Trauma - Balakosa CD 2019

































Trauma - Balakosa
Morbid Noise Production CD 2019

01 Supremasi Kebencian 04:19    
02 Terbakar di Neraka 04:05    
03 Seremoni Penghancuran 03:40    
04 Tak'kan Binasa 05:04    
05 Terlahir Melawan Keputusasaan 05:02    
06 Mati Tertikam Asa 04:22    
07 Hingga Laju Nafas Terhenti 04:42    
08 Hidup Adalah Kemenangan 03:44
09 Diabolikal 04:01    
10 Human Suffering 04:05

Nino Aspiranta - Vocals
Henry Kemal - Guitars
Rusdi Hamid - Bass
Ramadhani Utomo - Drums

Indonesian Veteran Death Metal Godfather has come back !!! masa penantian hampir 7 tahun sejak melepaskan debut penuh ke-4 " Perennial " tahun 2012, tepat 9 Oktober 2019 kemaren, Veteran Death Metal TRAUMA memperkenalkan kembali debut penuh ke-5 nya " Balakosa " sekaligus membuktikan nafas eksistensinya tidak akan pernah mengenal kata stagnan. merunut sejarah panjang dan komplitnya yang kalo Gw Tarik dari tahun 1992, sampai dengan hari ini, Trauma adalah Generasi ke-2 yang masih menyisakan Frontman dan Vocalis Benino Aspiranta sebagai motor orisinil band yang tetep solid memainkan konsep musik dengan Benang merah Death Metal ! kebetulan Gw orang yang sedikit banyak pernah dekat dengan band ini pada era 90-an, mengenal dekat member dan liat sendiri beberapa penampilan stage hingga mungkin karir musikalnya, Trauma lumayan mengalami Evolusi panjang karena terlalu seringnya terjadi pergantian formasi, Trauma sendiri masih mempertahankan karakteristik Death Metal " Pure ", sehingga taste Putrid Old School masih begitu melekat kuat. Well, sedikit flashback sebentar, mungkin debut rilis perdana " Extinction of Mankind " Tahun 1998, Trauma tetep solid mengusung warna Death Metal, meski pada saat itu epidemi DM yang lebih cepat sudah menguasai Iklim Movement, terbukti materi perdana ini sangat sukses menghimpun fans fanatik. era dimana komposisi musikal Band sudah begitu melodius hasil sayatan Gitaris Wilman dan Dedy menjadi Trademark dari formasi klasik Trauma. setelah itu masuknya kembali Gitaris Heila Tanisan yang pernah memperkuat Trauma sebelumnya membawa pengaruh signifikan dengan konseptual skill-nya, makin mantap dan padat menyayat ! formasi ini berhasil membuahkan materi split dengan Unveiled tahun 2000. sebagai puncaknya tahun 2003, Trauma berhasil melepas Album ke-2 secara nasional " Paradigma: Demi Hidup Tak Perlu Harus Mati ", dimana formasi Trauma mengalami krisis member yang hanya menyisakan Nino, Heila dan Drummer baru-nya Rahmadhansyah " Coky ". Komposisi Musikal band memang semakin menantang dengan nilai kerja matang jika kita coba bandingkan dengan sebelumnya. earning it my melodic stamp of approval all the same. It doesn't even end there though, as the song erupts into a stomping groove that has potent neck-jerking potential and serves as a decent counterpoint to the blistering. formasi mantap ini semakin solid mempertahankan eksistensinya kemudian pada tahun 2008 untuk melepaskan album ke-3 " Dominasi Kemenangan " sekaligus memperkenalkan masuknya bassis Rusdi Hamid. konsepsional ala Amon Amarth yang masih begitu kuat merasuki attitude Trauma, jika sebelumnya nama Avulsed, Fleshgrind hingga Morgoth begitu menonjol, dengan kata lain Penampilan Skill Trauma makin terdengar sangat Melodius ! formasi kembali berubah ketika Drummer Rahmadhansyah " Coky " memutuskan untuk mengundurkan diri dan segera posisinya tergantikan oleh Ramadhani Utomo, dan tahun 2012 adalah pembuktian untuk kesekian kalinya, Trauma berhasil melepaskan album ke-4 " Perennial ", yang Gw rasa masih seperti membawa atmosfir dari " Dominasi Kemenangan ". penampilan lebih melodius dan gelap ! You can almost hear as the band comes close to the magic formula achieved on later albums, only to kneecap themselves right before the precipice is reached. It infuses the listener with optimism but is at the same time incredibly frustrating. dan engga taunya materi album ke-4 tersebut harus menjadi album terakhirnya Heila dengan Trauma. nah terbesut sepintas memang di otak Gw sih, siapa yang bakalan bisa menggantikan posisi vital musikal Trauma nanti, meski tidak mengumumkan secara resmi, diam diam memang Trauma sudah sering mengajak gitaris baru ini dibeberapa panggung di negeri Jiran, Malasya, namanya Henry Kemal, mungkin doi tetep gape membawakan semua lagu Trauma, dan pertanyaannya, bagaimanakah Konseptual Trauma dimateri barunya? yang jelas setiap musisi punya karakteristik dan skilling berbeda beda. dan sejak memperkenalkan 2 Video clip " Supremasi Kebencian " dan " Tak'kan Binasa ", Gw seakan diberi bocoran bagaimana konseptual Trauma hari ini juga dibeberapa video Footage-nya, Well biar ga nambah makin penasaran DM Fans, yuk kita langsung kupas bareng agresi menyegarkan dengan atmosfir gelap mencekam " Balakosa " ini. There are multiple moments where I feel like hitting skip. It’s not just the speed, either. Amon Amarth has made numerous mid-tempo songs that sported some interesting instrumentation to carry them. Not so here. With the exception of the opening riff, I can’t remember a single noteworthy guitar part. This is after a few years of listening. It’s a more of dark plodding power melodic chords, relentless drumming, and In fact, the more somber sounding chorus serves as the only real break from it's otherwise relentless assault. Don't miss that one.

Walau Bagaimanapun, sebagian besar materi " Balakosa " masih tetap menunjukkan sebuah kekuatan abadi dan komposisi kuat Death Metal yang berperan sebagai kekuatan terbesar Trauma sendiri : Death Metal part yang suram serta mencekam didukung oleh lonjakan perkusif Drummer Ramadhani Utomo yang jelas terukur dari segala ketukan dan Improvisasinya. karena bagi Gw instrumen Drum adalah part vital yang lebih mengangkat sekali beberapa karakteristik spirit lagu. mungkin secara teknis tidak banyak memberi kesan, namun Ramadhani Utomo tetap membuktikan bahwa kadang-kadang bisa lebih menjadi gila jika penulisan lagu dapat mendukungnya. coz Trauma sendiri seperti yang Gw kenal sedang berayun di antara dua tempo, yang keduanya agak lambat dan disengaja dalam pendekatan mereka. masih menjadi benang merah serta perpanjangan komposisi era " Dominasi Kemenangan " atau " Perennial ", walo dari segi Melodius, materi " Balakosa " tidak terlalu jauh mengadopsi lengkap dan utuh, dan artinya Trauma tidak menyingkirkan terlalu banyak warna tersebut, karena disini Gitaris Henry Kemal coba mewujudkan ujung spektrum yang lebih lambat dan gelap di sini, yang secara umum menjadi lebih melankolis dari sudut pandang melodius. mencermati komposisi sejak mendengarkan via official video clip " Supremasi Kebencian ", Standard DM ala Amon Amarth rasanya masih mencengkeram kuat elemen musikal-nya, meski hanya mengambil point-point tertentu saja seperti Riff melodius yang begitu kental, typical low Growl Nino memang selalu mengingatkan Gw dengan in the vein-nya Johan Hegg. tidak banyak mengulik partitur melodius disetiap part riff, Gitaris Henry masih terdengar bermain sederhana namun cukup banyak menebarkan warna Harmonisasi yang suram dan gelap, belum lagi sentuhan solo berbahaya-nya, skill-nya emang beda dari yang Gw pikirkan. cuman beberapa menit part awal, rasanya Gw seperti buru buru menyimpulkan jika Komposisi Trauma hari ini Berbeda ! It combines the pure Thrashiness and Heavy DM with severe and genuine, heartfelt emotion into what I honestly believe to be the pure embodiment of Trauma. This track is an amazing listen from start to finish, from the exceptional riffage to the grinding vocals. this is a good track, showing a little soft side in the beginning in an extremely satisfying way. " Supremasi Kebencian " It's one of those songs you'd hold a lighter to if they played it live, before throwing yourself into the circle pit, and it's done really well. Kharisma meraung Nino di beberapa titik terbaik dalam rekaman ini dengan gelegar parau dan tema lirik epik, tetapi sangat menarik meski ditulis dengan bahasa sederhana yang mudah ditangkap. Seperti biasa, fokus Epik dan Heroik adalah yang terpenting bagaimana pesona Trauma masih terhitung menggetarkan. In this case, describing in detail each song which jumps out of the pack would amount to a detailed description of every single song on this album. Suffice it to say, most of this album varies from fast-as-hell to a more mid-paced type of uncompromising melodic DM, running from the rousing anthem to vengeance in Our Backs to insane epic. " Terbakar di Neraka ", Segala sesuatu yang begitu menjanjikan dan intens di album sebelumnya lebih diasah dengan sempurna di sini; peran setiap member band dimanfaatkan sebanyak mungkin secara manusiawi. tidak terlalu banyak menekankan skill bermain kaku yang terfosir, namun bagaimana memberi sentuhan gelap disetiap lini-nya, dan Gw menangkap aransemen Riff Henry ini rupanya berperan besar memberi sentuhan mencekam yang digabungkan dengan drum agresif. dan Evolusi Sounding ini sedemikian linier dan harmonis hanya dapat dijelaskan oleh stabilitas emosional Trauma. Faktanya, tidak banyak terjadi perubahan partisi apa pun setelah perilisan album debut era " Perennial " dan Gw bisa mengatakan Trauma adalah fenomena unik, atau paling tidak banyak dimainkan band lain scene tanah air saat Obsesi mereka tidak disertai dengan idealisme yang begitu mendarah daging. sepertinya Gitaris Henry memang tidak terlalu menekankan Skill dan Fill berat selain bagaimana menciptakan atmosfir yang terasa begitu mencekam seperti mengalir sepenuhnya dengan Ledakan Drum dan bagian terakhirnya adalah signatur kuat vokal low growl Nino keeping awesome. menghentakkan segala keputusasaan yang diperangi semangat yang mengharu biru rasanya, Orientasi attitude musikal Trauma memang kerap memberi suntikan semangat baru layaknya. " Seremoni Penghancuran ", menghujam serasa semangat kita ikut dibangkitkan oleh sebuah Anthemic. Liriknya memang setara dengan musik epik dan kuat yang tak dapat disangkal. Trauma seperti terus coba mengalahkan diri mereka sendiri pada saat ini. Sekarang, hampir karakteristik album memiliki lirik yang dapat mengirim sebagian besar band langsung dalam sebuah Kemenangan, karena ini adalah level yang lebih tinggi tentang sebuah keyakinan dan kekuatan. Kekerasan yang tak berujung dari Kematian dalam Api dan Pertumpahan Darah, nyanyian pujian untuk pembalasan bagi para Penusuk dari belakang ke Punggung kita dan, pada tingkat yang lebih rendah, Seribu Tahun Penindasan, serta kegilaan murni kita melawan hal-hal yang tidak pernah kita lakukan sebelumnya. bahkan tidak tahu ada " Balakosa " sebagai saksi yang sangat keras akan keunggulan keseluruhan konten di sini. yang sangat menonjol, baik secara musikal maupun lirik, adalah Closing Epic. Trauma memang selalu ingin meleburkan diri dengan hanyut dalam Moshpit circle dengan provokasi musikal yang bagi siapa saja bisa mencerna lewat adrenalin hingga titik peluh akhir dengan orkestrasinya. Menitik beratkan pada Gaya bermain simply, sehingga Metalhead bakal memorable dengan segala era kejayaan DM di era kemunculan awal. jadi jangan terlalu banyak berharap ketukan yang padat dan berat, coz this TRAUMA - Death Metal Victory ! intensitas terus menaikkan level-nya saat " Tak'kan Binasa ", Trauma terdengar lebih menghangatkan lagi dengan sajian cepat nan Renyah ! komposisi Sounding-nya memang kali ini diproduksi sangat gelap dan megah, sehingga Gw cukup merasakan Stereo panning-nya berfungsi maksimal via kemegahannya, bagaimana se-isi ruang kamar Gw dipenuhi dengan distorsi berat plus raungan kuat Khas Nino, well cukup bikin Gw diam sejenak untuk menikmati setiap lick serta bar-nya serasa Gw menjadi bagian Trauma. Ini adalah jenis hal yang dapat menarik bagi siapa pun cepat menikmatinya, dengan riff berat yang tidak berjalan terlalu cepat, vokal yang mengganyang dan bagian irama sesuai dengan pattern, Trauma telah cukup banyak memanfaatkan istilah " Easy listening metal " di sini. Maksudnya, Gw tidak ingin terlalu keras pada hal-hal semacam ini, karena itu tidak benar-benar melakukan kesalahan selain hanya menjadi sesuatu yang membosankan dan tidak ambisius. Tetapi sekali lagi, mengapa Gw tidak perlu sedikit marah karena alasan itu? sebenarnya Orang-orang perlu lebih banyak menuntut musik mereka. Di satu sisi, album ini memiliki kesan yang mendalam, dengan aransemen musikal yang selalu diperhitungkan. Balutan harmonisasi sederhana bernuansa gelap semakin bertebaran angker tatkala " Terlahir Melawan Keputusasaan ", perlahan namun selalu menghempaskan jiwa yang lemah untuk segera bangkit kembali. masih mendengarkan perpaduan Middle part khas Amon Amarth dengan sentuhan OSDM era keemasaannya Deicide, Bolt Thrower, Benediction hingga Massacre rasanya seperti Harmoni riff yang mengingatkan ala Dissection era " Storm of the Light's Bane " di blend menjadi sebuah amunisi tenang namun mematikan. that gets the maximum emotional impact out of an epic chord progression contrasts an epic melody in the verse with the intense groove following the chorus, making the song more effective than the majority of DM songs! kemudian Gw seperti mendengarkan materi Klasik Obituary era " Slowly we rot " saat mendengarkan part awal " Mati Tertikam Asa " komplit dengan solo khas. seperti tidak ingin terpantik dengan kompleksitas Intens DM berat hari ini, bagi Trauma menyeduhkan racun DM yang tenang namun mematikan ini adalah sebuah Pride. begitu pula dengan " Hingga Laju Nafas Terhenti ", sajian DM epik akan kontinyu mematahkan leher kita saat terprovokasi Headbang part klimaks. meskipun biasanya Gw kurang begitu menikmati Mid-tempo, karena memang ternyata masih menjadi taktik Selling out banyak band, acap kali mengungkapkan betapa membosankannya gaya musik ketika tidak dimainkan pada tempo yang tidak manusiawi, Namun sekali lagi Gw berani tegaskan Musisi mengambil banyak sekali waktu mereka untuk membangun setiap lanskap epik untuk pijar kisah bernuansa Heroik, selalu konsisten menciptakan warna harmoni yang luar biasa menyatu dengan sisi kegelapannya, dan kemudian menerapkan amarah DM secara penuh dari vokal Low Growl, Dark Riff serta Powerfully Drumming. selanjutnya seperti membawakan versi baru Track " Hidup Adalah Kemenangan " kedalam versi Line Up hari ini membaca dari Track song nya, tapi secara lirik berbeda sih ternyata hahaha .. dan yang pasti lebih kerasa sekali (lagi dan lagi) gelap mencekam ! tetap menawarkan Nuansa Kuat Amon Amarth sekali menjadi sebuah sajian nikmat sambil mengendurkan Otot otot yang kaku setelah rutinitas seharian, Nino Cs seperti sedang menawarkan Terapi rileksasi melalui Struktur musik Indah dengan balutan Kuat Harmonisasi Riffing melodius-nya. keintiman ekspresi musik disini bolehlah tetap gw Gambarkan sebagai " melodi, harmoni, irama, dan dinamika " yang semua ini mutlak adalah bagian dari apa yang kita ketahui sebagai matangnya Kekuatan " lagu ". and I’ll start by saying that the mixture of melodic kinda folky but still ballsy marching riffs and tremolo picking palm muting assaults are a great death metal combo. The rhythm and the tempo aren’t on the high-end in comparison with many other DM acts, but the drumming makes up well for it with the right usage of double bass beats and almost tribal tom fills. meski menawarkan Medium blasted di bagian awal komposisi, namun karakteristik main band tidak akan melepas elemen khas, meski track " Diabolikal " terdengar lebih berat dan cepat menguras konsentrasi, seperti mendengarkan lagi Amon Amarth era album album awal. Trauma also does well to avoid the trap of overusing more kickin the blast beat, a pitfall that is common in this style. " Diabolikal " are perfect examples of spot on section transitioning, going back and forth between the constant thud of the double kick drum to a toned down quasi Melodic DM beat do have a similar type of energetic flow to it with quick and violent spurts are shouted adding the aggression to the composed. dan sebagai closing setlist-nya, 1 track yang tetap selamanya jadi Anthemic wajib bagi Traumaniac, yess " Human Suffering " !!! Track klasik yang di " Balakosa " kali ini direpresentasikan lagi ke wajah gelap-nya, meski pada versi orisinil ada banyak part Melodic Riff -nya yang kali ini banyak dipangkas, yang pasti kalian akan makin menyukai versi lebih menyegarkan ini. Balakosa was Simplistic, melodic and Epic, so there wasn't much to gather or be impressed. it was still in a very Depth and in a Darkened, more straightforward to the point kind approach. In a way, it feels like Trauma already knew how not to put too little or too much in a record and keep it at a perfect length.

Nowadays, I find myself popping in this record every now and then, Surprising myself at times when I find myself singing along to " Balakosa ", and really appreciating the work that Trauma were starting to craft and put together back then and that would come to define their three records before, if not their entire catalog. mengintegrasikan Elemen Inti dari detil DM sebenarnya secara perlahan ke dalam Sound yang .. it's Depressive Atmosphere, Trauma lumayan berhasil menemukan cara untuk mempertahankan genre mendasar ini Survive diantara gempuran Booming genre lain yang " Kata " nya Lebih menjanjikan. salah satu dari sekian pertanyaan yang mungkin dapat Gw wakilkan. Trauma tentu tidak sembarangan menempatkan opsi terakhir-nya dengan menempatkan Henry Kemal sebagai pengisi dawai Instrumen ternyata memang seseorang yang tepat ketika Evolusi Musikal Trauma mencapai fase yang semakin dinamis dan menyegarkan seperti ini, ya memang setiap Gitaris pasti memiliki karakteristik dan style bermain berbeda, dan itulah alasan terbesar " Balakosa " menjadi Orientasi mengejutkan memang di Konsep Trauma hari ini. Kualitas rekamannya juga makin matang dan terdengar megah, panning balance-nya seperti memenuhi setiap space room, dan dikuping terdengar adem meski kita mainkan lebih level-nya. dan jangan lupa Morbid Noise selalu memperhitung Package untuk Diehard Fans DM, meski masih Minus pada Font layout yang masih terlalu bergaya simple/klasik banget, yang bikin kerennya lagi, Compact Disc-nya juga menambahkan Multimedia content, 2 Video clip berformat MP4 " Supremasi Kebencian " dan " Tak'kan Binasa " .... btw artwork karya Timbul Cahyono juga masih yang terbaik menghiasi " Balakosa " memiliki kekuatan hidup. Sangat Gw rekomendasikan bagi Fans berat Death Metal Hitam bernuansa Klasik tanpa ritual Kebut-kebutan. It’s true, this is more Heavy and dark than other Trauma releases. Songs rely more on tremolo picking riff repetition, have more Straightforward structures, simpler yet solid rhythms, and all eight compositions reside within mid-tempo range. And the production is awesome for ear, you can hear everything clearly enough, including the rich bass tones of… well, the bass it self and the drums. I think this is a pretty appropriate album for the non fan to step into the Epic world of Trauma, since other albums feature more Melodic and complex compositions yet this one includes all the signature elements of this band. Well, I guess that depends on what type of non-fan listens to this. Fans of brutal death will probably dismiss this, yet fans of classic metal more might like it more. Diehard fans will obviously pick this up and enjoy it, but in my opinion this is the best thing they've released in a long while. YOU MUST HAVE THIS NOW OR YOU DIE !!!

* Songwriting: 8
* Originality: 7
* Memorability: 8
* Production: 9





Trauma - Tak kan Binasa ' Videoclip By Trauma
 


Trauma - Supremasi Kebencian ' By Trauma 

 
 



REVIEW LOSTINCHAOS

semua tulisan disini adalah Hak Milik LOSTINCHAOS Mediazine yang FREE TO SHARE, semua buah pikir dan Pendeskripsian style musik band dalam setiap tulisan hanya sebagai penggambaran penulis sendiri dan BUKAN untuk menyamakan apalagi membanding-bandingkan ! (mohon jangan dibolak balik lagi). cukup hanya dengan mencantum-kan Source Review link-nya. tulisan disini dibuat dengan jujur tanpa tendensi atau kepentingan apapun, jika Gw bilang bagus ya bagus begitu juga sebalik-nya, karena Gw semaksimal mungkin menyajikan argumen obyektif serta fair review tentang sebuah produk yang masuk dimeja redaksi, saran, kritik dan caci maki, silahkan tinggalkan komentar dibawah ini, Keep Metal Flame till' die !

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tinggalkan komentar TERBAIK kalian disini, enjoy the sickness !