Cryptic Shift - Overspace & Supertime CD 2026

Cryptic Shift - Overspace & Supertime
Metal Blade Records CD 2026

01. Cryogenically Frozen 09:24      
02. Stratocumulus Evergaol 29:26      
03. Hyperspace Topography 09:40     
04. Hexagonal Eyes (Diverity Trepaphymphasyzm) 10:05     
05. Overspace & Supertime 20:22


Xander Bradley - Guitars, Vocals
Joss Farrington - Guitars
John Riley - Bass
Ryan Sheperson - Drums 


Hanya dengan licks whammy roll yang sama yang membuka Moonbelt Immolator yang menghiasi menit-menit awal track " Cryogenically Frozen ", Cryptic Shift seperti sedang menertawakan seluruh scene death metal modern yang terlalu sibuk berlomba jadi " berat " tapi lupa cara terdengar benar-benar misterius. Mereka kembali bukan sekadar membawa album baru, melainkan membuka kembali portal kosmik menuju semesta teknikal death metal yang absurd, kompleks, dan nyaris tidak masuk akal secara manusiawi. Setelah " Visitations from Enceladus " tahun 2020 sukses membuat banyak pendengar merasa seperti astronot yang tersesat sambil muntah darah di lorong pesawat luar angkasa, kini kuartet asal Leeds, Inggris itu datang lagi dengan monster kedua mereka, " Overspace & Supertime ", sebuah album yang terasa seperti tesis ilmiah alien yang diterjemahkan ke dalam riff death/thrash progresif penuh paranoia. Mereka benar-benar tidak punya rasa kasihan. Kalau debut sebelumnya sudah terasa seperti labirin sonik tanpa peta, maka " Overspace & Supertime " adalah versi di mana peta itu dibakar, navigatornya dibunuh, lalu kalian dilempar telanjang ke hyperspace sambil dipaksa memahami matematika kuantum melalui blast beat dan solo gitar yang terdengar seperti mesin warp meledak. Album ini lebih panjang, lebih liar, lebih ambisius, dan jauh lebih tenggelam dalam kegilaan sci-fi dibanding pendahulunya. Dua komposisi berdurasi lebih dari dua puluh menit bukan sekadar lagu; itu ekspedisi penuh. Ini bukan musik yang kalian dengar sambil nyuci motor atau ngopi sore. Ini pengalaman yang menggerogoti konsentrasi dan menuntut totalitas perhatian, seolah-olah Cryptic Shift ingin memastikan bahwa kalau kalian mau masuk ke dunianya, kalian harus rela kehilangan arah pulang. Yang membuat semuanya semakin menarik adalah bagaimana mereka tetap mempertahankan akar death/thrash teknikal klasik di tengah seluruh kekacauan avant-garde itu. Ada aroma Voivod yang sangat pekat, terutama dalam struktur riff yang miring, futuristik, dan terasa seperti logam berkarat yang dipaksa hidup kembali oleh listrik kosmik. Namun mereka juga membawa nuansa old-school death metal yang ganas ala Cynic " Focus " banget, semacam penghormatan terhadap era ketika death metal belum berubah jadi olahraga matematika berkedok musik. Di tangan band lain, kombinasi seperti ini bisa terdengar seperti tumpukan ide ambisius yang saling bertabrakan tanpa arah. Tapi Cryptic Shift justru membuat semuanya terasa seperti satu narasi besar yang mengalir, walaupun aliran itu kadang menyerupai sungai antimateri.

 
" Cryogenically Frozen " langsung menghajar dengan rasa familiar yang disengaja. Seolah mereka berkata, " Kalian ingat pintu masuk neraka kosmik kemarin? Nah, sekarang masuk lebih dalam lagi.” Lagu itu membawa kembali semangat Moonbelt Immolator tetapi dengan skala yang lebih besar dan lebih percaya diri. Riff-riff berputar seperti asteroid yang saling bertabrakan, drum bergerak seperti reaktor nuklir overload, dan bass tidak sekadar mengisi ruang kosong tetapi menjadi fondasi gravitasi seluruh kekacauan. Tidak ada instrumen yang benar-benar diam di album ini; semuanya terus bergerak, berubah bentuk, dan berevolusi. Lalu datang " Stratocumulus Evergaol ", salah satu momen paling memusingkan sekaligus paling menghipnotis di album. Di sini Cryptic Shift terdengar seperti band death metal yang menulis soundtrack untuk mimpi buruk astronot schizofrenik. Struktur lagunya terasa cair dan tidak stabil, berpindah dari groove thrash futuristik menuju bagian atmosferik yang terdengar seperti gema dari stasiun luar angkasa kosong yang sudah mati ribuan tahun lalu. Ini musik yang memaksa otak bekerja keras. Banyak band teknikal modern terjebak dalam penyakit tech-wank: terlalu sibuk memamerkan kemampuan sampai lupa membangun atmosfer atau identitas. Cryptic Shift justru berhasil menghindari jebakan itu dengan cara yang hampir menjengkelkan karena mereka terdengar sangat alami saat memainkan sesuatu yang sebenarnya sangat tidak manusiawi. Dan itu inti kekuatan mereka. Mereka memahami bahwa kompleksitas tanpa imajinasi hanyalah masturbasi instrumen. Banyak band death metal progresif modern terdengar seperti mahasiswa teknik yang baru menemukan metronom digital dan plugin gitar mahal. Cryptic Shift terdengar seperti empat orang yang benar-benar percaya mereka sedang memetakan dimensi lain melalui musik. Ada visi yang jelas. Ada dunia yang dibangun. Bahkan ketika lagu-lagunya terasa seperti teka-teki yang mustahil dipecahkan, kalian tetap ingin terus masuk lebih jauh. Lirik dan tema sci-fi mereka juga bukan sekadar tempelan estetika murahan demi terlihat pintar. " Overspace & Supertime " terasa seperti opera kosmik penuh horor eksistensial, memadukan eksplorasi ruang angkasa, kehancuran identitas, dan ketakutan terhadap ketidakterbatasan alam semesta. Ini semacam perpaduan antara literatur fiksi ilmiah klasik dengan paranoia death metal modern. NASA mungkin bilang tidak ada suara di luar angkasa, tapi jelas mereka belum pernah mendengar Cryptic Shift. Karena di galaksi mereka, ruang hampa dipenuhi suara riff yang menggema seperti sinyal darurat dari peradaban yang sudah lama punah. Tentu saja, album seperti ini tidak akan cocok untuk semua orang. Pendengar yang menginginkan death metal langsung hajar tanpa berpikir kemungkinan akan menyerah sebelum mencapai pertengahan album. Dan jujur saja, ada momen-momen di mana kompleksitas Cryptic Shift terasa begitu padat sampai hampir melelahkan. Tapi justru di situlah pesonanya. Mereka tidak membuat musik untuk jadi latar belakang algoritma Spotify atau soundtrack gym murahan. Mereka membuat pengalaman sonik yang menuntut keterlibatan penuh. Pada akhirnya, " Overspace & Supertime " adalah bukti bahwa death metal progresif masih bisa terdengar menakutkan, asing, dan benar-benar kreatif tanpa kehilangan kekuatan destruktifnya. Di tengah lautan band teknikal modern yang terdengar steril dan terlalu aman, Cryptic Shift hadir seperti anomali antarbintang yang menolak tunduk pada logika pasar maupun formula genre. Mereka tidak sedang mencoba menjadi band death metal paling brutal, paling teknikal, atau paling avant-garde. Mereka hanya ingin membawa kalian tersesat jauh ke ruang kosong kosmik lalu membiarkan kalian membusuk di sana sambil ditemani gema riff yang tidak pernah benar-benar berhenti.

Sebuah usaha seperti Overspace & Supertime menuntut penampilan yang sangat baik untuk bertahan: Cryptic Shift tidak bisa melakukan lebih baik lagi. Tetap setia pada campuran death atheis, thrash Vektorian, dan sensibilitas progresif ala King Crimson yang membuat debut mereka sangat mengesankan, Cryptic Shift telah membuka lagi sebuah wormhole dari kehebatan death/thrash teknis. Tapi jika kalian membayangkan " Visitations from Enceladus " II: Eldritch Boogaloo, berhenti. Overspace mengambil apa yang membuat " Visitations from Enceladus " hebat dan mempercepatnya ke kecepatan warp. Duo gitaris Xander Bradley (Slimelord, ex-Obliterator, Last Victorian Death Squad, ex-Defacement) dan Joss Farrington (Cryptworm, Seprevation) menerobos melalui serangkaian riff yang membingungkan dan mematahkan leher di seluruh " Overspace & Supertime ", membengkokkan seluruh papan fret mereka, bersolo di " Stratocumulus Evergaol " dan mengerahkan seluruh tenaga mereka di " Hyperspace Topography " yang penuh tenaga. Drummer Ryan Sheperson ( Slimelord, ex-Obliterator, ex-Horrified, ex-Powerstruggle) memukul kit-nya dengan ritme yang hanya bisa w tebak di lagu " Overspace & Supertime " sementara bassist John Riley (Slimelord, ex-Exiled, ex-Sewer Fiend, ex-After-Shock, ex-Brass Animal, ex-Encopresis, ex-Leprotic) meluncur tanpa hambatan di " Cryogenically Frozen " ke dalam solo yang dipertukarkan antara gitar, menghasilkan serangan yang halus namun tak kenal ampun. Dihiasi dengan teriakan menggelegar Bradley, " Overspace & Supertime " adalah sebuah mahakarya keahlian musik. Apa yang menggerakkan penulisan lagu panjang Cryptic Shift adalah bahwa musik mereka selalu dalam keadaan berubah. Setiap kali band ini tampak tersesat dalam prog-sauce mereka sendiri seperti pada pembukaan yang penuh efek dari " Hexagonal Eyes (Diverity Trepaphymphasyzm) " dan " Cryogenically Frozen " mereka selalu kembali dengan riff yang menghancurkan yang membantu menjaga " Overspace & Supertime " tetap lebih mudah didekati daripada seharusnya. Seperti di " Visitations from Enceladus ", Cryptic Shift menggunakan bagian gitar clean dan suasana yang menyeramkan untuk menggambarkan bagian-bagian berat. Tetapi di " Overspace & Supertime ", mereka dijalin dengan mulus ke dalam bagian-bagian yang terdistorsi untuk menciptakan bagian-bagian dinamis, seperti petikan bersih yang berkilau di antara hentakan kematian monster pada " Stratocumulus Evergaol " atau tremolo surf-rock yang menghitam pada " Hyperspace Topography. " Tetapi dinamika terbesar Cryptic Shift di " Overspace & Supertime " adalah antara terang dan gelap.

 
Sementara debut mereka adalah eksplorasi gelap gulita dari horor yang berasal dari luar angkasa, " Overspace & Supertime " menyuntikkan dosis kekaguman yang sehat ke dalam perpaduan mereka, termasuk kesimpulan yang anehnya cerah pada " Cryogenically Frozen " dan " Overspace & Supertime " serta sebuah bagian sekitar 16 menit ke dalam " Stratocumulus Evergaol " yang begitu ceria sehingga bisa disamakan dengan Rise Against. Ada dalam namanya: Cryptic Shift berubah dengan cara-cara aneh selama Overspace & Supertime, dan w mendukungnya. Dan ini membawa w pada keajaiban sejati dari " Overspace & Supertime " dan di mana kebesarannya paling diuntungkan: keindahan yang tidak seimbang. Ini adalah album yang sepenuhnya agresif, disonan, esoteris, dan dengan ritme yang aneh; Cryptic Shift tidak membuat langkah yang jelas, dan mereka jelas tidak mengejar pemutaran radio. Jadi, mengapa ini begitu indah? Solo yang dengan mudah meluncur dari kebisingan kromatik ala Slayer menjadi melodi yang megah. Ambiens yang sabar baik tenang maupun mengganggu, gebrakan yang agresif seexciting sekaligus bermusuhan. Produksi yang brilian ini paling baik dijelaskan oleh Dolphin Whisperer sebagai " porno nada, " di mana semua yang bersih adalah kristal, dan segala yang kotor adalah menjijikkan. Betapa mudahnya terpesona oleh Cryptic Shift dan membiarkan perjalanan bebas bentuknya membawa kalian melalui berbagai liku-liku. Fakta bahwa " Overspace & Supertime " menjadi aneh dan memakan waktu berharga untuk melakukannya memungkinkan pendengar untuk membenamkan diri dalam dunia Cryptic Shift, menciptakan pengalaman yang sungguh luar biasa.

Dalam retrospeksi, " Visitations from Enceladus " terasa seperti bukti konsep Cryptic Shift untuk " Overspace & Supertime ". Ya, ini adalah rekaman yang melelahkan. Mencoba menangkap semuanya pada pendengaran pertama bisa membuatmu buta. Mungkin 80 menit itu terlalu lama. Tapi " Overspace & Supertime " adalah rekaman yang lebih baik daripada ekspektasi liar w, yang dibuat selama enam tahun, yang pernah w impikan. Seperti Frank Zappa di masa jayanya, Cryptic Shift di " Overspace & Supertime " sering membuatku bingung, kadang hanya membuatku tertawa geli, tetapi tidak pernah membuatku tidak tergerak oleh pertunjukan mereka yang aneh dan gaib. Dalam zaman-zaman aneh yang dihuni oleh Cryptic Shift, segalanya telah terjadi. Secara keseluruhan, " Overspace & Supertime " adalah kemajuan lain dalam sound Cryptic Shift, dan yang melihat mereka menemukan jati diri mereka sebagai entitas yang berbeda. Materi awal band ini, meskipun hebat, juga sangat dipengaruhi oleh sumber kecil namun signifikan dari pasca-Vektor dalam metal thrash teknis yang muncul pada akhir 2010-an. Pengaruh itu jelas masih dapat ditemukan, tetapi dengan album kedua mereka, Cryptic Shift telah berhasil mensintesis pengaruh mereka dan mungkin menciptakan sesuatu yang baru, sebuah sound yang dapat berfungsi sebagai template baru bagi kelompok-kelompok sejenis mereka ke depan. anomali yang tak terbayangkan yang hanya dikenal sebagai " Overspace & Supertime ". It's a remarkable feat that Cryptic Shift manages to keep the record so engaging despite combination of the aforementioned runtime and the sheer density of the material.

0 Comments:

Posting Komentar

Tinggalkan komentar TERBAIK kalian disini, enjoy the sickness !

Designed by lostinchaos mediazine