Unmerciful - Devouring Darkness
Willowtip Records CD 2025
01. Miracle in Fire 04:05
02. Unnatural Ferocity 03:33
03. Malice Unbound 03:38
04. Devouring Darkness 05:34
05. Relentless Malevolence 02:40
06. Vomit You Out (Origin cover) 02:50
07. Infernal Conquering 04:11
08. The Reaping 04:14
09. Voracious Lunacy 03:38
10. Vengeance Transcending 03:50
Josh Riley - Vocals
Clint Appelhanz - Guitars, Bass
Jeremy Turner - Guitars, Bass
Trynt Kelly - Drums
Di dunia brutal death metal, terlalu banyak band terdengar seperti lomba siapa paling cepat kehilangan bentuk lagu. Semua sibuk menghajar blast beat sampai otak pendengar berubah jadi bubur, tapi lupa bahwa kekerasan tanpa karakter cuma jadi kebisingan kosong. Dan di tengah kubangan genre yang kadang dipenuhi band “super teknikal” yang lebih mirip latihan matematika ketimbang musik, Unmerciful datang membawa solusi paling sederhana sekaligus paling brutal: bikin musik yang benar-benar terasa seperti dipukul palu godam langsung ke tengkorak. Lahir dari reruntuhan emosional dan semangat sakit hati para mantan personel band sebelumnya di Topeka, Kansas sejak tahun 2001, Unmerciful bukan tipe band yang peduli soal estetika progresif sok intelektual atau eksperimen aneh demi terlihat lebih artistik. Mereka tidak butuh bass fretless 17 dimensi atau gitar 30 senar dimainkan sambil jungkir balik seperti profesor jazz kesurupan. Tidak. Mereka memilih jalan yang jauh lebih jujur: menghancurkan semua yang ada di depan mereka dengan death metal brutal tanpa kompromi. Dan itu terasa jelas di album keempat mereka, " Devouring Darkness ". Begitu album ini dimulai, kesannya seperti dilempar masuk ke ruang sempit penuh rantai karat, bau darah, dan speaker rusak yang memuntahkan kombinasi Suffocation, Hate Eternal, dan Cannibal Corpse dalam dosis berlebihan. Tapi Unmerciful bukan sekadar copycat nostalgia brutal death metal klasik. Mereka mengambil DNA para leluhur itu lalu memerasnya menjadi sesuatu yang jauh lebih bengis dan modern. Kehadiran Clinton Appelhanz dan Jeremy Turner, nama yang pernah punya koneksi kuat dengan Origin jelas memberi fondasi teknikal yang mengerikan. Namun menariknya, mereka tidak jatuh ke jebakan " tech-wank " yang sering merusak banyak band brutal death modern. Teknik di sini bukan alat pamer. Teknik adalah senjata untuk memperbesar rasa ancaman. Setiap riff terdengar seperti mesin penghancur tulang yang sengaja dirancang untuk membuat pendengar kehilangan orientasi. Kecepatan? Gila. Disonansi? Menusuk. Kebencian? Tumpah ruah dan Groove? Tetap ada. Dan itulah kenapa " Devouring Darkness " bekerja jauh lebih efektif dibanding sebagian besar album brutal death metal generik yang hanya terdengar seperti demo drum trigger berkepanjangan.
Yang menarik, di balik kekacauan teknikal dan agresi tanpa ampun itu, album ini justru punya struktur lagu yang surprisingly kuat. Banyak band brutal death terlalu sibuk terdengar ekstrem sampai lupa membuat momen yang benar-benar menempel di kepala. Unmerciful justru tahu kapan harus menggiling cepat, kapan harus memberi groove menghantam, dan kapan harus membuat riff terasa seperti serangan panik kolektif. Produksi albumnya juga membantu mempertegas identitas mereka. Sound-nya berat, padat, tapi tidak berubah jadi lumpur digital steril seperti banyak rilisan death metal modern yang terdengar terlalu " bersih " sampai kehilangan ancaman. " Devouring Darkness " masih mempertahankan aura liar dan kasar yang membuat brutal death metal terasa hidup. Ini bukan musik untuk dipajang sebagai latar konten gym medsos. Ini musik untuk membuat leher cedera dan rahang serasa retak. Dan ya, ada sesuatu yang sangat lucu membayangkan semua kegilaan ini berasal dari Kansas. Entah apa yang mereka campurkan ke dalam air di sana, tapi jelas bukan sesuatu yang lolos standar FDA. Karena album ini terdengar seperti hasil eksperimen laboratorium ilegal yang diberi makan kebencian, grindcore, dan bangkai blast beat selama bertahun-tahun. Pada akhirnya, " Devouring Darkness " adalah pengingat bahwa brutal death metal masih bisa terdengar mematikan tanpa kehilangan identitas. Unmerciful memahami bahwa kebrutalan sejati bukan cuma soal bermain cepat atau terdengar berat, tapi bagaimana membuat kekerasan musikal itu terasa punya arah, punya karakter, dan benar-benar meninggalkan bekas. Karena banyak band bisa terdengar brutal selama lima menit. Tapi hanya sedikit yang bisa membuat kalian merasa benar-benar dipulpifikasi setelah album selesai diputar.
Kalau sebagian besar band death metal modern sibuk berlomba terdengar " kompleks " demi memuaskan para analis riff dadakan di internet, maka Unmerciful memilih jalan yang jauh lebih sederhana sekaligus jauh lebih efektif: memukul wajahmu berkali-kali sampai kalian lupa sedang mendengarkan musik atau sedang dihajar beramai-ramai di gang belakang venue underground. Dan lewat " Devouring Darkness ", mereka membuktikan sekali lagi bahwa brutalitas murni masih menjadi bahasa paling universal dalam death metal. Album ini seperti kendaraan lapis baja tanpa rem. Tidak ada intro ambient sok misterius, tidak ada eksperimen progresif setengah matang, tidak ada jeda emosional ala " mari kita refleksi kehidupan di tengah blast beat." Tidak. Dari awal sampai akhir, " Devouring Darkness " hanya punya satu misi: menghancurkan tengkorak pendengar dengan riff yang terdengar seperti gergaji mesin dilempar ke kipas industri. Oh Damn .... mereka berhasil ! Yang paling terasa dibanding rilisan sebelumnya seperti " Wrath Encompassed " adalah fokus. Album ini tidak pernah terdengar bingung mau jadi TDM, BDM, atau ajang pamer skill. Semua elemen diarahkan untuk satu tujuan: agresi total. Teknik memang ada di mana-mana, tapi tidak dipajang seperti trofi murahan. Chops para personelnya dipakai untuk memperkuat lagu, bukan sekadar masturbasi musikal yang bikin pendengar malah capek sendiri. Di sinilah Unmerciful jauh lebih pintar dibanding banyak band brutal death modern. Kehadiran Joshua Riley (Kohnerah) di posisi vokal menjadi salah satu senjata paling mematikan di album ini. Jujur saja, Riley mungkin adalah vokalis terbaik yang pernah mereka punya. Rentang vokalnya benar-benar buas dari growl rendah penuh lumpur kuburan sampai semburan scream yang terdengar seperti paru-paru direndam asam sulfat. Banyak vokalis brutal death metal terdengar seperti mesin fotokopi toilet mampet, tapi Riley masih punya artikulasi, tenaga, dan karakter yang bikin setiap ledakan vokalnya terasa hidup. Dan kemudian ada Drummer Trynt Kelly (Marasmus, Nefirum, ex-Initium, ex-Opaque Notation, ex-The Messiah Complex, ex-Crematorium). Menggantikan nama sebesar John Longstreth jelas bukan pekerjaan mudah.
Nama Longstreth sudah terlalu melekat di kepala fans death metal sebagai salah satu monster blast beat paling absurd di genre ini. Tapi Kelly tidak datang untuk menjadi tiruan murahan. Ia datang untuk membuktikan bahwa Unmerciful tetap bisa terdengar mematikan tanpa harus hidup dari nostalgia personel lama. Permainannya brutal, presisi, dan punya tenaga yang sangat organik. Meski secara personal banyak fans lama termasuk w, mungkin masih menganggap era James King sebagai formasi paling liar, Kelly tetap berhasil membuat transisi ini terasa solid dan meyakinkan. Secara musikal, " Devouring Darkness " terdengar seperti penghormatan brutal terhadap sekolah lama death metal Amerika tanpa terdengar usang. Pengaruh Suffocation, Hate Eternal, sampai Cannibal Corpse memang jelas terasa, tapi Unmerciful punya identitas sendiri dalam cara mereka menggabungkan speed, groove, dan kebencian tanpa henti. Yang membuat album ini menyenangkan justru karena mereka tidak mencoba " menciptakan ulang logam. " Mereka tidak sedang mencari formula revolusioner baru untuk menyelamatkan death metal. Mereka hanya mengambil baja itu, memanaskannya sampai merah menyala, lalu menghantamkannya ke kepala kalian berkali-kali dengan kebiadaban tanpa kontrol. Kadang memang sesederhana itu resep album death metal yang efektif. Dan mari jujur saja: selalu ada tempat untuk musik seperti ini. Di tengah lautan death metal modern yang kadang terlalu steril, terlalu aman, atau terlalu sibuk mengejar validasi intelektual, Unmerciful hadir seperti hewan liar yang lolos dari kandang. Musik mereka tidak peduli apakah kalian siap atau tidak. Album ini ada untuk menghancurkan, bukan untuk didiskusikan sambil menyeruput kopi artisan. " Devouring Darkness " adalah kekacauan telinga yang sangat menghibur. Cepat, jelek, brutal, dan penuh kebencian yang terasa tulus. Musik semacam ini mungkin tidak akan membuatmu jadi manusia lebih baik, tapi setidaknya cukup efektif untuk mengusir penagih utang, tetangga rese, sampai para misionaris yang datang mengetuk pintu rumah pagi-pagi. Dan bukankah itu salah satu fungsi luhur death metal? Give this one a listen if most brutal death out there is boring you with its lack of dynamism. This album is sure to kick you in the gut and jumpstart your day with a ferocious display of energy and viciousness !





0 Comments:
Posting Komentar
Tinggalkan komentar TERBAIK kalian disini, enjoy the sickness !