Nequient - Avarice CD 2026

Nequient - Avarice
Nefarious Industries CD 2026

01. Mad King / Fool 03:13      
02. Christofascist Zombie Brigade 02:15      
03. Splenetic and Moribund 05:58      
04. Brain Worms 03:25      
05. Rintrah Roars 05:57      
06. Obsolete Machines 06:49      
07. Siege Mentality 04:46      
08. Enshittification 02:13      
09. Stochastic Terror 06:27


Jason Kolkey - Vocals
Patrick Conahan - Guitars
Aaron Roemig - Bass, Vocals
Chris Avgerin - Drums


Dengan nama sekejam Nequient dan artwork album yang menampilkan kepala manusia seperti objek eksperimen laboratorium ilegal, orang waras mungkin langsung mengira band asal Chicago ini memainkan BDM primitif yang tugas utamanya cuma bikin leher keseleo dan ruangan bau keringat. Tapi justru di situlah jebakannya. Karena Nequient tidak datang membawa palu godam death metal konvensional. Mereka datang seperti tabrakan antara mathcore paranoid, crust punk penuh amarah sosial, grindcore neurotik, dan hardcore metallic yang terdengar seperti sistem saraf modern sedang korsleting massal. Full album baru " Avarice " memang seaneh itu. dikerjakan bareng produser Sanford Parker, seorang musisi, produser, dan Enjiner rekaman yang berbasis di Chicago, Sebagai seorang Enjiner, Sanform bekerja di Volume Studios, Semaphore Recording, dan Engine Studios. Album penuh ketiga mereka ini bukan musik yang bisa kalian cerna sambil rebahan santai atau sekadar jadi backsound nongkrong metalhead sok elit yang sibuk debat tone gitar. Ini adalah serangan panik musikal. Kacau, penuh tekanan, dan sengaja dibuat tidak nyaman. Bahkan dari menit awal, Nequient terdengar seperti band yang ingin menyeret pendengar masuk ke ruang sempit penuh lampu strobo rusak, berita politik korup, dan amarah kelas pekerja yang tidak pernah mendapat tempat di dunia modern. Secara sonik, mereka lebih dekat ke ledakan mathcore awal 2000-an dibanding death metal tradisional. Ada aura frenetis ala The Dillinger Escape Plan, kegilaan grindy yang mengingatkan pada Converge, hingga kemarahan crust yang terasa lahir dari gang sempit penuh asap rokok dan selebaran anti-kapitalisme. Tapi Nequient tidak sekadar meniru formula lama. Mereka menyusun semuanya menjadi monster yang terasa benar-benar tidak stabil. Dan mungkin itulah poin utama " Avarice ": ketidakstabilan. Musik di album ini seperti refleksi dunia modern itu sendiri. Tidak nyaman, terlalu cepat, penuh kontradiksi, dan terus bergerak tanpa memberi kesempatan bernapas. Struktur lagunya sengaja dibuat patah-patah, riff berubah arah seperti orang paranoid dikejar utang hidup, sementara drumnya terdengar seperti sedang mencoba menghancurkan fondasi lagu itu sendiri. Kalian bahkan kadang bingung: ini masih lagu yang sama atau band-nya baru saja meledakkan rel musiknya sendiri? Lucunya, di tengah semua kekacauan itu, Nequient tetap punya kontrol yang sangat presisi. Ini bukan chaos asal tabrak. Mereka jelas tahu kapan harus mempercepat intensitas, kapan harus meledakkan disonansi, dan kapan harus menahan groove agar semuanya tidak berubah jadi noise tak berbentuk. Dan itu yang membedakan mereka dari banyak band mathcore modern yang terlalu sibuk terdengar " gila " sampai lupa menulis lagu yang benar-benar punya dampak. Secara lirik dan atmosfer, " Avarice " juga dipenuhi racun politik yang sangat terasa. Bukan politik gimmick ala band yang sekadar pasang slogan revolusi di merchandise lalu jual hoodie harga selangit, tapi kemarahan yang terdengar tulus terhadap sistem sosial yang busuk, kerakusan manusia, dan absurditas hidup modern. Album ini seperti soundtrack orang yang muak melihat dunia dipenuhi korporasi rakus, manipulasi media, dan manusia yang makin nyaman hidup dalam kebodohan instan. Dan memang, Nequient tidak membuat musik untuk semua orang. Banyak pendengar mungkin akan menyerah di tengah jalan karena merasa album ini terlalu padat, terlalu aneh, atau terlalu melelahkan. Tapi justru di situlah nilai " Avarice ". Musik ini menolak menjadi nyaman. Ia ingin mengusik, memprovokasi, dan membuat kalian garuk-garuk kepala sambil bertanya: " Sebenernya kwartet sinting ini lagi mainin genre apaan? " Jawabannya? Semua dan tidak sama sekali. Karena Nequient bermain di wilayah di mana batas genre mulai hancur. Death metal, Crust, Hardcore, Grind, Mathcore  semuanya dipelintir jadi satu bentuk mutasi musikal yang terasa seperti hasil eksperimen gagal ilmuwan mabuk. Dan anehnya, justru karena kegagalan bentuk itulah " Avarice " terdengar hidup. Di era ketika banyak band ekstrem terdengar terlalu aman, terlalu rapi, dan terlalu sibuk mengejar algoritma niche mereka sendiri, Nequient malah datang seperti bom molotov dilempar ke ruang latihan. Berisik, tidak sopan, sulit dipahami, tapi mustahil diabaikan. 

Di tangan kebanyakan band mathcore modern, kekacauan biasanya cuma terdengar seperti sekumpulan orang rebutan alat musik di ruang latihan sempit sambil berharap pendengar menganggapnya " Avant-garde. " Tapi Nequient justru berhasil melakukan sesuatu yang jauh lebih sulit di " Avarice ": membuat kekacauan terasa punya arah, punya logika, dan yang paling mengejutkan punya identitas kuat. Album ini seperti manifesto anarkis yang ditulis pakai darah, listrik korslet, dan gangguan kecemasan kolektif. Nequient membangun " Avarice " dari tumpukan pengaruh ekstrem yang secara teori seharusnya saling bertabrakan sampai hancur total. Ada kecerobohan neurotik ala The Sawtooth Grin, ada pola stop/start brutal seperti The HIRS Collective, lalu dibalut riff-riff tajam yang mengingatkan pada era awal Converge ketika mereka masih terdengar seperti operasi bedah tanpa anestesi. Dan anehnya, semua kegilaan itu tidak berubah jadi lumpur suara tak berbentuk. Itulah twist terbesar " Avarice ". Album ini sebenarnya sangat teknikal dan absurd, tapi tidak pernah terdengar seperti ajang pamer intelektual musik untuk orang-orang yang terlalu sibuk menghitung ketukan dibanding menikmati kemarahan. Lagu-lagunya tetap terasa koheren. Bahkan ketika Nequient mengganti tempo lima kali dalam tiga puluh detik atau memotong riff seperti orang kesurupan matematika, mereka tetap menjaga struktur emosional lagu tetap utuh. Durasi lagu yang sedikit lebih panjang juga menjadi keputusan penting. Banyak band chaotic hardcore atau mathcore modern terlalu terobsesi membuat lagu satu menit penuh kejang ritmis tanpa perkembangan berarti. Nequient justru memberi ruang bagi ide-ide mereka untuk tumbuh menjadi komposisi yang benar-benar hidup. Jadi apa yang seharusnya terdengar seperti serangan epilepsi musikal malah berubah jadi pengalaman yang terasa sangat disengaja dan matang. Dan di sinilah " Avarice " mulai benar-benar menarik. " Christofascist Zombie Brigade " misalnya, menghadirkan tremolo khas black metal yang dingin dan mengerikan, tetapi langsung dipelintir menjadi ledakan hardcore penuh paranoia sosial. Lalu " Brain Worms " muncul dengan galop thrash ganjil yang terdengar seperti Slayer sedang mengalami serangan panik di laboratorium mathcore. Sementara " Splenetic And Moribund " menghadirkan sisi melankolis yang hampir terasa seperti lagu pengantar tidur untuk masyarakat modern yang perlahan kehilangan kewarasan. Semua itu dijahit bersama dengan presisi yang sangat mengganggu. Karena mari jujur saja: Nequient terdengar seperti band yang menikmati membuat pendengarnya tidak nyaman. Mereka bergerak dari satu ide ke ide lain dengan kecepatan memusingkan, memelintir ritme, menghancurkan ekspektasi, lalu tiba-tiba memberi hook yang menempel di kepala seperti trauma kecil yang tidak hilang-hilang. Dan yang membuat album ini semakin menarik adalah palet teksturnya yang luas. Mereka tidak cuma bermain keras. Mereka bermain dengan atmosfer. Ada lapisan crust punk yang kotor, aura death metal yang membusuk, disonansi mathcore yang tajam, hingga nuansa black metal yang sesekali muncul seperti kabut racun. Semua saling bertumpuk tanpa kehilangan energi utama album: kemarahan !  " Avarice " terasa seperti soundtrack dunia modern yang mengalami overheat. Terlalu banyak informasi, terlalu banyak kekerasan sosial, terlalu banyak absurditas politik, dan terlalu sedikit ruang untuk bernapas. Nequient menangkap semua itu lalu mengubahnya menjadi musik yang terdengar seperti sistem saraf manusia sedang dibakar hidup-hidup. Dan mungkin itu sebabnya album ini bekerja begitu efektif. Karena di tengah scene metal ekstrem yang mulai dipenuhi formula aman, produksi steril, dan band-band yang terlalu takut terdengar Chaotic pokoknya, Nequient justru memahami bahwa kekacauan sejati bukan soal bermain sembarangan. Kekacauan sejati adalah ketika kalian mampu membuat pendengar merasa tersesat sambil diam-diam tetap mengendalikan seluruh labirin itu sendiri.


Lebih dari sekadar kumpulan momen, lagu-lagu di Avarice didorong oleh ritme yang tak kenal lelah dan chemistry yang nyata di antara anggota band. Rahasia Nequient terletak pada interaksi antara kaskade gitar Patrick Conahan yang membingungkan dan gaya drummer Chris Avgerin (Heaving Mass, Heroine Sentinel, Professor Emeritus, Varaha, ex-Blood of the Tyrant, Lost Dog, ex-Black Sites) yang cekatan dan kaya akan variasi skill-nya. Gitaris Patrick Conahan (ex-Deus Absconditus) meluncur di antara bagian grind yang siap untuk mosh " Mad King / Fool ", penurunan bergelombang yang menyeramkan " Rintrah Roars ", dan guncangan noise-rock yang mengganggu " Siege Mentality ". selalu mencerminkan permainan gitar yang spastik dengan bagian drum yang lezat dan intuitif yang membimbing telinga dan mengakar pada anarki. Aaron Roeming (Arbogast, ex-Lord, Mine Collapse) memberikan guntur rendah dan menambah bobot yang disengaja yang mengentalkan riff yang lebih berat sementara vokalis Jason Kolkey (ex-Deus Absconditus) memimpin serangan, bergantian antara semburan sassy dan vitriolis serta geraman kematian yang penuh tubuh sambil menyampaikan ejekan kaustik tentang kengerian kehidupan modern. Lirik tajam Kolkey menyatukan seluruh paket menjijikkan ini, menggabungkan abstraksi death metal puitis dengan kecepatan punk dan mengasah aura nihilistik album ini menjadi senjata ampuh yang ditujukan pada sistem yang rusak. Faktanya, Nequient hampir terlalu mahir dalam menyalurkan arus bawah beracun dari id masyarakat, meninggalkan sedikit ruang untuk bernapas di tengah serangan frontal Avarice. Lagu-lagu yang lebih panjang biasanya mengurangi intensitas dan menyuntikkan variasi dengan bagian-bagian yang lebih lambat dan tidak terlalu mendesak, seperti dengan transisi dari sludge yang mengancam menjadi breakdown " Rintrah Roars ", atau penurunan yang kabur dan berakord " Stochastic Terror ". Namun, w masih merasa ingin sedikit lebih banyak ruang untuk menemukan pijakan w saat mendengarkan album secara penuh. Avarice memiliki tempo yang baik, dan ada lebih dari cukup ide untuk menjaga ketertarikan selama 40 menit durasi, tetapi kurang satu atau dua ide melodi yang sangat memuaskan atau tampilan kontras yang mengejutkan untuk mengangkatnya ke puncak gunung mathcore. Ini tidak menghalangi " Avarice " untuk menjadi tampilan yang menakjubkan dari agresi teknis, tetapi ini berarti lebih dari beberapa putaran untuk memahami kekerasannya yang labirin.

Ada banyak band ekstrem yang sibuk berlomba menjadi paling " Brutal ", paling " Technical ", paling " Chaotic ", sampai lupa satu hal penting: musik tetap harus punya identitas. Nah, di titik itulah Nequient datang seperti truk rem blong yang nyelonong masuk ke ruang ICU skena metal modern. Dengan album " Avarice ", unit death metal/crust/hardcore asal Chicago ini bukan sekadar bikin ribut tanpa arah kayak bocah baru belajar main disonansi sambil baca teori politik setengah matang di forum internet. Mereka justru menghadirkan kekacauan yang terasa hidup, penuh amarah, cerdas, dan sangat sadar diri terhadap dunia busuk yang sedang mereka maki habis-habisan. Dan jujur saja, di era ketika mathcore sudah terlalu sering dijadikan alat masturbasi teknikal tanpa jiwa, kemunculan Nequient terasa seperti tamparan keras ke wajah scene yang makin sibuk tampil estetik dibanding benar-benar berbahaya. " Avarice " bukan album yang dibuat untuk nongkrong santai sambil ngopi artisan dan upload story Instagram dengan caption sok depresi. Ini album yang terasa seperti serangan panik kolektif manusia modern yang dipaksa hidup di tengah sistem sosial yang makin rakus, munafik, dan membusuk dari dalam. Secara musikal, Nequient memainkan sesuatu yang bahkan sulit dijelaskan tanpa bikin jidat berkerut. Mereka mencampur mathcore, grind, metallic hardcore, blackened chaos, sludge, hingga serpihan death metal disonan menjadi satu monster cacat yang anehnya tetap koheren. Dan itu yang paling mengesankan. Banyak band mencoba terdengar " liar ", tapi akhirnya cuma jadi kumpulan riff acak yang terdengar seperti hasil lempar alat musik ke tangga beton. Nequient beda. Mereka tahu kapan harus menghantam, kapan harus berhenti mendadak, kapan harus bikin suasana terasa sesak, dan kapan harus menusukkan melodi suram yang diam-diam menghantui kepala.

Di " Avarice ", riff-riff mereka seperti kawanan tikus kelaparan yang lari di dalam tengkorak. Track seperti " Brain Worms " memuntahkan groove thrash aneh penuh tempo patah-patah yang bikin leher bingung mau headbang atau kena stroke ringan. " Christofascist Zombie Brigade " membawa nuansa blackened hardcore yang terasa seperti soundtrack kerusuhan kota distopia. Sementara " Splenetic And Moribund " justru memperlihatkan sisi muram mereka yang melankolis dan sakit, sebelum akhirnya kembali menendang pendengar ke jurang paranoia. Yang paling menarik adalah bagaimana album ini berhasil terdengar kacau tanpa kehilangan arah. Itu pencapaian besar. Karena mari kita jujur, terlalu banyak band mathcore modern yang terdengar seperti kalkulator rusak sedang ngamuk di studio rekaman. Rumit? Iya. Berkesan? Belum tentu. Nequient justru berhasil membuat kompleksitas mereka terasa organik. Setiap transisi, setiap ledakan blast beat, setiap disonansi aneh terasa punya tujuan. Mereka tidak sedang pamer teori musik buat cari validasi anak forum elit metal. Mereka sedang melampiaskan kemarahan. Dan kemarahan itu terasa nyata. Lirik-lirik " Avarice " penuh kritik sosial, paranoia politik, dan kejijikan terhadap kerakusan manusia modern. Untungnya, mereka tidak jatuh menjadi band " aktivis cosplay " yang lebih sibuk jual slogan dibanding bikin lagu bagus. Semua kemarahan itu diterjemahkan langsung ke struktur musiknya. Album ini terasa gelisah, tidak nyaman, dan penuh tekanan, seperti hidup di dunia yang setiap harinya makin absurd tapi semua orang pura-pura normal. Produksi sound-nya juga pantas dipuji. Tidak terlalu bersih sampai kehilangan taring, tapi juga tidak tenggelam dalam lumpur lo-fi malas yang sering dijadikan tameng oleh band-band underground untuk menutupi kelemahan musikal mereka. Bass tetap menggigit, gitar terdengar tajam seperti gergaji karatan, dan drumnya menghantam seperti orang frustrasi yang baru ditagih utang hidup oleh realitas. Pada akhirnya, " Avarice " adalah bukti bahwa musik ekstrem masih bisa terdengar berbahaya tanpa harus kehilangan substansi. Nequient berhasil menciptakan album yang brutal, teknikal, emosional, politis, sekaligus memorable. Dan itu langka. Sangat langka. Karena di tengah lautan band modern yang sibuk terdengar Heavy demi algoritma media sosial dan circle tepuk tangan sesama musisi, Nequient justru terdengar seperti ancaman nyata. Mereka tidak terdengar aman. Tidak terdengar nyaman. Tidak terdengar dibuat untuk semua orang. Dan justru itu alasan kenapa " Avarice " layak diperhitungkan serius.


0 Comments:

Posting Komentar

Tinggalkan komentar TERBAIK kalian disini, enjoy the sickness !

Designed by lostinchaos mediazine