Revocation - New Gods, New Masters
Metal Blade Records CD 2025
01. New Gods, New Masters 05:14
02. Sarcophagi of the Soul 04:10
03. Confines of Infinity 04:47
04. Dystopian Vermin 04:35
05. Despiritualized 05:50
06. The All Seeing 05:19
07. Data Corpse 03:29
08. Cronenberged 03:29
09. Buried Epoch 07:28
David Davidson - Guitars, Vocals
Harry Lannon - Guitars
Alex Weber - Bass
Ash Pearson - Drums
Revocation is back !!! pada tahun 2025 dengan album studio baru dan line up baru dalam rilisan terbaru mereka " New Gods, New Masters ". Band ini telah kembali sebagai band beranggotakan 4 orang dengan penambahan gitaris Harry Lannon (ex-Kill the Evidence, Depletion, ex-Blasphemous, ex-Cognitive, ex-Single Bullet Theory) dan juga menyambut pendatang baru Alex Weber (Acts in Scene, Empyrean Sanctum, Evilyn, Malignancy, Svengahli, WAIT, ex-Wisteria, Exist, ex-Obscura) setelah kepergian bassist lama Brett Bamberger. Dengan drummer Ash Pearson (3 Inches of Blood, Gravemass, Ritual Dictates, ex-Zimmers Hole, ex-Angel Grinder, Sound of the Swarm) dan frontman David Davidson (Pallid Veil, ex-Cormid, ex-Cryptic Warning, Gargoyl, ex-Hot on the Heels ), Ada banyak band technical death/thrash metal yang terlalu sibuk terlihat pintar sampai lupa membuat musik yang benar-benar menyenangkan untuk didengar. Mereka menumpuk riff seperti mahasiswa teknik yang sedang pamer skripsi, memasukkan tempo berubah tiap lima detik, lalu berharap pendengar otomatis menyebutnya " jenius ". Untungnya Revocation bukan tipe band seperti itu. Mereka memang teknikal, memang rumit, memang penuh permainan gitar yang bikin jari manusia normal keram, tapi di balik semua kekacauan progresif itu mereka tetap memahami satu hal penting yang sering hilang di metal modern: lagu tetap harus menghantam dan meninggalkan kesan. Dan lewat " New Gods, New Masters ", mereka sekali lagi membuktikan kenapa nama Revocation masih berdiri sebagai salah satu predator paling konsisten di ranah technical death metal modern. Album ini terasa seperti perpaduan sempurna antara agresi thrash yang liar, presisi death metal modern, atmosfer sci-fi distopia, dan naluri songwriting yang jauh lebih matang dibanding banyak band sejenis yang terlalu sibuk masturbasi teknikal. Dari judul dan artwork-nya saja sebenarnya sudah jelas bahwa album ini sedang bermain di wilayah dystopian science fiction. Tapi yang membuat " New Gods, New Masters " terasa lebih menarik bukan sekadar tema futuristik murahan ala film cyberpunk kelas streaming, melainkan bagaimana liriknya terasa sangat dekat dengan kenyataan hari ini. Teknologi, kecerdasan buatan, kontrol digital, hilangnya identitas manusia, ketergantungan terhadap mesin semuanya dibungkus dalam narasi horor modern yang terasa semakin relevan tiap tahun. Dan ironisnya, kita hidup di era ketika manusia makin bangga menyerahkan pikirannya kepada algoritma sambil menyebut itu kemajuan. Revocation menangkap paranoia itu dengan sangat baik. Mereka tidak terdengar seperti band yang sekadar membaca artikel tentang A.I lalu buru-buru membuat konsep album supaya terlihat futuristik. Ada rasa kegelisahan nyata di balik materi ini. Sebuah nuansa dingin dan distopia yang membuat album terasa seperti soundtrack kehancuran masyarakat digital modern. Tapi untungnya mereka cukup cerdas untuk tidak tenggelam dalam atmosfer saja. Karena di balik semua tema berat itu, " New Gods, New Masters " tetaplah album metal yang sangat fun untuk dihajar keras-keras. Dan di situlah kekuatan terbesar Revocation sebenarnya. Mereka mampu membuat musik yang rumit tanpa kehilangan groove. Riff demi riff mengalir dengan ganas, solo gitarnya tetap liar seperti biasa, dan bagian melodinya justru memberikan warna emosional yang memperkaya keseluruhan album. Ada keseimbangan antara chaos dan kontrol yang jarang bisa dicapai band technical death metal lain. Banyak band genre ini terdengar seperti lomba siapa paling cepat dan paling susah dimainkan. Revocation justru terdengar seperti band yang tahu kapan harus brutal, kapan harus melodis, dan kapan harus memberi ruang agar lagu bernapas.
Tentu saja, sebagai penggemar lama Revocation, w sadar sepenuhnya bahwa objektivitas w mungkin sudah terbakar sejak menit pertama album ini diputar. Kalau kalian mencari ulasan super akademis yang membedah kekurangan album ini dengan wajah serius sambil menghitung struktur riff per detik, mungkin kalian salah alamat. Kita bukan robot review metal yang duduk sambil memberi angka seolah musik bisa diukur seperti laporan statistik ekonomi. Kadang sesederhana ini saja: album ini keren. Sangat keren malah. Dan mungkin justru itu yang membuat " New Gods, New Masters " bekerja sangat efektif. Di tengah terlalu banyak album metal modern yang terdengar seperti proyek riset tanpa jiwa, Revocation tetap terdengar seperti band yang benar-benar menikmati kebrutalan musik mereka sendiri. Mereka masih mampu membuat technical death metal terasa hidup, liar, dan menyenangkan tanpa kehilangan kecerdasan musikalnya. Yang menarik lagi, album ini juga memperlihatkan bagaimana Revocation semakin nyaman bermain di area melodi gelap tanpa kehilangan identitas thrash/death mereka. Ada banyak momen suram dan atmosferik yang memberi nuansa horor kosmik pada keseluruhan album, namun mereka tidak pernah tenggelam dalam pretensi avant-garde berlebihan. Semuanya tetap terasa tajam, agresif, dan langsung menghantam. Pada akhirnya, " New Gods, New Masters " adalah bukti bahwa Revocation masih menjadi salah satu talent paling konsisten di dunia metal ekstrem modern. Di era ketika banyak band sibuk mengejar tren digital, viralitas pendek umur, atau eksperimen identitas setengah matang, Revocation tetap berdiri dengan riff mematikan dan visi yang jelas. Dan ya, mungkin judul albumnya berbicara tentang " dewa-dewa baru ", tapi untuk urusan technical death metal modern, w rasa tuan yang lama masih belum tergeser sama sekali.
Di titik ini, Revocation sebenarnya sudah berada di posisi yang cukup berbahaya bagi banyak band veteran: terlalu nyaman dengan formula sendiri. Dan biasanya itu jadi awal kehancuran kreatif. Banyak band TDM setelah melewati sekian album mulai terdengar seperti mesin fotokopi rusak dari karya terbaik mereka sendiri, riff makin rumit, produksi makin steril, tapi jiwa musiknya hilang entah ke mana. Untungnya Revocation tampaknya masih cukup waras untuk memahami bahwa konsistensi tidak selalu berarti stagnasi. Karena meskipun " New Gods, New Masters " jelas tidak sedang mencoba membongkar total identitas mereka, album ini tetap terasa segar berkat detail-detail kecil yang membuat formula lama mereka berkembang secara alami. Mereka tahu persis " ceruk " yang mereka kuasai: technical death/thrash metal penuh riff mematikan, groove liar, solo overkill, dan atmosfer sci-fi distopia yang semakin relevan di era manusia mulai lebih percaya algoritma daripada otaknya sendiri. Dan alih-alih membuang identitas itu demi eksperimen sok avant-garde, mereka memilih memperkaya fondasinya. Hasilnya? Sebuah album yang tetap terdengar sangat Revocation, tapi tidak terasa malas atau autopilot. Salah satu kekuatan terbesar album ini justru datang dari deretan penampilan tamu yang benar-benar digunakan dengan tepat, bukan sekadar tempelan nama besar demi marketing murahan. Ketika Travis Ryan dari Cattle Decapitation muncul, ia membawa growl menjijikkan khasnya yang terdengar seperti manusia sedang muntah sambil dirasuki mesin industri rusak. Lalu ada Johnny Davy dari Job for a Cowboy yang tetap menjadi salah satu monster vokal paling brutal di generasinya. Kehadiran mereka memberi dimensi ekstra pada lagu-lagu yang sudah brutal sejak awal. Tapi mungkin momen paling menarik justru datang dari Luc Lemay-nya Gorguts di lagu " Buried Epoch ". Teriakan khasnya yang kasar, aneh, dan nyaris terdengar seperti orang kerasukan di lorong rumah sakit jiwa benar-benar cocok dengan atmosfer dystopian album ini. Itu bukan sekadar cameo nostalgia. Itu terasa seperti penyatuan dua dunia death metal teknikal yang sama-sama punya aura tidak nyaman namun memikat. Dan kemudian datang kejutan yang mungkin paling menarik secara musikal: gitaris jazz Gilad Hekselman di lagu " The All Seeing ". Nah ini yang membuat Revocation berbeda dari banyak band tech-death modern yang hanya paham konsep " teknikal " sebatas cepat dan ribet.
Sentuhan permainan Gilad membawa nuansa shredding yang jauh lebih cair, liar, dan elegan dibanding solo metal biasa. Ada aroma fusion jazz yang membuat lagu itu terasa unik tanpa kehilangan kekerasannya. Dan ironisnya, justru musisi jazz di album ini yang terdengar lebih berbahaya dibanding banyak shredder metal generik yang cuma sibuk lomba sweep picking. Secara instrumental, album ini nyaris tidak punya titik lemah. Dave Davidson masih menjadi pusat gravitasi utama dengan riff-riff teknikal yang tetap punya groove dan arah jelas. Itu poin penting yang sering gagal dipahami band technical death metal lain. Rumit bukan berarti menarik. Revocation tetap mampu membuat lagu yang memorable di balik kompleksitasnya. Pendengar masih bisa menangkap hook riff, atmosfer, bahkan dinamika emosional di balik kekacauan teknikal mereka. Konsep lirik sci-fi/distopianya juga terasa semakin relevan hari ini. Ketika dunia makin dipenuhi kecerdasan buatan, pengawasan digital, manusia yang rela jadi budak layar, dan identitas sosial yang dikendalikan algoritma, " New Gods, New Masters " terdengar seperti soundtrack menuju keruntuhan modern yang perlahan sudah kita jalani sendiri. Sarkastiknya, banyak orang mungkin akan mendengar album ini sambil menggunakan A.I untuk berpikir menggantikan mereka. Selamat datang di masa depan. Dan yang paling penting: album ini tetap menyenangkan untuk didengar. Ini bukan karya yang tenggelam dalam pretensi intelektual demi terlihat " artistik ". Revocation masih mengerti bahwa metal ekstrem harus terasa menggigit, liar, dan memuaskan secara primal. Mereka tidak kehilangan naluri headbang hanya karena kemampuan musikal mereka makin tinggi. Pada akhirnya, " New Gods, New Masters " adalah tambahan solid lain dalam katalog Revocation yang memang sudah sangat kuat sejak awal. Tidak revolusioner, mungkin. Tidak mencoba menciptakan ulang genre, juga tidak. Tapi justru di situlah nilainya. Di era ketika banyak band metal ekstrem terdengar kehilangan identitas karena terlalu sibuk mengejar tren atau validasi internet, Revocation tetap berdiri dengan formula yang mereka pahami sepenuhnya, lalu menyempurnakannya sedikit demi sedikit dengan kecerdasan dan rasa lapar yang masih utuh. Dan kadang, itu jauh lebih penting daripada sekadar terdengar " baru ". that despite being my least favourites on the album for their slower pacing, are still well written both musically and thematically !




0 Comments:
Posting Komentar
Tinggalkan komentar TERBAIK kalian disini, enjoy the sickness !