Amorphis - Borderland CD 2025

Amorphis - Borderland
Reigning Phoenix Music CD 2025

01. The Circle 04:34       
02. Bones 04:55       
03. Dancing Shadow 04:58     
04. Fog to Fog 05:28     
05. The Strange 04:18     
06. Tempest 05:20      
07. Light and Shadow 04:17       
08. The Lantern 04:59      
09. Borderland 05:30       
10. Despair 05:19


Tomi Joutsen - Vocals
Esa Holopainen - Guitars
Tomi Koivusaari - Guitars
Santeri Kallio - Keyboards
Olli-Pekka Laine - Bass
Jan Rechberger - Drums, Percussion  


Mengikuti perjalanan Amorphis selama lebih dari tiga dekade itu rasanya seperti membaca novel panjang yang ditulis oleh penulis jenius tapi kadang terlalu sibuk bereksperimen sampai lupa bagian mana yang benar-benar membuat pembacanya jatuh cinta sejak awal. Band asal Helsinki, Finlandia ini memang bukan tipe grup yang nyaman diam di satu tempat. Mereka berubah, berkembang, berevolusi, kadang membingungkan, kadang brilian, dan kadang juga terdengar seperti sedang kehilangan arah di tengah kabut progresif mereka sendiri. Namun justru di situlah uniknya Amorphis. Mereka bukan sekadar band melodic metal biasa yang hidup dari nostalgia satu album legendaris lalu muter di festival musim panas sambil memainkan setlist aman selamanya. Diskografi mereka seperti peta naik turun emosi yang penuh keberanian mengambil risiko. Ada momen luar biasa, ada momen membingungkan, dan ada juga fase di mana mereka terdengar terlalu nyaman menjadi " band metal progresif dewasa " sampai kehilangan sisi liar yang dulu membuat mereka spesial. Buat w pribadi, takhta tertinggi mereka masih sulit digeser dari " The Karelian Isthmus " dan " Tales from the Thousand Lakes ". Dua album itu bukan cuma penting bagi Amorphis, tapi juga bagi evolusi melodic death metal secara keseluruhan. " The Karelian Isthmus " adalah monster death metal yang masih sangat dipengaruhi nuansa old school kotor ala awal 90-an, sementara " Tales from the Thousand Lakes " adalah titik ketika mereka benar-benar menemukan identitas unik mereka sendiri: folk Finlandia, atmosfer mistis, keyboard melankolis, dan death metal melodis yang terasa spiritual tanpa kehilangan kekerasannya. Dan jujur saja, sampai hari ini masih banyak band folk/melodic metal modern yang terdengar seperti sedang mengejar bayangan album itu sambil berharap dianggap visioner. Lalu perjalanan mereka bergerak ke era yang lebih melodis dan mudah dicerna. Eclipse menjadi salah satu titik penting karena berhasil memperkenalkan wajah Amorphis yang lebih catchy tanpa kehilangan karakter emosional khas Finlandia mereka. Di sinilah peran Tomi Joutsen benar-benar terasa vital. Banyak orang lupa betapa sulitnya menggantikan vokalis dalam band yang sudah punya identitas kuat. Tapi Tomi justru berhasil membawa Amorphis ke era baru tanpa terdengar dipaksakan. Dan salah satu kekuatan terbesar Amorphis modern memang ada pada Tomi Joutsen. Growl-nya yang dalam, berat, dan penuh karakter tetap terdengar sangat kuat bahkan setelah bertahun-tahun. Yang membuatnya spesial bukan sekadar teknik vokalnya, tapi bagaimana ia bisa berpindah dari growl brutal ke clean vocal emosional dengan sangat natural. Ia bukan vokalis yang terdengar seperti dua karakter berbeda ketika berganti gaya bernyanyi. Semua terasa menyatu dalam atmosfer musik Amorphis yang melankolis dan megah. Sayangnya, tidak semua fase perjalanan mereka terasa sekuat itu. Era progresif antara " Silent Waters " sampai " Circle " buat w justru menjadi titik paling lemah mereka. Bukan karena musiknya buruk, tapi karena Amorphis terdengar terlalu sibuk mengejar kompleksitas dan nuansa progresif sampai kehilangan spontanitas emosional yang dulu begitu alami. Ada banyak momen indah memang, tapi juga terlalu banyak bagian yang terasa steril, terlalu aman, dan terlalu rapi. Seolah mereka lebih fokus terdengar artistik dibanding mengguncang perasaan pendengarnya. " The Beginning of Times " bahkan terasa seperti salah satu album mereka yang paling sulit meninggalkan dampak besar. Semua dimainkan dengan sangat profesional, tapi kurang meninggalkan luka emosional. Dan itu masalah besar untuk band seperti Amorphis yang kekuatan utamanya selalu ada pada suasana dan rasa. Untungnya mereka berhasil bangkit lagi lewat " Under the Red Cloud " dan terutama " Queen of Time " yang menurut w adalah salah satu comeback terbaik dalam karir mereka. Di sana mereka akhirnya menemukan keseimbangan sempurna antara sisi berat, melodi folk, orkestrasi, dan atmosfer megah yang tidak terasa berlebihan. " Queen of Time " terdengar seperti Amorphis yang kembali memahami jati dirinya sendiri setelah sempat terlalu jauh tersesat dalam labirin progresif. Karena itulah Halo terasa sedikit mengecewakan. Bukan album buruk, tapi terasa seperti langkah mundur setelah momentum luar biasa yang mereka bangun sebelumnya. Dan sekarang lewat album ke-15 mereka, Borderland, muncul pertanyaan besar: apakah Amorphis kembali menemukan api mereka, atau justru kembali bermain aman di zona nyaman melodik mereka sendiri? Yang jelas, satu hal masih tetap tidak berubah: Amorphis masih menjadi salah satu band Finlandia paling penting dan paling berpengaruh dalam sejarah melodic metal modern. Mereka mungkin tidak selalu sempurna, tapi mereka selalu punya identitas yang jelas. Dan di era ketika terlalu banyak band metal terdengar seperti hasil cetakan algoritma streaming, identitas seperti itu justru semakin berharga. Sementara band lain sibuk berubah demi pasar, Amorphis tetap terdengar seperti Amorphis. Kadang brilian, kadang membingungkan, kadang terlalu progresif untuk dirinya sendiri tapi tetap punya jiwa yang sulit ditiru siapa pun.

 
Membuka album ini adalah track " The Circle " yang bukanlah pengantar yang buruk, dengan beberapa permainan gitar melodi yang sangat bagus. Vokal bersih Tomi Joutsen terdengar jauh lebih baik akhir-akhir ini dan penampilannya semakin baik seiring lagu berlangsung. Piano juga bersinar terang di lagu pembuka. Lagu kedua, " Bones " terasa seperti sesuatu dari " Eclipse " dan itu adalah hal yang positif. Ini adalah lagu yang catchy dan menyenangkan yang menunjukkan vokal keras yang dilakukan Tomi dengan sangat baik. Vokal bersihnya juga menciptakan beberapa paduan suara yang besar. " Dancing Shadow " meningkatkan kesenangan di album ini dan itu pasti nama yang cocok. w sangat suka dengan keyboard yang sangat bisa diajak berdansa, yang tampaknya menjadi tren umum di album ini sejauh ini. Para gitaris mengambil sorotan untuk diri mereka sendiri dengan melodi besar mereka di " Fog to Fog " yang sangat bagus dan berbeda dari lagu-lagu sebelumnya. Sebuah pengantar keyboard yang menyenangkan membuka " The Strange " yang merupakan lagu lain yang sangat catchy. Lagu ini sekali lagi menampilkan eksekusi kuat Tomi dalam nada-nada kerasnya serta vokal bersih untuk chorus epik lainnya. Amorphis mengambil pendekatan yang lebih balada dengan " Tempest " yang tidak buruk. Gitar utama lagi-lagi memiliki sound yang epik dan berhasil. Ini juga merupakan penampilan vokal yang hebat dari Tomi yang, meskipun sebagian besar menyanyikan lagu jenis ini dengan bersih, kemudian akan memberikan kejutan dengan momen yang lebih berat dan keras yang berpadu dengan sangat baik. " Light and Shadow " melakukan pekerjaan yang sangat baik dalam memadukan keyboard dengan gitar dan vokal. Drumnya juga sangat menonjol di sini. Ini mungkin salah satu lagu favorit w di album ini. Lagu menyenangkan lainnya muncul dengan " The Lantern " yang memiliki nuansa synth di awal dan melanjutkan dengan gaya yang ditunjukkan Amorphis dalam album ini. Sekarang kita beralih ke lagu judulnya sendiri, " Borderland, " lagu lain yang ditulis dengan baik yang menunjukkan jangkauan vokal Tomi dan variasi gitar yang ditampilkan dengan baik, terutama pada lagu ini. Borderland ditutup dengan " Despair " yang merupakan cara yang kuat untuk mengakhiri perjalanan menarik mendengarkan usaha ke-15 band ini. Ini adalah pengalaman mendengarkan yang menarik dari rilisan terbaru Amorphis karena mereka menunjukkan bahwa mereka masih bisa unggul melalui permainan gitar melodi mereka. Ada juga jangkauan vokal yang kuat dari Tomi Joutsen yang masih bisa melakukan vokal keras dan bersih dengan sangat baik tanpa satu terdengar lebih lemah dari yang lain, sebuah kelemahan mencolok pada beberapa band melodeath tertentu. Rasio antara vokal kasar dan vokal bersih tentu lebih condong ke vokal bersih, yang mungkin menjadi masalah bagi penggemar rekaman Amorphis sebelumnya. Secara pribadi, lagu-lagu di Borderland berkembang pesat berkat betapa menarik, menyenangkannya, dan baiknya elemen melodi bersih tersebut dieksekusi. Dalam hal album Amorphis terbaru, ini tidak sebaik " Queen of Time " atau " Under The Red Cloud " tetapi ini adalah peningkatan besar dibandingkan Halo dan berada di sisi yang lebih positif dari diskografi band ini. Ini pasti salah satu yang w lihat akan disukai oleh penggemar band saat ini, karena ada beberapa lagu yang sangat catchy di beberapa trek ini termasuk " Bones " dan " Light and Shadow. " melakukan pekerjaan yang sangat baik dalam memadukan keyboard dengan gitar dan vokal. Drumnya juga sangat menonjol di sini. Ini mungkin salah satu lagu favorit w di album ini. Lagu menyenangkan lainnya muncul dengan " The Lantern " yang memiliki nuansa synth di awal dan melanjutkan dengan gaya yang ditunjukkan Amorphis dalam album ini. Sekarang kita beralih ke lagu judulnya sendiri, " Borderland, " lagu lain yang ditulis dengan baik yang menunjukkan jangkauan vokal Tomi dan variasi gitar yang ditampilkan dengan baik, terutama pada lagu ini. Borderland ditutup dengan " Despair " yang merupakan cara yang kuat untuk mengakhiri perjalanan menarik mendengarkan usaha ke-15 Amorphis ini. Apakah opus ini, seperti yang sebelumnya, perlu didengarkan dengan baik, atau apakah memang dimaksudkan untuk tidak mencolok dan sekaligus menyelimuti, tetapi hanya meninggalkan perasaan yang menyenangkan - seolah-olah kalian menemukan diri sendiri yang maskulin di dalamnya, menunjukkan kelembutan maskulin yang tulus. Dan ya, akhirnya, refleksi dari bagian suara dapat diamati tanpa kehilangan pada artwork cover-nya, ceroboh di beberapa tempat, tetapi karena itu manusiawi, kontras dengan banyak tahun sampah tanpa wajah dari seniman Metastasis. Ada sesuatu yang nostalgis dalam warna-warna seni ini; w pikir jika Cathedral adalah orang Karelian, sesuatu yang serupa akan digambar untuk mereka. Sekali waktu w menulis bahwa beberapa bagian dari " Under The Red Cloud " ditulis tidak secara mekanis, tetapi dengan cinta yang sadar; w akan melanjutkan pemikiran lama dan " Borderland " memiliki rasa hormat yang sadar terhadap pendengar, dan cukup luas pula.

 
Overall, Ada satu hal yang lucu dari perjalanan panjang Amorphis : mereka seperti band yang menolak mati tua. Ketika banyak band seangkatan mulai sibuk mengulang formula demi aman di kantong nostalgia fans, Amorphis justru tetap berjalan seperti pengelana Finlandia yang nyasar di antara rawa melankolis, folk kuno, death metal, progressive rock, sampai heavy metal modern yang setengah mistik. Kadang berhasil gemilang, kadang juga terdengar seperti orang pintar yang terlalu banyak mikir sampai lupa bikin lagu yang benar-benar menggigit. Tapi begitulah Amorphis, selalu berubah tanpa pernah benar-benar meninggalkan identitasnya. Dan sekarang lewat album ke-15 bertajuk " Borderland ", mereka kembali membuktikan bahwa usia tua dalam metal tidak selalu berarti kehilangan taji. Meski jangan berharap mereka mendadak balik menjadi monster mentah ala " The Karelian Isthmus " atau kembali sepenuhnya tenggelam dalam aura magis " Tales From The Thousand Lakes ". Era itu sudah jadi prasasti suci yang terlalu sering dipuja fans oldschool sambil pura-pura lupa bahwa band juga manusia yang bergerak, bukan museum berjalan. Yang menarik dari " Borderland " justru ada pada bagaimana Amorphis terdengar jauh lebih hidup dibanding materi era " Halo " yang sebelumnya terasa terlalu steril, terlalu aman, dan terlalu sibuk terlihat " megah " sampai kehilangan denyut emosinya. Di sini mereka terdengar lebih santai, lebih cair, dan anehnya malah lebih efektif. Melodi-melodi gitar mereka kembali menjadi tulang punggung utama, bukan sekadar tempelan atmosfer biar terdengar artistik. Harmonisasi khas Finlandia yang dingin tapi hangat itu masih jadi senjata utama mereka, dan sialnya memang masih enak didengar. Dan tentu saja, nama Tomi Joutsen tetap menjadi pusat gravitasi dari semuanya. Vokalnya masih terlalu kuat untuk ukuran manusia normal. Growl-nya tetap terdengar seperti beruang mabuk yang bangun dari tidur musim dingin, sementara clean vocal-nya masih mampu terdengar megah tanpa jatuh jadi drama power metal murahan. Banyak band melodic death metal modern gagal menjaga keseimbangan antara vokal bersih dan kasar; biasanya salah satu terdengar dipaksakan atau malu-malu. Tapi Tomi sudah terlalu lama hidup di medan perang ini untuk membuat kesalahan receh seperti itu. Memang harus diakui, " Borderland " lebih banyak berpijak pada sisi melodis dan clean vocal dibanding sisi death metal mereka. Dan ya, pasti ada kaum puritan yang langsung sibuk mengeluh sambil memeluk CD lawas tahun 1994 seperti kitab suci terakhir umat manusia. Tapi justru di situlah kekuatan album ini. Lagu-lagu seperti " Bones " dan " Light and Shadow " bekerja bukan karena brutalitas kosong, melainkan karena kemampuan Amorphis menulis hook yang melekat tanpa terdengar murahan. Mereka paham bagaimana membuat lagu yang catchy tanpa kehilangan rasa elegan dan atmosfer gelap khas mereka. Secara keseluruhan, " Borderland " memang belum menyentuh level magis " Queen of Time " ataupun keganasan emosional " Under The Red Cloud ". Tapi setidaknya album ini terasa seperti band yang kembali percaya diri dengan identitasnya sendiri, bukan band veteran yang sibuk mengejar validasi pasar atau nostalgia fans lama yang tidak pernah puas. Dan di era ketika banyak band melodic metal terdengar seperti soundtrack iklan parfum Viking murah, Amorphis masih terdengar seperti Amorphis. Itu saja sebenarnya sudah kemenangan besar.

0 Comments:

Posting Komentar

Tinggalkan komentar TERBAIK kalian disini, enjoy the sickness !

Designed by lostinchaos mediazine