Eximperituserqethhzebibšiptugakkathšulweliarzaxułum - Meritoriousness of Equanimity CD 2026

Eximperituserqethhzebibšiptugakkathšulweliarzaxułum - Meritoriousness of Equanimity
Willowtip Records CD 2026

01. One Step Long Infinity 02:25      
02. Contemplation of the Plastic Fibers of Perfection at the Second Level of Reality 05:05       
03. Twelve Centuries of Triumph of the Third Kingdom: the Idea of the Inner Creation of the Aristocratic Character of the Leader and the Process of Tempering Him in the Crucible of Trials in the Face of the Exaltation of Life as an Ode to the Heroic Ideals of Future Civilizations 01:24      
04. Finding Consistency in the Fourth Quadrant of Eternity 05:12       
05. The Untimely Fruit of the Unsaid 05:40       
06. Golden Chains for the Construction of Individual Greatness 04:06     
07. Molecular Disintegration of an Unattainable Solitary Will in a Vessel of Wisdom...as a Result of the Soul's Aspiration to Break the Summed Up Set of Delusions of Reason... in the Course of a Personal Experience of Accepting the Imperfection of the World and Proving that Time Gets Rid of the Fragile and Leaves Invulnerable 01:38      
08. Chalkionic Wandering Among the Wreckage of the Future 03:29      
09. Standing at the Skirt of the Ruins of Human Nature (...on the Other Side of Man and Time) 04:52


Paweł Nałęcki - Vocals 
Sergey Liakh - Guitars 
Davide Billia - Add. Drums


Ada banyak hal sulit di dunia metal ekstrem: memahami logo yang unreadable, membedakan subgenre yang selisihnya cuma satu pedal gitar, atau menjelaskan kepada orang normal kenapa suara manusia muntah ke kipas angin bisa dianggap seni. Tapi ada satu tantangan lain yang lebih sadis: mencoba mengeja nama " Eximperituserqethhzebibšiptugakkathšulweliarzaxułum " tanpa lidah keseleo, otak korslet, atau kehilangan keinginan hidup di tengah jalan. Serius, nama itu terdengar seperti mantra terlarang yang ditemukan di reruntuhan kuil Mesopotamia setelah dikencingi iblis kosmik selama seribu tahun. Ini bukan nama band. Ini cheat code neraka. Bahkan algoritma SEO kemungkinan menyerah dan memilih pensiun dini setelah mencoba mengindeks mereka. Dan jangan bohong: tidak ada manusia waras yang bisa menghafal nama lengkap mereka tanpa melihat copy-paste tiga kali. Tapi justru di situlah pesonanya. Karena kalau kalian cukup nekat untuk melewati hambatan linguistik absurd itu, kalian akan menemukan salah satu bentuk technical death metal paling aneh, paling psikedelik, dan paling tidak manusiawi yang muncul dari Belarus dalam dua dekade terakhir. Sejak terbentuk tahun 2009, Eximperitus sudah terdengar seperti band yang tidak tertarik membuat musik untuk konsumsi mudah. Mereka tidak peduli apakah riff mereka bisa jadi soundtrack gym, apakah lagu mereka cocok untuk playlist Spotify bertajuk " Extreme Metal Workout ", atau apakah pendengar baru akan kabur ketakutan dalam dua menit pertama. Mereka membangun dunia mereka sendiri: sebuah perpaduan technical death metal, spiritualitas gaib, atmosfer kosmik, dan kekacauan psikedelik yang terdengar seperti Nile dan Necrophagist dipaksa bertarung di dimensi lain menggunakan tujuh gergaji mesin sambil dirasuki dewa kuno.

Pada rilisan sebelumnya, " Šahrartu", mereka mulai memperlihatkan penyempurnaan besar dibanding fase awal mereka yang lebih kasar dan liar. Album itu seperti membuka portal menuju dunia death metal yang tidak lagi berpijak pada logika manusia. Dan kini melalui " Meritoriousness of Equanimity ", mereka melanjutkan jalur itu dengan pendekatan yang lebih fokus dan lebih ramping tanpa kehilangan kegilaan intinya. Yang langsung terasa adalah bagaimana Eximperitus mulai memahami bahwa kompleksitas tidak selalu harus identik dengan kepadatan brutal tanpa napas. Banyak band modern TDM terjebak dalam obsesi kecepatan dan presisi steril sampai akhirnya terdengar seperti software latihan gitar yang diberi blast beat. Eximperitus justru memilih pendekatan berbeda. Mereka tetap teknikal, tetap rumit, tetap membuat jari gitaris normal ingin pensiun, tetapi mereka menggunakan teknisitas sebagai alat eksplorasi atmosfer dan tekstur aneh, bukan sekadar kompetisi olimpiade sweep picking. Dan hasilnya benar-benar sinting ! " Meritoriousness of Equanimity " terasa seperti perjalanan ritualistik melalui dimensi gaib yang penuh warna-warna gelap dan distorsi realitas. Tremolo riff mereka melengkung seperti spiral hipnosis, solo gitarnya terdengar seperti sinyal dari entitas kosmik yang sedang sekarat, dan bagian ritmisnya bergerak dengan cara yang sering kali tidak terasa manusiawi. Ada groove, tetapi groove yang seolah datang dari makhluk purba berkaki seribu. Ada melodi, tetapi melodinya terdengar seperti musik pemanggilan bencana universal. Yang menarik, album ini justru lebih pendek dan lebih sederhana dibanding " Šahrartu ". Total durasi sekitar 31 menit dengan rata-rata lagu di bawah lima menit mungkin terdengar hampir normal  untuk ukuran technical death metal modern. Tetapi jangan salah. Kesederhanaan versi Eximperitus tetap terasa seperti membaca kitab sihir menggunakan otak yang sedang terbakar. Mereka hanya menjadi lebih efisien dalam menyampaikan kegilaan mereka.

 
Dan efisiensi itu membantu album ini terasa lebih mematikan. Tidak ada bagian yang terasa mubazir. Mereka memotong lemak tanpa menghilangkan atmosfer kaleidoskopik yang menjadi identitas mereka. Riff panjang tetap ada. Melodi tremolo yang berputar seperti pusaran dimensi tetap hidup. Aura psikedelik dan okultisme tetap meresap di seluruh lagu. Bedanya sekarang semuanya terdengar lebih terkendali, lebih fokus, dan justru karena itu lebih menghancurkan. Perkusi juga layak mendapat sorotan besar. Drumnya tidak selalu bermain dengan tempo hiper-balistik ala modern TDM yang terdengar seperti printer rusak. Sebaliknya, Eximperitus memahami pentingnya ruang dan dinamika. Mereka membiarkan ritme bernapas sebelum kembali menghantam dengan ledakan aneh yang terasa seperti ritual pemanggilan kehancuran kosmik. Ada banyak pola perkusi yang terdengar " off " dalam cara terbaiknya, menciptakan rasa disorientasi yang terus menerus. Atmosfer album ini mungkin jadi aspek paling kuat. Banyak band mencoba terdengar “gaib” hanya dengan menambahkan intro ambient murahan dan artwork penuh simbol kuno. Eximperitus benar-benar terdengar seperti mereka hidup di dunia lain. Musik mereka memiliki kualitas hallucinatory yang jarang ditemukan dalam death metal teknikal modern. Ini bukan sekadar brutal. Ini terasa terkutuk. Dan ya, tentu saja album seperti ini tidak akan cocok untuk semua orang. Pendengar yang menginginkan struktur straightforward kemungkinan akan menyerah lebih cepat daripada orang yang mencoba mengeja nama band mereka untuk pertama kali. Tapi bagi mereka yang menikmati technical death metal sebagai pengalaman eksplorasi sonik dan spiritual, " Meritoriousness of Equanimity " adalah pesta kegilaan yang luar biasa. Pada akhirnya, Eximperituserqethhzebibšiptugakkathšulweliarzaxułum tetap menjadi salah satu anomali paling absurd sekaligus paling menarik di dunia metal ekstrem modern. Mereka bukan band yang mencoba menjadi viral, mudah diakses, atau ramah algoritma. Mereka terdengar seperti kultus bawah tanah yang secara tidak sengaja menemukan cara mengubah horor kosmik menjadi TDM. Dan mungkin itu alasan kenapa mereka terasa begitu penting. Di tengah lautan tech-death modern yang terlalu steril, terlalu aman, dan terlalu sibuk memamerkan kemampuan tanpa identitas, Eximperitus justru terdengar seperti mimpi buruk ritualistik yang hidup. Sebuah soundtrack untuk siksaan abadi yang dipancarkan langsung dari kekosongan kosmik menuju telinga manusia yang cukup bodoh untuk mendengarkannya.

Sebelum menulis tentang materi yang menampilkan gempuran ajib drummer Davide Billia-nya (Antropofagus, Coffin Birth, Fisted, Martoriator, Pit of Toxic Slime, Repulsive Dissection, Vomit the Soul, Xenomorphic Contamination, ex-Septycal Gorge, Failure, ex-Hour of Penance, ex-Putridity) adalah penampilannya setelah menggantikan drum machine, penampilan band Brutal/Technical Death Metal asal Belarusia ini menjadi tambah sinting, se-sinting mereka bikin lirik dan titel track yang bikin ampun yang baca, Anjritttt ini lirik apa Testimony dah. Satu hal yang selalu w hargai tentang Eximperitus adalah komitmennya terhadap tingkat detail yang tinggi. " One Step Long Infinity " membuka album dengan riff yang bernada grotesk, kompleks tetapi sepenuhnya dapat dimengerti, yang melenggang antara gaya laba-laba dan menghantam. Pikirkan tentang lini menuju Suffocation awal dengan sentuhan sound gelap yang melengkung dalam gaya Immolation. Ledakan tanpa henti dan permainan double bass yang menghancurkan dadamu sementara vokal guttural mengoyak dagingmu dengan ketajaman tenggorokan yang robek. Dua menit dua puluh lima detik yang cepat dari dominasi total. " Contemplation of the Plastic Fibers of Perfection at the Second Level of Reality " bergetar gitar crunchynya sangat teredam dengan kejam yang tak henti-hentinya. Kotor dan mematahkan leher, lagu ini membosankan kesadaranmu dengan melodi yang memikat dan aneh yang tersembunyi di bawah keburukan riff-nya, memberikan kecemasan gugup di pembuluh darahmu, sementara jiwamu disayat tanpa ampun. Lanskap suara secara keseluruhan memiliki aura Mesir yang terasa mistis dan seolah-olah para alien benar-benar membangun piramida. Ini menawan dan misterius sementara kompleksitasnya yang menghancurkan menghancurkan segalanya menjadi debu yang meluncur mulus ke dalam pasir gurun. " Molecular Disintegration of an Unattainable Solitary Will in a Vessel of Wisdom " adalah salah satu dari dua instrumen di " Meritoriousness of Equanimity ". Biasanya w tidak menyebutnya sebagai sorotan, namun di album ini keduanya bekerja dengan sangat baik. Yang satu ini sangat menyedihkan, dengan keanggunan surgawi yang mengendap di bawah permainan gitar utama yang bergerak lambat. Ini sederhana tetapi terasa seperti bagian integral dari rekaman yang menetapkan suasana suram sebelum serangan brutal berikutnya, sambil juga menjaga lanskap sound yang lain dunia tetap atmosferik. Tidak ada kredit produksi yang diberikan dengan siaran pers, tetapi w jamin ini adalah makhluk yang menjijikkan. Gitar-gitar trebly tajam mengiris di beberapa tempat dan bergerigi di tempat lain, bassnya hangat dan penuh nada dengan keanggunan yang melengkapi berbagai tekstur dari riff yang gelisah. Drum terdengar seperti drum seharusnya dengan banyak dentuman keras dan ketukan yang tajam. Vokalnya mengaum dengan guttural rendah dan kekasaran, dengan vokal midrange bersih yang sesekali melambung di atas perpaduannya. " Meritoriousness of Equanimity " adalah sebuah karya death metal yang berputar-putar dan terpelintir yang meskipun brutal, tetap enak didengar dari segi produksi.

 
Putaran berulang semakin memperdalam rasa penghargaan yang w dapatkan dari menginvestasikan waktu w dengan album terbaru Eximperitus, tetapi juga mengungkapkan satu kekurangan yang mencolok: sebuah klimaks. w bukan orang yang berpendapat bahwa klimaks adalah atau harus menjadi satu-satunya tujuan dari pengalaman apa pun, tetapi " Meritoriousness of Equanimity " meminta satu yang sebanding dengan showstopper " Šahrartu ", "Inqirad." Meskipun banyak, jika tidak semua, lagu di " Meritoriousness of Equanimity " memiliki momen-momen menonjol yang besar jatuhnya palu di sepertiga akhir " The Untimely Fruit of the Unsaid, " riffing Wormhole di " Golden Chains for the Construction of Individual Greatness, " semua " Chalkionic Wandering" dan part yang membuat merinding " Twelve Centuries of Triumph of the Third Kingdom: the Idea of the Inner Creation of the Aristocratic Character of the Leader and the Process of Tempering Him in the Crucible of Trials in the Face of the Exaltation of Life as an Ode to the Heroic Ideals of Future Civilizations " (Anjritttttttt belibet w bacanya hahaha) dan " Standing at the Skirt of the Ruins of Human Nature..." yang membuat rekaman ini begitu menarik, w tahu tingkat keepikan yang mampu diciptakan oleh Eximperitus, dan itu adalah satu hal yang w rindukan di sini. Selain itu, meskipun w sangat menikmati campuran berantakan dan nada gitar bising di " Šahrartu ", di " Meritoriousness of Equanimity ", w khawatir hal itu mengurangi sedikit dampak dari beberapa frasa Eximperitus yang lebih melodius atau kompleks. w tidak akan pernah menginginkan rekaman Eximperitus yang bersih selama w hidup, tetapi mungkin sedikit kurang kotoran akan membantu dalam hal ini.

Sekarang setelah w sukses rasanya mempermalukan diri sendiri secara linguistik gara-gara mencoba membaca daftar lagu milik Eximperituserqethhzebibšiptugakkathšulweliarzaxułum tanpa mengalami stroke ringan, akhirnya w bisa sampai pada kesimpulan paling penting: " Meritoriousness of Equanimity " adalah salah satu rilisan TDM paling menarik, paling aneh, dan paling menggoda rasa penasaran dalam beberapa tahun terakhir. Ya, nama bandnya terdengar seperti password Wi-Fi ritual setan hahahaha. Ya, judul lagunya terlihat seperti hasil keyboard dilempar ke altar Mesopotamia kuno. Tapi di balik semua kekacauan alfabet itu tersembunyi sebuah album yang benar-benar hidup, bernapas, dan menggerogoti kewarasan secara perlahan. Dan itulah poin pentingnya: Eximperitus bukan sekadar band TDM lain yang sibuk menghitung BPM sambil berlomba menjadi kalkulator musik tercepat di planet ini. Mereka memahami bahwa technical death metal tanpa atmosfer hanyalah senam jari berkedok ekstremitas. Maka " Meritoriousness of Equanimity " hadir bukan cuma sebagai demonstrasi skill, tetapi sebagai pengalaman mistis penuh paranoia kosmik dan aura ritualistik yang terasa hampir tidak manusiawi. Album ini melanjutkan semua fondasi yang sudah dibangun sejak era " Šahrartu ", tetapi dengan tingkat penyempurnaan yang jauh lebih matang. Kalau sebelumnya mereka terdengar seperti kultus bawah tanah yang baru belajar membuka portal dimensi lain menggunakan blast beat dan pedal delay rusak, sekarang mereka terdengar seperti arsitek penuh percaya diri yang benar-benar tahu cara membangun kuil sonik mereka sendiri. Segalanya terasa lebih tajam, lebih fokus, dan lebih presisi tanpa kehilangan karakter hallucinatory yang membuat mereka berbeda dari lautan tech-death modern yang steril. Dan ini yang paling mengesankan: mereka berhasil terdengar teknikal tanpa menjadi membosankan. Kedengarannya sederhana, tapi faktanya itu hampir mukjizat dalam dunia technical death metal modern. Terlalu banyak band di genre ini yang terdengar seperti tutorial YouTube " 100 sweep picking patterns to destroy your wrist in 10 minutes. " Musik mereka mungkin sulit dimainkan, tapi sama sekali tidak menarik untuk didengar. Eximperitus justru membalik pendekatan itu. Mereka menggunakan teknisitas untuk menciptakan atmosfer, ketegangan, dan rasa tersesat yang benar-benar efektif.

Riff-riff di album ini bergerak seperti ular kosmik yang melilit realitas. Tremolo melodi mereka terasa bengkok dan tidak stabil, seolah setiap nada sedang mencoba keluar dari dimensi berbeda secara bersamaan. Solo gitarnya bukan sekadar ajang pamer kemampuan, melainkan bagian dari narasi sonik yang lebih besar. Ada sensasi psikedelik yang terus meresap di seluruh album, membuat pengalaman mendengarkannya terasa seperti perjalanan ritual menuju kehampaan universal. Dan di balik seluruh kekacauan itu, mereka tetap memahami pentingnya struktur lagu. " Meritoriousness of Equanimity " memang lebih singkat dibanding " Šahrartu ", tetapi justru karena itu album ini terasa lebih efektif. Tidak ada bagian yang benar-benar mubazir. Mereka memotong kelebihan tanpa menghilangkan identitas. Ini seperti melihat seorang penyihir tua akhirnya belajar bahwa tidak semua mantra harus berdurasi dua jam untuk terdengar menghancurkan. Perkusi di album ini juga pantas dipuji besar-besaran. Drumnya terdengar seperti mesin perang ritualistik yang terus bergerak tanpa ampun. Namun yang menarik, mereka tidak selalu mengandalkan kecepatan hiperaktif ala tech-death modern. Ada banyak momen di mana ritme melambat cukup untuk membangun atmosfer, lalu kembali menghantam dengan ledakan yang terasa lebih mematikan karena penahanannya tadi. Dinamika seperti ini yang membuat album tetap hidup dan tidak berubah menjadi kebisingan datar tanpa arah. Yang membuat Eximperitus semakin unik adalah keberanian mereka untuk terdengar benar-benar asing. Banyak band ekstrem mengaku " Avant-garde ", padahal cuma menambahkan intro ambient dan chord aneh sekali dua kali. Eximperitus benar-benar terdengar seperti entitas dari luar realitas manusia. Musik mereka memiliki rasa spiritual, gaib, dan kosmik yang tidak dibuat-buat. Ini death metal yang tidak sekadar brutal, tetapi juga terasa terkutuk. Tentu saja, album ini tetap punya sedikit kekurangan. Kalau harus cerewet, " Meritoriousness of Equanimity " memang masih kurang satu lagu yang benar-benar menghancurkan batas gravitasi untuk menjadikannya mahakarya absolut. Semua materi di sini sangat kuat, tetapi belum ada satu komposisi yang benar-benar berdiri sebagai " momen definitif " yang langsung menancap permanen di otak seperti ritual traumatik yang tidak bisa dihapus. Itu satu-satunya alasan kenapa album ini belum sepenuhnya mengambil alih rotasi dengar w tanpa perlawanan. Namun selain itu? Sulit mencari banyak celah. Karena pada akhirnya, Eximperituserqethhzebibšiptugakkathšulweliarzaxułum tetap menjadi salah satu anomali paling memikat dalam death metal modern. Mereka bukan band yang mencoba terdengar " ramah pendengar ". Mereka tidak peduli soal algoritma streaming, playlist viral, atau validasi pasar. Mereka hanya ingin membangun dunia sonik mereka sendiri: dunia penuh kabut ritual, riff psikedelik, kehancuran kosmik, dan horor metafisik yang terasa seperti mimpi buruk spiritual. Dan kalau kalian cukup nekat untuk masuk ke dalamnya, " Meritoriousness of Equanimity " akan dengan mudah mencuri perhatian kalian dari dunia fana ini. Perlahan, mengganggu, dan hampir tanpa kalian sadari.

0 Comments:

Posting Komentar

Tinggalkan komentar TERBAIK kalian disini, enjoy the sickness !

Designed by lostinchaos mediazine