yang membantu meluncurkan karier. Pada tahun 2002, " Death Is Just The Beginning " tidak lagi tentang band-band death metal dan sekarang termasuk Manowar dan Helloween, sebelum akhirnya menghilang. 16 tahun kemudian dan " Death Is Just The Beginning " telah bangkit dari kubur dalam bentuk aslinya, 16 lagu death metal tanpa kompromi. Ada sesuatu yang ironis tentang dunia metal ekstrem modern. Hari ini semua orang bisa mengakses jutaan lagu hanya dengan satu sentuhan jari, tetapi rasa penemuan musik justru terasa makin mati. Algoritma hanya terus melempar nama yang sama, playlist resmi terdengar seperti rapat marketing korporat, dan banyak pendengar baru akhirnya tumbuh dengan ilusi bahwa sejarah death metal dimulai dari thumbnail YouTube berkualitas 4K dan produksi digital steril tanpa lumpur. Padahal dulu, kompilasi adalah gerbang suci. Dan salah satu gerbang terbesar itu bernama " Death Is Just The Beginning ".

Tahun 1990, ketika death metal masih dianggap suara setan dari ruang bawah tanah berjamur dan belum jadi komoditas festival besar, Nuclear Blast merilis volume pertama kompilasi ini untuk memperkenalkan roster death metal mereka. Waktu itu genre ini masih muda, liar, belum punya aturan baku, dan sebagian besar band-nya hidup di level underground yang bahkan lebih bawah dari underground hari ini. Tidak ada Instagram, Tidak ada reaction channel, Tidak ada influencer metal sok intelek yang menjelaskan blast beat sambil pakai ring light, Yang ada cuma tape-trading, fanzine fotokopian, dan rasa lapar untuk menemukan musik paling brutal yang bisa manusia ciptakan. Seiring waktu, seri " Death Is Just The Beginning " berkembang jadi monster besar. Daftar artis Nuclear Blast makin menggila, dan kompilasi ini berubah menjadi semacam museum berjalan metal ekstrem. Band-band seperti Dimmu Borgir, Amorphis, hingga Meshuggah pernah muncul di sana sebelum status mereka berubah jadi dewa festival. Lucunya, semakin besar nama labelnya, semakin kabur juga identitas kompilasinya. Masuk tahun 2002, konsep " death metal " mulai terdengar seperti formalitas saja ketika nama-nama macam Manowar dan Helloween ikut nongol. Rasanya seperti kalian datang ke pesta goregrind lalu tiba-tiba ada paman mabuk membawa pedang plastik sambil menyanyikan power metal tentang naga. Aneh. Tidak salah, tapi aneh. Lalu seri ini menghilang.

Dan seperti zombie tua yang menolak mati, enam belas tahun kemudian " Death Is Just The Beginning " bangkit lagi dari kubur dengan format yang jauh lebih mendekati akar aslinya: enam belas lagu death metal tanpa kompromi. Opening Kompilasi dimulai dari Benediction lewat demo " Tear Off These Fucking Wings " langsung mengingatkan kenapa OSDM Inggris punya karakter yang begitu berat dan mengintimidasi. Riff lambatnya seperti pintu bunker karatan yang dibuka perlahan sebelum kalian dilempar ke ruang penyiksaan sonik. Dan di situlah masalah nostalgia mulai bekerja. Karena bahkan bagi pendengar lama yang sudah lama meninggalkan death metal reguler sejak era 1994-an, Benediction masih terdengar seperti alasan mengapa genre ini dulu begitu dicintai: riff sederhana, berat, jujur, dan tidak sok teknikal demi konten YouTube playthrough. Lalu Kataklysm datang menghantam lewat versi rekaman ulang " The Awakener ", jauh lebih cepat, lebih agresif, dan lebih modern. Dua lagu pertama saja sudah memperlihatkan dua kutub death metal: satu mengandalkan beban riff, satu lagi mengandalkan serangan tanpa rem. Menariknya, salah satu kejutan terbesar justru datang dari Hypocrisy yang membawakan lagu " They Lie " milik The Exploited. Dan di situ terasa jelas bahwa garis antara punk, crust, grindcore, dan death metal sebenarnya jauh lebih tipis daripada yang sering diperdebatkan kaum elit genre. Karena pada dasarnya semuanya lahir dari kemarahan. Cuma distorsinya beda ukuran.

The Spirit hadir membawa aura black metal klasik lewat " Illuminate The Night Sky ", terdengar seperti transmisi langsung dari tahun 1994. Atmosfer dingin dan riff tradisional mereka menjadi salah satu momen paling autentik di kompilasi ini. Sebaliknya, Memoriam justru kurang beruntung. Demo raw mereka sebenarnya bagus, tetapi penempatannya di antara The Spirit dan Insidious Disease membuat lagunya tenggelam seperti kaset rehearsal di bawah truk tank. Masalah terbesar kompilasi ini memang sequencing. Transisinya kadang terasa brutal dengan cara yang salah. Contohnya ketika Possessed menyerahkan tongkat estafet ke Thy Art Is Murder. Bukan soal kualitas, tetapi benturan gaya itu terasa seperti dilempar dari ruang ritual death metal klasik langsung ke gym deathcore modern penuh breakdown dan hoodie hitam. Dan jujur saja, di samping Possessed, Thy Art Is Murder terdengar lebih seperti tembok noise daripada ancaman iblis. Salah satu keputusan paling aneh datang dari Immolation yang memilih meng-cover " Morbid Visions " milik Sepultura. Anehnya, mereka tidak benar-benar menambahkan sesuatu yang baru. Produksinya memang lebih bersih, tetapi justru kehilangan aura primitif menjijikkan yang membuat lagu aslinya begitu legendaris.

Kadang tidak semua lagu klasik perlu disentuh ulang. Karena beberapa rekaman hidup justru dari kekurangannya. Untungnya bagian akhir kompilasi kembali menyelamatkan keadaan. Bleeding Gods tampil luar biasa lewat " Beloved By Artemis ", sementara cover " Sane " oleh Decapitated terasa seperti napas segar penuh groove mekanikal. Lalu ada kejutan nostalgia dari Paradise Lost lewat " Frozen Illusion " dari 1994. Sebuah pengingat indah tentang masa ketika death/doom masih terdengar muram dan manusia belum hidup sepenuhnya di internet. Era ketika bus masih merah. Ketika MTV masih memutar musik. Ketika kalian menemukan band baru bukan dari algoritma, tetapi dari kaset pinjaman teman berambut gondrong yang baunya seperti rokok dan lem stiker. Dan tentu saja Carcass tetap terdengar hebat karena Carcass memang hampir mustahil terdengar buruk. Sayangnya kompilasi ini ditutup oleh Brujeria yang justru menjadi titik terlemah. Dulu misteri mereka menarik ketika orang mengira mereka kartel narkoba sungguhan. Tetapi setelah internet membongkar semuanya sebagai supergroup metal, sebagian sihirnya hilang. Dan imitasi Donald Trump di lagu mereka terasa lebih seperti sketsa radio murahan daripada satire mematikan.

Namun terlepas dari naik-turunnya kualitas, " Death Is Just The Beginning " tetap berhasil menjalankan fungsi terpenting sebuah kompilasi metal: membuat kalian ingin mencari band-band baru setelah selesai mendengarkannya. Dan itu adalah sesuatu yang semakin langka hari ini. Karena menemukan musik baru dengan rasa penasaran murni masih menjadi salah satu kesenangan terbaik dalam hidup seorang metalhead. Bukan sekadar konsumsi algoritma. Tetapi eksplorasi.

 

0 Comments:

Posting Komentar

Tinggalkan komentar TERBAIK kalian disini, enjoy the sickness !

Designed by lostinchaos mediazine