Ordh - Blind in Abyssal Realms
Pulverised Records CD 2026
01. Apis Bull 06:13
02. Moon of Urd 07:29
03. Phlegraean Fields 10:02
04. Blind in Abyssal Realms 12:12
05. Hierothesion 07:27
Jonathan Hébert - Vocals
Graham Brooks - Guitars, Vocals
Joshua Smith - Bass
Dylan Blake - Drums
Era ketika istilah " Progressive death metal " sering dijadikan tameng untuk menyembunyikan lagu yang terdengar berantakan penuh masturbasi teknikal tanpa arah, Ordh justru datang membawa sesuatu yang jauh lebih berbahaya: atmosfer. Bukan sekadar atmosfer tempelan ala intro ambient dua menit sebelum kembali blasting tanpa tujuan, tapi atmosfer yang benar-benar hidup, menelan, dan perlahan menyeret pendengar masuk ke pusaran gelap yang terasa semakin dalam setiap lagunya berjalan. Pada full album perdana mereka " Blind in Abyssal Realms ", kuartet asal Brattleboro, Vermont, Amrik ini tidak hanya mencoba death metal progresif seperti kebanyakan band baru yang terlalu takut keluar dari zona aman OSDM modern. Mereka langsung nyemplung total ke jurang abstraksi sonik yang luas, dingin, dan nyaris kosmik. Hasilnya adalah sebuah album yang terasa lebih seperti perjalanan mental yang membusuk perlahan dibanding sekadar kumpulan lagu metal biasa. Mereka memahami bahwa progresif bukan berarti harus memainkan 900 riff berbeda dalam satu lagu hanya supaya penonton YouTube reaction bisa bilang " woah technical bro. " Musik mereka terasa progresif karena bergerak secara organik, membangun ketegangan sedikit demi sedikit, lalu menghancurkan semuanya dalam gelombang riff berat dan atmosfer yang menyesakkan. Ada rasa tenggelam yang terus muncul sepanjang album, seolah pendengar sedang berjalan terlalu jauh ke dalam hutan gelap dan sadar sudah tidak tahu lagi jalan pulang. Track seperti " Moon Of Urd " menjadi contoh paling kuat bagaimana Ordh memainkan dinamika tersebut. Lagu itu terasa seperti spiral lambat menuju kehancuran spiritual. Atmosfernya pekat, Riff-riff gitarnya bergerak seperti kabut dingin yang melingkari kepala, sementara ritme lagunya perlahan menyeret pendengar semakin jauh dari rasa aman. Ini bukan musik yang langsung " menangkap " lewat hook murahan. Ini musik yang menggerogoti perlahan. Vokal guttural Jonathan Hébert (Come to Grief) seperti menjadi jangkar utama di tengah semua kekacauan abstrak itu. Growl-nya tidak terdengar berlebihan atau dibuat-buat demi terdengar paling brutal sejagat raya. Justru ada rasa berat dan manusiawi di sana sesuatu yang menjaga musikal Ordh tetap membumi meskipun instrumen mereka sering bergerak ke wilayah yang nyaris surealis. Di tengah gitar-gitar oblique dan struktur lagu yang berliku, vokalnya bertindak seperti gravitasi yang terus menarik semuanya kembali ke inti death metal. Dan untungnya, Ordh cukup cerdas untuk tidak tenggelam total dalam " Progresif demi progresif ". Mereka masih tahu pentingnya riff besar yang menghantam kepala. Masih ada groove chunky dan dentuman berat yang bisa bikin leher bergerak tanpa perlu gelar sarjana teori musik untuk menikmatinya. Ini penting. Karena terlalu banyak band progressive death modern terdengar seperti hasil workshop akademik yang lupa caranya membuat musik terasa ganas. Skill gitaris Graham Brooks (Witch, ex-Barishi) sendiri pantas mendapat sorotan khusus. Banyak riff dan lead dimainkan dengan pendekatan ekspresif yang terasa aneh, miring, bahkan kadang tidak nyaman, tapi tidak pernah jatuh menjadi noodling kosong. Semua terasa punya fungsi dalam membangun narasi atmosferik album. Pembuka " Apis Bull " langsung memperlihatkan kualitas itu. Gitar mereka bergerak seperti makhluk hidup liar penuh disonansi, namun tetap terarah dan penuh tujuan. Ketukan Drummer Dylan Blake ( ex-Barishi) juga menarik karena tidak bergantung pada blast beat hiperaktif tanpa henti seperti banyak band death metal modern yang takut kehilangan perhatian pendengar selama tiga detik. Tempo medium yang lebih berat justru memberi ruang bagi atmosfer album untuk bernapas. Setiap hentakan drum terasa punya bobot. Tidak sekadar cepat, tapi menghancurkan. Yang membuat album debut Ordh terasa menonjol adalah keberanian mereka membangun identitas sendiri di tengah scene death metal modern yang makin homogen. Saat banyak band sibuk meng-copy-paste formula ala Incantation, Gorguts, atau Ulcerate tanpa benar-benar memahami esensinya, Ordh justru terdengar seperti band yang masih mencari jalannya sendiri dan itu jauh lebih menarik. Tentu saja, musik seperti ini tidak akan cocok untuk semua orang. Pendengar yang hanya mencari breakdown instan atau chorus gampang hafal mungkin akan merasa album ini terlalu suram, terlalu lambat terbuka, atau terlalu " aneh ". Tapi justru di situlah daya tariknya. Ordh tidak terdengar seperti produk algoritma streaming yang dirancang untuk mempertahankan attention span delapan detik generasi doomscrolling. Mereka terdengar seperti band yang benar-benar ingin membangun dunia mereka sendiri. Gelap. Luas. Tidak nyaman. Tapi sangat memikat.
w sempat memikirkan karakteristik musikal seperti Gutvoid, Voidstar Nocturnal, Ensanguinate dan album self-titled yang akan datang dari Devoid of Thought, dengan style Progressive Death metal yang lebih berkilau dan teknis yang sedikit lebih umum belakangan ini " Blind In Abyssal Realms " tidak membuang-buang waktu untuk menunjukkan bahwa mereka bisa bersaing dengan salah satu dari mereka. Dari pembukaan yang menyeramkan dari " Apis Bull " sendiri adalah sebuah lagu yang akhirnya memunculkan serangkaian riff leviathan yang terhuyung-huyung dan melodi lambent yang gelap, namun brutal, yang mengundang perbandingan jelas dengan Sulphur Aeon dan Ulthar, meskipun dengan nuansa yang lebih suram dan lebih doom, hingga deru kematian yang terpelintir dari " Hierothesion ", debut band ini menggabungkan horor Death Metal klasik yang merayap dengan suasana okultis, antikosmos yang ambisius dengan cara yang terasa segar dan akrab pada saat yang sama. Fakta bahwa ini berasal dari kumpulan nama-nama bawah tanah yang dikenal dan dihormati. Ada keanehan yang menawan, serta rasa kagum yang hampir tak percaya, pada " Moon of Urd ", misalnya, yang juga mengundang perbandingan dengan Mithras era " Worlds Beyond " terutama ketika Brooks melepaskan salah satu bagian utama yang penuh teka-teki dan menggetarkan tanpa terasa seolah Ordh hanya mengulang kembali hal yang sama, dengan kesediaan grup untuk memperlambat tempo dan mundur dari tepi untuk mengeksplorasi ruang batin yang lebih introspektif membantu lebih membedakan mereka dari rekan-rekan mereka dan pendahulu mereka. Ambisi ekstravagant dari " Phelgraean Fields ", mirip Pink Floyd yang pasti akan menarik perhatian bahkan penggemar Blood Incantation yang paling santai dan lagu judul yang bahkan lebih tidak ortodoks dan tidak konvensional yang berkembang dari lambat membara yang menyeramkan menjadi kekacauan kobaran api dari riff yang hangus dan berputar, serta lead yang berputar selama dua belas menit yang berliku-liku menunjukkan betapa sedikitnya Ordh menghargai cara " normal " dalam melakukan sesuatu, dengan permainan fret Brooks yang menusuk dan pseudo-melodik khususnya terus mengabaikan semua aturan standar demi pendekatan yang jauh lebih eksperimental dan eksploratif.
Ada album progresif yang terdengar pintar hanya karena ribet. Lalu ada album yang benar-benar berhasil membangun dunia. Nah, Ordh lewat " Blind In Abyssal Realms " jelas masuk kategori kedua. Ini bukan sekadar debut death metal progresif yang sibuk memamerkan kompleksitas demi memancing tepuk tangan forum elit musik ekstrem sambil mengetik " bro, odd time signature-nya sick. " Tidak. Album ini terasa seperti ritual sonik yang perlahan membuka gerbang menuju sesuatu yang kuno, mitologis, dan nyaris tidak manusiawi. Dan jujur saja, itulah yang membuat materi ini begitu menarik. Mendengarkan " Blind In Abyssal Realms " rasanya seperti masuk dan keluar dari dimensi yang berbeda. Kadang musiknya terasa sangat indah dan melankolis, lalu beberapa detik kemudian berubah menjadi pusaran riff abstrak dan tekanan atmosferik yang mencekik. Ada sensasi tenggelam yang terus mengikuti sepanjang album, seolah pendengar sedang ditarik masuk ke dunia penuh reruntuhan mitologi, bulan-bulan mati, dan lautan purba yang menyimpan sesuatu yang lebih tua dari agama manusia sendiri. Aspek mitologis itulah yang paling memikat. Banyak band progressive death mencoba terdengar " epik " tapi akhirnya cuma terdengar seperti soundtrack game fantasy generik dengan gitar distorsi. Ordh berhasil menghindari jebakan itu karena mereka membangun suasana dengan sabar. Mereka tidak buru-buru ingin terdengar megah. Mereka membiarkan atmosfer berkembang perlahan sampai akhirnya menelan seluruh ruang dengar. Dan meskipun album ini dipenuhi elemen progresif yang kompleks, perubahan tempo aneh, transisi abstrak, serta struktur lagu yang jauh dari konvensional, semuanya tetap terasa organik. Tidak ada kesan bahwa mereka sedang berusaha keras terlihat progresif. Semua teknikalitas itu melayani suasana dan narasi musikalnya, bukan ego pemainnya.
Track " Moon Of Urd " mungkin menjadi titik paling kuat dari keseluruhan album. Lagu ini benar-benar terasa seperti inti spiritual dari " Blind In Abyssal Realms. " Atmosfernya luar biasa kelam namun indah, seperti memandangi langit malam dari reruntuhan kuil tua yang sudah ditinggalkan peradaban selama ribuan tahun. Kompleksitas teknikal di lagu ini juga mencapai level yang nyaris absurd, tapi tetap mengalir dengan elegan. Tidak ada nada yang terasa mubazir. Semua riff, semua perubahan ritme, semua lapisan gitar terasa saling mengunci membangun satu pengalaman emosional yang sangat imersif. Lalu ada " Phlegraean Fields ", lagu yang mungkin paling " progresif " secara struktur, tapi justru paling berhasil memperlihatkan identitas asli Ordh. Lagu ini seperti labirin sonik penuh tikungan tak terduga. Transisinya terus berubah, atmosfernya bergerak liar, dan pendengar dipaksa tetap fokus karena musiknya seperti terus berevolusi di depan telinga. Namun anehnya, di balik semua kerumitan itu, Ordh tetap berhasil menjaga lagu ini terasa hidup dan emosional. Dan itu pencapaian besar. Karena mari kita jujur: terlalu banyak band progressive death modern yang terdengar seperti hasil ujian teori musik. Rumit? Ya. Menggugah? Belum tentu. Ordh justru berhasil membuat kompleksitas mereka terasa punya jiwa. Ada emosi, ada misteri, ada aura gelap yang terus membungkus album ini dari awal sampai akhir. Secara keseluruhan, " Blind In Abyssal Realms " terdengar seperti sebuah band yang akhirnya menemukan identitas mereka sendiri dan itu sangat penting di genre yang makin sesak oleh band-band kloningan Gorguts, Ulcerate, atau Immolation yang kadang hanya menyalin permukaan sound tanpa memahami roh di baliknya. Dengan hanya lima lagu dan durasi kurang dari 45 menit, Ordh cukup pintar untuk tidak mengisi album ini dengan filler tidak perlu. Tidak ada momen yang terasa mubazir. Album ini bergerak seperti satu perjalanan utuh penuh ketegangan, atmosfer, dan ledakan agresi yang terus berganti secara alami. Kadang tenang dan hipnotis, lalu tiba-tiba berubah menjadi serangan death metal penuh disonansi yang menghancurkan. Dan justru karena sifatnya yang padat itulah album ini mengundang replay terus-menerus. Setiap kali diputar ulang, selalu ada detail baru yang terasa muncul dari balik kabut produksinya. Sebuah harmoni aneh. Sebuah lapisan gitar tersembunyi. Sebuah perubahan ritme kecil yang sebelumnya terlewat. " Blind In Abyssal Realms " bukan cuma debut bagus. Ini adalah deklarasi bahwa Ordh bukan sekadar band progresif lain yang datang lalu tenggelam dalam lautan scene ekstrem modern. Mereka punya identitas. Punya visi. Punya atmosfer. Dan yang paling penting: mereka punya sesuatu yang makin langka di death metal modern rasa misteri.




0 Comments:
Posting Komentar
Tinggalkan komentar TERBAIK kalian disini, enjoy the sickness !