Non Est Deus - Blessings and Curses
Noisebringer Records CD 2026
01. Prayer I 01:07
02. Show Mercy 04:38
03. Forgive Me 03:51
04. My Lord 05:23
05. The Forsaken 05:40
06. Prayer II 00:34
07. Transgression 05:34
08. Kora 05:13
09. The Sacrifice 04:33
10. The Indulgence 04:10
11. Prayer III 00:58
Noise - All instruments, Vocals
Antara Penolakan Ilahi dan Kebisingan Surgawi " , Non Est Deus, " jika diterjemahkan dari bahasa Latin berarti " Tidak ada Tuhan. " Sebuah pernyataan yang mencolok, bahkan provokatif, menyodok langsung ke jantung kepercayaan dan menampar wajah dogma dengan gaya khas yang hanya bisa dilakukan oleh seniman yang tahu persis apa yang ia lakukan. Namun, ironisnya, kalimat ini bukan ciptaan kaum ateis modern yang gemar berdebat di forum daring; melainkan diambil dari Mazmur 13 dalam Kitab Mazmur, teks sakral yang berbicara tentang kebodohan orang yang menyangkal Tuhan. Jadi, sejak awal, Non Est Deus sudah bermain-main di wilayah paradoks: menolak Tuhan dengan kata-kata Tuhan sendiri. Cerdas, menyakitkan, dan tentu saja, penuh kebisingan ! Di balik konsep filosofis itu berdiri satu Karakter ber-otak super, Noise, mastermind di balik berbagai proyek metal ekstrem yang selalu mengguncang telinga sekaligus nalar. Nama itu sudah jadi jaminan mutu di ranah MDM, genre yang, seperti namanya, menggabungkan kemarahan kosmik dengan keindahan yang nyaris spiritual. Jadi ketika kabar datang bahwa Non Est Deus kembali lewat album terbaru berjudul " Blessings and Curses ", ekspektasi pun langsung menanjak seperti suhu di neraka. Sebagai fans berat karya Noise, dari band Kanonenfieber hingga proyek-proyeknya yang lain, mendapat kesempatan untuk meninjau " Blessings and Curses " bukan sekadar tugas, tapi kehormatan. Noise dikenal bukan hanya karena intensitas musiknya, tetapi juga karena kemampuan melipatgandakan makna: antara berkah dan kutukan, antara iman dan kehampaan, antara suara distorsi dan sunyi eksistensial. Album ini, sebagaimana reputasi penciptanya, bukan sekadar tumpukan riff tajam dan teriakan penderitaan, tapi refleksi tajam atas absurditas manusia yang haus makna. Pertanyaannya sekarang: apakah kebisingan terbaru ini benar-benar sebuah blessing bagi dunia black metal, atau justru curse bagi sang seniman yang terlalu berani menatap langsung wajah ketiadaan? Jawabannya, seperti makna " Non Est Deus " itu sendiri, mungkin tak perlu ditemukan, cukup didengarkan, dirasakan, dan dibiarkan mengguncang sampai kita lupa apakah kita sedang mencari Tuhan atau menertawakan-Nya.
Sejak awal, " Blessings and Curses " berupaya keras untuk membedakan diri dari proyek Noise lainnya. Jika album sebelumnya, " Legacy ", masih terlalu mirip dengan Kanonenfieber atau Leiþa, kali ini Non Est Deus mencoba menemukan identitasnya sendiri. Vokal Noise terdengar lebih jernih dan dinyanyikan sepenuhnya dalam bahasa Inggris, tanpa mencapai intensitas era-nya di Kanonenfieber atau emosi tersiksa Leiþa. Bahkan, perbandingan awal justru mengarah pada Rotting Christ. Secara konseptual, album ini memiliki fondasi artistik yang kuat, dengan tiga interlude (" Prayer I, II, dan III ") dan mazmur yang menyertai setiap lagu utama, menggambarkan perjalanan seorang penganut Tuhan yang kehilangan iman dan menjadi kecewa, sebuah cerminan sempurna dari sampul album dan judulnya. Namun, di balik ambisi konseptual yang mengesankan, realitas musikal " Blessings and Curses " justru terasa hambar. Album ini dituding stagnan secara sonik dan repetitif. Hampir setiap lagu mengikuti struktur yang serupa, dengan chorus yang mengulang irama dan emosi yang sama. Noise seolah terjebak dalam pola yang familiar, mengulang-ulang refrain dengan baris utama (biasanya judul lagu) diikuti oleh bagian "bisikan" yang hanya sedikit bervariasi. Ini menciptakan kesan seolah-olah seseorang mencoba meniru Noise, bukan Noise itu sendiri. Bagian spoken word dan mazmur, yang seharusnya memperkaya konsep, justru merusak momentum lagu, seringkali muncul di bagian akhir dan terasa seperti " sayuran sebelum dagingnya ". Yang pada akhirnya, " Blessings and Curses " adalah sebuah paradoks. Bagi diehard fans setia, album ini mungkin masih bisa dinikmati pada level " naluri reptil ", dengan beberapa lagu yang menonjol seperti " Forgive Me ", " Kora ", dan " Transgression ". Upaya Non Est Deus untuk membedakan diri patut diapresiasi, namun kritik berharap agar proyek ini lebih berani keluar dari zona nyaman melodic black metal-nya. Sebuah album Noise yang biasa-biasa saja mungkin masih lebih baik dari kebanyakan rilis lain di luar sana, tetapi untuk seorang seniman dengan diskografi yang luar biasa, " Blessings and Curses " terasa seperti doa yang kurang terkabul. Jadi, apakah ini berkah atau kutukan? Mungkin keduanya, dalam takaran yang sama-sama mengecewakan.
Ada semacam kutukan aneh di dunia metal ekstrem modern: ketika sebuah band punya konsep besar, ambisi besar, dan kemasan besar, hasil akhirnya sering kali justru terdengar seperti demo ide yang belum selesai diputuskan mau dibawa ke mana. Dan itulah perasaan campur aduk yang terus menghantui " Blessings and Curses ". Sebuah album yang secara teknis solid, secara produksi terdengar mahal, tetapi secara eksekusi kreatif masih seperti orang yang terlalu lama berdiri di persimpangan sambil sibuk mengagumi papan petunjuk jalan tanpa benar-benar memilih arah. Dari awal sebenarnya sudah terlihat ada niat besar di balik materi ini. Konsep dualitas berkat dan kutukan terdengar menjanjikan, apalagi ketika dibungkus dengan pendekatan blackened death metal modern yang penuh atmosfer muram, riff gelap, dan produksi yang begitu steril sampai terasa seperti dipoles pakai cairan pembersih rumah sakit. Semua instrumen bekerja dengan presisi. Gitar menggertak. Drum menghantam. Bass tetap terasa hidup di tengah tembok distorsi. Secara teknis? Tidak ada masalah berarti. Noise jelas bukan band amatiran yang baru belajar menyetel ampli sambil sok occult di depan cermin kamar mandi. Masalahnya justru muncul ketika album ini mulai terlalu sibuk menjadi " konseptual ". Bagian spoken word dan mazmur yang terus disisipkan di berbagai titik album mungkin dimaksudkan sebagai penguat atmosfer spiritual dan simbolik. Di atas kertas terdengar artistik. Dalam praktiknya? Kadang terasa seperti rem tangan mendadak di jalan tol. Momentum lagu yang sedang membangun agresi tiba-tiba dipatahkan oleh potongan narasi yang lebih cocok jadi intro video YouTube bertema kiamat. Pembuka " Prayer I " misalnya, benar-benar terasa seperti formalitas kosong. Tidak memberi dampak emosional, tidak membangun ketegangan berarti, dan malah membuat pembukaan album kehilangan pukulan pertamanya. Interlude-interlude singkat lainnya juga muncul begitu cepat dan tanggung sampai terdengar seperti ide dadakan yang dipaksakan masuk demi mempertahankan label album konseptual. Yang paling mengganggu sebenarnya bukan keberadaan elemen-elemen itu, tetapi penempatannya. Mazmur yang sering muncul menjelang akhir lagu justru membunuh aliran energi yang sudah dibangun dengan susah payah. Rasanya seperti sedang menikmati adegan baku hantam brutal lalu tiba-tiba seseorang datang membawa khotbah lima menit tentang penderitaan manusia. Secara tema mungkin nyambung, tetapi secara pengalaman mendengarkan? Melelahkan. Padahal ketika band ini benar-benar fokus pada musiknya, hasilnya sangat menjanjikan. " Show Mercy " dan " Forgive Me " menjadi contoh paling jelas bagaimana album ini sebenarnya punya potensi jauh lebih besar daripada hasil akhirnya. Ada sentuhan black n’ roll tipis-tipis yang muncul secara licik di balik dinding riff gelap mereka. Groove-nya lebih hidup. Ada swagger kotor yang membuat lagu terasa lebih berkarakter dibanding track-track lain yang terlalu sibuk menjaga citra suramnya sendiri. Ironisnya, momen-momen seperti ini justru membuat frustrasi karena memperlihatkan kemungkinan album yang jauh lebih menarik seandainya mereka berani mengambil risiko lebih jauh. Bayangkan kalau sisi pertama album benar-benar menabrak gas penuh ke arah black n’ roll yang licin dan penuh dosa, sementara sisi kedua berubah total menjadi monster blackened death metal atmosferik yang menghancurkan. Itu akan jadi pengalaman yang benar-benar punya identitas kuat. Tapi yang terjadi di sini justru sebaliknya: kedua sisi album terdengar terlalu aman untuk benar-benar berbeda. Mereka terus berada di wilayah tengah yang nyaman, seperti band yang takut kehilangan pendengar kalau terlalu liar bereksperimen. Akibatnya, " Blessings and Curses " sering terasa stagnan secara sonik. Bukan karena musiknya buruk, jauh dari itu, tetapi karena semuanya terdengar terlalu terkendali. Terlalu rapi. Terlalu sadar diri ingin terlihat " gelap ", " cult ", dan " artistik ". Kadang album ekstrem terbaik justru lahir dari kekacauan yang dibiarkan lepas, bukan dari konsep yang terus diikat ketat sampai kehabisan napas. Namun bukan berarti album ini gagal total. Justru yang membuat frustrasi adalah kenyataan bahwa banyak bagian di sini sebenarnya hebat. Riff-riffnya kuat. Atmosfernya tebal. Produksi modernnya berhasil membuat setiap detail terdengar jelas tanpa kehilangan bobot. Tidak ada lagu yang benar-benar jelek. Bahkan beberapa track pantas disebut luar biasa. Hanya saja, keseluruhan album terasa seperti ide besar yang belum sepenuhnya berani diwujudkan secara ekstrem.





0 Comments:
Posting Komentar
Tinggalkan komentar TERBAIK kalian disini, enjoy the sickness !