In Malice’s Wake - The Profound Darkness

In Malice’s Wake - The Profound Darkness
Self Release CD 2026

01. The Profound Darkness 06:09      
02. Beyond Death 03:45      
03. By Tongues of Demons 04:09      
04. The Last Song 04:10      
05. Numb to Paradise 05:22      
06. Upon My Flesh 04:15      
07. The Great Purifier 03:29      
08. Away from the Light 03:17      
09. The Darkness Below Us 04:46


Shaun Farrugia - Vocals, Guitars
Leigh Bartley - Lead Guitars
Karl Watterson - Bass
Mark Farrugia - Drums


Kalimat " Dia yang melihat dunia di luar sana akan selamanya dihantui " yang muncul dalam video " Beyond Death " bukan sekadar tempelan edgy biar terdengar gelap. Itu semacam manifesto kecil dari " The Profound Darkness ", album terbaru mereka yang terasa seperti perjalanan psikologis menuju liang kubur sambil tetap menghantam kepala dengan riff-riff thrash/death metal yang ganas dan penuh racun sebagai klaim unit Death/thrash Australia In Malice’s Wake. Di tengah dunia metal modern yang makin sibuk mengejar viralitas Sosmed, preset guitar steril, dan chorus aman buat festival musim panas, In Malice’s Wake justru datang membawa sesuatu yang jauh lebih tua, lebih pahit, dan jauh lebih manusiawi: ketakutan terhadap kematian itu sendiri. Bukan kematian ala gimmick horor murahan penuh darah CGI dan tengkorak tempelan kaos distro, tapi kematian sebagai kehampaan absolut. Sebuah titik di mana semua ego, keyakinan, pencitraan spiritual, dan debat sok filosofis internet mendadak tidak ada artinya lagi. Setelah terakhir kali menghajar lewat " The Blindness of Faith " tahun 2020 sebuah album yang secara terbuka memuntahkan kemarahan terhadap manipulasi agama dan kebodohan fanatisme, In Malice’s Wake kini bergerak ke wilayah yang lebih personal dan eksistensial. Dan menariknya, mereka tidak kehilangan taring sedikit pun. Kalau sebelumnya mereka terdengar seperti massa marah membakar altar kebohongan, kali ini mereka terdengar seperti manusia yang akhirnya sadar bahwa bahkan setelah semua kemarahan itu habis, kuburan tetap menunggu. Secara musikal, " The Profound Darkness " masih berdiri kokoh di atas fondasi Death/thrash metal klasik yang tajam, agresif, dan tanpa basa-basi. Bayangan pengaruh dari era emas Slayer, Kreator, sampai Death masih terasa jelas, tapi In Malice’s Wake cukup pintar untuk tidak terdengar seperti band tribute nostalgia yang hidup dari sisa kejayaan masa lalu. Mereka tetap membawa identitas sendiri: riff tajam penuh tekanan, groove gelap yang menghantam perlahan, dan atmosfer muram yang perlahan merayap seperti bau tanah basah dari makam yang baru digali. Leigh Bartley (Harlott, ex-Heathen Ritual, ex-Hidden Intent) dan Shaun Farrugia bekerja seperti algojo kembar di departemen gitar. Mereka tidak sibuk pamer sweep picking buat cari tepuk tangan anak YouTube reaction channel. Mereka fokus membangun tekanan. Setiap riff di album ini terasa seperti batu nisan dijatuhkan ke dada pendengar. Tidak perlu terlalu teknikal untuk terasa mematikan. Dan justru itu kekuatan utamanya. Vokal Shaun Farrugia sendiri terdengar jauh lebih matang di sini kasar, penuh amarah, tapi juga membawa rasa lelah eksistensial yang cocok dengan tema album. Ini bukan vokal orang yang sedang mencoba terdengar jahat. Ini terdengar seperti seseorang yang terlalu lama menatap jurang sampai akhirnya sadar jurang itu mulai menatap balik dirinya. Yang paling menarik dari " The Profound Darkness " adalah bagaimana mereka mengemas tema kematian tanpa jatuh menjadi album pseudo-filosofis murahan. Banyak band metal suka bicara soal kematian seolah mereka baru baca Nietzsche setengah halaman lalu mendadak merasa tercerahkan. In Malice’s Wake tidak seperti itu. Mereka membahas kematian sebagai sesuatu yang dingin, membingungkan, dan tidak romantis. Tidak ada glorifikasi berlebihan. Tidak ada kesan sok bijak. Yang ada hanyalah kecemasan manusia menghadapi sesuatu yang tidak bisa dipahami sepenuhnya. Dan justru di situlah album ini terasa kuat. Track-track seperti " Beyond Death " dan beberapa nomor lainnya membawa nuansa kontemplatif tanpa kehilangan agresinya. Mereka berhasil menjaga keseimbangan antara atmosfer suram dan serangan thrash yang menghantam terus-menerus. Drumming Mark Farrugia (ex-Envenomed) terdengar solid dan penuh tenaga, sementara bass Karl Watterson diam-diam memberi lapisan gelap yang membuat seluruh album terasa lebih berat dari sekadar kumpulan riff cepat biasa. Tentu saja, " The Profound Darkness " bukan album yang mencoba menciptakan ulang genre atau mendadak menjadi revolusi baru dalam dunia death/thrash metal. Dan syukurlah begitu. Karena terlalu banyak band modern yang lebih sibuk ingin terdengar progresif sampai lupa bikin lagu yang benar-benar menggigit. In Malice’sWake justru memahami bahwa kekuatan musik ekstrem tidak selalu datang dari kompleksitas, tapi dari ketulusan kemarahan dan atmosfer yang berhasil dibangun. Pada akhirnya, " The Profound Darkness " terasa seperti refleksi pahit tentang hidup, kematian, dan kehampaan yang menunggu setelah semua keributan manusia selesai. Ini bukan album yang akan membuatmu merasa nyaman. Ini bukan soundtrack kemenangan heroik. Ini adalah pengingat bahwa di balik semua kebisingan dunia modern, semua ideologi, semua ego, semua perang komentar sok benar, manusia tetap makhluk fana yang suatu hari akan lenyap tanpa jawaban pasti. Dan mungkin, justru karena itulah album ini terasa begitu menghantui.


Dalam Malice’s Wake di " The Profound Darkness " masih meluncurkan thrash yang sangat mematikan. " The Profound Darkness " dipenuhi dengan riff yang berat, ritme yang menghantam, dan teriakan yang menggelegar. Groove Testamental dan DNA hardcore Power Tripping bergetar di " The Profound Darkness ", tetapi In Malice’s Wake terutama thrash di bawah aliran Slayer dan Sepultura, dihiasi dengan riff kromatik yang sangat cepat, drumming yang menghukum dan rumit " The Great Purifier " serta penyelaman gitar yang melolong " Numb to Paradise " dengan tujuan tunggal untuk terdengar sejahat mungkin. Pengaruh metal ekstrem yang lebih dalam dari In Malice’s Wake terwujud dalam riffing dan vokal death metal serta dalam lead tremolo hitam dari " The Last Song " dan " The Darkness Below Us " kolaborasi Dissection x Slayer. Satu-satunya perubahan besar dari " The Blindness of Faith " ke " The Profound Darkness " adalah dalam pengeditan, karena rekaman baru In Malice’s Wake lebih dari sepuluh menit lebih pendek dari yang terakhir melalui penulisan lagu yang lebih ketat. Satu hal yang pasti: In Malice’s Wake masih sehaus darah seperti sebelumnya. In Malice’s Wake terdengar hebat ketika mereka mencapai keseimbangan yang tepat antara teknis dan ketepatan waktu. " The Profound Darkness " sibuk, tetapi tidak pernah bertele-tele atau berlebihan. Lagu-lagu seperti " Upon My Flesh " dan " By Tongues of Demons " menampilkan riff yang tajam dan bisa membuat kepala bergoyang sambil memasukkan lebih banyak nada daripada yang diharapkan, mengingat daya tariknya yang sederhana. Demikian pula, Mark Farrugia menyisipkan cukup banyak flair ke dalam permainan dramanya sambil tetap menjaga ritme, menjatuhkan beberapa tendangan dan simbal yang gesit di atas " Beyond Death " dan " The Great Purifier " di tengah serangan tajamnya pada indera. Sentuhan kecil membuat perbedaan besar di The Profound Darkness, terutama banyaknya solo gitar singkat yang tersebar di lagu-lagu seperti " Beyond Death," " The Darkness Below Us, " dan " The Great Purifier. " In Malice’s Wake bisa bermain gitar dengan sangat cepat tetapi memilih untuk memotongnya pendek, yang membuat " The Profound Darkness " tetap ramping dan fokus, dan pendengar menginginkan lebih, yang akan ada. " The Profound Darkness " adalah album yang ditulis dan dibawakan dengan sangat baik oleh para musisi yang tahu cara mengutamakan kebutuhan lagu-lagu mereka dan kapan serta di mana untuk melepaskannya. " The Profound Darkness " kurang bengkak dibandingkan " The Blindness of Faith ", tetapi In Malice’s Wake kehilangan sedikit sesuatu dalam proses mengecil. " The Last Song " dan " Away from the Light " seketat dan seberapi karya terbaik In Malice’s Wake, tetapi kurang memiliki ruang untuk berkembang dan membungkus semua riff dan ide mereka menjadi paket yang lengkap. Perpaduan " The Profound Darkness " juga kurang memiliki ruang bernapas, dan meskipun tidak sepenuhnya terhalang, hal ini berdampak pada telinga di akhir. Selain itu, lagu-lagu ini tidak seberkesan " The Blindness of Faith ". w telah menghabiskan jauh lebih banyak waktu dengan " The Profound Darkness " dan tetap tidak dapat mengingat banyak darinya, serta lagu judul yang menyembah Sepultura, keanehan pikiran dari " To Die as One, " atau denyut tribalistik dari " Ritual Slaughter. " Ada variasi di sini, terutama dalam kemewahan kelam dari penutup " The Darkness Below Us, " tetapi w berharap In Malice’s Wake telah mengambil beberapa jalur eksentrik lagi dalam mengungkap " The Profound Darkness. " always waiting for something extremely dangerous to happen, in a way only bands I hold sacred used to do and it isn't a comparison I make lightly, flaw since you have to be ready to be let down by some of the excellent riffs ending way too quickly, or by the tempo dropping way too abruptly.

Ada kalanya sebuah album tidak perlu berpura-pura menjadi mahakarya intelektual progresif penuh simbol kosmik dan teori filsafat setengah matang agar terasa efektif. Kadang musik ekstrem cukup melakukan satu hal sederhana: menghantam kepala pendengarnya tanpa ampun sambil meninggalkan rasa tidak nyaman yang terus menggantung di belakang pikiran. Dan itulah yang dilakukan In Malice’s Wake lewat " The Profound Darkness ". Karena sejujurnya, apa pun kekurangan yang mungkin muncul di permukaan album ini entah beberapa momen yang belum sepenuhnya menggali konsep eksistensialnya secara maksimal, atau kurangnya satu lagu ikonik yang benar-benar menancap permanen di otak semuanya tetap gagal mengurangi satu fakta penting: album ini sangat menyenangkan untuk dihajar keras-keras. Dan menyenangkan memang di sini tentu dalam definisi metalhead. Bukan menyenangkan ala musik pop penuh afirmasi positif sambil menari di bawah cahaya senja Instagram. Ini menyenangkan dalam bentuk riff yang terdengar seperti gergaji mesin menyeret peti mati menuruni tangga basement lembab. Setiap riff di " The Profound Darkness " menghantam dengan niat buruk. Tidak ada ruang bernapas terlalu lama. Tidak ada momen band berpura-pura artistik hanya demi terdengar " berkelas ". Mereka datang, menghantam, meninggalkan memar, lalu lanjut menghantam lagi. Dan di era ketika terlalu banyak band thrash/death modern terdengar seperti produk algoritma nostalgia yang dirakit di ruang rapat label rekaman, In Malice’s Wake justru terasa lapar. Mereka terdengar seperti band yang masih benar-benar menikmati memainkan musik ekstrem, bukan sekadar menjalankan checklist genre. Album ini punya energi yang sangat metal dalam arti paling murni dan paling tidak pretensius. Riffz, bro. Sesederhana itu. Kadang para penikmat musik ekstrem terlalu sibuk mencari makna tersembunyi, lapisan konseptual, atau inovasi revolusioner sampai lupa bahwa akar utama semua ini adalah rasa puas ketika sebuah riff menghantam tepat di ulu hati. Dan In Malice’s Wake memahami bahasa primitif itu dengan sangat baik. Secara tematik, " The Profound Darkness " memang mencoba bergerak ke wilayah yang lebih eksistensial. Ketakutan terhadap kematian, kehampaan setelah hidup, paranoia terhadap sesuatu yang tidak diketahui semuanya hadir di sini. 

 
Walaupun harus diakui, konsep " ketakutan melumpuhkan terhadap kematian " itu terkadang terasa baru disentuh di permukaan dan belum sepenuhnya dieksplorasi sedalam potensi yang sebenarnya mereka miliki. Ada momen-momen di mana album ini seperti hendak masuk ke jurang psikologis yang benar-benar kelam lalu memilih mundur sedikit sebelum jatuh terlalu dalam. Tapi anehnya, justru itu tidak terlalu menjadi masalah besar. Karena dibanding banyak band lain yang mencoba terdengar filosofis namun akhirnya cuma terdengar seperti caption depresi anak forum, In Malice’s Wake tetap menjaga semuanya tetap membumi dalam agresi musiknya. Mereka tidak tenggelam dalam omong kosong pseudo-intelektual. Mereka tetap fokus pada senjata utama mereka: riff tajam, groove menghancurkan, solo yang panas, dan atmosfer yang cukup suram untuk membuat malam terasa lebih dingin. Dan harus diakui, keputusan mereka menjaga durasi album tetap di bawah 40 menit adalah langkah cerdas. Banyak band modern terlalu takut memotong materi sendiri, seolah semua ide harus dipertahankan demi terlihat “epik”. Akibatnya album jadi bloated, melelahkan, dan kehilangan daya pukul. In Malice’s Wake justru memahami pentingnya disiplin. Mereka datang, menghajar seperlunya, lalu pergi sebelum semuanya berubah menjadi repetitif. Sebagai pendengar sekaligus pengamat amatir musik ekstrem, w masih merasa ada satu elemen magis yang belum sepenuhnya dimiliki band ini sesuatu yang membuat sebuah album berubah dari sangat bagus menjadi tak terlupakan. Mereka punya skill, punya attitude, punya produksi solid, punya riff mematikan, bahkan punya konsep yang cukup kuat. Tapi mungkin masih kurang satu identitas emosional yang benar-benar membedakan mereka dari lautan band death/thrash modern lainnya. Namun sekali lagi sebagian besar metalhead sebenarnya tidak terlalu peduli soal itu. Karena pada akhirnya, ketika lampu mati, volume diperbesar, dan speaker mulai memuntahkan riff-riff busuk ke udara, teori panjang tentang struktur lagu dan kedalaman konsep sering kali jadi tidak relevan. Yang penting kepala bergerak, adrenalin naik, dan dunia terasa sedikit lebih hancur selama beberapa menit. Dan " The Profound Darkness " berhasil melakukan itu dengan sangat baik. Kadang itu sudah lebih dari cukup. is perhaps the clearest statement in this regard, sounding like something that could have been written by some blasphemous Swedish death/thrash outfit  !

0 Comments:

Posting Komentar

Tinggalkan komentar TERBAIK kalian disini, enjoy the sickness !

Designed by lostinchaos mediazine