Tragos - Bellicum
Fetzner Death Records CD 2026
01. Lethal Suspiro 04:00
02. Fragmento Fugit 03:42
03. Penumbra Prolix 04:09
04. Narcissus Vortex 03:35
05. Labor Delusiv 03:08
06. Scherzo Patibul 02:48
07. Chthonian Exult 03:48
08. Random Punishment 02:47
09. Ritual Deflor 02:49
10. Sanguinolent 03:47
11. Egofabulist 03:53
12. Opus Carnifex 03:18
Kev Boomer - Vocals
Cédric Peresse - Guitars
François Delmont - Bass
Laurent Boyard - Drums
Ada masa ketika death metal hanya peduli pada tiga hal: riff ganas, blast beat mematikan, dan seberapa cepat sebuah logo band bisa membuat mata kalian rabun. Lalu beberapa orang mulai berpikir, Bagaimana kalau semua kebiadaban ini dipadukan dengan musik klasik? Biasanya hasilnya antara dua ekstrem: terdengar megah seperti opera neraka atau seperti soundtrack kastil Dracula murahan di game PlayStation 2 bajakan. Untungnya, Tragos tidak jatuh ke lubang kedua itu. Lewat album debut mereka, " Bellicum ", yang dirilis melalui Fetzner Death Records, kuartet asal Prancis ini datang membawa sesuatu yang terasa aneh, ambisius, tetapi mengejutkan justru bekerja dengan sangat efektif: perpaduan death metal liar penuh pembantaian dengan sensibilitas komposisi klasik ala era barok. Dan ya, sebelum kalian langsung membayangkan keyboard murahan, orkestra sintetis overdramatis, atau intro piano tiga menit yang dipasang hanya supaya band terdengar " berkelas ", tenang dulu. Tragos tidak bermain di wilayah Symphonic death metal ala soundtrack vampir cosplay murahan. Mereka jauh lebih cerdas daripada itu. Yang mereka lakukan di " Bellicum " bukan menempelkan elemen klasik di atas death metal seperti stiker dekorasi tempelan. Musik klasik itu sudah tertanam di DNA komposisinya. Pengaruh dari komposer seperti Johann Sebastian Bach, Domenico Scarlatti, Fernando Sor, hingga Matteo Carcassi terasa hadir dalam struktur melodi, progresi harmonisasi, dan dinamika permainan gitar mereka bukan sebagai gimmick tempelan untuk menarik perhatian penikmat metal intelektual.
Karena banyak band ekstrem yang mencoba terdengar artistik akhirnya malah terjebak menjadi terlalu sibuk menunjukkan betapa cerdas-nya mereka sampai lupa menulis lagu yang benar-benar menggigit. Tragos justru berhasil menjaga keseimbangan itu. Mereka masih terdengar brutal. Masih liar. Masih punya aura death metal yang siap menendang pintu gereja sambil membawa kepala kambing terbakar. Tetapi di balik semua itu ada keanggunan komposisi yang terasa sangat terukur. Artwork cover album ini sendiri sebenarnya sudah memberi petunjuk jelas tentang isi musiknya. Ada nuansa perang, kemegahan, dan kekacauan yang dibungkus estetika klasik. Dan syukurlah, isi albumnya tidak mengecewakan seperti banyak cover metal modern yang terlihat luar biasa tetapi musiknya terdengar seperti plugin drum murah bertabrakan dengan preset gitar generik. " Bellicum " bekerja karena Tragos memahami satu hal penting: kontras adalah kekuatan. Mereka tahu kapan harus menghantam dengan riff death metal barbarik, dan kapan harus membiarkan melodi bernapas dengan keindahan hampir aristokratik. Ada momen di mana gitar mereka terdengar seperti duel antara algojo abad pertengahan dan musisi istana kerajaan yang sama-sama keras kepala ingin mendominasi lagu. Anehnya, duel itu justru menghasilkan sesuatu yang sangat hidup. Yang paling menarik adalah bagaimana mereka menghindari jebakan " Bombastis kosong ". Banyak band yang bermain dengan elemen klasik akhirnya terdengar terlalu teatrikal, terlalu sibuk membangun suasana epik sampai lupa menghadirkan intensitas nyata. Tragos tidak pernah kehilangan rasa bahayanya. Bahkan ketika mereka memainkan bagian melodi yang lebih elegan, selalu ada ancaman tersembunyi di bawahnya seolah seluruh komposisi bisa runtuh menjadi kekacauan brutal kapan saja. Dan itu membuat " Bellicum " terasa segar.
Di era ketika death metal modern sering terjebak antara dua kutub entah terlalu teknikal sampai kehilangan jiwa, atau terlalu primitif sampai terdengar seperti demo ruang bawah tanah yang lupa di-mix, Tragos datang dengan identitas yang jelas. Mereka tidak terdengar seperti tiruan Swedeath, bukan pula klon tech-death steril penuh sweep picking tanpa emosi. Mereka punya pendekatan sendiri. Tentu saja, ada risiko besar dalam musik seperti ini. Pendengar OSDM mungkin akan menganggap unsur klasiknya terlalu halus, sementara penikmat musik klasik kemungkinan besar akan melihat kebrutalannya seperti invasi barbar ke ruang konser. Tetapi justru ketegangan itulah yang membuat album ini menarik. Tragos tidak mencoba menyenangkan semua orang. Mereka menciptakan dunia mereka sendiri, lalu mempersilakan kita masuk atau hancur di dalamnya. Dan setelah mendengarkan "Bellicum" dari awal sampai akhir, satu hal menjadi jelas: ini bukan eksperimen kosong. Ini bukan sekadar Death metal dengan sentuhan klasik demi headline promosi. Ini adalah bukti bahwa bahkan dalam genre yang penuh darah, distorsi, dan kebencian, masih ada ruang untuk keanggunan. Hanya saja keanggunan itu datang sambil membawa pedang dan niat membantai.
Sepanjang album, Tragos mengeksplorasi berbagai bentuk penderitaan manusia, dan pembuka album " Lethal Suspiro " berkaitan dengan pengorbanan tragis. Ini bukan salah satu lagu individu yang dipremierkan oleh Tragos dan Fetzner Death sebelum hari ini, tetapi ini adalah bab pertama yang cocok dalam pagelaran musik ini. Segera, musik yang mengembang itu membangkitkan tarian klasik yang ceria dan kemudian dengan mulus berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih berat dan lebih menyeramkan. Musiknya masih tampak menari, tetapi riff-nya memiliki nada yang melukai dan nada gitar utama yang meluncur dan melesat, yang tampak merintih dan melolong, menyalurkan kesedihan. Raungan guttural yang menggelegar, drum yang menghantam, dan permainan fret yang berkerumun meningkatkan ferositas gelap lagu ini, dan solo gitar yang berputar dan melambung baik menarik perhatian maupun meningkatkan suasana gelap putus asa dari musik ini. Kalian juga akan menemukan bahwa, selain menjadi jahat dan murung, baik elegan maupun buas, motif lagu ini ternyata adalah kait yang akan terjebak di insang kalian. Dari situ, Tragos melanjutkan dan merusak melalui 11 lagu lagi. Lagu-lagu tersebut menampilkan banyak permainan fret yang cepat, termasuk penampilan bass yang berbuih yang setara dengan kelincahan dan filigree bernuansa dari gitar. Keterampilan teknis para pemain gitar sangat mengesankan, tetapi kelincahan mereka memang didedikasikan untuk sebuah permadani sensasi yang jauh lebih barok daripada apa pun yang bisa kalian temukan di ranah TDM. Di mana sebagian besar band metal ekstrem yang mengusung pengaruh musik klasik sering kali mengekspresikan pengaruh tersebut melalui penggunaan synth simfonik dan keyboard lainnya, Tragos telah menyematkannya dalam permainan gitar, dan interaksi antara gitar dan bass. Momen di awal beberapa lagu ketika Tragos memasukkan elemen seperti vokal operatik atau string simfonik cukup singkat; gitar dan bass yang melakukan tarian, melompat, melangkah, dan menenun. Meskipun drum tidak sejelas gitar dan vokal dalam suara mereka, mereka juga jelas menunjukkan pemikiran yang cermat, menggerakkan tidak hanya momentum tetapi juga pola perkusi dengan cara yang mendukung dan meningkatkan hiasan fretwork serta perubahan suasana hati. Dan ya, bahkan dalam lagu-lagu yang paling gila dan gelisah dan sebagian besar memang cenderung gelisah, musiknya berubah dengan cara yang tampaknya memanifestasikan siksaan, kesedihan, dan kengerian. Mereka terdengar jahat tetapi melodi kemudian beralih dengan mulus, mulai terdengar morbid, sepi, atau jahat dengan cara yang jauh lebih menakutkan. Guruhan tenggorokan yang sangat besar itu biasanya mendominasi vokal, tetapi sering kali meledak menjadi lolongan marah yang berlangsung lama, dan teriakan serta jeritan yang menakutkan muncul dalam penutup yang ganas dan berbisa di " Opus Carnifex ".
Ada sesuatu yang sangat lucu sekaligus mengagumkan ketika band-band death metal modern mulai mengklaim pengaruh klasik. Biasanya ujung-ujungnya cuma keyboard murahan yang ditaburkan seperti bumbu mie instan supaya terdengar megah, lalu para pendengar sok intelek ramai-ramai berpura-pura menemukan Mozart versi kuburan massal. Untungnya, Tragos tidak jatuh ke lubang badut semacam itu. Debut mereka, " Bellicum ", bukan sekadar death metal yang dipoles supaya terlihat pintar di feed media sosial metalhead pseudo-akademik. Ini adalah serangan brutal yang benar-benar memahami bagaimana musik klasik bekerja dari akar harmoninya, bukan cuma menjiplak suasana epik lalu berharap semua orang tepuk tangan. Dari detik pertama album ini berjalan, sudah terasa jelas bahwa Tragos tidak sedang bermain-main menjadi " band death metal artistik ". Mereka benar-benar membangun komposisi dengan pendekatan yang terasa dekat dengan teknik para komposer gaek seperti Johann Sebastian Bach, Domenico Scarlatti, Fernando Sor, hingga Matteo Carcassi. Dan tidak, itu bukan sekadar nama-nama mahal untuk dipajang demi terlihat intelektual. Pengaruh itu benar-benar tertanam di riff mereka. Skalar neoklasik, permainan counterpoint, perpindahan melodi yang saling bertubrukan namun tetap presisi, semua mengalir alami di dalam kebrutalan death metal yang ganas dan tidak kenal ampun. Yang paling menarik justru bagaimana Tragos menghindari penyakit kronis yang sering menginfeksi band teknikal ekstrem: masturbasi musikal tanpa arah. Banyak band modern TDM terdengar seperti sekumpulan mahasiswa musik yang terlalu bangga bisa memainkan 700 not per menit tetapi lupa membuat lagu yang benar-benar menghantam kepala. Tragos jauh lebih cerdas. Mereka tahu kapan harus menyerang, kapan harus membelah ritme, dan kapan harus membiarkan riff berbicara sendiri tanpa dipaksa menjadi ajang pamer kemampuan.
Durasi lagu-lagu di " Bellicum " juga menjadi salah satu keputusan paling waras yang bisa mereka ambil. Hanya dua lagu yang melewati empat menit, sementara beberapa lainnya bahkan belum mencapai tiga menit sudah selesai menghantam tengkorakmu. Dan itu bagus. Sangat bagus. Karena death metal yang dipenuhi teknik rumit dan harmoni liar bisa dengan cepat berubah menjadi pekerjaan rumah matematika kalau dipanjangkan tanpa kontrol. Tragos paham betul soal ekonomi kekerasan. Mereka menyerang cepat, menancapkan riff ke otak, lalu pergi sebelum pendengar sempat merasa lelah. Tidak ada filler. Tidak ada intro ambient tiga menit hanya demi terlihat atmosferik. Tidak ada orkestrasi plastik yang terdengar seperti soundtrack game fantasy murah. Semua langsung ke titik sasaran: membantai. Permainan gitarnya jelas menjadi pusat gravitasi album ini. Riff-riff neo-klasik mereka terdengar seperti duel antara konserto barok dan kuburan terbuka. Ada sweep cepat, frase harmonik yang bergerak elegan, lalu tiba-tiba dihantam tremolo liar dan ledakan OSDM yang kasar. Yang membuatnya hebat adalah bagaimana semua itu tetap terdengar organik. Mereka tidak terdengar seperti death metal yang ditempeli musik klasik. Mereka terdengar seperti dua dunia yang memang sejak awal ditakdirkan saling menikam. Vokal geram dan tajam di album ini juga bekerja sangat efektif. Tidak berlebihan, tidak terlalu teatrikal, tidak mencoba menjadi monster kartun. Geramannya berfungsi sebagai jangkar primitif yang menjaga semua kompleksitas gitar tetap membumi. Karena tanpa vokal yang cukup brutal, seluruh konstruksi musik Tragos bisa saja berubah menjadi pertunjukan prog steril yang kehilangan ancaman. Untungnya, mereka cukup pintar untuk menjaga keseimbangan itu.
Sementara itu, permainan drum tampil disiplin dan fungsional. Dan justru itu kekuatannya. Drummer mereka tidak sibuk mencari perhatian dengan fill acak setiap tiga detik seperti banyak drummer tech death modern yang terdengar sedang audisi YouTube Shorts. Ketukan cepat dan tempo sedang digunakan sebagai fondasi yang menopang arsitektur riff yang rumit tadi. Hasilnya adalah aliran musik yang tetap brutal tanpa kehilangan arah. Yang paling menyegarkan dari Tragos adalah mereka terdengar percaya diri dengan identitasnya sendiri. Mereka tidak terdengar seperti copy-paste Necrophagist, tidak terdengar seperti versi murah Spawn of Possession, dan juga tidak tenggelam dalam sindrom " kami teknikal jadi kalian harus menganggap kami jenius ". Ada aura lapar, liar, dan penuh keyakinan dalam album ini. Seolah mereka benar-benar tahu bahwa perpaduan antara kecanggihan klasik dan kebiadaban death metal tidak perlu dibuat sok akademis untuk terdengar luar biasa. Pada akhirnya, " Bellicum " adalah bukti bahwa death metal masih bisa berkembang tanpa kehilangan taringnya. Album ini brutal, cepat, cerdas, dan cukup berani untuk menghindari semua klise pretensius yang sering menghancurkan band-band avant-garde modern. Ini bukan musik untuk orang yang cuma ingin background noise sambil scrolling media sosial. Ini album yang menuntut perhatian penuh dan memberi imbalan besar bagi mereka yang mau tenggelam di dalamnya. Dan yang paling penting: Tragos membuktikan bahwa kompleksitas tidak harus membunuh kekuatan. Mereka membuat musik yang terdengar intelektual sekaligus ganas, elegan sekaligus biadab. Sebuah kombinasi yang jarang berhasil, dan lebih jarang lagi dieksekusi sebaik ini, Syalut !
Tragos - Bellicum CD 2026
Written by REVIEW LOSTINCHAOS Mei 22, 2026 0
Langganan:
Posting Komentar
(
Atom
)



0 Comments:
Posting Komentar
Tinggalkan komentar TERBAIK kalian disini, enjoy the sickness !