Hypocrisy - Penetralia CD 1992

Hypocrisy - Penetralia
Nuclear Blast Records CD 1992

01. Impotent God 03:45      
02. Suffering Souls 03:25      
03. Nightmare 04:27      
04. Jesus Fall 03:25      
05. God Is a... 02:56      
06. Left to Rot 03:32      
07. Burn by the Cross 04:45      
08. To Escape Is to Die 03:52      
09. Take the Throne 05:18      
10. Penetralia 06:32


Masse Broberg - Vocals 
Peter Tägtgren - Guitars, Keyboards  
Jonas Österberg - Guitars
Mikael Hedlund - Bass
Lars Szöke - Drums


Pada 1992, death metal sudah mulai mengalami penyakit yang sekarang terasa terlalu familiar: semua orang ingin terdengar lebih kejam, lebih cepat, lebih satanik, dan pada akhirnya semakin sulit dibedakan. Florida memberi dunia formula, Stockholm memberi dunia tekstur, sementara ratusan band lain sibuk mencuri keduanya seperti mahasiswa malas menyalin tugas. Di tengah banjir tersebut, Hypocrisy datang dengan " Penetralia " debut yang jelas belum sempurna, tetapi cukup keras kepala untuk tidak sepenuhnya menjadi fotokopi siapa pun. Dirilis Nuclear Blast pada Oktober 1992, album ini adalah satu-satunya rekaman Hypocrisy dalam formasi lima orang: Masse Broberg pada vokal, Peter Tägtgren dan Jonas Österberg pada gitar, Mikael Hedlund pada bass, serta Lars Szöke di belakang drum dan sejak riff pertama " Impotent God " , niatnya sudah terang: ini bukan Stockholm death metal yang sedang berusaha terdengar seperti Stockholm. Tägtgren membawa pengaruh Amerika yang kuat setelah periode hidupnya di Florida dan kontaknya dengan scene death metal di sana, termasuk Malevolent Creation. Hasilnya adalah musik yang mengambil kekuatan death metal Amerika tetapi masih menyisakan dinginnya ekstremisme Skandinavia. Metal.de juga menggambarkan " Penetralia " sebagai pertemuan antara pengaruh Florida seperti Deicide/Morbid Angel dan akar Swedia, tanpa kehilangan karakter sendiri. Yang menarik bukan asal pengaruhnya. Yang menarik adalah apa yang dilakukan Hypocrisy terhadap pengaruh tersebut. " Penetralia " tidak hidup dari teknik gitar yang memamerkan berapa banyak not dapat dijejalkan sebelum pendengar kehilangan kesadaran. Riff-riffnya justru cenderung ekonomis. Tremolo picking, thrash-derived patterns, palm-muted chugging, single-note runs dan power-chord berat disusun dalam blok-blok yang relatif sederhana. Tetapi Tägtgren memahami sesuatu yang sering dilupakan band ekstrem: riff tidak harus rumit untuk memiliki konsekuensi emosional. " Impotent God " membuka album dengan agresi yang lugas. " Suffering Souls " mempertahankan momentum tersebut, tetapi mulai memperlihatkan kemampuan Hypocrisy mengubah tekanan ritmis menjadi atmosfer. Kemudian Nightmare mulai memperlihatkan kartu yang lebih menarik: ketika tempo diturunkan, musik justru terasa lebih mengancam. Ini menjadi pola penting sepanjang album. Hypocrisy paling menarik bukan ketika mereka berlari. Mereka menarik ketika berhenti berlari. Bagian lambat dalam " Nightmare ", " Left To Rot ", dan " Burn By The Cross " memperlihatkan naluri yang kemudian akan berkembang jauh lebih besar pada album-album berikutnya. Doom riff digunakan bukan sebagai dekorasi, tetapi sebagai alat untuk mengubah persepsi ruang. Cepat berarti serangan. Lambat berarti ancaman dan Hypocrisy cukup pintar untuk memahami bahwa ancaman sering kali lebih efektif ketika tidak terburu-buru.

" Left To Rot " merupakan salah satu contoh terbaik bagaimana album ini membangun atmosfer melalui kontras. Bagian cepat membawa energi death metal yang brutal, tetapi kemudian lagu menjatuhkan kecepatannya dan mempertemukan doom-oriented riff dengan tremolo gitar yang dingin. Di titik ini, Hypocrisy berhenti terdengar seperti sekadar pengikut death metal Amerika. Mereka mulai terdengar seperti sesuatu yang lebih gelap. Riff berat memberikan gravitasi; tremolo memberikan kabut. Keduanya tidak saling meniadakan. Mereka saling memperburuk dan itulah salah satu kualitas paling menarik dari " Penetralia " : atmosfer tidak diciptakan melalui keyboard berlebihan atau intro sinematik panjang. Ia muncul dari cara gitar ditempatkan terhadap tempo. Masse Broberg tidak terdengar seperti Jeff Walker, L.G. Petrov, Jörgen Sandström atau Barney Greenway. Bagus, Ia memiliki growl yang dalam, kasar, dan agak tidak terkendali. Tidak terlalu bersih, tidak terlalu terartikulasi, dan justru karena itulah vokalnya cocok dengan karakter album. Vokal tersebut tidak terdengar seperti penyanyi yang sedang performing evil. Lebih seperti seseorang yang baru saja keluar dari ruang bawah tanah dan belum menemukan alasan untuk berbicara normal. Ada kekurangan kontrol, tetapi ada tekstur dan tekstur tersebut penting. Ketika vokal ditempatkan di atas tremolo riff atau doom passage, suaranya menjadi lapisan tambahan dalam atmosfer, bukan sekadar mesin pengantar lirik satanik. Tägtgren sendiri mengambil vokal pada title track Penetralia. Hasilnya lebih kasar dan kurang dalam dibanding Broberg, tetapi justru menarik sebagai dokumentasi awal bahwa suara Tägtgren sudah mulai muncul sebagai bagian dari identitas Hypocrisy. Jika riff rhythm masih sesekali bermain di wilayah yang familiar, lead guitar Tägtgren jauh lebih personal. Solonya tidak terasa seperti kompetisi shred. Ada nada-nada yang terdengar miring, dingin, bahkan sedikit tidak nyaman. Itu penting. Karena ketika death metal awal 1990-an semakin dipenuhi gitaris yang ingin menunjukkan kecepatan tangan, Tägtgren justru menemukan karakter melalui frase yang terasa seperti gangguan terhadap riff utama. Lead tidak selalu menyelesaikan melodi. Kadang ia merusaknya dan justru kerusakan tersebut menciptakan atmosfer. Di sinilah embrio karakter Hypocrisy mulai terlihat: musik tidak hanya ingin menghantam, tetapi juga ingin meninggalkan rasa tidak nyaman setelah hantaman selesai.

Lars Szöke tidak memainkan drum untuk mendapatkan penghargaan teknis. Fungsinya lebih sederhana dan jauh lebih penting: menjaga mesin tetap bergerak. Blastbeat muncul sebagai ledakan, double bass mempertebal momentum, sementara pola thrash dan beat konvensional menjaga riff tetap mempunyai tubuh. Beberapa permainan terdengar kasar dan tidak selalu presisi seperti standar produksi modern. Tetapi memoles bagian ini sampai steril justru akan menghilangkan salah satu karakter utama " Penetralia ". Album ini seharusnya terdengar seperti sesuatu yang masih berbahaya, bukan sesuatu yang sudah dikarantina di laboratorium. Metal Academy juga mencatat bahwa permainan drum di sini relatif sederhana dan suportif dibandingkan tuntutan teknis death metal Amerika, sementara blastbeat tetap menjadi salah satu sumber energinya. Di sinilah album menjadi lebih menarik. " Jesus Fall " memiliki tremolo riff yang sebenarnya dapat hidup dengan cukup mudah di dalam lagu black metal. Yang membuatnya terdengar death metal bukan semata riffnya, melainkan produksi, vokal, bobot rhythm guitar, dan cara drum mengunci komposisinya. Ini merupakan petunjuk penting tentang arah yang kemudian akan diambil Hypocrisy. Black metal di sini belum menjadi genre. Ia menjadi warna dan warna tersebut akan semakin gelap pada Pleasure of Molestation dan terutama Osculum Obscenum. Metal.de mencatat bahwa setelah formasi lima orang ini bubar, materi berikutnya memang bergerak lebih jauh ke arah elemen black metal sebelum Hypocrisy kemudian mengembangkan pendekatan melodis dan atmosferiknya. Dengan kata lain, Penetralia terdengar seperti band yang sedang menemukan pintu, belum sepenuhnya tahu ruangan apa yang ada di baliknya. Salah satu keputusan paling menarik adalah bahwa Penetralia tidak sepenuhnya mengikuti cetakan produksi Swedia yang diasosiasikan dengan Sunlight Studio dan gitar " Buzzsaw " yang kemudian menjadi semacam agama tersendiri. Sound album lebih dekat dengan pendekatan death metal Amerika: gitar lebih jelas, low-end lebih terasa, dan keseluruhan mix mempunyai kesan lebih terkontrol. Namun ia tidak terdengar terlalu bersih. Syukurlah. Karena bila produksi ini dibuat terlalu besar dan modern, sebagian besar karakter album akan lenyap. Kekasaran justru membantu mempertemukan dua kutub: ketegasan Amerika dan atmosfer dingin Skandinavia. beberapa sumber review kontemporer juga berulang kali menempatkan album ini di wilayah pertemuan Florida death metal dengan akar Swedia, sementara metal.de menekankan bahwa Hypocrisy sejak awal memang tidak sepenuhnya mengikuti formula Stockholm.

Struktur keseluruhan " Penetralia " mungkin justru merupakan salah satu keputusan terbaiknya. Tidak semua peluru ditembakkan di awal. Setelah " Impotent God " dan " Suffering Souls ", album secara perlahan memperbesar bobot atmosferiknya. " God Is A... " kembali memberikan serangan langsung, sementara Left To Rot mulai memperkenalkan kegelapan yang lebih lambat. " Burn By The Cross " kemudian memanfaatkan thrash riff sebelum kembali menjatuhkan tempo. Lalu " To Escape Is To Die " membawa gitar melodis dan perubahan dinamika yang lebih kentara. " Take The Throne " memperpanjang ketegangan sebelum akhirnya album menyerahkan senjata terakhirnya kepada title track. Ini bukan sequencing yang sempurna. Tetapi ia memiliki arah dan itu jauh lebih penting daripada sekadar menempatkan lagu terbaik di nomor satu, tiga, lima, tujuh dan sembilan seperti menyusun daftar belanja. " Penetralia " adalah momen ketika semua eksperimen kecil yang tersebar di album akhirnya dikumpulkan menjadi satu bentuk. Tremolo riff menjadi lebih agresif. Vokal semakin brutal. Drum menghantam tanpa basa-basi. Kemudian tempo turun. Atmosfer berubah. Vokal terdengar semakin jauh, dan lapisan suara mulai membuat lagu terasa seperti sesuatu yang muncul dari bawah tanah, bukan dimainkan di atas panggung. Mari jangan mengubah " Penetralia " menjadi relik suci hanya karena ia berasal dari 1992. Ada riff yang terlalu dekat dengan bahasa death metal Amerika pada masanya. Beberapa transisi masih terasa seperti hasil band muda yang baru menemukan bahwa tempo dapat diubah tanpa harus meminta izin. Beberapa bagian juga tidak memiliki daya tahan yang sama dengan materi terbaiknya dan tema satanik album ini, jika dipisahkan dari konteks 1992, kadang terasa lebih seperti perangkat estetika daripada pernyataan filosofis yang mendalam. Judul seperti " Impotent God ", " God Is A... ", " Burn By The Cross " dan " Jesus Fall " memang cocok dengan atmosfer ekstrem zamannya, tetapi bukan berarti secara otomatis menjadi tulisan lirik yang kompleks. Justru di sini penting membedakan fungsi artistik dengan kedalaman ideologis. Pada 1992, simbol-simbol tersebut masih membawa daya provokasi tertentu. Hari ini, bahasa semacam itu sudah menjadi mata uang receh dalam ekstrem metal. Musiknya bertahan lebih kuat daripada retorikanya dan itu bukan penghinaan. Itu justru menunjukkan bagian mana dari album yang benar-benar memiliki umur panjang.

" Penetralia " bukan debut yang merevolusi death metal. Jangan mengarang sejarah. Ia datang ketika formula death metal Amerika dan Swedia sudah berkembang pesat. Tetapi Hypocrisy menemukan cara untuk menggeser titik berat formula tersebut. Mereka mengambil kekerasan Florida, membawanya kembali ke Swedia, menambahkan tremolo picking bernuansa black metal, doom riff yang lambat dan depresif, lead guitar yang mulai memiliki karakter, serta keyboard yang digunakan secara hemat. Hasilnya bukan mahakarya sempurna. Lebih menarik dari itu: sebuah album yang sedang menemukan dirinya sendiri dan rekaman seperti ini sering kali lebih jujur daripada karya yang sudah sempurna. Karena kita dapat mendengar proses kelahirannya. " Penetralia " adalah Hypocrisy sebelum mereka menemukan formula yang benar-benar menjadi milik mereka. Tetapi benih itu sudah ada: pada riff lambat, pada perubahan tempo, pada lead yang menyimpang, pada atmosfer yang semakin gelap ketika musik berhenti berlari. Setahun kemudian " Osculum Obscenum " akan membuat sisi gelap itu jauh lebih eksplisit. Kemudian " The Fourth Dimension " memperluas bahasa melodis dan atmosferiknya. Tetapi semuanya harus dimulai dari sini. Bukan dari kesempurnaan. Dari ketidakpuasan dan mungkin itulah bagian paling manusiawi dari " Penetralia " : lima orang muda memainkan death metal yang masih memiliki bekas luka dari pengaruh orang lain, tetapi perlahan menemukan bahwa sound mereka sendiri justru muncul ketika mereka berhenti mencoba terdengar seperti siapa pun. 1992 bukan sekadar tahun kelahiran sebuah album. Di sini, Hypocrisy sedang belajar bagaimana mengubah kemarahan menjadi bahasa dan bahasa itu, beberapa dekade kemudian, masih berbau tanah basah, darah, dan ruang bawah tanah.

0 Comments:

Posting Komentar

Tinggalkan komentar TERBAIK kalian disini, enjoy the sickness !

Designed by lostinchaos mediazine