Apolaustic - No Plenitude Without Suffering CD 2026

Apolaustic - No Plenitude Without Suffering 
Transcending Obscurity Records CD 2026

01. Devouring the Past 05:42      
02. Fragments from a Misty Journey 05:14      
03. Testimony of an Obsolescent World 05:02      
04. Shining Amidst the Lights 05:49      
05. Smells Like Dead Autumn Fire 00:57      
06. Black Flame Reviver 07:01      
07. De feu et de cendre 06:28      
08. Peregrination Towards Childhood Memories 04:34


Romain Negro - Vocal
Merlin Bogado - Add. Guitars, Bass
Nicolas Muller - Add. Drums 


Ada semacam kutukan tidak tertulis dalam dunia metal ekstrem: ketika seorang vokalis hengkang dari band besar yang membesarkan namanya, hasil akhirnya biasanya antara dua kemungkinan proyek nostalgia yang setengah matang atau eksperimen ego pribadi yang terdengar seperti sesi curhat mahal di studio. Untungnya, itu tidak terjadi pada Apolaustic. Dan syukurlah lagi, karena dunia technical/melodic death metal sudah terlalu penuh dengan band yang sibuk memoles trigger drum sampai steril tetapi lupa cara menulis lagu yang benar-benar punya nyawa. Ketika Stortregn harus berpisah dengan vokalis lamanya, Romain Negro, banyak orang langsung memasang wajah duka ala fans sinetron kehilangan karakter utama. Wajar saja. Dalam genre yang sangat bergantung pada identitas vokal, kehilangan frontman sering kali terasa seperti mencopot mesin dari tank lalu berharap kendaraan itu masih bisa menggilas medan perang. Namun menariknya, baik Stortregn maupun proyek baru Negro, Apolaustic, justru membuktikan bahwa perpisahan tidak selalu berarti amputasi kreatif. Kadang-kadang, itu malah operasi pembebasan. Album debut penuh band ini, " No Plenitude Without Suffering ", bukan sekadar proyek pelampiasan mantan anggota band besar yang ingin membuktikan dirinya masih relevan. Tidak. Ini jauh lebih berbahaya dari itu. Ini adalah deklarasi perang musikal dari seseorang yang tampaknya sadar betul bahwa ia tidak punya waktu untuk terdengar medioker. Delapan lagu berdurasi sekitar empat puluh menit ini menyerang seperti badai es yang dilempar langsung ke wajahmu sambil tertawa sinis.

Secara musikal, Apolaustic masih membawa DNA teknikal khas Stortregn: riff cepat, permainan gitar presisi tinggi, struktur lagu kompleks, dan ledakan blast beat yang nyaris membuat metronom menyerah hidup. Tapi perbedaannya terasa jelas. Jika Stortregn sering terdengar seperti mesin perang futuristik yang dingin dan mekanis, Apolaustic justru lebih liar, lebih emosional, dan jauh lebih tenggelam dalam atmosfer black metal melodik yang kelam. Ini seperti melihat seseorang membakar laboratorium tech-death modern lalu memainkan melodinya di atas reruntuhan yang masih berasap. Romain Negro tampaknya tidak tertarik membuat album yang aman. Dan itu bagus. Metal ekstrem terlalu banyak diisi band yang terdengar seperti hasil cetakan printer 3D: presisi, rapi, teknis lalu selesai. Tidak ada luka. Tidak ada rasa bahaya. Tidak ada jiwa. Apolaustic justru menolak sterilitas itu. Mereka terdengar hidup, marah, dan sangat lapar. Performa vokal Negro sendiri menjadi pusat gravitasi album ini. Ia tidak hanya berteriak atau growl demi memenuhi checklist genre. Ada rasa putus asa, amarah, bahkan semacam nihilisme romantik yang mengalir di balik setiap kalimat. Vokalnya menggantung di antara keganasan death metal dan aura dingin black metal, menciptakan atmosfer yang terasa seperti tersesat di pegunungan bersalju sambil diburu sesuatu yang bahkan tidak bisa dijelaskan manusia. Di sisi instrumental, Nicolas Muller pada drum tampil seperti manusia yang mungkin sudah kehilangan fungsi tidur bertahun-tahun lalu. Permainannya brutal, padat, tapi tidak jatuh menjadi sekadar kompetisi kecepatan tanpa arah. Sementara Merlin Bogado mengisi ruang gitar dan bass dengan tekstur yang kaya, menghadirkan harmoni melodi yang tetap mampu bersinar di tengah kekacauan teknikal yang nyaris absurd. Ada banyak momen di mana riff-riff mereka terdengar seperti pertempuran antara melodi indah dan kehancuran total dan justru di situlah kekuatan album ini berada.

Yang paling menarik, " No Plenitude Without Suffering " tidak terdengar seperti proyek yang sedang mencari identitas. Ini penting. Banyak proyek baru mantan anggota band besar biasanya terdengar gamang, terlalu sibuk membedakan diri sampai lupa membangun fondasi. Apolaustic justru datang dengan arah yang jelas. Mereka tahu persis ingin menjadi apa: kombinasi melodic blackened tech-death yang megah, ganas, emosional, dan tanpa kompromi. Dan di tengah lautan band technical death metal modern yang terobsesi menjadi semakin cepat, semakin rumit, semakin " lihat nih w jago ", Apolaustic justru mengingatkan bahwa atmosfer, emosi, dan identitas tetap lebih penting daripada sekadar jumlah not per detik. Karena pada akhirnya, tidak ada yang peduli seberapa teknis musikmu kalau setelah lagu selesai tidak ada satu pun momen yang tertinggal di kepala pendengar. " No Plenitude Without Suffering " adalah bukti bahwa terkadang perpecahan tidak menghancurkan kreativitas, ia malah memurnikannya. Album ini bukan sekadar langkah keluar dari bayang-bayang Stortregn. Ini adalah pernyataan bahwa Romain Negro tidak datang untuk menjadi " mantan vokalis dari band anu ". Ia datang untuk membangun monsternya sendiri. Dan monster ini lapar.

Jika ada satu jaminan antara kedua proyek tersebut, itu adalah daya tarik kecepatan masih bersinar cukup terang. Romain sendiri telah menciptakan delapan lagu yang terdengar seperti badai yang akan datang dan bergerak dengan kecepatan supercar. Segala pertanyaan tentang hal semacam itu akan terjawab dengan pembukaan " Devouring The Past " yang penuh ledakan saat lagu tersebut menerobos beberapa riff klasik black-metal dan garis vokal. Suara teriakan Romain selalu tampak lebih cocok untuk sesuatu dalam gaya grup black-metal dan sepertinya Apolaustic adalah rumah bagi hal semacam itu. Ini adalah jenis hal dalam musik di mana kalian terkejut bahwa butuh waktu begitu lama untuk kembali ke titik ini. " Devouring The Past " sendiri bergerak dengan kecepatan ledakan ke luar dan hanya menenangkan dirinya di tengah jalan untuk transisi yang tenang, yang muncul begitu tiba-tiba dan dengan cara yang terputus-putus sehingga seolah-olah lagu pertama benar-benar telah mencapai akhir. Ini adalah bukti bahwa bahkan di antara dua band yang berbeda, Romain masih akan memadatkan musik standar empat menit menjadi dua setengah menit dan kemudian membawa lagu itu kembali untuk putaran kedua. Tidak heran jika setelah hanya satu lagu kamu keluar dari sesi mendengarkan seolah-olah baru saja terlibat dalam pertarungan di bar. Kru Inferi pasti bangga ada orang lain yang bergabung dalam permainan mereka. " No Plenitude Without Suffering " adalah album di mana momen-momen bernapas yang sebenarnya bisa dihitung dengan satu tangan; semuanya adalah bagian dari lautan yang terus berputar karena ternyata Apolaustic memiliki banyak hal untuk dikatakan dalam empat puluh menit yang mereka minta darimu. Dengan mengarahkan karya solonya lebih ke gaya blackened, Romain telah memberikan ruang bagi atmosfer yang menghantui untuk masuk ke dalam Apolaustic juga. Segelintir kecil jeda yang disebutkan sebelumnya dalam album biasanya diselingi oleh kunci yang tenang atau gitar yang bergema. " No Plenitude Without Suffering " ada dalam keadaan terus-menerus terbakar sebagian besar waktu, tetapi dalam segmen-segmen tersebut ada rasa angin kecil yang berhembus melalui puing-puing yang hangus. Ini adalah jenis pembusukan hangus yang sering kita guyonkan sebagai sesuatu yang ditinggalkan oleh album seperti ini yang dijadikan momen dalam lagu. " No Plenitude Without Suffering " adalah suara dari pertempuran yang terus-menerus mengakhiri dunia dan juga momen-momen segera setelahnya.

Pertimbangkan pasangan langsung yang mengikuti lagu pembuka kami yang banyak dibicarakan: " Fragments From A Misty Journey " dan " Testimony Of An Obsolescent World ", kedua lagu tersebut beroperasi sebagai satu kesatuan yang lebih besar. " Fragments From A Misty Journey " adalah salah satu lagu dengan gaya semua akselerasi sepanjang waktu, menerobos selama lima menit dengan efisiensi mesin berat yang menebang hutan, sedangkan " Testimony Of An Obsolescent World " memiliki banyak DNA yang sama, namun mencoba untuk lebih progresif dengan pembuka yang tenang bagian pertama sebelum melepaskan bagian demi bagian demi bagian di atas pendengar. " Testimony From An Obsolescent World " sering melambat untuk jeda melodi dan lead gitar sebelum kembali ke segmen yang sepenuhnya berbeda. Meskipun durasinya dua belas detik lebih pendek dari pendahulunya, keduanya digabungkan menjadi sepuluh setengah menit berdiri di tengah badai pasir dan membiarkannya menghabiskan semua tenaga kalian. Akan menjadi kejahatan untuk terjun ke bagian belakang " No Plenitude Without Suffering " tanpa semangat yang sama, karena satu lagu interstisial yang dibuat oleh Apolaustic hanya berdurasi lima puluh tujuh detik tetapi berfungsi sebagai sinyal yang cukup jelas bahwa tiga lagu berikutnya akan sangat memanjakan. Itulah sebabnya tidak mengherankan jika dua lagu adik-adiknya masing-masing berdurasi tujuh dan enam setengah menit. Akustik dari " Smells Like Dead Autumn Fire ” berfungsi sebagai jeda kedua di " No Plenitude Without Suffering " sebelum album ini membawa kalian ke dalam perjalanan tujuh menit dari " Black Flame Reviver " yang bergerak melalui riff black metal, riff doom, riff progresif, vokal yang tergaung, dan solo saksofon, semua dalam dua setengah menit. " Black Flame Reviver " adalah lagu yang sangat ambisius, mengingatkan pada beberapa bagian metal viking yang telah teruji dalam pertempuran untuk menambah tumpukan ide yang sudah sangat banyak. Jika tujuan dari " Black Flame Reviver " adalah untuk menggabungkan sebanyak mungkin dari " No Plenitude Without Suffering " ke dalam satu lagu, maka itu adalah tujuan yang tercapai. Dikombinasikan dengan lagu pembukanya, Kalian mendapatkan sebuah odyssey delapan menit ke sepertiga belakang album secara keseluruhan yang masih menyertakan beberapa kejutan dan satu lagu penutup yang menggugah dalam " Peregrination Towards Childhood Memories ". " No Plenitude Without Suffering " adalah sebuah rilisan yang menakjubkan, semakin dihargai setelah kalian berhasil melewati beberapa kali mendengarkan yang awalnya mengesankan. Apolaustic telah mengisi album ini hingga penuh dengan gitar black metal melodi dan death metal melodi, lalu menggerakkannya dengan drumkit yang tampaknya tidak pernah berhenti. Ini adalah album dengan banyak ide yang sebanding dengan ensiklopedia, dan oleh karena itu hiburan dari album semacam ini dapat bergerak dalam tiga fase: yang pertama yang sangat mengesankan, kemudian menikmati kegilaan yang terjadi, lalu menganalisis kegilaan tersebut.

Ada kepuasan aneh ketika melihat sebuah perpisahan dalam dunia metal ekstrem tidak berakhir seperti sinetron murahan penuh drama Facebook dan interview pasif-agresif berkedok " klarifikasi profesional ". Biasanya ketika seorang figur penting keluar dari band besar, salah satu pihak akan tenggelam menjadi proyek nostalgia tanpa arah, sementara pihak lainnya terdengar seperti mesin fotokopi yang kehilangan tinta. Tetapi kasus antara Apolaustic dan Stortregn justru menjadi pengecualian langka yang membuat kita harus mengangguk hormat sambil tetap memasang muka sinis khas penikmat metal ekstrem. Alih-alih saling membebani dengan bayang-bayang masa lalu, keduanya berkembang ke arah yang berbeda dengan identitas yang semakin jelas. Dan jujur saja, itu jauh lebih menarik daripada melihat band veteran memaksakan reuni demi menjual kaus nostalgia kepada orang-orang yang bahkan sudah tidak hafal riff lagunya sendiri. " No Plenitude Without Suffering " terdengar seperti manifesto musikal dari seseorang yang sadar bahwa dunia technical death metal modern sudah terlalu sesak oleh band-band yang sibuk memamerkan kemampuan bermain seperti robot auditif tanpa pernah benar-benar menulis lagu yang hidup. Album ini bukan sekadar pameran sweep picking dan blast beat berkafein tinggi. Ini adalah ledakan emosi yang dibungkus dalam struktur chaos yang sangat terkontrol. Sejak awal, Apolaustic langsung menghantam tanpa basa-basi. Empat puluh menit album ini dipenuhi kembang api gitar yang meledak ke segala arah, melodi yang menempel diam-diam di kepala, dan atmosfer infernal yang terasa seperti badai salju hitam menyapu reruntuhan gereja tua di pegunungan Swiss. Ada intensitas luar biasa dalam cara mereka membangun lagu. Tidak sekadar cepat demi cepat, brutal demi brutal, atau teknikal demi memancing kaum pemuja metronom orgasme intelektual di kolom komentar YouTube.

Yang membuat album ini begitu efektif adalah dinamika. Dan ironisnya, dinamika adalah sesuatu yang sering gagal dipahami banyak band technical death metal modern. Mereka terlalu sibuk menginjak pedal gas sampai lupa bahwa musik ekstrem juga membutuhkan ruang bernapas. Apolaustic mengerti itu. Mereka tahu kapan harus menghajar, kapan harus membangun atmosfer, dan kapan harus menarik pendengar masuk ke dalam jeda yang terasa seperti ketenangan sebelum eksekusi publik berikutnya dimulai. Momen-momen hening di album ini bukan filler murahan atau intro cinematic malas yang dibuat hanya supaya album terdengar " artistik ". Tidak. Bagian-bagian itu justru bekerja seperti racun lambat. Mereka memberi ruang bagi pendengar untuk menyusun ulang napas sebelum dinding riff berikutnya runtuh menghantam wajah dengan kekuatan yang bahkan terasa personal. Efeknya luar biasa. Ketika ledakan berikutnya datang, ia terasa lebih ganas, lebih besar, dan lebih menghancurkan. Secara komposisi, album ini seperti upaya sadar untuk membengkokkan konsep dinamika sampai nyaris patah. Apolaustic memainkan kegilaan kecepatan tinggi mereka dengan filosofi yang terasa obsesif. Mereka tidak sekadar memainkan musik ekstrem; mereka memperlakukannya seperti ritual. Ada rasa teatrikal dalam transisi lagu-lagunya, tetapi tanpa kehilangan kekejaman inti death metal dan black metal yang menopang seluruh fondasi album.

Romain Negro sendiri tampil seperti seseorang yang baru saja dibebaskan dari penjara kreatif dan memutuskan untuk melampiaskan semuanya sekaligus. Vokalnya terdengar lapar, agresif, dan penuh tekanan emosional. Ia tidak terdengar seperti vokalis yang sedang mencoba membuktikan sesuatu kepada mantan bandnya. Ia terdengar seperti seseorang yang akhirnya menemukan ruang untuk menjadi dirinya sendiri tanpa kompromi. Dan justru karena itu, " No Plenitude Without Suffering " terasa sangat autentik. Album ini tidak terdengar seperti produk algoritma metal modern yang dirancang untuk memuaskan playlist Spotify bertajuk " Melodic Black/Death Metal Motivation ". Ia punya identitas. Ia punya karakter. Ia punya luka. Puncaknya datang ketika lagu terakhir ditutup dengan nada piano tenang yang nyaris menghina seluruh kekacauan sebelumnya. Setelah empat puluh menit ledakan riff, tremolo liar, blast beat mengamuk, dan atmosfer infernal tanpa ampun, Apolaustic memilih mengakhiri semuanya dengan keheningan elegan yang terasa seperti abu dingin setelah kebakaran besar. Dan di situlah album ini benar-benar menang. Karena band-band medioker biasanya hanya tahu cara terdengar berat. Tetapi band hebat tahu kapan harus berhenti menghantam dan membiarkan kehancuran berbicara sendiri. " No Plenitude Without Suffering " bukan sekadar debut kuat dari proyek baru. Ini adalah bukti bahwa terkadang perpecahan tidak menghasilkan reruntuhan. Kadang, ia justru melahirkan monster yang lebih indah, lebih liar, dan lebih berbahaya daripada bentuk aslinya.

0 Comments:

Posting Komentar

Tinggalkan komentar TERBAIK kalian disini, enjoy the sickness !

Designed by lostinchaos mediazine